[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 10 (Hal. 23)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Begok!” teriak Sasha. “Lo emang begok ya, Ki! Harga diri lo di mana sih?!”

Uki sudah menangis saat Sasha menyeretnya dengan emosi dari hadapan gengnya Erris. “Terus gue harus gimana lagi?” tanya dia, merengek. “Gue sama sekali nggak punya kesempatan…”

“Kalau lo tahu lo nggak punya kesempatan, ya udah! Nggak usah maksain diri!” kata dia, masih emosi. “Lo lihat ‘kan gimana tampangnya saat lo berdiri di sana?! Dia nggak peduli!”

Sulit bagi Uki untuk menafsirkan bagaimana detik di hadapan Erris berlalu. Ada secercah harapan lewat kenangan tapi menjadi luput oleh rautnya yang dingin. Ya, ada neraka kecil di sana, ketika ia memalingkan wajahnya. Ada perasaan sakit saat ia hanya menatap dingin Uki yang hampir jatuh di hadapannya jika saja Sasha nggak menariknya saat itu. Ia tahu bahwa apapun yang ada di antara mereka dulu hanya mimpi semalam di mana ketika Erris terjaga ia sudah tak bisa mengingatnya. Tapi, yang paling menyakitkan hanya Uki yang masih mengingatnya.

“Gue harus gimana, Sas…” hanya itu yang selalu ia pertanyakan pada sahabatnya saat ia sudah nggak berdaya.

Sasha pun hampir menangis. “Gue juga nggak ngerti, Ki…” kata dia bingung. “Kenapa dia bisa setega itu sama lo gue juga nggak habis pikir…”

Uki merengek makin keras. Sesekali ia hapus air matanya tapi menetes lagi dan lagi. nggak tega, Sasha pun memikirkan cara untuk menolongnya. Paling nggak, Uki harus tahu alasan kenapa mereka tiba-tiba menjarak –atau mungkin selesai. Sungguh,itu cukup mengerikan karena melihat Uki sudah kehilangan ceria dan riangnya cuma gara-gara cowok dalam waktu kurang dari tiga bulan. Cowok macam apa sih yang tega mengecewakan seorang cewek yang rela menyerahkan semuanya?

Ada yang nggak beres sama cowok itu! Dia memacari Uki tanpa sebab lalu dicampakan juga tanpa sebab. Sungguh, ia nggak percaya, cowok macam Erris tega sama sahabatnya! Atau jangan-jangan Uki cuma ketipu? Seperti kebanyakan cowok lain yang punya prinsip habis manis sepah dibuang? Apa Erris seperti itu? Ah, kalau dipikir-pikir mana mungkin cowok kayak Erris naksir cewek kayak Uki? Banyak yang lebih cantik yang mau mengemis jadi pacarnya kalau cuma untuk senang-senang terus dibuang kayak kondom bekas pakai. Ugh!, Sasha jadi makin nggak tahan!

Ia nggak tahan untuk mendamprat cowok itu atas apa yang ia lakukan sama Uki!

***

Erris terlihat keluar dari kelasnya. Dengan menyandang ranselnya, ia kelihatan mau pulang. Mungkin sedang menunggu teman-temannya kaerna biasanya mereka pulang bareng dan sudah pasti dia ditumpangi sama Rory lagi. Tapi, langkahnya malah menuju arah sebaliknya. Cowok itu terlihat menuju perpustakaan! Oh ya?

Sasha pun mengikutinya. Penasaran kenapa dia malah ke perpustakaan? Janji sama Uki? Nggak mungkin! Uki masih di toilet karea belum berhenti nangis sejak tadi. Dia malu dilihatin orang-orang dan bakal diketawain lagi.

Cowok itu sama sekali nggak terlihat mencurigakan. Seperti biasa, dia menyapa Bu Ana, pengawas pustaka yang mejanya berada tepat di pintu masuk. selanjutnya, perpustakaan di dominasi oleh rak-rak buku yang tinggi sekali sehingga pemandangan kita hanya dipenuhi oleh buku-buku yang tersusun rapi. Erris terus berjalan menelusuri satu lorong tanpa lihat kiri kanan dan kayaknya dia memang nggak sedang ingin meminjam buku.

Ya, dia berhenti di satu sudut –tempat kumpulan buku-buku tahun ajaran sembilan puluhan yang sudah kumal dan berdebu. Makanya nggak banyak yang nyari buku sampai ke sini karena pengap. Ya, kalaupun ada cuma mereka yang suka mojok –maklum jaman sekarang banyak anak-anak nekat yang suka menantang adrenalin dengan pacaran di tempat terlarang seperti ini.

Ah, apa sudut ini jadi tempat favorit Uki dan Erris pacaran backstreet? Nggak tahu deh. Tapi, Sasha mantap untuk menghampiri Erris karena ini momen yang pas! Nggak ada seorang pun yang kebetulan lewat.

“Kak Erris!” panggilnya dan Erris yang tengah berdiri di antara rak buku tua menoleh. Spontan, Sasha bisa menangkap ekspresi terkejutnya –nah, bisa juga dia tegang seperti itu!

“Ada apa?” tanya dia dan nyaris bikin Sasha berteriak padanya.

“Aku cuma mau bilang kalau Uki sedih” kata Sasha, urung menyuarakan emosinya. Saat ini ia harus berpihak pada perasaan Uki, bukan kemarahannya walaupun Erris memang pantas mendapatkannya dan bahkan boleh disebut brengsek. Ah, kalau bukan karena Uki sayang cowok ini setengah mati, ia nggak akan mau jadi perantara atau apalah. Bagaimana pun, tindakannya kali ini sama dengan ikut campur.

Ya, Erris hampir tidak bereaksi dengan diam. dia menatap Sasha datar seakan yang dikatakannya itu terdengar seperti ‘aku Cuma bilang kalau Uki titip salam’. Aih, benar-benar cowok yang jago sembunyi! Belajar di mana?

“Aku tahu,” balas dia. “Terus apa?”

Apa?!

Belum terpuaskan dengan jawaban yang seenaknya itu, Erris malah melewatinya?. Mengabaikannya seperti ia mengabaikan Uki? Orang ini masih punya perasaan bukan?

“Kakak nggak bisa gitu!” protes Sasha, mengikuti langkah Erris yang tergesa meninggalkan sudut itu.

Erris nggak menjawab. ia benar-benar menghindar seperti pengecut yang takut bertanggung jawab. Langkahnya cepat dan Sasha terus mengejar!

“Kakak!” panggil Sasha.

“Sssst!” desis Bu Ana saat mereka lewat di depannya. “Ini perpustakaan! Kalau mau ngobrol silakan di luar!”

Erris sudah berlalu. Sasha pun mengabaikan wajah kesal Bu Ana yang tampak mengusir dengan menunjuk ke pintu keluar. Ia berlari lebih cepat!

“Kak Erris!” panggil Sasha lagi saat ia sudah melewati pintu dan ternyata ia disambut oleh teman-teman Erris yang sekarang menatapnya heran.

Terlambat untuk berpura-pura nggak punya urusan, Sasha malah jadi bingung. Ia memandangi teman-teman Rory yang dahinya berkerut sampai membentuk sebuah tanda tanya.

"Erris?" Damar memandangi Erris, lalu Sasha yang salah tingkah, serentak dengan Rory mulai pasang tampang mencurigai. Hm..sudah kuduga…

"Lo kan temannya Rukia," Damar menegur Sasha yang terpaku padanya lalu Erris yang sama terkejutnya dengan Sasha.

"Kalian mau nge-date ya?" tanya Rory bersemangat sambil merangkul bahunya.

"Kalian ngapain sih di sini?!" celetuk Erris dengan nada gusar, dan menepiskan lengan Rory dari pundaknya.

"Hm… pantesan lo tadi ngilang. Ternyata lo punya janji sama cewek ya?" Rory mulai godain, kembali merangkul Erris yang makin sebal.

Damar tertawa, "Kenapa lo nggak bilang sih? Kita nggak bakal maksa lo juga buat pulang bareng kita kalau lo mau ketemuan sama cewek!"

Ampun deh mereka! Lama-lama tambah ngeselin!

Muka Erris masih merengut. Dari sini dia bisa melihat Uki di kejauhan, tampak menahan langkahnya dan kayaknya juga kaget menemukan Rory dan Damar. Di sana, dia pasti kebingungan. Erris nggak banyak berkomentar.

"Kita nggak lagi nge-date!" kata Sasha, setengah berteriak. "Orang cuma kebetulan ketemu!"

"Ah, yang bener?" Damar menyipitkan matanya. Ah, nih orang memang bikin kesel! Kesel! Sasha hampir marah dibuatnya. “Terus ada urusan apa manggil-manggil Erris sampai histeris gitu?”

"Iiiish!" Sasha jadi ngedumel, terus tiba-tiba ngabur!

Mana mungkin Rory dan Damar percaya? Mereka melihat sekilas bagaimana Sasha mengejar penuh harap. "Yah…" Rory menyaksikan Sasha ngacir sambil mencak-mencak sementara Erris masih tenang walaupun keadaannya serba susah.

"Ya udah deh. Lo lanjutin aja kencannya" kata Damar. "Kejar tuh gebetan lo. Masa lo biarin dia pulang sendiri?"

Setelah puas ngetawain, mereka pun ikutan ngacir sambil senyum-senyum geli. Walaupun mereka udah pergi tapi tetap aja Erris nggak bisa tenang. Teman-temannya sudah salah paham duluan.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments