๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Dari mana aja sih lo?” tanya Rory pada Erris
yang kelihatan agak lelah.
“Gue nggak enak badan...”
jawabnya sambil kembali duduk.
“Pantesan dari tadi lo
lesu banget...” komentar Rory tapi ia masih menengok ke sana kemari. “Lo lihat
Uki nggak?”
“Tadi gue lihat dia masuk
toilet” jawab Erris, kembali acuh dan sepertinya nggak ada yang curiga mereka
bertemu dan ia sempat menyeretnya ke ruang karaoke yang kosong.
Rory langsung pergi,
mungkin mencari Uki. Dan Erris punya
firasat buruk soal ini. Kenapa dia jadi begitu peduli sama Uki?
“Lo dari mana sih? Lama
amat!” semprot Rory begitu ia melihat Uki keluar dari toilet cewek.
Untungnya Uki sudah
memastikan bajunya terpasang dengan wajar dan ia menambah dandanannya karena
Erris sempat menghancurkannya dengan air mata. Hawa panas tadi masih tersisa di
tubuhnya bahkan saat ia sudah dalam perjalanan pulang.
Gelisah itu masih ada.
Erris di jok depan sedangkan Rory menyetir. Entah, Erris kelihatan
tenang-tenang saja. Sampai Uki akhirnya ketiduran di mobil dan ia dibangunkan
oleh Rory karena sudah sampai di rumah kosnya.
Rory kelihatan senang
malam ini. Setelah bisanya dia cuma jutekin Uki sampai cewek itu nggak betah
bicara dengannya. Bahkan setelah Uki turun dari mobilnya, ia masih
senyum-senyum nggak jelas.
“Tuh anak...” gumamnya,
melirik Erris di sampingnya. “Gue nggak nyangka dia main gitarnya jago banget”
Erris menoleh padanya.
Mulai merasa nggak enak. Dia memang sudah sering cerita soal Uki tapi yang kali
ini terasa mulai meresahkan. Mungkin, lantaran di saat ia memikirkan sebuah
jalan kembali baginya dan Uki karena nggak bisa menahan perasaannya terhadap
Uki, Rory membuat sebuah pengakuan mengejutkan. Kalau pertahanan dirinya nggak
sekuat itu saat berhadapan dengan Uki, kejadiannya mungkin bakal lain. Erris
selalu menginginkannya.
“Kayaknya gue suka sama
tuh cewek,” kata Rory, belum habis senyum di bibirnya. Ia mengusap rambutnya ke
belakang sambil senyam-senyum. Lalu ia melirik Erris lagi. “Menurut lo gimana,
Ris?”
Erris membeku beberapa
saat. “Lo yakin?”
“Ya, gue yakin banget...”
tegasnya. “Dia kayaknya juga suka sama gue, Ris. Lo pikir, kenapa dia suka
banget nyantronin gue kayak maling?”
Erris sedikit menggerutu.
Bisa-bisanya si Rory malah kege-eran. Andai Erris bisa berterus terang padanya
bahwa yang bikin Uki nyantronin dia adalah hanya ingin dekat dengan Erris.
Tiba-tiba kepalanya jadi
sakit. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
***
"Cepat dikit, Ris!" seru Damar
yang duduk di depan.
Erris buru-buru masuk mobil karena mereka
sudah telat. Hanya kurang dari sepuluh menit sebelum pelajaran pertama dimulai.
Begitu Erris naik, Rory langsung mengebut.
Kepalanya masih sakit dan
tubuhnya seakan baru jatuh dari gedung lantai lima belas –remuk. Semalam ia
nggak bisa tidur. Pertama, karena kelelahan –itu pasti. Kedua, Erris kembali
mengulang suasana ruang remang itu di dalam kepalanya dan wajah Uki me-replay
di benaknya setiap ia memejamkan mata. Ketiga, ia mulai memikirkan cara untuk
bisa memperbaiki keadaan. Keempat, sayangnya itu nggak akan mudah baginya
setelah pengakuan Rory yang membuat keadaannya menjadi sulit.
Menyesal? Ya, itu pasti.
Karena jika ia mengaku pada teman-temannya sekarang Rory pasti kecewa –kecewa
berat. Nah, bagaimana rasanya jadi duri dalam daging, musuh dalam selimut atau
menggunting dalam lipatan? Sahabat macam apa yang menyimpan rahasia dari
sahabatnya sendiri? Walaupun, Erris memang punya banyak rahasia yang bahkan
seluruhnya belum diketahui para sahabatnya, tapi masalah cewek jauh lebih
sensitif. Lebih-lebih Rory sudah kasmaran tingkat dewa gara-gara Uki. Bayangkan
jika tiba-tiba ia mengaku bahwa ia pernah pacaran dengan Uki, belum lagi jika
ia juga harus mengakui bahwa ia sudah nggak perjaka karena mereka akan mau tahu
sekali –bah, itu lebih gila lagi.
Ah, kenapa Uki harus
mendekati Rory untuk bisa mengulang semuanya dari awal dengan Erris?
“Tumben lo bangunnya
telat, Ris?” tanya Laras di sampingnya.
Erris nggak menjawabnya.
Entahlah. Entahlah.
"Tau tuh..." celetuk Rory sinis.
"Gara-gara dia nih kita jadi telat..."
Erris hanya memutar matanya dan berusaha
bersabar beberapa menit ke depan di dalam mobil yang melaju kencang –sambil berdoa,
Rory nggak akan menyerempet orang seperti kemarin-kemarin. Bisa panjang
urusannya apalagi yang ditabrak nenek-nenek yang nggak kuat jalan.
Begitu sudah sampai di gerbang tepat pada
waktunya, semua lega. Lapangan sudah kosong sama sekali dan mereka berhasil
masuk sebelum gerbang sekolah ditutup satpam. Tapi, Rory masih melaju kencang
ke area parkir seperti kebiasaannya yang meresahkan itu.
"Rory, awas!!!" jeritan Damar di
depan menggema di dalam mobil bersamaan bunyi rem berdecit panjang. Semua
penumpang terpental ke depan.
Erris dan Laras yang duduk di belakang
shock! Mereka melihat seseorang nyaris saja tertabrak. Erris melompat keluar
dari mobil saat melihat Uki rubuh tepat di depan mobil Rory!
***
.jpg)
Komentar
0 comments