[Hal.72] [Ch.16] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Ch. 16 - Pesan Terakhir

Ellody

Suara kereta yang lewat nggak pernah terdengar lagi. Juga gonggongan anjing Pak Masri yang kadang-kadang bikin aku merinding adalah sesuatu yang sekarang jadi aku rindukan. Walaupun suasana ini lebih tenang dari rumah kecil di pinggiran rel kereta tapi tempat itu jauh lebih nyaman dari sini.

Ruangan besar, kamar mewah dengan kamar mandi yang besarnya hampir sebesar kamarku di sana, dan perabotan mahal yang aku nggak pernah bermimpi untuk bisa memilikinya. Sekarang, bagai mimpi semua itu hadir sebagai bagian dari kenyataan yang walau gimana pun –ingin kutinggalkan. Karena di tempat yang sama, sosok yang paling nggak ingin aku temui termasuk dalam satu paket kekayaan berlimpah juga kebencian di dalamnya. Sebagai gantinya, aku bisa kembali melihat Rexi bias pulang ke rumah yang sebenarnya selalu ia rindukan di hatinya.

Ya, aku telah menukar semuanya dengan ketenangan dan kebahagiaanku sendiri.

“Aku nggak yakin bisa pulang cepat nanti malam,”  kata Rexi berdiri di depan kaca, merapikan setelan jas dan dasi yang nggak terpasang sempurna di lehernya.

Sial, aku bahkan nggak tahu cara memasang dasi.

“Kamu nggak apa-apa kan?” tanya dia berbalik, menghampiriku dengan senyum sumringah. Ya, aku tahu apa yang ada di kepalanya. Sebuah pekerjaan menyenangkan dan bukannya jadi pesuruh seperti yang dia jalani selama ini hidup bersamaku. Lihat dia, rambutnya sudah kembali di pangkas rapi dan nggak lupa kaca mata yang dulu dia tinggalkan kembali terpasang di atas hidungnya. Rasanya aku kembali melihat Sang Dewa.

Yang aku lakukan hanyalah tersenyum, melepas kepergiannya tanpa pernah mengatakan betapa aku ingin keluar dari sini.

Karena ini rumahnya.

Rexi naik ke mobil yang dikendarai supir pribadi –masih supir yang dulu. Aku menyaksikan mobil itu melaju dari balik gorden jendela kamar sebelum aku pergi ke kamar Adjani. Tapi, yang aku temukan, tempat tidur itu kosong dan sudah dirapikan.

Aku nggak terbiasa dengan kehadiran pelayan atau baby sitter yang sedia melakukan hal sekecil apapun dan dibayar mahal. Ini bukan pertama kalinya, Ibunya Rexi ‘menyabotase’. Di ruang tengah ia tampak sibuk mengajak Adjani bermain di damping dua orang baby sitter –ya, dua orang, seakan itu cukup untuk bisa menggantikan kehadiranku.

Dengan ragu-ragu aku mendekat –Ya Tuhan, bahkan aku kesulitan untuk menggendong anakku sendiri sejak tinggal di sini. Dan aku hampir nggak pernah mengatakan pada Rexi bahwa ibunya masih sangat nggak menyukaiku.

“Hari ini saya mau bawa Adjani jalan-jalan,”  dia memberi peringatan saat aku mendekat. Serta baby sitter yang langsung menggendong Adjani seolah nggak mengizinkan aku untuk mengambilnya sekalipun ia menggapai.

“Lagi?” aku mengernyit. Aku tahu itu adalah caranya untuk menjauhkanku dari Adjani seakan aku ini seorang ibu yang menderita sakit jiwa.

“Memangnya kenapa?” balas dia menantang, suaranya selalu ketus. “Adjani ‘kan cucu saya,”

“Iya, tapi Adjani masih kecil…,” kataku, melemah. “Dia harus lebih banyak sama ibunya….”

Ia pun tertawa sinis. “Sekarang kamu ngerti ‘kan rasanya dipisahkan dari anak sendiri?” balasnya dan sontak aku terdiam. Meskipun, dia nggak sepenuhnya benar, tapi memang dia memang benar.

“Rexi yang memutuskan,”  kataku mengingatkan sambil melewatinya lalu meraih Adjani dari gendongan baby sitter.

“Hei!” dia menghardik tapi aku nggak peduli.

“Sekarang Rexi udah kembali ke sini, dan kenapa Ibu masih aja menyesalkan saya?”kataku, mulai tersulut amarah.

Bibirnya tampak gemeretak menahan kesal.

Dengan mantap, aku membawa Adjani pergi keluar dari rumah beberapa saat. Aku semakin yakin nggak ingin Adjani tumbuh di dalam neraka seperti itu sekalipun di rumah ayahnya sendiri.

***

“Kamu nggak capek bertengkar terus sama Mama?” Rexi berdiri di depanku dan aku hanya duduk diam di sisi tempat tidur.

Selalu seperti itu setiap dia pulang dari kantor tengah malam dan ibunya mengadu sambil menangis. Drama lain tentang mertua dan menantu yang nggak pernah bisa akur. Aku sudah mulai terbiasa disalahkan –memang, aku seorang pemberontak.

“Ellody…,” tegur dia menatapku serius saat aku membuang muka daripada mengatakan bahwa ibunya sakit jiwa. Tapi, gimana pun wanita itu ibunya dan dia punya beban berat untuk memilah-milah mana yang seharusnya ia pertahankan. Aku mengerti tapi… jika ini nggak berhasil, maka satu-satunya yang akan keluar dari rumah ini adalah aku.

Aku nggak siap jika harus seorang diri lagi. Tapi,…

Aku menengadah menatap Rexi yang tampak bingung dan seketika bersedih. Aku harus membuat semuanya adil bagi siapapun.

“Ibu kamu nggak bakal puas sebelum aku pergi dari sini tanpa Adjani…,” kataku dengan berat hati. “Menurut kamu aku harus gimana?”

“Ya ampun, Ellody…,” Rexi mengusap wajahnya, seketika berpaling.

Aku diam. Memperhatikan gerak-geriknya sampai ia kembali menatapku dan kami akan berdebat lagi.

“Aku mohon sama kamu jangan buat aku harus memilih,”  katanya, nadanya melemah.

Aku masih diam. Tentu Rexi harus memilih karena hidup adalah pilihan. Tapi, aku tahu dia nggak akan bisa memilih.

“Kamu harus ngerti posisi aku,”  ujarnya, sambil duduk di sampingku dan aku hanya tertunduk, berusaha untuk nggak menangis.

Sekali aku menarik nafas panjang, mataku terpejam sedetik, air mata meluncur tanpa permisi. Sekali lagi, aku sering berada di posisi yang harus mengalah –bertahan di sini dan menerima perlakuan yang menurutku nggak pantas. Sementara itu, aku sangat jarang bisa bersama anakku sendiri. Adakah yang lebih buruk dari itu? Nggak ada seorang pun yang sependapat denganku bahwa seorang anak berusia satu tahun lebih baik bersama ibunya termasuk ayah Rexi. Laki-laki itu lebih sering diam saat istrinya menghardikku di depan pelayan-pelayan mereka –seolah aku setara dengan mereka.

“Lalu siapa yang ngerti posisi aku?” tanyaku dan suaraku gemetaran. Berusaha tetap tenang, tapi aku terlanjur mengacaukannya dengan terisak. Setiap aku meneteskan air mata, maka Rexi selalu memalingkan wajahnya dengan rasa bersalah.

“Dia ibu aku, Ellody…,” sudah seringkali mengatakan itu. “Kamu nggak tahu rasanya jadi seorang anak yang selama ini udah ngelawan dan nyakitin perasaan seorang ibu,”

Aku mengangguk-angguk. Rasanya ingin mengucapkan terima kasih bahwa Rexi sudah mengingatkan aku bahwa aku hanya yatim piatu. Tapi, dia membuatnya jadi lebih buruk dari saat aku sadar bahwa dia berpikir kalau aku nggak berperasaan.

Tapi, kenapa kita menikah? Kenapa harus kawin lari jika sekarang itu jadi penyesalan?

“Gimana pun dia ibu aku…,” Rexi kembali mengingatkan.

“Dan aku ibunya Adjani,”  balasku sambil berdiri, dengan mantap aku menatapnya, menegaskan bahwa aku akan melakukan apa saja demi darah dagingku. “Kalau kamu tahu kamu ngelawan harusnya kamu nggak nikahin aku….”

“Kamu nyesal nikah sama aku?”

“Aku nggak nyesal…,” jawabku, menelan ludah, menyeka air mataku, berusaha untuk terus menatap wajahnya. “Aku nggak nyesal walaupun kita harus hidup miskin, daripada tinggal di rumah ini kayak tinggal di neraka….”

“Ini rumahku!” nada suaranya meninggi.

“Aku tahu!” balasku. “Tapi ini bukan tempat aku, juga bukan tempatnya Adjani,”

“Adjani anak aku juga, Ellody!”

“Tapi, Adjani bukan property kamu seperti rumah atau mobil mewah kamu, Rexi!!”

“Kamu ngomong apa sih?!”

“Aku udah nggak tahan lagi, tau?!”

Tiba-tiba tanganku ditarik dan dicengkram dengan kuat. “Aku suami kamu!” teriaknya di depan wajahku dan aku tercenung. Rexi nggak pernah terlihat semarah itu sebelumnya –bahkan dia hampir nggak pernah marah,apalagi sampai berteriak di depan wajahku.

Aku syok. Hanya dengan memandang ke matanya yang merah, membuatku sadar bahwa dia juga nggak akan sependapat denganku.

Sekali lagi dia menyentak tanganku. “Kamu jangan keras kepala lagi, Ellody!” katanya. “Semua ini nggak akan terjadi kalau kamu nggak keras kepala!”

Ya, dia nggak berpihak padaku. Aku tahu…

“Aku memang nggak bisa ngertiin posisi kamu sebagai seorang anak. Karena aku nggak pernah punya ibu. Tapi, sekarang aku juga seorang ibu dan seorang ibu nggak akan rela pisah dari anaknya…,” kataku, menelan ludah lagi. “Aku udah ngertiin posisi kamu dengan biarin kamu pulang karena seharusnya kamu memang di sini. Tapi, tempat ini sama sekali nggak cocok buat aku, Rexi….”

Rexi melepaskan tanganku dan mulai mondar-mandir dengan bingung. “Aku nggak tahu lagi harus gimana ngomong sama kamu….”

Aku mengangguk pelan. Lagi, aku mencoba menahan perihnya semua kata-kata dan perlakuan nggak adil itu. Rexi yang biasanya nggak pernah bicara keras padaku, mulai menunjukan egonya. Pada saat itu, aku mulai belajar diam tanpa membantah. Demi rumah tanggaku dan demi perjuangan kami untuk bisa bersama selama ini. Aku menghargai itu dengan membiarkan Mama Rexi mengambil alih segalanya. Dan aku menjadi semakin nggak berarti bahkan hanya untuk dipandang…

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments