๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
What's in Your Heart
Jakarta,
November 2005…
Satu minggu sudah berlalu sejak Uki nggak
pernah berhasil menemui Erris di rumah sakit. Setiap hari datang, tapi salah
satu dari mereka pasti ada di kamar Erris. Dan yang paling sering adalah Laras.
Dua hari lalu Uki hanya berhasil menemui Karla yang kebetulan juga ada di sana.
Seolah tahu sesuatu, Manda terlihat cukup
menyesal membiarkan Uki di luar. Seolah-olah, ia sudah mengerti dengan kondisi
seperti ini dan hanya menyuruh Uki pulang dengan cara yang halus. ‘Erris lagi
istirahat’
Tapi, hampir setiap hari ia menerima alasan
yang sama. Uki mulai gelisah. Kenapa Erris seolah-olah… menghindar darinya?
Sasha tiba-tiba menepuk punggungnya.
“Ngelamun aja nih!” tegurnya.
Uki nggak menjawab. melihat tampang
kusutnya, Sasha sudah tahu kalau dia sedang murung.
“Lo sama sekali belum dikabarin Erris?”
tanya dia lagi.
Kali ini, Uki menggeleng. Tampangnya makin
kusut.
“Dia udah masuk lagi, Ki,” kata Sasha,
memandangi Uki dengan sedikit iba. “Tadi gue lihat dia di kantin bareng
teman-temannya yang biasa. Memang kelihatannya belum sembuh banget, tangannya
masih di-gibs, tapi kayaknya dia udah nggak apa-apa”
Harusnya Uki senang. Tapi, entah kenapa air
matanya menetes. Ia nggak bicara sepatah kata pun. Semua yang ada di pikirannya
saat ini adalah mencari cara bagaimana untuk bertemu dan bicara dengannya.
Melihat Uki menahan tangis, Sasha pun hanya
bisa menggenggam bahunya. “Gue nggak tahu apa yang terjadi tapi ini kelewatan,
Ki…” katanya, bersimpati.
Tapi, Uki cenderung memendamnya sendirian.
Entah ada apa dengan dirinya yang belakangan menjadi begitu pendiam. Dulu, dia
nggak begini. Walaupun diledekin atau diketawain sama cewek-cewek sok gaul, Uki
biasanya cuek. Dia pandai menghadapi situasi di mana ia selalu jadi objek
cemoohan orang. Dia ngak pernah ambil pusing apalagi sampai menangis. Dengan
santainya, ia berlalu begitu saja.
Sekarang, masa garaa-gara Erris aja dia
bisa nangis sampai segitunya? Nah, justru ‘Erris’-nya yang bermasalah di sini.
Ada satu hal yang ia nggak mengerti tentang hubungan sahabatnya ini dengan
cowok yang digandrungi cewek-cewek itu. selain nggak menyangka mereka bisa
jadian, segala sesuatunya mulai menjadi misteri entah mungkin karena sosok Erris
yang pendiam. Tapi, melalui Uki, Sasha tahu kalau cowok itu nggak seperti yang
orang-orang kira. Masa lalunya kelam –meski nggak tahu persis seperti apa. Erris
seakan bersembunyi di balik sosok murid teladan yang hidupnya teratur. Di balik
itu, ia punya wajah lain –yang mungkin saja mengerikan.
Uki pernah menceritakan bagaimana ia
melihat sendiri, Erris berkelahi dengan preman hari itu. dengan kepala
berlumuran darah, ia membalas walaupun preman itu sempat menendangnya di perut.
Ia menerjang dengan kaki dan kedua tangannya. Kalau seorang lagi nggak
memeganginya mungkin ia bisa saja menghajar preman itu sampai mati. Ya, butuh tiga
orang untuk melumpuhkannya –bayangkan, seorang anak SMA butuh tiga orang preman
berbadan besar untuk memaksanya berlutut.
Sasha sempat merinding saat Uki
menceritakannya. Nyaris nggak percaya, tapi itu benar. Itulah yang terjadi.
Sekarang, tinggal Uki yang sedih sendiri.
Ia bahkan nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Erris, pada perasaannya,
pada semua yang telah ia berikan pada Uki. Apa yang membuat Erris seakan
mengabaikannya? Ia kembali ke perpustakaan, mengira bahwa Erris akan datang
untuk menemuinya di sana. Tapi, sampai bel berbunyi, ia nggak pernah datang.
Esok dan esoknya lagi juga. Apa dia sudah lupa? Atau memang sudah nggak peduli?
Lalu bagaimana dengan janjinya? Bagaimana
dengan semua yang pernah terjadi di antara mereka? Dan bagaimana Uki akan
bertahan sampai ia mendapatkan jawabannya?
Terkadang, ingin rasanya ia menghampiri
Erris yang duduk di kantin bersama teman-temannya. Tapi, apa yang akan dia
katakan? Ia sama sekali nggak punya kepentingan untuk bisa berdiri di sana.
Mungkin sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Rory pasti sudah meledeknya
duluan. Orang-orang akan tertawa melihatnya dipermalukan.
Ya, Uki mulai mencari jalan lain. Ia mulai
mengintip. Menunggu kapan Erris akan berada tanpa teman-temannya. Tapi, dari pagi
hingga masuk kelas, sampai istirahat siang dan bel berbunyi, ia selalu bersama
mereka. Pulang sekolah juga ia langsung naik mobil Rory dan melaju pulang.
Erris nggak pernah masuk perpustakaan lagi. Benarkah dia sengaja menghindar?
Tapi, kenapa?
Terlalu banyak pertanyaan di kepala Uki.
Tapi, semakin ia berusaha menemukan jawabannya, malah semakin banyak pertanyaan
yang muncul. Ini semua terlalu mendadak baginya. Ia telah melewati hari-hari
tanpanya, semakin jauh hari-hari itu berlalu malah semakin jauh jalan mereka
untuk bisa bertemu. Bahkan Erris sudah bisa tertawa, kembali menjadi angkuh dan
pendiam lagi, ditambah dengan wajah tanpa ekspresi khas-nya yang membuat Uki
semakin nggak mengerti. Ia sudah nggak mengenali sosok itu lagi. Apa dia
tertukar dengan seseorang yang lain, entahlah. Ini nggak adil bukan?
Maka, sampai juga di mana ia harus
melampaui batas penantiannya. Dengan wajah berantakan, siang itu ia
memberanikan diri menghampiri mereka. Nggak ada pilihan lain lagi.
“Eh, cebol!” malah Rory yang menegurnya
duluan –seperti yang ia duga sebelumnya. Cowok itu selalu menatapnya dengan
pandangan melecehkan.
Uki malah diam. Ia bahkan nggak berani
menoleh ke tempat di mana Erris duduk, memandanginya –lagi-lagi dengan tampang
poker-face. Ugh, mana Erris yang dia kenal? Tapi, barangkali memang beginilah
dia. Erris yang tertinggal dalam kenangannya adalah Erris yang lain –Erris yang
tiba-tiba menghilang.
“Lo ngapain di sini?” seseorang menarik
lengannya tiba-tiba. Sasha! “Gue cariin ke mana-mana, lo malah di sini!”
Geng itu melongo –kecuali Erris yang
sekarang memalingkan wajahnya dengan acuh.
“Pergi yuk!” ajak Sasha tiba-tiba,
mengabaikan geng itu sambil menarik-narik lengan Uki.
Uki heran. Ada apa dengan Sasha? Kenapa
tiba-tiba dia muncul?
“Yuk!” desak Sasha, dan ia pun menarik
paksa Uki dari sana.
“Sas…” Uki sempat bingung. Kakinya masih
terpaku di sana tapi Sasha kuat sekali.
“Udah, yuk!” paksanya, menyeret Uki juga.
Rory tergelak saat mereka sudah pergi.
“Apaan tuh?” celetuk dia sambil geleng-geleng kepala. “Sinting ya?”
“Dia mau nyari siapa sih?” tanya Damar,
melirik Rory lalu Erris yang angkat bahu –bisa-bisanya dia bersikap nggak mau
tahu. “Aneh…”
“Mereka mencurigakan deh,” kata Laras ikut
heran. “Kayaknya tadi dia mau ngomong sesuatu…”
“Ah, sebodo amat!” cetus Rory.
***
.jpg)
Komentar
0 comments