[Hal.77] [Ch.16] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Tante Lynn mengundangku ke pamerannya dan aku nggak tahu kalau lukisanku masih menjadi lukisan favoritnya. Sehingga lukisan itu terus di pajang setiap ia menggelar pameran.

“Kamu bisa bikin pameran sendiri nanti, honey…,” kata dia setengah merayu. Wanita ini memang seorang yang eksentrik dan beda dari wanita 40 tahunan biasanya. Rambutnya yang pendek dicat merah menyala, dan di lehernya melingkar syal coklat dengan motif macan.

Aku tersenyum kecut. “Aku baru bikin lima kok…,” balasku. “Sekarang…aku….”

“Harus move on dong, sayang…,” ujarnya, dan matanya dengan jeli melirik sesuatu di balakangku. “Itu siapa?”

Aku mendengus lelah, ini bakal menimbulkan kesalahpahamanan nanti. “Teman kuliah yang kebetulan ketemu di depan….”

Lirikan mata Tante Lynn mulai genit. “Yang itu boleh juga…berondong ya?” ia masih memandangi sosok di belakangku yang tengah menelpon itu.

Aku pun tertawa sambil menggeleng, menoleh ke belakang sejenak. Yang benar saja, pikirku. Lalu Tabte Lynn menepuk pundakku.

“Kamu masih muda, Coppelia…,” katanya lagi dan panggilan itu sedikit membuatku terharu. Dia memanggilku Coppelia karena memahami obsesiku terhadap sosok Coppelia dalam lukisanku –sejak pertama ia melihat lukisan itu. “Kamu berhak buat bahagia….”

Senyumnya mengandung arti lain yang sedikit membuatku merinding. Lirikan matanya memberitahuku bahwa seseorang mendekat kemari dan kami harus mengakhiri obrolan singkat itu. Kubalikan badan menghadapi orang aneh yang entah mengapa begitu penting menguntitku dari pinggir jalan sampai ke sini.

Aku sudah bertemu dengan berbagai macam orang di kampus. Rata-rata usia mereka di bawahku sehingga aku sedikit kesulitan untuk berbaur –sebenarnya ini bukan masalah usia. Tapi, kepribadian. Aku seorang perempuan yang pernah menikah sekaligus seorang ibu. Itulah keadaan yang bikin aku nggak bisa menyesuaikan diri dengan sesama mahasiswa.

Tapi, ada satu orang yang sangat berbeda di antara ratusan orang yang kutemui di setiap kelas yang aku ikuti. Keanehannya itu sering bikin aku merinding oleh sorot matanya yang nggak biasa. Dia bisa muncul dan hilang begitu saja, tapi menyisakan banyak pertanyaan tentang kenapa aku membiarkannya menguntitku sampai seperti itu dan memanggilku dengan nama Adjani.

***

Suatu ketika, aku masih menangis –berhari-hari setelah pemakaman. Seseorang mengetuk pintu kamarku. Kak Audrey datang memberitahuku sesuatu. Yaitu pesan terakhir Rexi yang ia ucapkan sebelum ia menghembuskan nafas terakhir. Ia ingin mendonorkan kornea matanya kepada seseorang yang ia pikir menyelamatkan hidupnya dan Kak Audrey sudah memenuhi keinginannya itu.

Tapi, aku hanya menangis. Sudah nggak peduli dengan semua itu.  Hingga aku nggak ingat, ada seseorang yang hidupnya terselematkan oleh kepergian Rexi yang aku nggak pernah mengenalnya atau bahkan tahu namanya. Aku hanya tahu bahwa dia adiknya Mas Erick.

Orang itu adalah lelaki aneh yang selalu memanggilku Adjani hanya karena dia membaca nama itu di buku catatanku. Dan aku nggak pernah memberitahu bahwa Adjani hanyalah seorang anak kecil yang baru saja bersekolah di playgroup, hingga suatu hari dia berdiri di depan pintu rumahku untuk mencari seseorang bernama Ellody.

Aku nggak mengerti. Apa yang telah Rexi lakukan padanya sehingga dia menuntutku atas seseorang yang selalu ia lihat dan anehnya itu mengacaukan hidupnya?

Beberapa bulan setelah dia seolah menyalahkan Rexi dan aku, dia muncul lagi secara tiba-tiba. Lalu berkata seolah dia adalah Rexi.

Entahlah –mereka seolah pernah membuat perjanjian sebelumnya tentang siapa yang akan mati atau hidup untuk menggantikan peran yang mati. Tapi, aku nggak pernah melihat Ferre  Saverio sebagai orang yang gagal menjalani kehidupan sebelum ia bisa melihat dengan mata Rexi. Bagiku ia nggak lebih dari seseorang yang kehilangan arah dan berusaha menemukan cinta yang pernah hilang darinya.

Setidaknya aku mengerti bahwa Ferre adalah aku dan Rexi dalam satu wujud –antara sang pemimpi dan seseorang yang terkekang. Nasib mempertemukan kami seperti rel kereta yang bercabang ke dua arah di mana di satu titik rel itu bertemu. Kiranya seperti itulah Ferre dan Ellody…

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments