๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Jakarta,
Agustus 2006…
"Eh, eh!" Uki menyikut Rory di
sebelahnya saat Bu Emma menerangkan Simple Perfect Tense.
Rory menoleh dengan sedikit jengkel.
Wajahnya kusut seperti kurang tidur. "Apa sih?" sahutnya berbisik
dengan dahi berkerut.
"Aku mau tanya di mana sih tempat biasanya
kamu nongkrong enak?" tanya Uki padanya.
Rory mengernyit. "Ngapain
nanya-nanya?" cetus Rory yang ternyata sedang badmood. "Lo mau ikutan
nongkrong juga?"
Uki menghela nafas panjang. "Nggak..."
bantahnya, cemberut. "Aku kan cuma pingin tahu aja...habis...duniaku sama
dunia kalian kayaknya bersebrangan banget. Seolah kita nggak ada di sekolah
yang sama, gitu maksudku..."
"Maksud lo kita di dunia nyata, terus
lo di dunia ghaib gitu?" ejek Rory sambil ketawa.
Uki menyikutnya. "Iih, aku serius
nih!" dengusnya. "Aku nggak habis pikir kok bisa-bisanya Cassandra
sama Melia menindas anak-anak menurut mereka nggak keren, padahal kita
sama-sama manusia juga kan?"
"Eh, cebol, dengar ya...yang bedain
manusia satu sama manusia yang lainnya cuma satu. Ada manusia yang punya otak,
ada juga yang nggak. ," kata Rory santai. "Kalau yang punya otak itu
namanya alien, kalau yang nggak itu namanya robot"
"Apa hubungannya sama alien dan robot?
Nggak nyambung..." Uki memelintir rambut lurusnya di puncak kepala.
"Yaah, lihat aja sifatnya alien, suka
menjajah orang lain. Nah kalau robot, tipe yang biasanya dikuasai orang lain
dan nggak akan bergerak kalau nggak ada perintah"
"Terus kamu alien atau robot?"
Rory tertawa, angkat bahu.
"Kamu alien..." gumam Uki
menyipitkan matanya dan Rory masih ketawa. “Begitu juga sama Cassandra dan Melia”
"Gue nggak suka robot," katanya
menggeleng-geleng.
Uki baru sadar, si bandel ini punya lesung
pipi yang dalam.
"Rukia! Angel Florissa!" tegur Bu
Emma yang mendapati mereka sibuk sendiri sementara yang lain serius
memperhatikan. Begitu guru pemarah itu menunjuk ke pintu, semua sama-sama tahu
itu artinya apa.
Rory keluar lebih dulu dari Uki yang ngikut
dengan wajah cemberut dan malu. Bisa-bisanya diusir dari kelas karena ketahuan
ngobrol.
"Bagus!" celetuk Rory. "Gue
nggak nyangka gue dikeluarin dari kelas gara-gara lo, Cebol..."
"Sorry..." ucap Uki yang murung
berdiri di samping Rory di luar kelas di saat teman-teman yang lain melanjutkan
pelajaran.
Rory meliriknya sebentar sebelum
menghembuskan nafas lelah saking jengkelnya. "Aaah!" gerutunya sebal
dan nggak habis pikir, kenapa juga harus berdiri seperti orang bodoh dan
ketahuan sekali kalau dia lagi-lagi dihukum.
Lalu dia meninggalkan Uki di sana.
"Eh, kamu mau ke mana?!" tanya
Uki sambil menyusul. "Nanti tambah dimarahin, tau?!"
Rory nggak mempedulikannya dan terus
berjalan.
"Rory!" panggil Uki yang akhirnya
mengikuti Rory ke kantin. Karena nggak mungkin berdiri di sana sampai jam pelajaran
Bahasa Inggris habis.
Mood Rory kelihatan tambah jelek waktu dia
menarik kursi keluar dari bawah meja, Uki sudah mengambil tempat duluan di meja
yang sama. "Ngapain lo ikut-ikutan gue?" celetuknya.
"Jangan galak-galak kenapa sih? Aku
kan udah minta maaf..." kata Uki memelas.
Rory menahan hatinya untuk nggak emosi,
padahal dia ingin marah-marah sampai rasanya harus memukul orang untuk
menghilangkannya. Tapi, yang ada hanya cewek kerdil dan bego ini. Rory menghela
nafas panjang setiap kali sesuatu terjadi pada dirinya yang berhubungan dengan
Uki. Apa boleh buat, sebanyak Rory mengenal cewek yang selalu berusaha dekat
dengannya, hanya dia yang nggak kecentilan sambil memelintir rambut dan
bertingkah seperti kucing manja.
Baginya semua cewek menyebalkan, tapi yang
ini lebih menyebalkan lagi. Rory memang nggak pernah kasar pada perempuan. Ia
cuma ketus dan judes kalau diganggu, apalagi kalau baru saja makan bara api,
rasanya selalu ingin memukul...
“Tumben
lo ditemenin," tegur Damar yang datang dan menepuk punggungnya sampai
kaget dan air minum di mulutnya menyembur keluar. Mengenai Uki!
"Yaaah..." Uki memandangi bajunya
terciprat dengan rasa jijik.
"Ups, sory..." ucap Damar dengan
senyum menawan yang biasa ia pakai untuk menggoda cewek-cewek kalau Laras
sedang nggak di ‘tempat’.
Bel berbunyi, jam istirahat, semua murid
menghambur ke kantin dari segala penjuru. Kantin mulai dipenuhi anak-anak yang
mau makan. Satu persatu meja mulai penuh. Buat yang nggak kebagian, mereka
pergi ke kantin yang satunya lagi yang ada di belakang.
Rory langsung batuk-batuk dan Damar tertawa
terbahak-bahak lalu tercekat karena ada yang memukul kepalanya. Uki melihat
Laras sudah berdiri di belakang Damar berpangku tangan melihat ke arahnya
dengan senyum lebar.
"Tumben kalian akrab banget" katanya
lalu menarik sebuah kursi mendorongnya di antara Damar dan Uki lalu duduk di
sana sebagai pembatas.
"Lo nggak perlu segitunya kali,
Ras..." celetuk Rory setelah selesai minum dan batuknya hilang.
"Damar belum ganti selera dari ikan koi ke cebong"
"Ikan koi?" Laras mengernyit
padanya.
Uki menunjuk dirinya. "Barusan kamu
bilang aku kecebong ya?" tuntutnya berwajah cemberut.
Laras menggeleng-geleng. "Parah, kodok
ngejekin yuniornya...".
"Kodok?" emosi Rory jadi naik,
tapi itu cuma Laras. Jadi dia nggak harus melanjutkannya dan menghabiskan sisa
nasinya di piring. Lalu dia berdiri untuk memesan satu lagi dan kembali dengan
porsi yang lebih banyak dari yang tadi.
"Udah deh, daripada lo penasaran terus
dan gue bakal ditanyain terus ntar malam lo ikut kita," kata Rory padanya.
"Jam tujuh"
Uki tertegun. Rory mengajaknya?
"Mau nggak sih?!" desak Rory yang
butuh jawaban cepat, Uki pun mengangguk-angguk dengan cepat.
***
.jpg)
Komentar
0 comments