๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Ia hanyalah kenangan yang dimulai di tahun kedua ia masih duduk di kelas yang
sama. Kenangan tentang bagaimana Rory akhirnya melihat Uki sebagai seorang
gadis, bukan pengacau. Kenangan yang tetap tinggal walaupun kejadian naas itu
merenggut sebagian dari dirinya.
“Aku dengar kamu ngomongin soal dia lagi
bareng temen-temen kamu,”
Serta kenangan yang entah mengapa belum
bisa ia anggap sebatas kenangan walaupun sudah ada seorang bidadari di
sampingnya –Natha.
Rory menoleh. Berusaha untuk tersenyum.
“Dia siapa?” balas Rory, sambil merangkul bahu Natha. “Kamu cemburu?” goda dia
sambil menarik Natha ke dekatnya.
Sejak mereka meninggalkan cafรฉ live music,
Natha nggak bicara sepatah kata pun. Setiap telinganya mendengar nama Uki, ia
kembali gelisah. Sudah sifatnya, menjadi
begitu tersakiti saat masa lalu Rory kembali jadi topik utama setiap mereka
berkumpul. Karena sinonim dari masa lalu Rory adalah Uki. Entah itu cara mereka
membantu Erris untuk bisa bahagia. Walaupun Erris sudah banyak membantu sampai
sejauh ini, tapi Natha masih belum bisa akrab dengannya.
Sekarang, segala sesuatu yang berhubungan
dengan Erris bukan hanya Rory, adiknya Henrietta juga. Dan Henrietta nggak tahu
banyak tentang Uki –ia juga nggak mau tahu. Sudah terlambat menyuruh Henrietta
kembali ke Jerman di saat ia sudah memutuskan pindah ke Indonesia demi Erris.
Dia sudah mendapatkan pekerjaan baru dan sebuah apartemen untuk tinggal di
Jakarta. Bahkan ia juga mengajak Natha tinggal bersama supaya ia bisa dekat
dengan Rory yang seluruh kehidupannya berpusat di Jakarta –baik itu keluarga,
teman-teman dan masa depannya.
Henrietta perempuan yang berpendirian. Dia
nggak pernah ingin menggantungkan harapan kepada lelaki mana pun. Tapi, dengan
Erris, ia mulai memikirkan sebuah komitmen dan entah apa istimewanya Erris
baginya. Henrietta perempuan yang rumit dan perfeksionis. Jika menurutnya Erris
bisa mengimbangi dengan sifat pendiam dan tenang mungkin nggak akan ada
masalah. Terkecuali, beban masa lalu yang sepertinya masih menghantui Erris.
Tentu Natha nggak akan mengerti bagaimana
bodohnya ketiga orang ini –Rory, Erris dan Uki, dahulunya. Delapan tahun mereka
menyia-nyiakan waktu. Tapi, kembali pada dirinya sendiri yang memilih
mengisolasi diri dari dunia luar karena kejadian traumatis di masa kecilnya,
Natha mulai mengerti setiap orang berhak untuk memilih jalan hidupnya.
Namun, mencoba berempati pada mereka akan
membuat kepedulian terhadap dirinya sendiri berkurang. Oleh karena ia terlalu
banyak memikirkan Rory dan krisis kepribadian yang di alaminya karena pikiran
mencoba memanipulasi perasaannya. Salahnya, menjadikan Rory satu-satunya
penopang hidup oleh karena dia sendirian. Sedang adiknya mungkin akan berurusan
dengan rentetan kejadian nggak menyenangkan, jika ia nggak kunjung sadar bahwa
Erris nggak cukup mencintainya. Dan yang paling menyesakan, ia tahu nanti adiknya
akan jatuh demi lelaki egois dan dingin itu tapi ia nggak berani
memperingatkannya.
“Kalian pasti udah tahu apa yang mungkin
Erris lakukan pada Henrietta” kata Natha.
Rory mulai bingung. “Itu urusan mereka,
Sayang” ujarnya. “Kita nggak bisa ikut campur…”
“Tapi, Henrietta
adikku!” kata Natha, nada suaranya meninggi. “Kamu juga punya adik ‘kan? Gimana rasanya saat kamu tahu kalau dia disakiti
oleh orang yang kamu kenal persis? Seperti saat dia datang tengah malam cuma
buat ngasih tahu kamu soal Erris dan cewek itu...”
Rory terdiam.
Natha menarik nafas panjang, “Ah, aku lupa kalau kamu udah nggak ingat...,”
gumamnya lalu tertunduk. “Dan lagian orang yang nyakitin Chris juga sama dengan
orang yang pernah nyakitin kamu selama delapan tahun. Kamu bisa nerima begitu
aja...”
“Dia yang memutuskan bersama Erris yang
seperti itu” ujar Rory lagi.
“Dan kamu?” balas Natha menatap Rory dengan
sedikit kecewa. “Apa kamu sedang berpikir untuk mengingat masa lalu kamu lagi?”
“Kamu kenapa?” tanya Rory, sadar pertanyaan
itu mulai menjurus dan ia akan kehilangan jawabnnya begitu melihat wajah sedih
Natha. “Aku nggak punya maksud
apa-apa. Selama ini Erris penuh rahasia, nggak ada yang tahu kejadian yang
sebenarnya antara dia dan Uki. Dan dia tertekan, Natha! Semua itu gara-gara
aku! Aku sama Damar cuma berusaha untuk nolongin dia”
“Gara-gara kamu?! Dia
yang nggak pernah terus terang, terus semua jadi salah kamu?!”
“Kamu nggak ngerti,
Natha...”
“Aku memang nggak
ngerti.... kalian... bisa hidup di dalam lingkaran yang mengerikan atas nama
sahabat...”
Rory terdiam. Sungguh, ia nggak pandai
menghadapi kemarahan Natha.
“Kamu bilang…masa lalu kamu nggak lebih
penting dari aku bukan?” Natha mulai menuntut. “Tapi, sekarang itu tiba-tiba
jadi penting. Kamu pasti nggak ingat, kita pernah berantem juga gara-gara kamu
belum bisa menerima sepenuhnya kalau cewek itu nggak cinta sama kamu! Dan aku
juga bakal bilang hal yang sama, kenapa kamu nggak temui dia daripada bikin aku
tersiksa karena kamu… kamu nggak juga akan ingat semuanya! Kamu nggak akan ingat, semua yang pernah kita
lalui bersama...”
Suasana pun menjadi
hening.
“Aku capek, Angel...”
kata dia. “Kalau kamu bilang itu urusan mereka dan kita nggak boleh ikut
campur, kenapa kamu malah memikirkannya?
“Natha...”
Natha menarik diri. Ia
tepiskan tangan Rory yang mencoba meraihnya sebelum ia, membuka pintu kamar dan
keluar.
Faktanya
Rory masih belum mengingatnya. Gadis itu masih tertinggal di pikirannya sebagai
seseorang yang ia nanti delapan tahun –ya, delapan tahun.
***
.jpg)
Komentar
0 comments