[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 12 (Hal. 29)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Lo ngajakin siapa?” tanya Erris sekali lagi walaupun ia sudah tahu jawabannya. Memang agak asing mendengar Rory menyebut nama Uki lagi –tepatnya Rory nggak pernah menyebut nama cewek itu dengan namanya. Rory selalu memanggilnya ‘cebol’.

“Si Uki teman sekelas gue” jawabnya santai. “Ah ya, lo inget kan cewek yang bikin ulah waktu MOS tahun kemarin?”

Erris nggak menjawab. Ia hanya menatap Rory yang sepertinya sedang senang. Ia memang sudah tahu kalau Rory dan uki sekelas. Tapi, mereka belum menunjukan tanda-tanda akrab sejak tahun ajaran baru.

“Kenapa? Lo nggak suka?” tanya Rory padanya.

“Terserah lo aja” balas Erris untuk selanjutnya nggak pernah protes lagi.

Rory merangkul pundaknya sambil tertawa. “Gue tahu lo masih kesal ingat kejadian itu” katanya. “Tapi, kayaknya dia udah nggak kayak dulu lagi. Kalau gue perhatiin sih, dia banyak berubah. Lo kebayang kan dulu dia pakai baju kegedean yang bikin dia kayak pakai karung goni. Mukanya item, dekil, males banget gue ngelihatnya. Berisik, sok nantangin, belagu, jarang-jarang gue ketemu sama manusia aneh bin ajaib gitu”

Erris memilih nggak berkomentar. Memang ia lihat sendiri perubahan drastis Uki lebih-lebih sejak naik kelas dua. Entah mengapa, sejak Rory mulai sering membicarakan tentang Uki, perasaan cemas itu mulai timbul. Apa... yang dipikirkan Uki dengan mendekati Rory?

***

Uki terlihat keluar dari rumah kos-nya. Sore itu dia mengenakan rok di atas lutut dengan sweater yang agak kebesaran di badannya. Rambutnya kembali di kuncir sederhana. Riasannya sangat biasa. Namun, ia terlihat berbeda. Penampilan Uki sore itu terlihat menggemaskan entah karena memang badannya kecil atau dia sebenarnya dia memang manis –Rory baru sadar itu.

Rory memarkirkan mobilnya di depan pagar dan beberapa saat ia sempat terpana. Sebelum ia ingat untuk menurunkan kaca mobil dan memberitahunya bahwa ia harus duduk di belakang karena di depan sudah ada Erris.

“Lama ya?” tanya dia mengabaikan Erris yang belum mengubah arah pandangnya. Ia melihat lurus ke depan seakan menunjukan bahwa ia nggak terima kehadiran Uki.

Rory tahu itu dan ia pun juga mengabaikan Erris yang menurutnya memang jarang bisa cocok dengan orang –apalagi cewek, orangnya Uki lagi. Siapapun nggak akan lupa kejadian MOS tahun lalu. “Naik sana!” kata dia.

“Damar sama Laras mana?” tanya Uki padanya begitu ia duduk di belakang.

“Mereka langsung ke sana” jawab Rory dan mereka pun mulai melaju.

Beberapa saat, mobil menjadi hening.  Sesekali Rory melirik ke belakang melalui kaca spion. Ia sempat mengamati wajah Uki yang murung dan memandang kosong keluar jendela.

“Ampun deh. Mobil gue udah kayak kuburan...” Rory bergumam keras karena Erris ikut-ikutan nggak bicara. “Lo kesurupan lagi, Ki? Tumben lo diam” tegur dia sambil kembali melirik lewat spion.

“Kalau aku berisik nanti kamu sewot” kata Uki, setengah merengut.

Rory ketawa. “Kenapa ya kalau lo nggak berisik itu bukan lo banget?” ledeknya. “Lo nyanyi atau apa kek gitu? Katanya suara lo bagus”

“Kamu ngeledekin aku banget...” Uki mulai sewot dan Rory tertawa lagi. “Pokoknya nanti aku bakal nyanyi sambil main gitar di live music-nya!”

“Emang lo bisa main gitar?”

“Ya bisa lah!”

Rory masih tertawa sampai akhirnya mereka sampai di cafe –katanya sih cafe sepupunya yang bernama Eliza. Damar dan Laras sudah menunggu di salah satu meja. Begitu melihat Rory, Erris dan Uki masuk, Laras melambaikan tangan. Selagi Uki terkesima dengan sekitarnya –oh, jadi ini tempat mereka biasa nongkrong? Cafe yang nggak terlalu luas tapi ada banyak pengunjung yang santai menikmati kopi dan alunan musik dan suara penyanyi yang merdu.

Ia sempat melirik Erris yang masih acuh padanya. Ini hanya awalnya, kata Uki dalam hatinya sebelum ikut duduk bersama mereka. Untuk sementara ia membuang perasaan tersiksanya walau hampir nggak mungkin nggak meneteskan air mata. Ya, sejak di mobil ia merasa begitu susah. Kalau Rory nggak mengajaknya bicara, mungkin setetes air mata akan mampu mengungkap semua rahasianya. Tapi, itu bukan rencananya.

***

"Rory mana?" tanya Damar yang baru kembali dari toilet, dia juga nggak menemukan Uki di tempat duduknya.

Laras melirik ke panggung live music. Keduanya, sedang ada di atas panggung karena Rory menawarkan Uki untuk bisa menyanyi kepada pemain keyboardnya. Ini sangat pas sama keinginan Uki. Soalnya nggak ada hal lain yang bisa ia lakukan hanya untuk bisa mengejar Erris. Duduk di sini, mencoba untuk terlibat sama obrolan mereka walaupun ia nyaris nggak mengerti. Tapi, kenapa Erris bisa dengan tenang menatapnya seperti itu? Begitu cepatkah pudar perasaannya?

Uki terlihat menerima sebuah gitar akustik yang disodorkan salah seorang pemain band yang mempersilahkannya untuk menyanyi. Orang itu juga memasangkan microphone dan menyesuaikannya dengan tubuh Uki yang pendek. Ia menarik nafas sambil memandangi sekitar yang ramai sebelum memetik gitarnya dan memperdengarkan irama musiknya. Uki menyanyikan salah satu lagu favoritnya.

Bila cinta menggugah rasa

Begitu indah mengukir hatiku

Menyentuh jiwaku

Hapuskan semua gelisah

Duhai cintaku duhai pujaanku

Datang padaku tetap di sampingku

Kuingin hidupku

Selalu dalam peluknya

Terang saja aku menantinya

Terang saja aku mendambanya

Terang saja aku merindunya

Karena dia karena dia begitu indah

“Wow...” Laras, di samping Erris bergumam.

Erris menatap ke panggung di mana sesekali Uki membalas tatapannya itu, sebelum ia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Semua orang menontonnya, bahkan ada yang membalikan badan dari kursinya hanya untuk melihat siapa penyanyi baru itu. Ya, mereka terkesima melihat dan mendengarnya menyanyi. Uki menguasai panggungnya dengan senyum manis, sambil sesekali melihat kemari.

Rory tersenyum merasa bahwa senyum itu ditujukan padanya. Tapi, dia nggak melihat bahwa bukan hanya dirinya tersenyum –Erris juga. Tapi, entah kenapa ia meninggalkan kursinya.

“Lo kemana, Ris?” tegur Damar.

“Toilet” jawabnya tenang.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments