๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Lo ngajakin siapa?” tanya Erris sekali
lagi walaupun ia sudah tahu jawabannya. Memang agak asing mendengar Rory
menyebut nama Uki lagi –tepatnya Rory nggak pernah menyebut nama cewek itu
dengan namanya. Rory selalu memanggilnya ‘cebol’.
“Si Uki teman sekelas gue” jawabnya santai.
“Ah ya, lo inget kan cewek yang bikin ulah waktu MOS tahun kemarin?”
Erris nggak menjawab. Ia hanya menatap Rory
yang sepertinya sedang senang. Ia memang sudah tahu kalau Rory dan uki sekelas.
Tapi, mereka belum menunjukan tanda-tanda akrab sejak tahun ajaran baru.
“Kenapa? Lo nggak suka?” tanya Rory
padanya.
“Terserah lo aja” balas Erris untuk
selanjutnya nggak pernah protes lagi.
Rory merangkul pundaknya sambil tertawa.
“Gue tahu lo masih kesal ingat kejadian itu” katanya. “Tapi, kayaknya dia udah
nggak kayak dulu lagi. Kalau gue
perhatiin sih, dia banyak berubah. Lo kebayang kan dulu dia pakai baju kegedean
yang bikin dia kayak pakai karung goni. Mukanya item, dekil, males banget gue
ngelihatnya. Berisik, sok nantangin, belagu, jarang-jarang gue ketemu sama
manusia aneh bin ajaib gitu”
Erris memilih nggak
berkomentar. Memang ia lihat sendiri perubahan drastis Uki lebih-lebih sejak
naik kelas dua. Entah mengapa, sejak Rory mulai sering membicarakan tentang
Uki, perasaan cemas itu mulai timbul. Apa... yang dipikirkan Uki dengan
mendekati Rory?
***
Uki terlihat keluar dari
rumah kos-nya. Sore itu dia mengenakan rok di atas lutut dengan sweater yang
agak kebesaran di badannya. Rambutnya kembali di kuncir sederhana. Riasannya
sangat biasa. Namun, ia terlihat berbeda. Penampilan Uki sore itu terlihat
menggemaskan entah karena memang badannya kecil atau dia sebenarnya dia memang manis
–Rory baru sadar itu.
Rory memarkirkan mobilnya
di depan pagar dan beberapa saat ia sempat terpana. Sebelum ia ingat untuk
menurunkan kaca mobil dan memberitahunya bahwa ia harus duduk di belakang
karena di depan sudah ada Erris.
“Lama ya?” tanya dia
mengabaikan Erris yang belum mengubah arah pandangnya. Ia melihat lurus ke
depan seakan menunjukan bahwa ia nggak terima kehadiran Uki.
Rory tahu itu dan ia pun
juga mengabaikan Erris yang menurutnya memang jarang bisa cocok dengan orang
–apalagi cewek, orangnya Uki lagi. Siapapun nggak akan lupa kejadian MOS tahun
lalu. “Naik sana!” kata dia.
“Damar sama Laras mana?”
tanya Uki padanya begitu ia duduk di belakang.
“Mereka langsung ke sana”
jawab Rory dan mereka pun mulai melaju.
Beberapa saat, mobil
menjadi hening. Sesekali Rory melirik ke
belakang melalui kaca spion. Ia sempat mengamati wajah Uki yang murung dan
memandang kosong keluar jendela.
“Ampun deh. Mobil gue
udah kayak kuburan...” Rory bergumam keras karena Erris ikut-ikutan nggak
bicara. “Lo kesurupan lagi, Ki? Tumben lo diam” tegur dia sambil kembali
melirik lewat spion.
“Kalau aku berisik nanti
kamu sewot” kata Uki, setengah merengut.
Rory ketawa. “Kenapa ya
kalau lo nggak berisik itu bukan lo banget?” ledeknya. “Lo nyanyi atau apa kek
gitu? Katanya suara lo bagus”
“Kamu ngeledekin aku
banget...” Uki mulai sewot dan Rory tertawa lagi. “Pokoknya nanti aku bakal
nyanyi sambil main gitar di live music-nya!”
“Emang lo bisa main
gitar?”
“Ya bisa lah!”
Rory masih tertawa sampai
akhirnya mereka sampai di cafe –katanya sih cafe sepupunya yang bernama Eliza.
Damar dan Laras sudah menunggu di salah satu meja. Begitu melihat Rory, Erris
dan Uki masuk, Laras melambaikan tangan. Selagi Uki terkesima dengan sekitarnya
–oh, jadi ini tempat mereka biasa nongkrong? Cafe yang nggak terlalu luas tapi
ada banyak pengunjung yang santai menikmati kopi dan alunan musik dan suara
penyanyi yang merdu.
Ia sempat melirik Erris
yang masih acuh padanya. Ini hanya awalnya, kata Uki dalam hatinya sebelum ikut
duduk bersama mereka. Untuk sementara ia membuang perasaan tersiksanya walau
hampir nggak mungkin nggak meneteskan air mata. Ya, sejak di mobil ia merasa
begitu susah. Kalau Rory nggak mengajaknya bicara, mungkin setetes air mata
akan mampu mengungkap semua rahasianya. Tapi, itu bukan rencananya.
***
"Rory mana?" tanya Damar yang
baru kembali dari toilet, dia juga nggak menemukan Uki di tempat duduknya.
Laras melirik ke panggung live music.
Keduanya, sedang ada di atas panggung karena Rory menawarkan Uki untuk bisa
menyanyi kepada pemain keyboardnya. Ini sangat pas sama keinginan Uki. Soalnya
nggak ada hal lain yang bisa ia lakukan hanya untuk bisa mengejar Erris. Duduk
di sini, mencoba untuk terlibat sama obrolan mereka walaupun ia nyaris nggak
mengerti. Tapi, kenapa Erris bisa dengan tenang menatapnya seperti itu? Begitu
cepatkah pudar perasaannya?
Uki terlihat menerima sebuah
gitar akustik yang disodorkan salah seorang pemain band yang mempersilahkannya untuk
menyanyi. Orang itu juga memasangkan microphone dan menyesuaikannya dengan
tubuh Uki yang pendek. Ia menarik nafas sambil memandangi sekitar yang ramai
sebelum memetik gitarnya dan memperdengarkan irama musiknya. Uki menyanyikan
salah satu lagu favoritnya.
Bila cinta menggugah rasa
Begitu indah mengukir hatiku
Menyentuh jiwaku
Hapuskan semua gelisah
Duhai cintaku duhai pujaanku
Datang padaku tetap di sampingku
Kuingin hidupku
Selalu dalam peluknya
Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karena dia karena dia begitu indah
“Wow...” Laras, di
samping Erris bergumam.
Erris menatap ke panggung
di mana sesekali Uki membalas tatapannya itu, sebelum ia mengedarkan
pandangannya ke segala arah. Semua orang menontonnya, bahkan ada yang membalikan
badan dari kursinya hanya untuk melihat siapa penyanyi baru itu. Ya, mereka
terkesima melihat dan mendengarnya menyanyi. Uki menguasai panggungnya dengan
senyum manis, sambil sesekali melihat kemari.
Rory tersenyum merasa
bahwa senyum itu ditujukan padanya. Tapi, dia nggak melihat bahwa bukan hanya
dirinya tersenyum –Erris juga. Tapi, entah kenapa ia meninggalkan kursinya.
“Lo kemana, Ris?” tegur
Damar.
“Toilet” jawabnya tenang.
***
.jpg)
Komentar
0 comments