[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 10 (Hal. 22)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

What's in Your Heart

Jakarta, November 2005…

Satu minggu sudah berlalu sejak Uki nggak pernah berhasil menemui Erris di rumah sakit. Setiap hari datang, tapi salah satu dari mereka pasti ada di kamar Erris. Dan yang paling sering adalah Laras. Dua hari lalu Uki hanya berhasil menemui Karla yang kebetulan juga ada di sana.

Seolah tahu sesuatu, Manda terlihat cukup menyesal membiarkan Uki di luar. Seolah-olah, ia sudah mengerti dengan kondisi seperti ini dan hanya menyuruh Uki pulang dengan cara yang halus. ‘Erris lagi istirahat’

Tapi, hampir setiap hari ia menerima alasan yang sama. Uki mulai gelisah. Kenapa Erris seolah-olah… menghindar darinya?

Sasha tiba-tiba menepuk punggungnya. “Ngelamun aja nih!” tegurnya.

Uki nggak menjawab. melihat tampang kusutnya, Sasha sudah tahu kalau dia sedang murung.

“Lo sama sekali belum dikabarin Erris?” tanya dia lagi.

Kali ini, Uki menggeleng. Tampangnya makin kusut.

“Dia udah masuk lagi, Ki,” kata Sasha, memandangi Uki dengan sedikit iba. “Tadi gue lihat dia di kantin bareng teman-temannya yang biasa. Memang kelihatannya belum sembuh banget, tangannya masih di-gibs, tapi kayaknya dia udah nggak apa-apa”

Harusnya Uki senang. Tapi, entah kenapa air matanya menetes. Ia nggak bicara sepatah kata pun. Semua yang ada di pikirannya saat ini adalah mencari cara bagaimana untuk bertemu dan bicara dengannya.

Melihat Uki menahan tangis, Sasha pun hanya bisa menggenggam bahunya. “Gue nggak tahu apa yang terjadi tapi ini kelewatan, Ki…” katanya, bersimpati.

Tapi, Uki cenderung memendamnya sendirian. Entah ada apa dengan dirinya yang belakangan menjadi begitu pendiam. Dulu, dia nggak begini. Walaupun diledekin atau diketawain sama cewek-cewek sok gaul, Uki biasanya cuek. Dia pandai menghadapi situasi di mana ia selalu jadi objek cemoohan orang. Dia ngak pernah ambil pusing apalagi sampai menangis. Dengan santainya, ia berlalu begitu saja.

Sekarang, masa garaa-gara Erris aja dia bisa nangis sampai segitunya? Nah, justru ‘Erris’-nya yang bermasalah di sini. Ada satu hal yang ia nggak mengerti tentang hubungan sahabatnya ini dengan cowok yang digandrungi cewek-cewek itu. selain nggak menyangka mereka bisa jadian, segala sesuatunya mulai menjadi misteri entah mungkin karena sosok Erris yang pendiam. Tapi, melalui Uki, Sasha tahu kalau cowok itu nggak seperti yang orang-orang kira. Masa lalunya kelam –meski nggak tahu persis seperti apa. Erris seakan bersembunyi di balik sosok murid teladan yang hidupnya teratur. Di balik itu, ia punya wajah lain –yang mungkin saja mengerikan.

Uki pernah menceritakan bagaimana ia melihat sendiri, Erris berkelahi dengan preman hari itu. dengan kepala berlumuran darah, ia membalas walaupun preman itu sempat menendangnya di perut. Ia menerjang dengan kaki dan kedua tangannya. Kalau seorang lagi nggak memeganginya mungkin ia bisa saja menghajar preman itu sampai mati. Ya, butuh tiga orang untuk melumpuhkannya –bayangkan, seorang anak SMA butuh tiga orang preman berbadan besar untuk memaksanya berlutut.

Sasha sempat merinding saat Uki menceritakannya. Nyaris nggak percaya, tapi itu benar. Itulah yang terjadi.

Sekarang, tinggal Uki yang sedih sendiri. Ia bahkan nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Erris, pada perasaannya, pada semua yang telah ia berikan pada Uki. Apa yang membuat Erris seakan mengabaikannya? Ia kembali ke perpustakaan, mengira bahwa Erris akan datang untuk menemuinya di sana. Tapi, sampai bel berbunyi, ia nggak pernah datang. Esok dan esoknya lagi juga. Apa dia sudah lupa? Atau memang sudah nggak peduli?

Lalu bagaimana dengan janjinya? Bagaimana dengan semua yang pernah terjadi di antara mereka? Dan bagaimana Uki akan bertahan sampai ia mendapatkan jawabannya?

Terkadang, ingin rasanya ia menghampiri Erris yang duduk di kantin bersama teman-temannya. Tapi, apa yang akan dia katakan? Ia sama sekali nggak punya kepentingan untuk bisa berdiri di sana. Mungkin sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Rory pasti sudah meledeknya duluan. Orang-orang akan tertawa melihatnya dipermalukan.

Ya, Uki mulai mencari jalan lain. Ia mulai mengintip. Menunggu kapan Erris akan berada tanpa teman-temannya. Tapi, dari pagi hingga masuk kelas, sampai istirahat siang dan bel berbunyi, ia selalu bersama mereka. Pulang sekolah juga ia langsung naik mobil Rory dan melaju pulang. Erris nggak pernah masuk perpustakaan lagi. Benarkah dia sengaja menghindar? Tapi, kenapa?

Terlalu banyak pertanyaan di kepala Uki. Tapi, semakin ia berusaha menemukan jawabannya, malah semakin banyak pertanyaan yang muncul. Ini semua terlalu mendadak baginya. Ia telah melewati hari-hari tanpanya, semakin jauh hari-hari itu berlalu malah semakin jauh jalan mereka untuk bisa bertemu. Bahkan Erris sudah bisa tertawa, kembali menjadi angkuh dan pendiam lagi, ditambah dengan wajah tanpa ekspresi khas-nya yang membuat Uki semakin nggak mengerti. Ia sudah nggak mengenali sosok itu lagi. Apa dia tertukar dengan seseorang yang lain, entahlah. Ini nggak adil bukan?

Maka, sampai juga di mana ia harus melampaui batas penantiannya. Dengan wajah berantakan, siang itu ia memberanikan diri menghampiri mereka. Nggak ada pilihan lain lagi.

“Eh, cebol!” malah Rory yang menegurnya duluan –seperti yang ia duga sebelumnya. Cowok itu selalu menatapnya dengan pandangan melecehkan.

Uki malah diam. Ia bahkan nggak berani menoleh ke tempat di mana Erris duduk, memandanginya –lagi-lagi dengan tampang poker-face. Ugh, mana Erris yang dia kenal? Tapi, barangkali memang beginilah dia. Erris yang tertinggal dalam kenangannya adalah Erris yang lain –Erris yang tiba-tiba menghilang.

“Lo ngapain di sini?” seseorang menarik lengannya tiba-tiba. Sasha! “Gue cariin ke mana-mana, lo malah di sini!”

Geng itu melongo –kecuali Erris yang sekarang memalingkan wajahnya dengan acuh.

“Pergi yuk!” ajak Sasha tiba-tiba, mengabaikan geng itu sambil menarik-narik lengan Uki.

Uki heran. Ada apa dengan Sasha? Kenapa tiba-tiba dia muncul?

“Yuk!” desak Sasha, dan ia pun menarik paksa Uki dari sana.

“Sas…” Uki sempat bingung. Kakinya masih terpaku di sana tapi Sasha kuat sekali.

“Udah, yuk!” paksanya, menyeret Uki juga.

Rory tergelak saat mereka sudah pergi. “Apaan tuh?” celetuk dia sambil geleng-geleng kepala. “Sinting ya?”

“Dia mau nyari siapa sih?” tanya Damar, melirik Rory lalu Erris yang angkat bahu –bisa-bisanya dia bersikap nggak mau tahu. “Aneh…”

“Mereka mencurigakan deh,” kata Laras ikut heran. “Kayaknya tadi dia mau ngomong sesuatu…”

“Ah, sebodo amat!” cetus Rory.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments