[Hal.81] EPILOG] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Selamat malam semua!” seru Bagas –aku baru tahu nama vokalis band itu, dari atas panggung. Ia sudah menggenggam microphone di tangannya sebelum ia memberi isyarat  yang lain untuk memainkan musiknya. 

Dimulai dengan drum yang dimainkan Danny. Lalu bass oleh Tora dan Ferre. Mereka mulai beraksi dalam tepuk tangan meriah tamu undangan yang ikut bergoyang diiiringi lagu nge-beat mereka.

Aku menghampiri Mama yang asyik mengobrol dengan ibunya Ferre sambil menjagai Adjani yang sibuk main bersama anak-anak kerabat yang sebaya dengannya. Bermaksud untuk bergabung –aku sedikit ragu saat menghampiri dua keluarga itu. Tapi, Mama melihatku lebih dulu.

“Teman kamu belum datang, El?” tanya Mama ramah dan aku menggeleng dengan canggung duduk di dekatnya sementara wanita teman ngobrolnya memandangiku. Aku tahu kenapa dia memandangku seperti itu.

Aku menoleh ke Ferre yang asyik memetik bass-nya mengikuti musik.

“Aku…mau bawa Adjani, Ma…,” kataku ragu, menghindari tatapan Mamanya Ferre yang lumayan menusuk. “Kayaknya Mama repot banget ngawasin dia….”

Mama tersenyum. “Udah deh…,” ujarnya sambil menggeleng. “Dia juga lagi asyik main tuh. Ini pesta, Ellody….”

Aku tertunduk, masih merasa canggung dengan perhatian yang intens itu.

“Tuh, teman-teman kamu pada datang,”  katanya tepat menengok ke pintu masuk di mana Genta dan Andin akhirnya muncul. “Samperin sana. Adjani masih ada yang ngawasin kok,”

Dengan sedikit perasaan nggak enak, aku harus pergi menghampiri teman-temanku karena mereka kelihatan bingung. Mungkin agak trauma datang ke pesta-pesta seperti ini karena menjadikan mereka seperti tamu nggak diundang. Aku ingin memastikan bahwa pesta kali ini beda dengan pesta yang sebelumnya.

“Si Ferre nge-band,?” tanya Genta padaku sambil melihat ke panggung.

Aku angkat bahu. Aku nggak tahu persis soal itu, tapi sepertinya menjadi musisi dan main band adalah cita-citanya. Selanjutnya kami nggak lagi membahas soal band anak muda atau segala hal yang berhubungan dengan itu. Seingatku, aku nggak pernah merasa sesenang ini sejak kehilanganku yang tragis. Memandang tawa teman-temanku yang lepas  dan Mama yang begitu bahagia hari ini, aku kembali merasa bahwa aku telah menukar semua suka cita ini dengan Rexi.

Terkadang, aku masih berharap dapat memiliki semuanya. Tapi, sudah nggak bisa. Rexi sudah terlanjur pergi dan yang harus kulakukan adalah meneruskan apa yang telah kujalani sejauh ini.

Kenapa? Terkadang aku masih menyesali malam itu. Keramaian ini belum bisa membuatku lepas dari berandai-andai.

Jika saja dia ada di sini...pikirku saat tiba-tiba hingar bingar di sekitarku memudar. Suara musik dan tawa seperti membeku dalam udara. Aku menatap ke sekelilingku dengan bingung sambil beranjak dari tempatku. Di antara orang-orang yang sedang berpesta, aku melihatnya. Tersenyum.

“Rexi?” kakiku bergerak tanpa kusadari dan mulai mengejar dengan putus asa ketika tiba-tiba dia menghilang!

Kenapa dia malah mempermainkanku di saat aku sangat merindukannya?

***

“Ellody?”

Seseorang menegurku dan aku terkejut, menemukan seseorang berdiri di kegelapan. Seketika aku menjadi takut dan ingin lari. Tapi, tersadar bahwa aku berada sangat jauh dari pesta yang masih berlangsung di dalam sana, rupanya aku hanya mengejar bayangan.

“Ngapain kamu di sini?” tanya Ferre yang entah gimana bisa mengikutiku sampai kemari. “Nggak betah?’

Aku menggleng-geleng. Lalu mengangguk-angguk. Rexi sudah pergi, kataku dalam hati sebelum aku benar-benar bisa merasakan udara dingin menusuk kulitku dan  mendengar jeritan serangga malam.

“Apa sih?” Ferre heran dengan sikapku.

“Nggak…,” aku mencoba untuk tersenyum, nggak menunjukan bahwa aku baru saja berhalusinasi.

“Kamu janjian ketemu sama setan di tempat kayak gini?” Ferre mengerutkan dahi karena aku belum memberikan jawaban yang dia inginkan.

Aku menarik nafas, lalu menggeleng  dengan yakin. “Enggak!” kataku menegaskan.

Ia masih menatapku nggak percaya. “Oh….”

Aku masih diam. Berdiri di tempatku sementara Ferre kelihatannya mau kembali ke dalam. “Ferre!” panggilku dan dia menoleh, menatapku serius.

“Apa?” balas dia dengan kerut di dahi mirip tanda tanya besar.

“Ingat, kamu bukan Rexi,”  kataku. “Meski pun kamu bisa melihat dengan matanya Rexi, kamu tetap bukan dia. Kamu nggak perlu harus mengambil tanggung jawab yang sebenarnya nggak harus kamu ambil..”

Ferre terkekeh. “Memang bukan dia kok,”  balasnya acuh. “Dan nggak akan pernah bisa jadi dia. Kamu juga harus ingat itu supaya nggak berpikiran kalau aku harus jadi cowok yang rapi dan tenang. Atau… bilang hal-hal yang manis biar kamu senang. Aku ini cowok yang nyebelin yang bakal bikin kamu kesal tiap sebentar..”

Aku tercenung mendengar kata-katanya.

“Aku nggak ngerasa ngambil tanggung jawab siapa pun di sini,”  katanya terdengar tegas. “Kamu sendiri yang bilang, kalau cinta itu bukan sekedar ucapan I love you yang enak didengar. Cinta itu adalah menerima, ya ‘kan?

Ferre mendekat dan aku hanya menunggu.

“Kamu yang ngajarin aku semua hal yang nggak pernah aku tahu soal cinta. Dan… please, jangan bilang kalau kamu asal ngomong waktu itu…,” kata dia, tertawa pelan.

Aku pun menggeleng-geleng lalu tertunduk. “Kamu pikir aku tipe orang yang sembarangan ngomong?” cetusku sambil meninju dadanya pelan dan ragu-ragu. Aku mencoba mengendalikan diriku –untuk nggak menangis.

Tapi, saat dia mengulurkan tangannya supaya aku meraihnya, terasa agak melegakan daripada tiba-tiba dia menarik tanganku. Karena aku nggak akan bisa menguasai diriku saat jantungku berdegup sangat kencang. Aku akan terlihat seperti…anak remaja yang baru jatuh cinta. Itu sangat memalukan sampai aku harus menutupi wajahku yang merona karenanya sementara ia tertawa cekikikan. Nyebelin!

“Balik yuk!” ajaknya dan aku belum meraih tangan itu.

Aku sudah tersenyum lagi saat ingin meraihnya. Tapi, dia nggak akan mendapatkanku semudah itu.

Berharap aku akan memegang tangannya, dia malah heran saat aku berlari ke arah sebaliknya.

“Tapi, cinta nggak datang dengan mudah, Ferre!” kataku berseru sambil mencibir dari kejauhan. Aku mengangkat gaunku dan berlari lagi saat dia mulai mengejar.

“Oh ya?!” balasnya sambil berlari. “Kamu pikir ini pertama kalinya kita main kejar-kejaran?!”

Bulan bersinar terang malam ini. Tapi, ini bukan sebuah ending yang happily ever after. Apakah aku bisa bertahan dengan seorang mantan playboy yang egonya melebihi diriku? Aku seperti melihat sosokku yang dulu –yang mudah marah, yang berisik dan ekspresif serta kekanakan ketika kejar-kejaran dengannya sambil tertawa. Dia mengembalikan hal-hal yang sempat terlewatkan olehku ketika memutuskan menikah muda sekaligus memberikan permasalahan baru tentang prinsip hidup.

Tapi, inilah jalur rel kereta selepas satu pertemuan di persimpangan jalan membawaku ke tempat yang lain. Walaupun cinta nggak datang dengan mudah, tapi kita nggak bisa memilih lewat siapa dia akan datang…

Mungkin Ferre adalah kesempatan keduaku.

*end


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments