๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
It isn't over
Riuh tepuk tangan
terdengar dari sini. Uki sudah selesai menyanyi. Tapi, rasanya begitu
jengah. Itu bukan pertama kali ia
mendengar Uki memainkan gitar di depannya. Ya, ia sudah lama tahu kalau Uki
memang berbakat. Memang dalam pelajaran, begonya minta ampun. Tapi saat memetik
gitar, ia seperti seorang ahli. Ah, setiap orang memang punya bakat
masing-masing.
Ketika saatnya untuk
kembali, ia malah melihat Uki. Terlambat menghindar, Erris hanya kembali pasang
tampang dingin di depannya –seperti biasa. Ia melangkah ke arah Uki yang menuju
ke arahnya karena nggak punya pilihan. Mundur akan terlihat sangat menggelikan,
tapi terus melangkah ia nggak yakin untuk membiarkan Uki berlalu. Ah,
barangkali, Uki masih akan mencoba untuk memberitahunya bahwa ia nggak akan
menyerah. Setidaknya sampai detik ini, ia belum berhenti mencari cara untuk
mendekat.
“Kenapa kamu nggak suka
lihat aku main gitar?” tanya Uki padanya.
Langkah Erris terhenti.
“Kenapa aku harus nggak suka?” balas Erris –dingin.
“Kamu...” Uki menatapnya
lekat-lekat. “Apa kamu benar-benar udah nyaman kayak gini?”
Erris terkekeh. “Kamu
lihat sendiri” balasnya sambil kembali melangkah tapi tiba-tiba Uki menarik
lengannya. Ia pun terkejut, tiba-tiba sudah menemukan Uki menatapnya dengan
tetesan air mata di pipinya.
“Aku mohon berhenti,
Erris...” katanya tertunduk tanpa melepaskan tangan Erris. “Aku tahu kamu juga
nggak mau seperti ini...”
Erris diam. Ia tampak
tenang. Tampak bisa menguasai keadaan dengan melepaskan genggaman Uki pada
lengannya. “Kamu harus terima kenyataan...” kata dia, bergegas hendak pergi.
Tapi, Uki masih memaksa. Tanpa membiarkannya pergi, Uki malah mendorong
tubuhnya dan menghempaskan ke dinding. Ia menahan Erris yang mulai nggak tenang
di sana.
“Aku nggak bisa” kata Uki
padanya, menghujamkan kedua tangannya agar Erris tetap di sana. Lalu ia menatap Erris dengan wajahnya
yang sudah kacau. “Kalau aku bisa aku udah pasti aku ngelepasin kamu. Tapi aku
nggak bisa!”
Erris masih mencoba untuk
lepas. Tapi, ia sendiri nggak berdaya mendorong Uki dengan kasar untuk
menyingkirkannya. Ia pun memandang mata Uki yang sedih. Sudah sering, ia
melihat Uki memohon padanya.
“Aku tahu, kamu ninggalin
aku bukan karena kamu nggak sayang aku lagi. Kamu terpaksa, aku ngerti! Karena
itu, kalau kamu memang ingin nggak ada seorang pun yang tahu soal kita juga
nggak apa-apa. Aku bakalan diam selama yang kamu mau. Tapi, kalau aku ada di
dekat kamu, kita bisa mulai dari awal lagi... tapi aku mohon, jangan perlakukan
aku seperti musuh...” kata Uki, terdengar putus asa.
“Kamu ngomong apa, Ki?”
Erris masih acuh.
Uki kembali menatapnya,
lebih dekat. “Aku nggak percaya semua ini terjadi...” kata dia, masih menahan
Erris dengan seluruh tenaganya. Masih penuh harap, ia memandangi Erris yang
tampak berusaha untuk terlihat dingin. Tapi, ia sudah gagal. “Kalau kamu
benar-benar nggak sayang aku lagi...sekarang bilang dan lihat aku... bilang
kalau kamu udah nggak sayang aku lagi...”
Ya, Erris tertegun. Wajah
dingin itu sudah hilang sama sekali. Ia malah terlihat khawatir, lebih-lebih ia
bisa melihat kalau Rory sedang berjalan di antara pengunjung tampak sedang
mencari sesuatu. Ia nggak ingin Rory melihat ini dan keadaan menjadi semakin
rumit.
“Ayo bilang...” desak Uki
terus menatapnya penuh harap.
Nggak tahan lagi, Erris
pun berontak melepaskan tubuhnya dari Uki yang menahannya. Uki syok, tapi ia lebih
terkejut lagi saat Erris ternyata malah menariknya pergi.
“Ris?” Uki mulai cemas
saat mereka mulai melewati koridor lain untuk menghindari Rory. Ia hanya
mengikuti Erris yang seolah tahu ke mana koridor itu akan menuntun mereka. Ya,
mereka sudah sering ke sini bukan? Erris pasti tahu ke mana harus pergi. Tapi
kenapa harus menghindar? Mereka bisa berpura-pura seperti yang selama ini
mereka lakukan di depan Rory dan yang lain.
Cowok itu sama sekali
nggak bicara. Ia melangkah tergesa-gesa sampai menemukan sebuah pintu yang
tertutup rapat. Seakan tahu nggak akan ada seorang pun di sana, Erris
membawanya masuk. Tempat itu agak remang. Uki sama sekali nggak tahu tempat itu
tempat apa, namun ia bisa pastikan tiada seorang pun di sana. Erris langsung
menutup pintunya begitu mereka masuk, sebelum tubuh Uki menghempas dinding di
belakangnya dan Erris mendorongnya secara tiba-tiba dan... memberinya ciuman?
“Jangan keras kepala...”
kata Erris mendesis di telinganya. “Aku udah bilang berkali-kali kalau kita
selesai...”
Uki belum lepas dari
ketegangan ciuman beberapa detik yang lalu. Terlepas dari itu ia mencoba
memahaminya, kalau Erris nggak menginginkannya kenapa ia diseret ke sini? Uki
mulai memperhatikan sekitarnya. Ada beberapa sofa dan LCD besar menempel di
dinding. Ruangan itu nggak terlalu besar tapi ia belum sempat memastikannya
karena Erris kembali mencengkram wajahnya dan menciumnya lagi. Kali ini lebih
keras dan dalam.
Rasanya menyakitkan tapi
Uki nggak menolak. Sudah lama ia rindukan ini. Seperti mengharap hujan di musim
kemarau. Ia nggak membuang kesempatannya untuk bisa membalas dan Erris semakin
menekan tubuhnya. Sakit, tapi ia berusaha bertahan walaupun terasa semakin
mengerikan saat tangan Erris mulai meraih ke bawah roknya.
“Kamu mau aku kan?” bisik
cowok itu di telinganya, mendesis.
“Erris?” Uki masih
menatapnya nggak percaya. Apa yang Erris pikirkan? Di tempat seperti ini? Nggak
mungkin.
Tapi, bukan hal seperti
ini yang ia inginkan. Uki mendorongnya dengan kuat dan dalam detik yang sama ia
merasa begitu terhina dengan perlakuan cowok itu barusan. Cowok yang bertingkah
seolah yang ia mau hanya hal-hal yang entah mengapa mulai terkesan menjijikan
bagi Uki. Erris yang dia sukai nggak memperlakukannya seperti ini.
Entah topeng apa yang
Erris kenakan saat ini.
“Aku sayang kamu, tapi nggak
begini juga...,” katanya.
“Terus aku harus gimana
juga?” balas Erris dingin. “Aku udah bilang selesai, berarti kita selesai. Kalau
kamu terus maksa aku kayak gini, aku bisa apa? Aku nggak bakalan nolak untuk
senang-senang.”
Geram, Uki menamparnya! Sebuah
pukulan keras yang cukup membuat Erris terkejut. Tapi, seperti dia yang
biasanya, raut yang awalnya syok kembali dingin.
“Kalau kamu nggak mau seperti
itu, ya udah. Lupain semuanya...,” kata Erris lagi untuk yang terakhir sebelum
dia pergi. Meninggalkan Uki yang merosot jatuh sambil menangis.
***
.jpg)
Komentar
0 comments