[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 11 (Hal. 26)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Ia hanyalah kenangan yang dimulai di tahun kedua ia masih duduk di kelas yang sama. Kenangan tentang bagaimana Rory akhirnya melihat Uki sebagai seorang gadis, bukan pengacau. Kenangan yang tetap tinggal walaupun kejadian naas itu merenggut sebagian dari dirinya. 

“Aku dengar kamu ngomongin soal dia lagi bareng temen-temen kamu,”

Serta kenangan yang entah mengapa belum bisa ia anggap sebatas kenangan walaupun sudah ada seorang bidadari di sampingnya –Natha.

Rory menoleh. Berusaha untuk tersenyum. “Dia siapa?” balas Rory, sambil merangkul bahu Natha. “Kamu cemburu?” goda dia sambil menarik Natha ke dekatnya.

Sejak mereka meninggalkan cafรฉ live music, Natha nggak bicara sepatah kata pun. Setiap telinganya mendengar nama Uki, ia kembali gelisah. Sudah sifatnya,  menjadi begitu tersakiti saat masa lalu Rory kembali jadi topik utama setiap mereka berkumpul. Karena sinonim dari masa lalu Rory adalah Uki. Entah itu cara mereka membantu Erris untuk bisa bahagia. Walaupun Erris sudah banyak membantu sampai sejauh ini, tapi Natha masih belum bisa akrab dengannya.

Sekarang, segala sesuatu yang berhubungan dengan Erris bukan hanya Rory, adiknya Henrietta juga. Dan Henrietta nggak tahu banyak tentang Uki –ia juga nggak mau tahu. Sudah terlambat menyuruh Henrietta kembali ke Jerman di saat ia sudah memutuskan pindah ke Indonesia demi Erris. Dia sudah mendapatkan pekerjaan baru dan sebuah apartemen untuk tinggal di Jakarta. Bahkan ia juga mengajak Natha tinggal bersama supaya ia bisa dekat dengan Rory yang seluruh kehidupannya berpusat di Jakarta –baik itu keluarga, teman-teman dan masa depannya.

Henrietta perempuan yang berpendirian. Dia nggak pernah ingin menggantungkan harapan kepada lelaki mana pun. Tapi, dengan Erris, ia mulai memikirkan sebuah komitmen dan entah apa istimewanya Erris baginya. Henrietta perempuan yang rumit dan perfeksionis. Jika menurutnya Erris bisa mengimbangi dengan sifat pendiam dan tenang mungkin nggak akan ada masalah. Terkecuali, beban masa lalu yang sepertinya masih menghantui Erris.

Tentu Natha nggak akan mengerti bagaimana bodohnya ketiga orang ini –Rory, Erris dan Uki, dahulunya. Delapan tahun mereka menyia-nyiakan waktu. Tapi, kembali pada dirinya sendiri yang memilih mengisolasi diri dari dunia luar karena kejadian traumatis di masa kecilnya, Natha mulai mengerti setiap orang berhak untuk memilih jalan hidupnya.

Namun, mencoba berempati pada mereka akan membuat kepedulian terhadap dirinya sendiri berkurang. Oleh karena ia terlalu banyak memikirkan Rory dan krisis kepribadian yang di alaminya karena pikiran mencoba memanipulasi perasaannya. Salahnya, menjadikan Rory satu-satunya penopang hidup oleh karena dia sendirian. Sedang adiknya mungkin akan berurusan dengan rentetan kejadian nggak menyenangkan, jika ia nggak kunjung sadar bahwa Erris nggak cukup mencintainya. Dan yang paling menyesakan, ia tahu nanti adiknya akan jatuh demi lelaki egois dan dingin itu tapi ia nggak berani memperingatkannya.

“Kalian pasti udah tahu apa yang mungkin Erris lakukan pada Henrietta” kata Natha.

Rory mulai bingung. “Itu urusan mereka, Sayang” ujarnya. “Kita nggak bisa ikut campur…”

“Tapi, Henrietta adikku!” kata Natha, nada suaranya meninggi. “Kamu juga punya adik ‘kan? Gimana rasanya saat kamu tahu kalau dia disakiti oleh orang yang kamu kenal persis? Seperti saat dia datang tengah malam cuma buat ngasih tahu kamu soal Erris dan cewek itu...”

Rory terdiam.

Natha menarik nafas panjang, “Ah, aku lupa kalau kamu udah nggak ingat...,” gumamnya lalu tertunduk. “Dan lagian orang yang nyakitin Chris juga sama dengan orang yang pernah nyakitin kamu selama delapan tahun. Kamu bisa nerima begitu aja...”

“Dia yang memutuskan bersama Erris yang seperti itu” ujar Rory lagi.

“Dan kamu?” balas Natha menatap Rory dengan sedikit kecewa. “Apa kamu sedang berpikir untuk mengingat masa lalu kamu lagi?”

“Kamu kenapa?” tanya Rory, sadar pertanyaan itu mulai menjurus dan ia akan kehilangan jawabnnya begitu melihat wajah sedih Natha. “Aku nggak punya maksud apa-apa. Selama ini Erris penuh rahasia, nggak ada yang tahu kejadian yang sebenarnya antara dia dan Uki. Dan dia tertekan, Natha! Semua itu gara-gara aku! Aku sama Damar cuma berusaha untuk nolongin dia

“Gara-gara kamu?! Dia yang nggak pernah terus terang, terus semua jadi salah kamu?!”

“Kamu nggak ngerti, Natha...”

“Aku memang nggak ngerti.... kalian... bisa hidup di dalam lingkaran yang mengerikan atas nama sahabat...”

Rory terdiam. Sungguh, ia nggak pandai menghadapi kemarahan Natha.

“Kamu bilang…masa lalu kamu nggak lebih penting dari aku bukan?” Natha mulai menuntut. “Tapi, sekarang itu tiba-tiba jadi penting. Kamu pasti nggak ingat, kita pernah berantem juga gara-gara kamu belum bisa menerima sepenuhnya kalau cewek itu nggak cinta sama kamu! Dan aku juga bakal bilang hal yang sama, kenapa kamu nggak temui dia daripada bikin aku tersiksa karena kamu… kamu nggak juga akan ingat semuanya! Kamu nggak akan ingat, semua yang pernah kita lalui bersama...

Suasana pun menjadi hening.

“Aku capek, Angel...” kata dia. “Kalau kamu bilang itu urusan mereka dan kita nggak boleh ikut campur, kenapa kamu malah memikirkannya?

“Natha...”

Natha menarik diri. Ia tepiskan tangan Rory yang mencoba meraihnya sebelum ia, membuka pintu kamar dan keluar.

Faktanya Rory masih belum mengingatnya. Gadis itu masih tertinggal di pikirannya sebagai seseorang yang ia nanti delapan tahun –ya, delapan tahun.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments