๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
"Wah, lagi asik nih!" suara Damar
kayak gledek di siang bolong.
Uki dan Sasha sama-sama kaget menemukan dia
sudah berdiri di belakang mereka dengan ekspresi mencurigakan. Tapi, melihat
Rory ikut nimbrung, selera makan Uki jadi hilang. Padahal tadi lapar banget
sampai nggak konsen belajar. Dan Sasha pun nggak sempat untuk menceritakan
kejadian kemarin yang harus Uki tahu –cowok itu benar-benar nggak peduli lagi
padanya.
Ada ya orang yang suka mengganggu
kesenangan orang lain tapi nggak sadar?
"Eh, Sasha, kasihan tuh Erris makannya
sendirian" kata Damar sekonyong-konyong menarik Sasha pergi entah ke mana.
Uki syok.
Ngapain mereka sampai narik-narik Sasha segala?! Tapi, ia cuma bisa
melongo mereka sama-sama memperhatikan kalau ternyata Sasha diseret ke tempat
Erris duduk menghabiskan jam istirahat siangnya. Apa?!
Sementara Rory malah nangkring di samping
Uki. "Lo udah lama tahu kalau mereka lagi nge-date?" tanya dia –sok
tahu!
Uki nggak tahu harus jawab apa. Kok jadi
gini sih?! Ia cuma bisa perhatiin Sasha dan Erris yang lagi digoda Damar duduk
di meja makan. Ini nggak lucu lagi namanya! Tahu nggak sakitnya berusaha tenang
di saat hampir nggak mungkin bisa duduk diam di sana, nonton dan berharap Erris
bakal menegaskan kalau pacarnya bukan Sasha, tapi Rukia! Tapi, mereka cuma
salah paham. Mereka cuma salah paham. Tapi… walaupun ini salah paham, dadanya
serasa terbakar…padahal Sasha itu sahabatnya dan dia jelas-jelas nggak suka
Erris. Tapi… kenapa?
"Aku… nggak tahu…", jawab Uki, menahan
perasaan marah di dadanya yang panas. "Emang mereka kelihatan lagi
nge-date?"
"Kemarin mereka kepergok keluar bareng
dari perpus! Kayak habis janjian gitu!" ternyata Rory ember juga.
Kalau seandainya Uki sama Erris bisa dengan
berani pegangan tangan di di depan mereka, mungkin nggak ada rasa cemburu
sesakit ini. Cemburu? Sama Sasha? Memang ada apa sih kemarin?
Sambil cengangar cengingir Rory pun kembali
menggoda Erris dan Sasha. Memang ganjil sekali rasanya.
***
"Semua cewek-cewek jadi sensi sama
gue! Nyebelin!" gerutu Sasha kesal setelah hampir lima menit dia duduk di
sana dan ia buru-buru balik ke sini. "Apalagi si Melia, bikin gue pingin
jambak rambutnya deh!"
Uki
masih diam.
"Uki?" tegur Sasha yang sadar
kalau Uki pingin nangis. Makan siangnya pun jadi nggak tersentuh lagi. Ketahuan
banget dia syok gara-gara barusan. "Uki lo nggak apa-apa?"
Uki cuma menggeleng. Gimana mungkin ia
nggak apa-apa? Erris itu pacarnya. Pacarnya, lho!, jeritnya dalam hati. Masa
sekonyong-konyong bisa digandengin sama sahabatnya sendiri. Uki nggak marah
sama Sasha. Tapi juga nggak bisa marah sama Erris. Ia nggak ngerti harus gimana
sekarang… hubungan kayak gini mulai seolah nggak ada harapan.
"Jangan dipikirin, Ki. Gue udah
ngebantah habis-habisan kok," ujarnya, sejenak bikin Uki tersenyum lagi. Tapi,
kalau dilihat ke depanya, kalau kayak gini terus bisa-bisa Uki nggak tahan
lagi. Mau sampai kapan Erris memperlakukannya seperti ini?. "Lo tau
sendiri Erris kayak gimana. Tenang, dingin, nggak banyak omong. Parah juga tuh
cowok lo, bilang 'iya' enggak, bilang 'enggak' juga enggak. Bebas deh semua
orang ngartiinnya! Parah banget! Bikin gue jadi kesal deh!"
Saat Sasha nggak henti-hentinya ngomel soal
Erris, Uki terus-terusan berpikir. Selanjutnya apa lagi yang terjadi? Uki
seolah sedang nggak menunggu bahagia, tapi menunggu akhir dari semua ini…
***
"Lo kenapa pucat banget, Ki?
Sakit?" tanya Sasha menatap Uki cemas.
Gimana nggak sakit? Semalam Uki kurang
tidur. Air matanya nggak berhenti menetes. Sedih. Kecewa. Sampai mau gila
rasanya. Hubungan sudah terlalu jauh begitu siapa yang nggak takut? Kayak habis
manis sepah dibuang. Uki masih nggak ngerti kenapa Erris bisa setega itu
padanya.
Gara-gara dia, makan jadi nggak enak.
Ngapa-ngapain jadi malas. Nggak konsen belajar, PR juga nggak dibikin sampai
dimarahin guru. Kalau seandainya mereka nggak melangkah terlalu jauh, apa
mungkin diperlakukan kayak gini sama Erris nggak bakal berpengaruh apa-apa?
Tapi, yang ada Uki hanya nangis lagi. Sampai matanya bengkak. Suhu tubuhnya
jadi 39 derajat karena nggak mau minum obat. Sasha datang ke kosan karena
khawatir, dua hari Uki nggak sekolah.
Hanya sesaat, Uki bisa merasa bahagia
karena memiliki dia tapi dalam sekejap juga dia menghilang. Ia menunggu sampai Erris
muncul lagi hanya untuk membuatnya menangis. Lalu Uki mencoba untuk tidur
karena matanya makin berat. Efek obat yang dibawain Sasha mulai kerasa dan ia
lega, pikiran tentangnya bisa hilang sementara.
Tapi, jam delapan malam, seseorang mengetuk
pintu kamarnya.
“Uki?! Lo ada di dalam nggak?!”
Uki membuka matanya dan seketia menengok ke
pintu. Dengar dari suaranya itu bukan Sasha –karena Sasha sudah pulang sejak
sore tadi.
Rupanya Noni, anak kosan sebelah.
“Ada yang nyariin tuh!” kata Noni padanya.
Uki mengucek-ngucek matanya yang masih
ngantuk. Sakit kepalanya bahkan belum hilang. “Siapa?” tanyanya sambil
mengumpulkan semua nyawanya yang terberai oleh mimpi nggak jelas barsan.
“Cowok lo” jawab dia.
Ya, Uki langsung berlari keluar. Mungkin
Noni sempat heran melihatnya berlari dalam keadaan sakit.
Benar, akhirnya dia datang juga. Akhirnya…
Uki melihatnya lagi berdiri di depan pagar
seperti waktu itu. Sosok tingginya tampak gelap dengan setelan kemeja dan
celana jeans berwarna senada –hitam. Dia ggak memakai kaca matanya. Tampilannya
agak berbeda dari biasa dan entah mengapa terlihat dewasa. Di saat patah hati
pun Uki masih sempat merasa kagum padanya dan berbangga hati, cowok ini adalah
miliknya –masih akan jadi miliknya setelah malam ini.
Tapi, lagi-lagi Erris memperlihatkan raut yang
Uki sama sekali nggak suka. Dingin seperti salju, beku seperti es. Teringat
pada saat mereka pertama kali bertatap muka di depan gerbang sekolah. Ya, tak
ubahnya seperti mengulang kembali hari itu –di mana hatinya belum pernah
tersentuh.
"Kamu lagi tidur?" tanya dia,
tenang.
"Belum…" jawab Uki, nggak mampu
menyembunyikan tawanya yang meledak-ledak karena terlalu senang.
Erris mungkin nggak tahu Uki sedang sakit.
Karena normalnya, Erris pasti akan memeluknya kalau tahu Uki kenapa-napa apa
lagi itu gara-gara dia.
Tapi, dia berdiri di sana tanpa rasa empati
sedikit pun pada Uki yang nafasnya tersengal karena memaksakan diri untuk
berlari demi bertemu. Uki nggak bisa merasakan arti tatapan itu sama sekali
sehingga ia mendekat “Kamu… kemana aja?” tanya dia setengah putus asa sambil
menyandarkan dirinya ke tubuh cowok itu. Tentu ia ingin sekali dipeluk di saat
seperti ini, kalau perlu ia ingin Erris membawanya pergi.
Erris nggak menjawab. Ia biarkan Uki
bersandar di sana sejenak. Sementara kedua tangannya mengepal. Ada sebentuk
perasaan tertahan berkumpul di ujung jemari yang ia simpan dalam-dalam pada
kepalan itu. sebelum ia memakai kedua tangannya untuk menyentuh tubuh Uki yang
lemah –ia harus melepaskan dirinya dari gadis itu.
Uki terkejut, Erris nggak membalas
pelukannya.
“Dengerin aku baik-baik…” Erris memulai
saat Uki belum lepas dari rasa syok oleh penolakannya itu. “Aku tahu kamu sedih, Ki…”
Lantas kalau tahu kenapa dia
mengacuhkannya?
Uki menatapnya penuh pengharapan pada mata
itu –mata yang biasanya memandang lembut dirinya bakan di saat Uki memakai
pakaian terjeleknya. Tapi, kali ini tatapan itu terlihat seperti hamparan danau
yang beku di mana tak ada riak segaris pun.
“Karena itu mungkin aku nggak bisa
ngelanjutin semua ini lagi…” sambung dia.
Rasanya ada satu peluru yang melesat cepat
tepat ke jantungnya yang tengah berdetak. Ya, jantung itu tertembus olehnya
tapi tak juga berhenti berdetak, malahan menjadi amat kencang, lebih kencang
lagi. Di dalam dadanya ada sebuah ledakan besar yang membuat aliran darahnya
terhenti, beberapa saat. Uki masih hidup walau ia hampir nggak bisa bernafas.
“A…apa?” bibir Uki membentuk garis tipis
dengan gemetaran.
“Ini demi kebaikan kamu juga” kata dia, dan
entah bagaimana ada sesuatu yang baik dalam perpisahan di saat seseorang masih
mencintai dan satu lagi ingin pergi.
Uki menggeleng-geleng. Ia mencoba
mengatakan ‘tidak’ tapi tak ada yang bisa keluar dari bibirnya. Hanya ringisan
sakit…
“Aku punya alasan kuat kenapa ini nggak
akan berhasil buat kita” sambung Erris, tampak nggak mengizinkan Uki bicara –ia
mungkin akan menghalangi UKi memohon dan menangis dengan cara eksplisit di
hadpaannya karena akan membuatnya benar-benar jadi brengsek. “Kejadian hari
itu, bikin aku sadar kalau kamu nggak akan bahagia sama orang kayak aku. Kamu
udah tahu semuanya ‘kan? Gimana cara aku bertahan hidup di tengah lingkungan
yang keras?”
“Lalu kenapa kamu nunjukin semua itu ke
aku?!” teriak Uki, lututnya lemas tapi ia paksakan untuk tetap bediri. “Kalau
kamu percaya kita bakal berhasil?!”
Ya, Erris nggak menjawab sementara waktu.
sebelm ia tertunduk sejenak. Ya, kembali sembunyi dibalik wajah sang poker-face
yang mulai bikin Uki gusar. “Karena kita nggak pernah tahu apa yang terjadi…”
jawabnya.
Uki mendekat lalu ia pukulkan tangannya
yang lemah ke dada Erris dan cowok itu tetap berdiri tegak di dekatnya –tak
bergeming oleh air mata atau bencana besar di wajah Uki yang terlalu pucat
untuk ukuran orang berkulit gelap. Lewat tangannya yang gemetaran itu pulalah,
Erris bisa merasakan dinginnya tubuh Uki yang berkeringat. Ya, dia bisa
merasakannya tapi ia tampak memilih untuk mati rasa.
“Aku nggak peduli apapun selama kamu sayang
sama aku…” kata Uki, terdengar seperti permohonan.
“Nggak semudah itu, Uki…” kata dia, sambil
menghentikan Uki memukul-mukul dirinya dengan putus asa. Ia pegangi kedua
pergelangan tangan Uki yang dingin sambil berusaha mengabaikan semua perasaan
yang timbul bersamaan di hatinya karena melihatnya menangis. Mereka belum
pernah bertengkar, belum pernah punya masalah berarti, karena itulah semuanya
terasa sangat mengejutkan. “Kamu masih ingat hari itu mengerikan?”
Ya, sampai kapanpun itu nggak akan pernah
terlupakan. Tapi, bagi Uki, kejadian
itulah yang membuatnya benar-benar mengenal siapa Erris sesungguhnya dan bahkan
setelah itu perasaannya sama sekali nggak berubah. Bahkan dari hari ke hari,
semakin ia jatuh ke dalam cintanya dan ingin menjadi sandaran baginya jika
diperlukan.
“Aku nggak mau itu terulang lagi. Baik di
depan kamu atau benar-benar terjadi sama kamu…” kata dia lagi. “Itu bagian dari
hidupku yang nggak akan bisa kamu terima… bagian hidupku di mana kamu nggak
bakal bisa hidup tenang di dalamnya, Ki…”
“Aku nggak peduli!” jerit Uki meronta agar
Erris melepaskan tangannya. “Aku udah terlanjur…”
“Lupakan, Uki…” kata Erris, suaranya di
telinga Uki terdengar menusuk. “Lupakan…”
Uki menggeleng-geleng. Dayanya sudah habis
sehingga ia hanya bisa merengek, tanpa menghapus air matanya yang sudah
mengotori wajahnya. Nggak pernah ia menangis keras seperti itu di depan orang.
Ia berharap, bisa membuat Erris berubah pikiran. Saat akhirnya kedua kakinya
sudah tak kuat menyangga badannya yang lemah, ia pun jatuh dan saat itulah
Erris melepaskan kedua tangannya dengan sangat pelan.
“Maafin aku, Ki…” ucapnya lirih.
“Erris…” ratap Uki menggapai ke arahnya
saat Erris mulai melangkah mundur. “Erris… aku mohon jangan… kenapa kamu
putusin semuanya sendiri?”
Erris mundur selangkah lagi.
“Kalau kamu ngejauhin aku karena takut aku
kenapa-napa harusnya kamu jagain aku ‘kan?!” jerit Uki lagi. “Atau kalau kamu
mau aku aman, paling nggak kita bisa sama-sama menjaga seperti selama ini
‘kan?! Teman-teman kamu aja bisa nggak tahu soal kita… terus apa susahnya?
Kalau kamu mau aku bakalan diam, aku nggak akan bilang siapa-siapa… aku nggak
akan bertingkah manja… asal… asal jangan begini…”
“kamu pantas dapat cowok yang lebih baik
dari aku, Ki” ucap Erris yang akhir kata membuat semua permohonan terkahir yang
tersimpan di ujung lidah Uki tertelan olehnya sendiri. “Sekali lagi… maafin
aku…”
Uki sudah nggak berdaya. Ia bahkan nggak
bisa berdiri lagi. ini mimpi. Ini mimpi. Ya ini mimpi. Hanya mimpi. Bangunlah,
Uki. Bangun! Bangun!
Tapi, betapa pun ia teriaki dirinya
sendiri, Erris yang baru saja pergi adalah nyata. Nyata yang membunuh semua
mimpi-mimpi indah cintanya.
Pernah merasakan saat pikiran dan hati nggak
sejalan? Ada banyak alasan buat Uki untuk menerima keputusan itu tapi hatinya menolak.
Jadi, masih dengan putus asa, akhirnya Uki bangkit untuk berlari lagi
–mengejarnya . Semoga dia belum jauh, tapi… di gang itu sudah nggak ada
siapa-siapa. Uki nggak pernah merasa setolol ini dalam hidupnya walaupun ia
memang tolol.
Kalau sebegini menyakitkan, kenapa
orang-orang mau saja jatuh cinta? Atau salahnya karena ia jatuh cinta pada orang
yang salah?
Seperti kecanduan obat, kita tahu bahwa
suatu saat kita akan dimakan olehnya, tapi kita juga tahu bahwa kita nggak bisa
berhenti. Walaupun tahu, esok dan esoknya akan menangis karena mencintai, kita
terus mengejar nggak peduli sampai ke mana pun itu karena kita percaya satu hal
–bahagia. Dalam cinta ada bahagia.
Tapi, bahagianya telah berlalu…
ooOoo
.jpg)
Komentar
0 comments