[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 10 (Hal. 24)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

"Wah, lagi asik nih!" suara Damar kayak gledek di siang bolong.

Uki dan Sasha sama-sama kaget menemukan dia sudah berdiri di belakang mereka dengan ekspresi mencurigakan. Tapi, melihat Rory ikut nimbrung, selera makan Uki jadi hilang. Padahal tadi lapar banget sampai nggak konsen belajar. Dan Sasha pun nggak sempat untuk menceritakan kejadian kemarin yang harus Uki tahu –cowok itu benar-benar nggak peduli lagi padanya.

Ada ya orang yang suka mengganggu kesenangan orang lain tapi nggak sadar?

"Eh, Sasha, kasihan tuh Erris makannya sendirian" kata Damar sekonyong-konyong menarik Sasha pergi entah ke mana.

Uki syok.  Ngapain mereka sampai narik-narik Sasha segala?! Tapi, ia cuma bisa melongo mereka sama-sama memperhatikan kalau ternyata Sasha diseret ke tempat Erris duduk menghabiskan jam istirahat siangnya. Apa?!

Sementara Rory malah nangkring di samping Uki. "Lo udah lama tahu kalau mereka lagi nge-date?" tanya dia –sok tahu!

Uki nggak tahu harus jawab apa. Kok jadi gini sih?! Ia cuma bisa perhatiin Sasha dan Erris yang lagi digoda Damar duduk di meja makan. Ini nggak lucu lagi namanya! Tahu nggak sakitnya berusaha tenang di saat hampir nggak mungkin bisa duduk diam di sana, nonton dan berharap Erris bakal menegaskan kalau pacarnya bukan Sasha, tapi Rukia! Tapi, mereka cuma salah paham. Mereka cuma salah paham. Tapi… walaupun ini salah paham, dadanya serasa terbakar…padahal Sasha itu sahabatnya dan dia jelas-jelas nggak suka Erris. Tapi… kenapa?

"Aku… nggak tahu…", jawab Uki, menahan perasaan marah di dadanya yang panas. "Emang mereka kelihatan lagi nge-date?"

"Kemarin mereka kepergok keluar bareng dari perpus! Kayak habis janjian gitu!" ternyata Rory ember juga.

Kalau seandainya Uki sama Erris bisa dengan berani pegangan tangan di di depan mereka, mungkin nggak ada rasa cemburu sesakit ini. Cemburu? Sama Sasha? Memang ada apa sih kemarin?

Sambil cengangar cengingir Rory pun kembali menggoda Erris dan Sasha. Memang ganjil sekali rasanya.

***

"Semua cewek-cewek jadi sensi sama gue! Nyebelin!" gerutu Sasha kesal setelah hampir lima menit dia duduk di sana dan ia buru-buru balik ke sini. "Apalagi si Melia, bikin gue pingin jambak rambutnya deh!"

Uki  masih diam.

"Uki?" tegur Sasha yang sadar kalau Uki pingin nangis. Makan siangnya pun jadi nggak tersentuh lagi. Ketahuan banget dia syok gara-gara barusan. "Uki lo nggak apa-apa?"

Uki cuma menggeleng. Gimana mungkin ia nggak apa-apa? Erris itu pacarnya. Pacarnya, lho!, jeritnya dalam hati. Masa sekonyong-konyong bisa digandengin sama sahabatnya sendiri. Uki nggak marah sama Sasha. Tapi juga nggak bisa marah sama Erris. Ia nggak ngerti harus gimana sekarang… hubungan kayak gini mulai seolah nggak ada harapan.

"Jangan dipikirin, Ki. Gue udah ngebantah habis-habisan kok," ujarnya, sejenak bikin Uki tersenyum lagi. Tapi, kalau dilihat ke depanya, kalau kayak gini terus bisa-bisa Uki nggak tahan lagi. Mau sampai kapan Erris memperlakukannya seperti ini?. "Lo tau sendiri Erris kayak gimana. Tenang, dingin, nggak banyak omong. Parah juga tuh cowok lo, bilang 'iya' enggak, bilang 'enggak' juga enggak. Bebas deh semua orang ngartiinnya! Parah banget! Bikin gue jadi kesal deh!"

Saat Sasha nggak henti-hentinya ngomel soal Erris, Uki terus-terusan berpikir. Selanjutnya apa lagi yang terjadi? Uki seolah sedang nggak menunggu bahagia, tapi menunggu akhir dari semua ini…

***

"Lo kenapa pucat banget, Ki? Sakit?" tanya Sasha menatap Uki cemas.

Gimana nggak sakit? Semalam Uki kurang tidur. Air matanya nggak berhenti menetes. Sedih. Kecewa. Sampai mau gila rasanya. Hubungan sudah terlalu jauh begitu siapa yang nggak takut? Kayak habis manis sepah dibuang. Uki masih nggak ngerti kenapa Erris bisa setega itu padanya.

Gara-gara dia, makan jadi nggak enak. Ngapa-ngapain jadi malas. Nggak konsen belajar, PR juga nggak dibikin sampai dimarahin guru. Kalau seandainya mereka nggak melangkah terlalu jauh, apa mungkin diperlakukan kayak gini sama Erris nggak bakal berpengaruh apa-apa? Tapi, yang ada Uki hanya nangis lagi. Sampai matanya bengkak. Suhu tubuhnya jadi 39 derajat karena nggak mau minum obat. Sasha datang ke kosan karena khawatir, dua hari Uki nggak sekolah.

Hanya sesaat, Uki bisa merasa bahagia karena memiliki dia tapi dalam sekejap juga dia menghilang. Ia menunggu sampai Erris muncul lagi hanya untuk membuatnya menangis. Lalu Uki mencoba untuk tidur karena matanya makin berat. Efek obat yang dibawain Sasha mulai kerasa dan ia lega, pikiran tentangnya bisa hilang sementara.

Tapi, jam delapan malam, seseorang mengetuk pintu kamarnya.

“Uki?! Lo ada di dalam nggak?!”

Uki membuka matanya dan seketia menengok ke pintu. Dengar dari suaranya itu bukan Sasha –karena Sasha sudah pulang sejak sore tadi.

Rupanya Noni, anak kosan sebelah.

“Ada yang nyariin tuh!” kata Noni padanya.

Uki mengucek-ngucek matanya yang masih ngantuk. Sakit kepalanya bahkan belum hilang. “Siapa?” tanyanya sambil mengumpulkan semua nyawanya yang terberai oleh mimpi nggak jelas barsan.

“Cowok lo” jawab dia.

Ya, Uki langsung berlari keluar. Mungkin Noni sempat heran melihatnya berlari dalam keadaan sakit.

Benar, akhirnya dia datang juga. Akhirnya…

Uki melihatnya lagi berdiri di depan pagar seperti waktu itu. Sosok tingginya tampak gelap dengan setelan kemeja dan celana jeans berwarna senada –hitam. Dia ggak memakai kaca matanya. Tampilannya agak berbeda dari biasa dan entah mengapa terlihat dewasa. Di saat patah hati pun Uki masih sempat merasa kagum padanya dan berbangga hati, cowok ini adalah miliknya –masih akan jadi miliknya setelah malam ini.

Tapi, lagi-lagi Erris memperlihatkan raut yang Uki sama sekali nggak suka. Dingin seperti salju, beku seperti es. Teringat pada saat mereka pertama kali bertatap muka di depan gerbang sekolah. Ya, tak ubahnya seperti mengulang kembali hari itu –di mana hatinya belum pernah tersentuh.

"Kamu lagi tidur?" tanya dia, tenang.

"Belum…" jawab Uki, nggak mampu menyembunyikan tawanya yang meledak-ledak karena terlalu senang.

Erris mungkin nggak tahu Uki sedang sakit. Karena normalnya, Erris pasti akan memeluknya kalau tahu Uki kenapa-napa apa lagi itu gara-gara dia.

Tapi, dia berdiri di sana tanpa rasa empati sedikit pun pada Uki yang nafasnya tersengal karena memaksakan diri untuk berlari demi bertemu. Uki nggak bisa merasakan arti tatapan itu sama sekali sehingga ia mendekat “Kamu… kemana aja?” tanya dia setengah putus asa sambil menyandarkan dirinya ke tubuh cowok itu. Tentu ia ingin sekali dipeluk di saat seperti ini, kalau perlu ia ingin Erris membawanya pergi.

Erris nggak menjawab. Ia biarkan Uki bersandar di sana sejenak. Sementara kedua tangannya mengepal. Ada sebentuk perasaan tertahan berkumpul di ujung jemari yang ia simpan dalam-dalam pada kepalan itu. sebelum ia memakai kedua tangannya untuk menyentuh tubuh Uki yang lemah –ia harus melepaskan dirinya dari gadis itu.

Uki terkejut, Erris nggak membalas pelukannya.

“Dengerin aku baik-baik…” Erris memulai saat Uki belum lepas dari rasa syok oleh penolakannya itu. “Aku tahu kamu sedih, Ki…”

Lantas kalau tahu kenapa dia mengacuhkannya?

Uki menatapnya penuh pengharapan pada mata itu –mata yang biasanya memandang lembut dirinya bakan di saat Uki memakai pakaian terjeleknya. Tapi, kali ini tatapan itu terlihat seperti hamparan danau yang beku di mana tak ada riak segaris pun.

“Karena itu mungkin aku nggak bisa ngelanjutin semua ini lagi…” sambung dia.

Rasanya ada satu peluru yang melesat cepat tepat ke jantungnya yang tengah berdetak. Ya, jantung itu tertembus olehnya tapi tak juga berhenti berdetak, malahan menjadi amat kencang, lebih kencang lagi. Di dalam dadanya ada sebuah ledakan besar yang membuat aliran darahnya terhenti, beberapa saat. Uki masih hidup walau ia hampir nggak bisa bernafas.

“A…apa?” bibir Uki membentuk garis tipis dengan gemetaran.

“Ini demi kebaikan kamu juga” kata dia, dan entah bagaimana ada sesuatu yang baik dalam perpisahan di saat seseorang masih mencintai dan satu lagi ingin pergi.

Uki menggeleng-geleng. Ia mencoba mengatakan ‘tidak’ tapi tak ada yang bisa keluar dari bibirnya. Hanya ringisan sakit…

“Aku punya alasan kuat kenapa ini nggak akan berhasil buat kita” sambung Erris, tampak nggak mengizinkan Uki bicara –ia mungkin akan menghalangi UKi memohon dan menangis dengan cara eksplisit di hadpaannya karena akan membuatnya benar-benar jadi brengsek. “Kejadian hari itu, bikin aku sadar kalau kamu nggak akan bahagia sama orang kayak aku. Kamu udah tahu semuanya ‘kan? Gimana cara aku bertahan hidup di tengah lingkungan yang keras?”

“Lalu kenapa kamu nunjukin semua itu ke aku?!” teriak Uki, lututnya lemas tapi ia paksakan untuk tetap bediri. “Kalau kamu percaya kita bakal berhasil?!”

Ya, Erris nggak menjawab sementara waktu. sebelm ia tertunduk sejenak. Ya, kembali sembunyi dibalik wajah sang poker-face yang mulai bikin Uki gusar. “Karena kita nggak pernah tahu apa yang terjadi…” jawabnya.

Uki mendekat lalu ia pukulkan tangannya yang lemah ke dada Erris dan cowok itu tetap berdiri tegak di dekatnya –tak bergeming oleh air mata atau bencana besar di wajah Uki yang terlalu pucat untuk ukuran orang berkulit gelap. Lewat tangannya yang gemetaran itu pulalah, Erris bisa merasakan dinginnya tubuh Uki yang berkeringat. Ya, dia bisa merasakannya tapi ia tampak memilih untuk mati rasa.

“Aku nggak peduli apapun selama kamu sayang sama aku…” kata Uki, terdengar seperti permohonan.

“Nggak semudah itu, Uki…” kata dia, sambil menghentikan Uki memukul-mukul dirinya dengan putus asa. Ia pegangi kedua pergelangan tangan Uki yang dingin sambil berusaha mengabaikan semua perasaan yang timbul bersamaan di hatinya karena melihatnya menangis. Mereka belum pernah bertengkar, belum pernah punya masalah berarti, karena itulah semuanya terasa sangat mengejutkan. “Kamu masih ingat hari itu mengerikan?”

Ya, sampai kapanpun itu nggak akan pernah terlupakan. Tapi, bagi Uki,  kejadian itulah yang membuatnya benar-benar mengenal siapa Erris sesungguhnya dan bahkan setelah itu perasaannya sama sekali nggak berubah. Bahkan dari hari ke hari, semakin ia jatuh ke dalam cintanya dan ingin menjadi sandaran baginya jika diperlukan.

“Aku nggak mau itu terulang lagi. Baik di depan kamu atau benar-benar terjadi sama kamu…” kata dia lagi. “Itu bagian dari hidupku yang nggak akan bisa kamu terima… bagian hidupku di mana kamu nggak bakal bisa hidup tenang di dalamnya, Ki…”

“Aku nggak peduli!” jerit Uki meronta agar Erris melepaskan tangannya. “Aku udah terlanjur…”

“Lupakan, Uki…” kata Erris, suaranya di telinga Uki terdengar menusuk. “Lupakan…”

Uki menggeleng-geleng. Dayanya sudah habis sehingga ia hanya bisa merengek, tanpa menghapus air matanya yang sudah mengotori wajahnya. Nggak pernah ia menangis keras seperti itu di depan orang. Ia berharap, bisa membuat Erris berubah pikiran. Saat akhirnya kedua kakinya sudah tak kuat menyangga badannya yang lemah, ia pun jatuh dan saat itulah Erris melepaskan kedua tangannya dengan sangat pelan.

“Maafin aku, Ki…” ucapnya lirih.

“Erris…” ratap Uki menggapai ke arahnya saat Erris mulai melangkah mundur. “Erris… aku mohon jangan… kenapa kamu putusin semuanya sendiri?”

Erris mundur selangkah lagi.

“Kalau kamu ngejauhin aku karena takut aku kenapa-napa harusnya kamu jagain aku ‘kan?!” jerit Uki lagi. “Atau kalau kamu mau aku aman, paling nggak kita bisa sama-sama menjaga seperti selama ini ‘kan?! Teman-teman kamu aja bisa nggak tahu soal kita… terus apa susahnya? Kalau kamu mau aku bakalan diam, aku nggak akan bilang siapa-siapa… aku nggak akan bertingkah manja… asal… asal jangan begini…”

“kamu pantas dapat cowok yang lebih baik dari aku, Ki” ucap Erris yang akhir kata membuat semua permohonan terkahir yang tersimpan di ujung lidah Uki tertelan olehnya sendiri. “Sekali lagi… maafin aku…”

Uki sudah nggak berdaya. Ia bahkan nggak bisa berdiri lagi. ini mimpi. Ini mimpi. Ya ini mimpi. Hanya mimpi. Bangunlah, Uki. Bangun! Bangun!

Tapi, betapa pun ia teriaki dirinya sendiri, Erris yang baru saja pergi adalah nyata. Nyata yang membunuh semua mimpi-mimpi indah cintanya.

Pernah merasakan saat pikiran dan hati nggak sejalan? Ada banyak alasan buat Uki untuk menerima keputusan itu tapi hatinya menolak. Jadi, masih dengan putus asa, akhirnya Uki bangkit untuk berlari lagi –mengejarnya . Semoga dia belum jauh, tapi… di gang itu sudah nggak ada siapa-siapa. Uki nggak pernah merasa setolol ini dalam hidupnya walaupun ia memang tolol.

Kalau sebegini menyakitkan, kenapa orang-orang mau saja jatuh cinta? Atau salahnya karena ia jatuh cinta pada orang yang salah?

Seperti kecanduan obat, kita tahu bahwa suatu saat kita akan dimakan olehnya, tapi kita juga tahu bahwa kita nggak bisa berhenti. Walaupun tahu, esok dan esoknya akan menangis karena mencintai, kita terus mengejar nggak peduli sampai ke mana pun itu karena kita percaya satu hal –bahagia. Dalam cinta ada bahagia.

Tapi, bahagianya telah berlalu…

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments