[Hal.78] EPILOG] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Epilog

Ferre

Mama memandang gue dengan mata nggak berkedip sementara Erick diam. Matanya menatap gue cemas lalu melirik Mama yang belum mengatakan apa-apa. Sementara gue menunggu apa yang bakal Mama katakan soal keputusan gue.

“Kamu yakin?” tanyanya dan sepertinya yang nggak yakin di sini itu adalah Mama.

Gue ngangguk, menatap wajah Mama dengan mantap. “Ya, Ma…,” jawab gue, lalu tertunduk. Masih takut kalau tiba-tiba Mama menangis seperti dulu saat dia melempar kertas-kertas lagu gue keluar dan matahin gitar kesayangan gue.

Tapi, dia hanya menghela nafas lelah. Lalu membalikan badan. “Mama nggak mau kamu salah jalan lagi, Ferre…,” katanya dengan suara gemetaran.

Gue mulai gentar. Benar, Mama nangis lagi setiap gue mengutarakan keinginan gue yang sebenarnya.

“Ferre udah dewasa, Ma...,” Erick menyela. “Kalau pun dia ngelakuin kesalahan, dia sendiri yang bakal terima akibatnya….”

“Aku janji, apapun kesalahan yang aku lakuin aku bakal tanggung jawab…,” gue ikut menyela. “Aku bakal belajar untuk bisa jadi lebih baik….”

“Kenapa, Ferre?” Mama kembali memandang ke gue  dengan pipinya yang basah oleh air mata. “Mama pernah seringkali hampir kehilangan kamu dan sekarang kamu mengambil keputusan yang berat buat Mama ngelepasin kamu. Tiba-tiba berhenti kuliah, mau keluar dari rumah dan kamu meminta restu dari Mama untuk… Ya Tuhan, Ferre… kenapa perempuan selalu bikin kamu gegabah?”

“Mama nggak bakal kehilangan aku…,”  gue berdiri dari kursi gue menghampirinya buat memohon “Aku masih ada di sekitar Mama… keadaannya aja yang udah berbeda….”

“Iya, tapi kenapa, Ferre?!” suara Mama meninggi dan gemetar. Dia terlalu sedih sampai-sampai cuma isakan yang bisa gue dengar,  “Kamu masih terlalu muda! Kamu belum cocok buat….”

Tangis Mama semakin nggak bisa dihentikan –tentu. Gue tahu, ini mulai kelihatan seperti dulu saat dia menentang gue dan Rena habis-habisan. Tapi, gue udah bertekad harus meyakinkan Mama.

“Aku nggak ngelakuin ini hanya karena aku masih terutang satu kata maaf dari Rena karena nggak pernah tanggung jawab atau ucapan terima kasih sama Rexi… tapi ini takdir, Ma…,” ucap gue lagi. “Takdir yang bikin kita semua berada di lingkaran ini….”

“Apa yang kamu tahu soal hidup, Ferre? Apa yang kamu tahu soal takdir, hah?!” jerit Mama.

Gue menggeleng pelan, gue memang nggak tahu apa-apa. Tapi, hidup adalah pilihan dan inilah jalan yang gue pilih untuk menemukan arti hidup gue yang selama ini gue cari seumur hidup. Rexi udah menunjukan jalan di mana gue nggak perlu menyesali semua yang pernah gue lakuin karena semua itu masih bisa diperbaiki. Dan inilah yang gue lakukan untuk memperbaiki kesalahan gue –mengambil tanggung jawab untuk membahagiakan orang yang gue cintai, daripada menyia-nyiakannya.

***

“Kenapa tiba-tiba kamu di sini?” Ellody kelihatan heran.

“Kebetulan lewat,”  jawab gue ngasal sambil nyengir. Dan gue sadar pasti lagi-lagi gue kelihatan seperti maniak yang suka nguntit ibu-ibu kayak Ellody. Weleh…

Ellody mengernyit. Udah pasti nggak percaya. Dia mulai celingak-celinguk, dari ujung jalan di kiri dan kanannya. Lalu kembali berjalan, berlalu sama kaca mata bulat dan tas jadul yang selalu dia sandang ke mana-mana.

“Iya deh! Ampun!” kata gue sambil ngekorin dan dia bisa berjalan dengan begitu santainya, seolah baru aja buang botol bekas minum di jalan. (*PS : yang jadi botol bekas minum itu adalah gue). “Tadi aku ngikutin dari gallery-nya si Tante Macan. Karena dicariin nggak ketemu, di telpon nggak diangkat, di SMS juga nggak dibales,”

“HP saya ketinggalan...,” kata dia, tiba-tiba mulai menerawang. “Saya juga lupa ketinggalannya di mana….”

“Ya ampun, jaman begini masih ada juga ya cewek yang hidupnya kayak jaman purba. Nggak butuh handphone, gumam gue dan Ellody mendengus sambil memutar mata kayak orang juling.

“Saya udah bilang pergi jemput Adjani sendiri kan?” dia terus aja berjalan seolah gue ini orang nggak penting –pengamen jalanan yang biasa mangkal di trotoar. “Kamu tahu kan saya sama Adjani nggak terlalu suka naik mobil?”

Trauma. Dan gue mengangguk-angguk mengerti.

“Tapi, sumpah deh, hari ini nggak bawa mobil,” kata gue cepat sambil menahului Ellody dan dia hampir nubruk gue.

Sekarang pakai tampang jutek di depan gue. Ampun deh, perempuan satu ini, cueknya minta ampun!

Ngeri, gue malah pasang senyum bego supaya dia nggak marah. “Suer!” kata gue dan dia mendengus lagi.

“Kamu? Nggak bawa mobil?” dia sangsi dan tersenyum –sayangnya, cuma senyum melecehkan.

“Memangnya aku kayak orang yang bisa mati kepanasan kena matahari kalau nggak bawa mobil?” gue ngasal lagi dan tiba-tiba dia ketawa ngakak.

“Masalahnya bukan itu, Ferre…,” kata dia, mulai serius. Dan gue manyun. Setiap di depan dia, gue jadi anak kecil –jadi seumuran sama Adjani. “Kamu nggak kayak bapak-bapak yang biasa jemput anak ke sekolah,”  lalu ketawa sendiri.

Dasar, cewek yang nggak lucu banget!

“Emang bapak-bapak kayak apa sih?” gue kembali bertanya dan kita mulai berjalan santai ke sekolahnya Adjani yang jaraknya nggak lebih dari 200 meter lagi.

Ucapan dia bikin gue jadi kepikiran. Kalau Rena nggak bunuh diri, gue juga udah jadi bapak-bapak dong sekarang? Kalau dihitung-hitung anak gue juga pasti lebih besar dari Adjani, ya nggak sih? Tapi, itu kan hanya ‘kalau’.

“Kamu jangan sok tua deh!” cetus gue.

Ellody malah ketawa. “Saya emang lebih tua dari kamu ‘kan?” balasnya –tuh, ngingetin lagi kan kalau gue ini cuma cowok bengal yang sering galau kalau dicuekin pacar?

Gue menarik nafas panjang. Dan kita udah sampai di sekolahnya Adjani.

Seorang bocah perempuan berumur empat tahun muncul entah dari mana saat kita baru melewati pagar. “Bundaaaaa!!” panggilnya dengan semangat. Rambutnya yang dikucir bergoyang ke sana ke mari saat ia berlari kea rah kami. Dan Ellody menyambutnya.

Emang sih, bocah ini mirip banget sama ayahnya –yang cuma pernah gue lihat di foto. Dia memeluk Ellody dengan gembira sebelum sadar kalau ada orang di samping Bunda-nya. Dia mandangin gue heran –ya, ini pertama kalinya gue ketemu langsung sama Adjani yang asli. “Bunda sama siapa?” tanya dia ragu, tanpa ngelepasin matanya dari gue –entah karena masih asing atau mungkin…sebaliknya, familiar.

“Ini Om Ferre, temen Bunda, Sayang…,” jawab Ellody waktu nurunin Adjani dari gendongan.

“Temen?” gue protes, spontan.

Mata Ellody membelalak –kayaknya gue udah nogomong yang nggak sepantasnya di depan anak-anak. Gue ngeri, kalau udah dipelototin Ellody. Tapi, kayaknya anak segede gini mana tahu yang namanya pacaran? Lalu gue jongkok buat mandangin wajah anak itu dari dekat dan tersenyum. Sementara Adjani mau salaman.

“Hai, Adjani…,” sapa gue, mudah-mudahan kelihatan ramah. Karena gue nggak tahu apa-apa soal anak kecil.

Adjani meraih tangan gue dan dengan sopan dia bawa tangan gue ke dahinya. Anak kecil yang bikin gue terharu.

Lalu kita segera ninggalin sekolahnya buat cari tempat makan yang enak karena panasnya siang ini bikin lapar dan capek.

Langkah kecil Adjani ngikutin langkah gue dan Ellody yang santai. Saat tiba-tiba dia teringat sesuatu. “Bunda, nanti malam jadi lihat balet nggak?” tanya dia.

“Jadi dong, Sayang…,” jawab Ellody lembut. Beda banget dari saat dia ngomong ke gue. Nggak jelas apa itu jual mahal atau  sifatnya memang dingin dan cuek. Bikin gue jadi berkecil hati.

“Balet?” gue menyela, karena nggak mau jadi patung berjalan di sini.

Ellody menoleh ke gue. “Kita dikasih tiket pertunjukan balet,”  jelasnya. “Judulnya Coppelia,”

“Oh ya?” gue jadi bersemangat. “Om Ferre boleh ikut nggak?”

“Emangnya Om Ferre suka balet?” celetuk Adjani tiba-tiba dan gue sama Ellody ketawa-tawa.

Gue ngangguk. “Om boleh ikut ya?” gue sedikit membungkuk dan Adjani langsung mengangguk-angguk.

Tapi, tunggu! Pertunjukan Coppelia?

Gue menatap Ellody yang tenang. Kalau naik mobil aja udah bikin trauma, apa kembali datang ke pertunjukan balet Coppelia nggak kembali membangkitkan kenangan buruk? Kecelakaan itu terjadi saat mereka lagi di jalan ke pertunjukan itu kan?

“Ini tiket VVIP lho.” Ellody mengingatkan seolah dia nggak terganggu. “Dua tahun lalu saya nggak bisa lihat, padahal mau banget,”

Tapi, Coppelia adalah sebuah kenangan manis buat Ellody yang gue nggak ngerti seberapa dalam merasuk ke jiwanya. Sampai si Tante Macan juga manggil Ellody dengan nama Coppelia. Mungkin hanya dia dan Rexi yang tahu itu bagaikan Coppelia dan Dr. Coppelius –sang boneka dan penciptanya. Anehnya, gue juga tertarik untuk tahu seperti apa pertunjukan fenomenal itu sampai diulang lagi oleh Sekolah Tamarina.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments