๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Tapi, dalam sesaat, seberkas cahaya silau membutakan kami yang terpana pada suara dentuman keras dan klakson yang panjang. Rem berdecit tajam, tubuhku terlempar ke depan. Lalu gelap. Aku terbangun oleh tangisan kesakitan Adjani yang memanggil-manggil.
“Gha…zia…,” suara Rexi terdengar samar-samar dan kutoleh ke samping. Kepalanya meneteskan banyak darah. Wajahnya terluka dan ia berusaha meraih tanganku.
“Rexi…,” suaraku tertahan –leherku tercekik oleh sabuk pengaman yang menahan tubuhku tetap duduk.
Dashboard mobil menjepit pinggangku. Aspal jalan berada di atas kepalaku. Ya Tuhan…mobil kami terbalik!
Aku mulai meronta menarik diriku untuk bisa menjangkau Adjani yang merangkak-rangkak. Tanpa suara selain lenguhan sakit pada kakiku yang tak bisa bergerak.
Samar-samar kulihat langkah-langkah kaki yang mendekat –berlari ke arahku, hingga mataku terpejam karena nggak kuat menahan sakit. Lalu ketika aku membuka mataku, aku sudah berada di rumah sakit. Kemudian, berlari bersama tandu yang didorong empat orang perawat dengan kakiku yang kupaksakan untuk terus mengejar Rexi yang terbaring lemah di atasnya.
Lorong panjang yang kulewati membuatku menjadi amat penakut. Dengan terus memperhatikan Rexi yang berusaha bernafas dengan oksigen, aku berharap ia akan bertahan lebih lama sampai dokter bisa menanganinya. Aku nggak pernah melepaskan tangannya, hingga pintu ruang emergency tertutup dan aku harus menunggu di luar.
Tanganku nggak berhenti gemetaran. Dan aku sangat gelisah. Mulai mondar-mandir, sesekali aku melihat ke pintu yang tertutup itu. Jemariku memutih –pucat. Hawa dingin terasa lebih mencekam dan berbeda.
Pintu itu akhirnya terbuka setelah hampir setengah jam. Dokter wanita yang mengurusnya keluar bersama seorang perawat. Dengan wajah pilu, ia memintaku masuk.
“Rexi…,” suaraku sama gemetarannya dengan jari-jariku yang menggenggam tangannya yang masih hangat.
Mesin cardio masih berbunyi. Teratur, setiap satu detik. Rexi masih bernafas, walau tertatih. Matanya menatapku sendu seolah ia memaksakannya untuk tetap terbuka. Bibirnya bergerak, mengatakan sesuatu. Tapi, aku nggak mendengar apapun selain lenguhan sakit. Sehingga aku mendekatkan telingaku ke bibirnya.
“Ma…af…,” itulah kata pertama yang terdengar, penuh dengan rasa sakit. “A…ku…belum…i…ngin…ma…ti, Ellody….”
Aku menahan isak tangisku dengan menutup mulutku agar bisa mendengar setiap kata yang dia ucapkan. Aku menggelengka kepalaku dengan pelan. “Kamu nggak akan mati….”
Seorang perawat menghampiriku. “Maaf, Bu…bisa keluar dulu sebentar?” Tanya dia. “Pasien belum boleh bicara sampai keadaaannya stabil….”
Tapi, aku punya firasat Rexi nggak akan stabil. Aku bisa merasakan ketakutannya akan kematian yang tengah mendekat.
“Rexi?!” Kak Audrey tiba-tiba menerobos masuk diikuti seorang laki-laki yang beberapa kali pernah kutemui sebelumnya –kekasihnya, Erick. Ia mendekat dan menangis di samping Rexi dengan ketakutan. Membuatku semakin sedih.
Aku masih berdoa untuk sebuah keajaiban, untuknya, tapi firasatku semakin kuat saat kusaksikan Rexi membisikan sesuatu di telinga Kak Audrey di sampingnya. Aku nggak tahu itu apa. Karena tiba-tiba saja mesin Cardio berhenti berbunyi. Dan Kak Audrey seketika berteriak histeris.
Aku mendekat. Matanya menutup dengan sangat pelan. Tubuhnya nggak lagi bergeming dengan tarikan nafas yang pelan itu. Aku pun terdiam. Tertegun. Berusaha mempercayai bahwa ini bukanlah mimpi. Tapi, berhari-hari setelahnya aku nggak pernah terbangun dari mimpi itu.
Kenyataannya, Rexi –cintaku, telah tiada…
***
Dongeng anak mana pun selalu diakhiri dengan kata happily ever after. Agar kita terus percaya pada masa depan yang indah jika kita benar-benar berusaha meraihnya. Tapi, terbayangkah cerita setelah happily ever after itu?
Gelap. Itulah kisahku, dengan ending happily ever after yang telah lama berlalu. Aku terpaksa menyebutnya sebagai seseorang yang telah pergi.
Inilah masa depan yang selalu ingin kami lihat –di mana hanya ada aku, hanya aku…
Tapi, kepedihan itu nggak hampir merenggut semua rasa syukurku. Setiap hampir menangis, karena memikirkannya, aku bisa tertawa hanya dengan menyaksikan tingkah polosnya. Saat kupeluk Adjani, kurasakan kerinduan yang sangat dalam padanya. Dan seolah ada tangan yang memeluk kami, aku merasa hangat seolah ia masih ada. Namun, terasa sangat menyakitkan…
Usiaku dua puluh tiga tahun saat itu. Orang bilang aku masih sangat muda. Masa depanku bukanlah masa di mana semua keinginan tercapai lalu siklus hidup dari nol akan terulang lagi. Melainkan adalah saat di mana putri kecilku terus tumbuh hingga ia dewasa. Di sanalah masa depanku yang sesungguhnya.
“Ellody?”
Aku mendengar seseorang memanggil namaku dari balik pintu kamar yang tertutup. Lalu bangkit dari sisi tempat tidur setelah cukup lama memandang dengan hampa ke jendela yang tertutup gorden krem di mana cahaya matahari terus mengintip dengan silaunya yang membutakan.
Ibu mertuaku. “Kamu nggak sarapan?” tanya dia, dan aku mengangguk pelan sambil berusaha tersenyum. “Mama tunggu di bawah ya?”
Sejak putra kesayangannya meninggal, dia sudah sangat jauh berubah. Aku selalu mempertanyakan, apakah perlakuan baik itu kudapatkan dengan harus menukarnya dengan Rexi? Terlalu nggak adil… tapi, harus kuakui, aku yang nggak pernah merasakan punya seorang ibu, akhirnya bisa melihat dan merasakan gimana diperhatikan oleh seorang ibu. Menyedihkan…aku nggak bisa memiliki semua yang kuinginkan dan jika akhirnya kudapatkan, aku harus menukarnya dengan apa yang sudah kumiliki.
Tapi, seperti itulah hidup.
Aku tinggal di rumah besar yang dulunya adalah neraka bagiku. Setiap pagi, kami berkumpul di meja makan dan membicarakan hal-hal santai yang sebelumnya menjadi hal yang sangat membosankan bagiku. Andai saja… saat ini Rexi ada di sampingku. Tapi, aku hanya menoleh dengan sedih ke kursi yang ada di sebelahku –tempat di mana Rexi selalu duduk.
Tangis Adjani mengalihkan perhatianku seketika. Suaranya keras dan kami semua panik. “Kenapa, Sayang?” aku menggendongnya, membujuknya supaya diam.
“Ca…kit…,” katanya, sambil membuka mulutnya. Lidahnya tergigit.
“Sini biar Mama yang gendong,” Mama Rexi langsung berdiri dan meraih Adjani. “Kamu belum sarapan kan?”
Aku jadi nggak enak. Tapi, lega. Walaupun ayahnya sudah nggak ada, Adjani mendapatkan perhatian yang sangat besar dari keluarga ini.
“Habis ini kamu mau ke mana?” tanya Kak Audrey padaku. “Siang ini nggak sibuk kan? Temenin aku belanja ya?”
Aku hanya tersenyum. Itu adalah jawaban iya yang biasa kuberikan. Karena aku nggak mungkin menolak sementara juga nggak punya kesibukan alias menganggur. Aku juga nggak mungin keluar rumah tiap sebentar karena sejatinya aku tetap berstatus menantu di rumah ini bahkan hanya untuk berkumpul bersama teman-temanku. Aku hanya ingin menjaga sikapku karena mereka adalah keluarga Prawira yang terhormat.
Kak Audrey sangat baik padaku. Setelah saat-saat berat yang kujalani seorang diri, ia membantuku untuk terus bersemangat terutama agar aku bisa terus melukis dan berkarya.
***
“Kenapa kamu nggak coba kuliah dulu?” usul Erick, tunangan Kak Audrey.
Mereka mengajakku makan siang di luar saat Mama –begitu aku memanggil ibu mertuaku sekarang, menunggui Adjani yang main di area bermain khusus anak-anak.
“Paling nggak ketemu orang-orang baru,” kata Mas Erick lagi.
Aku terkekeh. “Kuliah?” aku meragukannya. Karena aku masih seseorang yang nggak suka balajar untuk nilai akademik. Belajar lagi hanya akan membuatku menjadi pengeluh yang malas.
“Di fakultas ekonomi misalnya?” kata dia lagi. “Minimal buat nambah ilmu atau ada sesuatu yang kamu pikirin. Lagian kan nggak lucu kalau kamu ngambil fakultas seni di jurusan seni rupa, kamu udah pelukis professional. Nggak ada salahnya untuk mencoba sesuatu yang baru,”
“Tapi, aku lebih suka kalau Ellody jadi pengajar deh,” komentar Kak Audrey, ia menoleh ke tunangannya itu. “Misalnya di sekolah seni atau sanggar,”
Mas Erick menatapku. “Boleh juga tuh,” katanya.
Mereka sangat memperhatikanku. Ya, mereka bilang aku masih muda. Masih punya banyak kesempatan untuk menata hidupku sebaik-baiknya untuk pendidikan, bekerja dan menjalankan peranku sebagai seorang ibu. Ya, aku ingat, dulunya aku adalah gadis yang super sibuk dengan segudang kegiatan yang menganggap 24 jam sehari itu nggak pernah cukup untuk melakukan semuanya. Aku pun ikut saran Mas Erick untuk mengambil kuliah di jurusan ekonomi –siapa sangka?
Tapi, aku nggak pernah memegang kuas lagi. Itulah hal tersulit bagiku. Bukan berarti aku nggak mencobanya. Tapi, setiap aku duduk di depan kanvas kosong, itu selalu membuatku sedih dan menangis hingga aku kembali menyimpan semuanya di dalam peti. Karya-karyaku yang lama sudah lama menjadi koleksi di gallery Tabte Lynn dan beberapa kali ia mengajakku untuk menciptakan sesuatu yang baru. Aku membuat alasan yang klasik untuk menolaknya yaitu terlalu sibuk karena Adjani mulai masuk sekolah dan jadwal kuliahku sangat padat.
***
Komentar
0 comments