๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Dan aku duduk mendengarkan, berharap hujan segera berhenti dan Rexi bisa segera pergi. Semakin lama di sini semakin dia membuatku terpengaruh. Aku nggak bisa mengabaikan wajahya yang bersedih.
“Aku nggak pernah merasa lebih takut dari ini bahkan waktu kita memutuskan kawin lari… melawan dunia, atau saat menghadapi keadaan yang nggak pernah bepihak sama kita…,” sambungnya. “Aku nggak pernah takut atau gentar karena aku harus melindungi kamu…lalu ada Adjani… semuanya terasa indah….”
Ternyata dia masih berusaha membuatku meneteskan air mata penyesalan karena mengambil keputusan ini.
“Aku tahu aku yang salah…,” kata Rexi lagi, sekarang menatapku dan aku memalingkan wajahku –berusaha untuk nggak berubah pikiran, walau rasanya begitu sulit. “Aku merasa karena cinta kamu pasti bisa bertahan sampai kita temukan jalan keluarnya…sampai aku lupa kalau kamu menahan lebih banyak dari yang seharusnya….”
Aku memejamkan mata, air mataku terkuras habis keluar. Namun, tetesan berikutnya masih menunggu di pelupuk mataku. Satu tarikan nafas saja membuatku terisak.
Hingga tiba-tiba Rexi sudah ada di depanku, berlutut. Menggenggam kedua tanganku dan aku masih berusaha nggak memandang tepat ke wajahnya.
Aku tahu, Rexi nggak bersalah. Hanya keadaan saja yang membuat ini menjadi makin sulit bagi kami untuk bicara dari hati ke hati seperti ini. Sama-sama telah membuang amarah dan kemudian menyadari bahwa kami sudah mengorbankan banyak hal untuk bisa bersama. Lalu apakah akan melepaskannya begitu saja?
Genggamannya di tanganku yang gemetaran terasa begitu erat. Aku tertunduk lemas. Nggak bisa berkata-kata –hanya perasaan yang ingin jujur bahwa aku juga nggak ingin kami berakhir dengan cara seperti ini.
“Aku nggak mau menyesal, Ellody…,” ulangnya.
Aku masih diam. Berusaha menyembunyikan tangisku dan konyolnya isakanku terdengar begitu jelas.
Suara Rexi pelan sekali. “Kamu tahu, aku ketemu seseorang yang bikin aku memikirkannya sekali lagi?”
Aku memberanikan diri untuk menatapnya dengan yakin, lau kulihat senyum getir di bibirnya yang berusaha mengungkapkan isi pikirannya dengan benar.
“Aku pernah ngantar Kak Audrey ke rumah sakit buat menjenguk seseorang. Adik pacarnya Kak Audrey,” dia ikut tertunduk, tetap menggenggam tanganku. “Dia dirawat di rumah sakit selama hampir setahun dalam keadaaan buta….”
Apa hubungannya?, aku menatapnya dan menunggu.
“Dia orang yang benar-benar nggak tertolong, putus harapan dan depresi…,” Rexi melanjutkan. “Berkali-kali mencoba bunuh diri dan benar-benar ingin mati. Aku nggak tau apa yang bikin aku jadi peduli sampai akhirnya aku tahu apa yang terjadi sama orang itu. Anehnya…dia punya cerita yang sama dengan kita….”
Aku mengernyit.
“Ingat saat kita SMA?” Rexi menatapku sambil tersenyum. Bisa kulihat ada banyak kenangan manis di matanya saat kami masih belasan. “Saat kita tahu hal yang salah selalu menyenangkan buat dilakukan sampai kita terbawa terus tersesat….”
Aku kembali tertunduk, menunggu di mana cerita tentang seseorang itu berakhir.
“Sayangnya dia mengambil keputusan yang keliru buat menyelesaikan masalah. Saat pacarnya hamil, dia memutuskan untuk lari dari tanggung jawab karena malu dan orang tuanya nggak akan setuju. Lalu pacarnya bunuh diri dan dia harus menerima sanksi yang lebih berat. Dipukuli sampai koma berbulan-bulan dan begitu sadar dia udah kehilangan penglihatan lalu ayahnya sendiri…,” lanjut Rexi. “Aku nggak pernah mendengar cerita yang lebih menyedihkan dari itu…tapi ketika dia cerita soal penyesalan terbesarnya, aku jadi ketakutan sendiri….”
“Kenapa?”
Rexi menggeleng pelan. “Aku nggak ingin punya nasib yang sama dengan orang itu…aku nggak mau menyia-nyiakan semua yang aku punya sebelum semuanya hilang…,” katanya. “Aku nggak mau kehilangan kamu, kehilangan Adjani… jadi aku mohon, kasih aku kesempatan sekali ini aja buat menyelesaikannya sama Mama terus kita bisa hidup seperti dulu lagi….”
Tangisku makin keras dan isakanku makin nggak tertahankan di dada. Saat Rexi bangkit untuk berdiri, aku masih berusaha untuk memikirkan alasan bahwa ini terlalu sulit bagiku. Tapi, saat ia memelukku, rasa sesakku seketika hilang. Gimana mungkin aku bisa berpisah dengannya sedangkan aku masih begitu mencintainya?
***
“Kapan pindah?” tanya Diana saat aku sedang mengemasi semua pakaian ke dalam koper.
Aku menggeleng. “Gue nggak tahu, Na…,” jawabku. “Gue baru bisa tenang setelah Rexi selesai ngomong sama Mama-nya. Sementara ini gue mau balik ke rumah yang lama..”
Diana tersenyum dari tempatnya sebelum ia memberikan sesuatu untukku. Sebuah amplop berlogo Sekolah Tamarina –tempat Diana mengajar balet. Di dalamnya ada dua lembar tiket pertunjukan untuk VVIP dan aku tersenyum. Sebuah pertunjukan yang mengingatkanku akan sesuatu yang menyenangkan…
“Nostalgia banget kan?” Diana tertawa pelan. “Tapi, Coppelia yang ini sungguhan lho.”
Aku ikut tertawa. “Lo bakal main?” tanyaku dan Diana menggeleng.
“Gue sutradaranya,” jawab dia. “Ini pertunjukan spesial. Adjani pasti senang banget,”
Petunjukan balet berjudul Coppelia mengingatkanku pada pensi di SMA –latihan drama, pertengkaran konyol sama Monalisa dan pemilihan kostum yang agak ribet. Kami berjanji untuk bersama selamanya seusai pertunjukan dan mengalami hari-hari yang berat setelah itu.
Di sini sudah ada Adjani yang mulai belajar bicara dan menyanyi. Aku selalu tertawa melihat tingkah lucunya setiap dia bermain dengan apa yang dia sukai dan bahkan sudah bisa memegang kuas. Setiap dia menemaniku melukis dia akan merangkah ke bawah standar kanvas untuk mengambil cat warna warni yang mungkin menarik baginya. Apa Adjani akan punya bakat melukis? Tapi, melihat dia senang sekali mendengar musik mungkin dia ingin jadi penyanyi.
“Kenapa jadi belepotan sih?” Rexi protes, menemukan baju Adjani sudah seperti lukisan abstrak merangkak di lantai. Ia langsung mengangkatnya dan nggak sadar warna baju Adjani pindah ke kemeja putihnya. “Kamu keasyikan melukis sampai nggak sadar Adjani main cat?”
Aku masih duduk di kursiku, melanjutan karyaku. “Mana tahu dia punya bakat lukis,” jawabku.
“Kalau catnya ketelan gimana?” Rexi masih protes.
Aku harus berdiri, meyakinkannya bahwa Adjani cukup pintar membedakan cat minyak dan selai strawberi dari baunya. Aku meraih Adjani yang sudah menularkan warna pelangi ke setelan mahalnya. “Susah ya kalau orang yang nggak punya hobi kayak ayah…,” gumamku sambil membawa Adjani masuk kamar buat ganti baju.
Rexi hanya geleng-geleng kepala sambil mengikuti kami. Dan kereta siang lewat lagi. Adjani sudah nggak pernah nangis lagi merasakan guncangan selama kurang dari semenit yang sering mengganggu moment indah kita. Mungkin dia sudah terbiasa dengan suara-suara itu.
“Kayaknya aku udah nggak betah lagi deh…,” kata Rexi, begitu suara panjang itu akhirnya berlalu. Meskipun tertawa raut wajahnya kelihatan serius. “Kalau kamu nggak keberatan…aku mau beli rumah dan kita…bisa pindah secepatnya....,”
Mendengar itu aku sedikit sedih. Jelek-jelek begini juga tempat ini adalah rumahku. Asalku. Tapi, sekarang keadaan sudah jauh berubah. Aku harus menjadi seorang istri yang patuh pada suaminya. Ke mana pun dia pergi, aku akan tetap berada di sampingnya. Karena perpisahan beberapa bulan saja membuat hidup kami seperti berada di neraka.
Aku pun mengangguk. “Tapi…kita jadi ke pertunjukannya Diana kan?”
Rexi tersenyum. Ia sendiri juga nggak sabar ingin bernostalgia dengan Dr. Coppelius. Lalu aku berdiri di hadapannya saat ia menggenggam kedua tanganku persis seperti kita pertama kali membuat janji. Tapi, ujung celanaku seperti ditarik-tarik –ternyata Adjani berada di kakiku dan minta digendong lagi. Aku meraihnya sambil tertawa dan memandang wajahnya –yang semakin mirip dengan ayahnya, sebelum Rexi memeluk kami dengan erat.
Kami adalah sebuah keluarga yang utuh sekarang.
***
Komentar
0 comments