๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Kamu mau langsung pulang? Nggak jemput Adjani dulu?” Tanya Mas Ubai saat aku baru duduk di jok mobilnya dan dia sudah menyalakan mesin.
“Nggak usah deh, Mas. Aku baru ngantar Adjani kemarin…,” katalu agak sedih. Memang rasanya berat setiap kali mengantar Adjani ke rumah Rexi sesuai perjanjian. Karena terkadang aku merasa gimana jika tiba-tiba saja mereka membawa Adjani pergi ke mana hanya untuk memisahkanku darinya. Tapi, aku sudah bertekad jika itu sampai terjadi aku bakal mencari Adjani bakan sampai ke ujung dunia sekalipun. “Palingan besok….”
Mas Ubai diam dan mobilnya mulai melaju.
Aku pun ikut diam. Setiap kali aku duduk di sini dengannya aku merasa sangat buruk dengan memikirkan semua yang sudah kulakukan dan orang ini seolah setia menungguku. Sekarang pun aku belum bisa memberi jawaban pasti padanya. Aku nggak ingin menjadikannya tempat lari tapi setiap dia datang dia selalu menawarkan bantuan yang sangat sulit untuk kutolak. Kadangkala ada kebaikan yang terasa menyakitkan bagiku, karena nyatanya aku sama sekali nggak akan pernah bisa membalasnya.
“Jadi…gimana proses perceraiannya?” tiba-tiba Mas Ubai bertanya padaku.
Aku mulai bingung. Sampai sekarang gugatanku belum dikabulkan pengadilan. Harus kuulangi sekali lagi bahwa Rexi masih ingin mempertahankan rumah tangga kami tanpa harus memilih. Dia nggak sadar betapa nggak adilnya itu bagiku di saat keluarganya berusaha menolakku dengan mencarikan Rexi pengganti yang lebih pantas.
Sangat disayangkan…
Melihatku diam, Mas Ubai pun ikut diam. Begitulah saat-saat yang terulang setiap aku berada di sini bersamanya. Seperti duduk di kursi pesakitan.
“Dia benar-benar nggak bisa ngelepasin kamu ya…?” suara Mas Ubai yang tenang kembali terdengar.
Aku menoleh ke sampingku dan dia hanya menatap lurus ke depan. Tampak menunggu sebuah kepastian. Tapi, aku nggak berkomentar.
“Dan sepertinya kamu juga nggak rela harus berpisah…,” sambung dia.
Aku pun menarik nafas, semakin bingung. Aku memaksanya untuk menyerah setiap detik yang kita habiskan dengan keheningan di dalam mobil karena nggak pernah bisa menyatukan dua pikiran yang berbeda.
“Saya hanya nggak mau karena ego kamu menderita,” katanya. “Saya pun sama seperti kamu,”
Aku masih menatapnya dan Mas Ubai tetap nggak menoleh walaupun sedikit. Terlihat wajahnya yang datar berusaha menyembunyikan sesuatu dariku –kegetiran.
“Ingin membahagiakan orang yang dia cintai walaupun nggak bisa memiliki. Namun, kita harus tetap sadar kalau terkadang dia nggak akan bahagia dengan cara yang kita ambil,” sambungnya. “Kita hanya akan menyesal setelah semuanya terlambat….”
Aku pun tertunduk. Kata-kata itu hampir membuatku menangis.
Lalu mobilnya berhenti. Aku sudah sampai di depan rumah Diana dan bersiap untuk turun.
“Ini cara saya mencintai kamu,” kata dia lagi saat aku hendak membuka pintu dan seketika aku menoleh padanya. “Saya datang saat kamu butuh, dan pergi ketika kamu ingin sendirian… saya sama sekali nggak tahu kapan saya berhenti seperti ini, mungkin sampai saya… bisa benar-benar memastikan kamu bisa bahagia dengan atau tanpa saya….”
Sudah cukup lama aku nggak menangis. Biasanya itu selalu karena Rexi tapi saat ini hatiku terenyuh oleh ucapan dari orang lain sebab ketidakadilan dan keegoisanku. “Aku terima terlalu banyak dari Mas Ubai sampai aku nggak tahu harus bilang apa…,” kataku semakin bingung.
Mas Ubai akhirnya tersenyum. Jarang sekali aku bisa melihatnya tersenyum karena dia orang yang dingin. “Kamu nggak perlu bilang apa-apa…,” ujarnya, pelan. “Hanya ini yang bisa saya lakukan buat kamu….”
Aku menyeka air matamu.
“Saya ngerti kok…,” ujarnya, masih dengan senyum itu. “Dia menunggu kamu,”
Aku bertambah bingung saat dia memberiku isyarat untuk menengok keluar jendela.
Ternyata Rexi sudah menunggu di depan pagar –dengan menggendong Adjani. Dia terlihat berbeda dari terakhir kali kami bertemu di pengadilan. Seolah telah membuang setelan jas yang rapi dan mahal itu entah ke mana. Rambutnya sudah kembali dibiarkan memanjang. Seolah di rumah sebesar dan selengkap itu, nggak bisa mengurusnya. Atau barangkali dia nggak pernah mengizinkan siapapun mengurusnya. Padahal hanya beberapa bulan saja…
Aku turun dari mobil –nggak tahu entah sejak kapan mereka menunggu di sana di hari yang mendung ini. Aku hanya mengucapkan terima kasih sama Mas Ubai sebelum akhirnya ia kembali melajukan mobil meninggalkanku.
“Bentar lagi hujan. Kenapa kamu bawa Adjani keluar?” tanyaku sambil meraih Adjani dari gendongannya karena putri kecilku terlihat nggak sabar.
“Apa memang seperti ini yang kamu mau?” dia bertanya-tanya. “Melihat Adjani harus pindah tiap sebentar?”
“Kelihatannya kamu nggak keberatan,” jawabku berusaha acuh, sambil membuka pintu pagar lalu masuk membawa Adjani sebentar.
“Jangan egois, Ellody!” teriaknya dan aku seketika menoleh ke belakang. “Kamu nggak benar-benar mikirin Adjani kalau kamu benar-benar mau kita pisah!”
“Terus kamu mau aku kembali ke rumah kamu ketemu Mama kamu yang selalu ingin kita pisah dan aku nggak bisa lebih sabar menunggu dia nyariin kamu istri baru yang lebih cocok?” tandasku. “Bahkan di pesta ulang tahun kamu sendiri aku jadi orang asing! Dan kamu… kamu nggak ngelakuin sesuatu bahkan cuma buat aku ngerasa lebih baik!”
“Aku udah berencana untuk pindah… bawa kamu, bawa Adjani juga! Tapi kamu mutusin semuanya sendiri dan sekarang kamu….”
Adjani tiba-tiba menangis. Ia meraung dalam gendonganku sambil memandangi Rexi yang kutinggalkan. Terlihat perasaan nggak rela di wajahnya yang seketika memerah dengan tetesan air mata seperti kesakitan. Kedua tangannya tampak mencoba meraih ayahnya sehingga aku pun kembali.
“Aku nggak mau jadi penghalang antara kamu dan orang tua kamu, Rexi…,” kataku dengan pelan setelah Adjani kembali ke gendongan ayahnya dan ia berusaha membuatnya tenang. “Sampai kapanpun mereka nggak akan pernah bisa nerima aku….”
Rexi menggeleng-geleng. “Aku punya tanggungjawab yang nggak bisa aku lepasin gitu aja…,” katanya padaku sungguh-sungguh. “Kamu dan Adjani….”
“Tetap ada hal yang nggak bisa kita paksain. Gara-gara aku kamu menjalani kehidupan yang nggak seharusnya…,” ujarku, dan menatap wajahnya membuatku ingin menangis. Kata-kataku sendiri malah merobek hatiku.
“Aku nggak mau nyesal seumur hidup!” teriaknya tiba-tiba dan Adjani yang sudah mulai tenang kembali berteriak sambil menangis.
Aku pun segera meraihnya dan membuatnya diam. “Jangan teriak-teriak di depan Adjani…:, kataku kesal dan pelan sambil menghapus air mataku lalu berbalik. Bermaksud membawa Adjani ke dalam karena rintik hujan mulai turun. “Kamu kaget ya, Sayang….”
Tapi, meski menangis karena ketakutan oleh suara Rexi, Adjani masih saja menoleh ke arahnya dengan nggak rela. Dia belum bisa bicara. Hanya menangis setiap kami tanpa sadar bertengkar di depannya.
Lalu hujan turun, aku sudah berdiri di teras tapi Rexi masih di sana. Seakan sengaja membuat Adjani terus menangis sehingga aku harus membawanya masuk.
Beberapa saat kami tenang. Menunggu hujan sementara aku menidurkan Adjani. Hujan semakin deras dan Rexi tampak putus asa. Ia duduk di ruang tamu sendirian, tampak merenung dan tertegun sampai aku membawakan secangkir teh. Ia masih menatapku dengan memohon. Hatiku sakit. Tapi, aku menahan diriku untuk mengatakan hal yang sebaliknya tentang perasaanku –nggak ada cinta lagi atau terus-terusan bilang ingin berpisah. Semakin dilanjutkan semakin sulit bagiku untuk menegaskan.
Komentar
0 comments