[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 12 (Hal. 28)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Jakarta, Agustus 2006…

"Eh, eh!" Uki menyikut Rory di sebelahnya saat Bu Emma menerangkan Simple Perfect Tense.

Rory menoleh dengan sedikit jengkel. Wajahnya kusut seperti kurang tidur. "Apa sih?" sahutnya berbisik dengan dahi berkerut.

"Aku mau tanya di mana sih tempat biasanya kamu nongkrong enak?" tanya Uki padanya.

Rory mengernyit. "Ngapain nanya-nanya?" cetus Rory yang ternyata sedang badmood. "Lo mau ikutan nongkrong juga?"

Uki menghela nafas panjang. "Nggak..." bantahnya, cemberut. "Aku kan cuma pingin tahu aja...habis...duniaku sama dunia kalian kayaknya bersebrangan banget. Seolah kita nggak ada di sekolah yang sama, gitu maksudku..."

"Maksud lo kita di dunia nyata, terus lo di dunia ghaib gitu?" ejek Rory sambil ketawa.

Uki menyikutnya. "Iih, aku serius nih!" dengusnya. "Aku nggak habis pikir kok bisa-bisanya Cassandra sama Melia menindas anak-anak menurut mereka nggak keren, padahal kita sama-sama manusia juga kan?"

"Eh, cebol, dengar ya...yang bedain manusia satu sama manusia yang lainnya cuma satu. Ada manusia yang punya otak, ada juga yang nggak. ," kata Rory santai. "Kalau yang punya otak itu namanya alien, kalau yang nggak itu namanya robot"

"Apa hubungannya sama alien dan robot? Nggak nyambung..." Uki memelintir rambut lurusnya di puncak kepala.

"Yaah, lihat aja sifatnya alien, suka menjajah orang lain. Nah kalau robot, tipe yang biasanya dikuasai orang lain dan nggak akan bergerak kalau nggak ada perintah"

"Terus kamu alien atau robot?"

Rory tertawa, angkat bahu.

"Kamu alien..." gumam Uki menyipitkan matanya dan Rory masih ketawa. “Begitu juga sama Cassandra dan Melia”

"Gue nggak suka robot," katanya menggeleng-geleng.

Uki baru sadar, si bandel ini punya lesung pipi yang dalam.

"Rukia! Angel Florissa!" tegur Bu Emma yang mendapati mereka sibuk sendiri sementara yang lain serius memperhatikan. Begitu guru pemarah itu menunjuk ke pintu, semua sama-sama tahu itu artinya apa.

Rory keluar lebih dulu dari Uki yang ngikut dengan wajah cemberut dan malu. Bisa-bisanya diusir dari kelas karena ketahuan ngobrol.

"Bagus!" celetuk Rory. "Gue nggak nyangka gue dikeluarin dari kelas gara-gara lo, Cebol..."

"Sorry..." ucap Uki yang murung berdiri di samping Rory di luar kelas di saat teman-teman yang lain melanjutkan pelajaran.

Rory meliriknya sebentar sebelum menghembuskan nafas lelah saking jengkelnya. "Aaah!" gerutunya sebal dan nggak habis pikir, kenapa juga harus berdiri seperti orang bodoh dan ketahuan sekali kalau dia lagi-lagi dihukum.

Lalu dia meninggalkan Uki di sana.

"Eh, kamu mau ke mana?!" tanya Uki sambil menyusul. "Nanti tambah dimarahin, tau?!"

Rory nggak mempedulikannya dan terus berjalan.

"Rory!" panggil Uki yang akhirnya mengikuti Rory ke kantin. Karena nggak mungkin berdiri di sana sampai jam pelajaran Bahasa Inggris habis.

Mood Rory kelihatan tambah jelek waktu dia menarik kursi keluar dari bawah meja, Uki sudah mengambil tempat duluan di meja yang sama. "Ngapain lo ikut-ikutan gue?" celetuknya.

"Jangan galak-galak kenapa sih? Aku kan udah minta maaf..." kata Uki memelas.

Rory menahan hatinya untuk nggak emosi, padahal dia ingin marah-marah sampai rasanya harus memukul orang untuk menghilangkannya. Tapi, yang ada hanya cewek kerdil dan bego ini. Rory menghela nafas panjang setiap kali sesuatu terjadi pada dirinya yang berhubungan dengan Uki. Apa boleh buat, sebanyak Rory mengenal cewek yang selalu berusaha dekat dengannya, hanya dia yang nggak kecentilan sambil memelintir rambut dan bertingkah seperti kucing manja.

Baginya semua cewek menyebalkan, tapi yang ini lebih menyebalkan lagi. Rory memang nggak pernah kasar pada perempuan. Ia cuma ketus dan judes kalau diganggu, apalagi kalau baru saja makan bara api, rasanya selalu ingin memukul...

Tumben lo ditemenin," tegur Damar yang datang dan menepuk punggungnya sampai kaget dan air minum di mulutnya menyembur keluar. Mengenai Uki!

"Yaaah..." Uki memandangi bajunya terciprat dengan rasa jijik.

"Ups, sory..." ucap Damar dengan senyum menawan yang biasa ia pakai untuk menggoda cewek-cewek kalau Laras sedang nggak di ‘tempat’.

Bel berbunyi, jam istirahat, semua murid menghambur ke kantin dari segala penjuru. Kantin mulai dipenuhi anak-anak yang mau makan. Satu persatu meja mulai penuh. Buat yang nggak kebagian, mereka pergi ke kantin yang satunya lagi yang ada di belakang.

Rory langsung batuk-batuk dan Damar tertawa terbahak-bahak lalu tercekat karena ada yang memukul kepalanya. Uki melihat Laras sudah berdiri di belakang Damar berpangku tangan melihat ke arahnya dengan senyum lebar.

"Tumben kalian akrab banget" katanya lalu menarik sebuah kursi mendorongnya di antara Damar dan Uki lalu duduk di sana sebagai pembatas.

"Lo nggak perlu segitunya kali, Ras..." celetuk Rory setelah selesai minum dan batuknya hilang. "Damar belum ganti selera dari ikan koi ke cebong"

"Ikan koi?" Laras mengernyit padanya.

Uki menunjuk dirinya. "Barusan kamu bilang aku kecebong ya?" tuntutnya berwajah cemberut.

Laras menggeleng-geleng. "Parah, kodok ngejekin yuniornya...".

"Kodok?" emosi Rory jadi naik, tapi itu cuma Laras. Jadi dia nggak harus melanjutkannya dan menghabiskan sisa nasinya di piring. Lalu dia berdiri untuk memesan satu lagi dan kembali dengan porsi yang lebih banyak dari yang tadi.

"Udah deh, daripada lo penasaran terus dan gue bakal ditanyain terus ntar malam lo ikut kita," kata Rory padanya. "Jam tujuh"

Uki tertegun. Rory mengajaknya?

"Mau nggak sih?!" desak Rory yang butuh jawaban cepat, Uki pun mengangguk-angguk dengan cepat.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments