๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Begok!” teriak Sasha. “Lo emang begok ya,
Ki! Harga diri lo di mana sih?!”
Uki sudah menangis saat Sasha menyeretnya
dengan emosi dari hadapan gengnya Erris. “Terus gue harus gimana lagi?” tanya
dia, merengek. “Gue sama sekali nggak punya kesempatan…”
“Kalau lo tahu lo nggak punya kesempatan,
ya udah! Nggak usah maksain diri!” kata dia, masih emosi. “Lo lihat ‘kan gimana
tampangnya saat lo berdiri di sana?! Dia nggak peduli!”
Sulit bagi Uki untuk menafsirkan bagaimana
detik di hadapan Erris berlalu. Ada secercah harapan lewat kenangan tapi
menjadi luput oleh rautnya yang dingin. Ya, ada neraka kecil di sana, ketika ia
memalingkan wajahnya. Ada perasaan sakit saat ia hanya menatap dingin Uki yang
hampir jatuh di hadapannya jika saja Sasha nggak menariknya saat itu. Ia tahu bahwa
apapun yang ada di antara mereka dulu hanya mimpi semalam di mana ketika Erris
terjaga ia sudah tak bisa mengingatnya. Tapi, yang paling menyakitkan hanya Uki
yang masih mengingatnya.
“Gue harus gimana, Sas…” hanya itu yang
selalu ia pertanyakan pada sahabatnya saat ia sudah nggak berdaya.
Sasha pun hampir menangis. “Gue juga nggak
ngerti, Ki…” kata dia bingung. “Kenapa dia bisa setega itu sama lo gue juga
nggak habis pikir…”
Uki merengek makin keras. Sesekali ia hapus
air matanya tapi menetes lagi dan lagi. nggak tega, Sasha pun memikirkan cara
untuk menolongnya. Paling nggak, Uki harus tahu alasan kenapa mereka tiba-tiba
menjarak –atau mungkin selesai. Sungguh,itu cukup mengerikan karena melihat Uki
sudah kehilangan ceria dan riangnya cuma gara-gara cowok dalam waktu kurang dari tiga bulan. Cowok macam
apa sih yang tega mengecewakan seorang cewek yang rela menyerahkan semuanya?
Ada yang nggak beres sama cowok itu! Dia
memacari Uki tanpa sebab lalu dicampakan juga tanpa sebab. Sungguh, ia nggak
percaya, cowok macam Erris tega sama sahabatnya! Atau jangan-jangan Uki cuma
ketipu? Seperti kebanyakan cowok lain yang punya prinsip habis manis sepah
dibuang? Apa Erris seperti itu? Ah, kalau dipikir-pikir mana mungkin cowok kayak
Erris naksir cewek kayak Uki? Banyak yang lebih cantik yang mau mengemis jadi
pacarnya kalau cuma untuk senang-senang terus dibuang kayak kondom bekas pakai.
Ugh!, Sasha jadi makin nggak tahan!
Ia nggak tahan untuk mendamprat cowok itu
atas apa yang ia lakukan sama Uki!
***
Erris terlihat keluar dari kelasnya. Dengan
menyandang ranselnya, ia kelihatan mau pulang. Mungkin sedang menunggu
teman-temannya kaerna biasanya mereka pulang bareng dan sudah pasti dia
ditumpangi sama Rory lagi. Tapi, langkahnya malah menuju arah sebaliknya. Cowok
itu terlihat menuju perpustakaan! Oh ya?
Sasha pun mengikutinya. Penasaran kenapa
dia malah ke perpustakaan? Janji sama Uki? Nggak mungkin! Uki masih di toilet
karea belum berhenti nangis sejak tadi. Dia malu dilihatin orang-orang dan
bakal diketawain lagi.
Cowok itu sama sekali nggak terlihat
mencurigakan. Seperti biasa, dia menyapa Bu Ana, pengawas pustaka yang mejanya
berada tepat di pintu masuk. selanjutnya, perpustakaan di dominasi oleh rak-rak
buku yang tinggi sekali sehingga pemandangan kita hanya dipenuhi oleh buku-buku
yang tersusun rapi. Erris terus berjalan menelusuri satu lorong tanpa lihat
kiri kanan dan kayaknya dia memang nggak sedang ingin meminjam buku.
Ya, dia berhenti di satu sudut –tempat
kumpulan buku-buku tahun ajaran sembilan puluhan yang sudah kumal dan berdebu.
Makanya nggak banyak yang nyari buku sampai ke sini karena pengap. Ya, kalaupun
ada cuma mereka yang suka mojok –maklum jaman sekarang banyak anak-anak nekat
yang suka menantang adrenalin dengan pacaran di tempat terlarang seperti ini.
Ah, apa sudut ini jadi tempat favorit Uki
dan Erris pacaran backstreet? Nggak tahu deh. Tapi, Sasha mantap untuk
menghampiri Erris karena ini momen yang pas! Nggak ada seorang pun yang
kebetulan lewat.
“Kak Erris!” panggilnya dan Erris yang
tengah berdiri di antara rak buku tua menoleh. Spontan, Sasha bisa menangkap
ekspresi terkejutnya –nah, bisa juga dia tegang seperti itu!
“Ada apa?” tanya dia dan nyaris bikin Sasha
berteriak padanya.
“Aku cuma mau bilang kalau Uki sedih” kata
Sasha, urung menyuarakan emosinya. Saat ini ia harus berpihak pada perasaan
Uki, bukan kemarahannya walaupun Erris memang pantas mendapatkannya dan bahkan
boleh disebut brengsek. Ah, kalau bukan karena Uki sayang cowok ini setengah
mati, ia nggak akan mau jadi perantara atau apalah. Bagaimana pun, tindakannya
kali ini sama dengan ikut campur.
Ya, Erris hampir tidak bereaksi dengan
diam. dia menatap Sasha datar seakan yang dikatakannya itu terdengar seperti
‘aku Cuma bilang kalau Uki titip salam’. Aih, benar-benar cowok yang jago
sembunyi! Belajar di mana?
“Aku tahu,” balas dia. “Terus apa?”
Apa?!
Belum terpuaskan dengan jawaban yang
seenaknya itu, Erris malah melewatinya?. Mengabaikannya seperti ia mengabaikan
Uki? Orang ini masih punya perasaan bukan?
“Kakak nggak bisa gitu!” protes Sasha,
mengikuti langkah Erris yang tergesa meninggalkan sudut itu.
Erris nggak menjawab. ia benar-benar
menghindar seperti pengecut yang takut bertanggung jawab. Langkahnya cepat dan
Sasha terus mengejar!
“Kakak!” panggil Sasha.
“Sssst!” desis Bu Ana saat mereka lewat di
depannya. “Ini perpustakaan! Kalau mau ngobrol silakan di luar!”
Erris sudah berlalu. Sasha pun mengabaikan
wajah kesal Bu Ana yang tampak mengusir dengan menunjuk ke pintu keluar. Ia berlari lebih
cepat!
“Kak Erris!” panggil Sasha lagi saat ia
sudah melewati pintu dan ternyata ia disambut oleh teman-teman Erris yang
sekarang menatapnya heran.
Terlambat untuk berpura-pura nggak punya
urusan, Sasha malah jadi bingung. Ia memandangi teman-teman Rory yang dahinya
berkerut sampai membentuk sebuah tanda tanya.
"Erris?" Damar memandangi Erris,
lalu Sasha yang salah tingkah, serentak dengan Rory mulai pasang tampang
mencurigai. Hm..sudah kuduga…
"Lo kan temannya Rukia," Damar
menegur Sasha yang terpaku padanya lalu Erris yang sama terkejutnya dengan
Sasha.
"Kalian mau nge-date ya?" tanya
Rory bersemangat sambil merangkul bahunya.
"Kalian ngapain sih di sini?!"
celetuk Erris dengan nada gusar, dan menepiskan lengan Rory dari pundaknya.
"Hm… pantesan lo tadi ngilang.
Ternyata lo punya janji sama cewek ya?" Rory mulai godain, kembali
merangkul Erris yang makin sebal.
Damar tertawa, "Kenapa lo nggak bilang
sih? Kita nggak bakal maksa lo juga buat pulang bareng kita kalau lo mau
ketemuan sama cewek!"
Ampun deh mereka! Lama-lama tambah
ngeselin!
Muka Erris masih merengut. Dari sini dia
bisa melihat Uki di kejauhan, tampak menahan langkahnya dan kayaknya juga kaget
menemukan Rory dan Damar. Di sana, dia pasti kebingungan. Erris nggak banyak
berkomentar.
"Kita nggak lagi nge-date!" kata
Sasha, setengah berteriak. "Orang cuma kebetulan ketemu!"
"Ah, yang bener?" Damar menyipitkan matanya.
Ah, nih orang memang bikin kesel! Kesel! Sasha hampir marah dibuatnya. “Terus
ada urusan apa manggil-manggil Erris sampai histeris gitu?”
"Iiiish!" Sasha jadi ngedumel,
terus tiba-tiba ngabur!
Mana mungkin Rory dan Damar percaya? Mereka
melihat sekilas bagaimana Sasha mengejar penuh harap. "Yah…" Rory
menyaksikan Sasha ngacir sambil mencak-mencak sementara Erris masih tenang
walaupun keadaannya serba susah.
"Ya udah deh. Lo lanjutin aja
kencannya" kata Damar. "Kejar tuh gebetan lo. Masa lo biarin dia
pulang sendiri?"
Setelah puas ngetawain, mereka pun ikutan
ngacir sambil senyum-senyum geli. Walaupun mereka udah pergi tapi tetap aja
Erris nggak bisa tenang. Teman-temannya sudah salah paham duluan.
***
.jpg)
Komentar
0 comments