๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Ellody
“Ih, kampungan banget!” ekspresi Andin benar-benar melecehkan waktu aku pakai gaun selutut warna coklat muda dan berenda di bawahnya karena aku pikir itu cocok. “Kayak ibu-ibu umur tiga puluh tahunan deh!”
Aku menghela nafas, memang sih selera fashion-ku payah.
“Lo itu mau ke wedding-nya CEO salah satu perusahaan nasional di Indonesia!” Andin mulai lagi. “Percuma tahu gaunnya mahal tapi kayaknya nggak stylish!”
Lagi-lagi cuma bisa mendengus. “Gue bukan orang yang biasa ke pesta. Punya orang kaya pula…,” gerutuku.
Selama ini semua baju-baju bagus yang aku pakai dipilihkan sama Kak Audrey tapi karena menurutku nggak cocok jadi aku lebih suka pakai jeans dan kemeja longgar. Rasanya lebih nyaman dipadukan sama sepatu teplek. Lagian sekarang mata sudah minus, harus pakai kaca mata. Aku rela harus mirip Betty la Fea –tanpa behel, daripada dandan yang ribet-ribet sementara harus mengurus banyak hal. Kuliah, Adjani, dan pameran lukisan sendiri yang disponsori Tabte Lynn.
“Iya sih, tapi kan lo tuh bukan Ellody yang dulu lagi,” katanya mulai sibuk memilih baju yang berjejer di depannya. “Hidup lo bisa lebih santai dari yang dulu. Udah bisa beli apartemen bagus, mobil baru, tapi kenapa sih lo itu betah banget di rel kereta sono.”
“Cuma di sana gue bisa dapat inspirasi buat melukis lagi…,” kataku pelan.
“Ya ampun, El… lho harus move on dong! Mau sampai kapan sih lo menjadikan Rexi alasan?” dia berbalik, siap menatarku lagi. “Setiap orang itu harus bangkit dari masa lalu! Dan gue harus bilang ini ke elo ya, mau apa juga Rexi nggak bakal hidup lagi!”
Aku terdiam. Bukannya begitu juga. Tapi, sebenarnya sejak kenangan sama Rexi mulai terukir di sana, tempat itu masih penuh dengan sumber inspirasi tak terbatas –karena di sanalah aku lahir dan dibesarkan.
“Kasihan banget cowok lo yang sekarang…,” gumamnya Andin dan itu bikin aku agak syok.
“Ndin…kayaknya lo salah paham deh…,” kataku, ragu-ragu karena Andin sudah emosi menghadapiku dan belakangan dia sering cerewet nggak karuan kayak orang ngidam. Mimpi apa sih Genta semalam sampai istri ngidamnya begini? “Ferre itu bukan cowok gue… dan kayaknya kata ‘pacar’ buat perempuan kayak gue itu…udah nggak cocok lagi….”
Andin menghela nafas lelah. “Terus?” tatapan matanya sangat mencurigai dan bikin aku merinding.
Nah, sekarang aku jadi bingung. Kenapa nggak?
Ferre dengan tingkah mirip anak kecil yang kelihatanya seperti adik kakak sama Adjani? Aku nggak meremehkannya, hanya berpikir bahwa…ini belum saatnya meski juga nggak terlalu cepat untuk… membuat keputusan. Aku sedikit terganggu dengan beberapa cerita masa lalu Ferre saat kami masih bukan apa-apa.
Tapi, mungkin bukan itu aja.
Ada banyak pertimbangan lain. Usianya, sifatnya, keuarganya (aku nggak mau menghadapi kemarahan yang sama seperti dulu lagi) dan intinya, aku nggak siap.
“Kalau sama gue… dia tiba-tiba udah punya anak. Emang nanti orang bilang apa…,” kataku tertunduk sedih.
“Orang bilang cinta itu buta. So what?” balas Adjani. “Hidup itu Tuhan yang nentuin kita yang jalanin, dan orang lain yang ngomentarin. Terserah deh, nggak usah diladenin, gampang ‘kan?”
Saran gila yang benar-benar bikin aku akhirnya tertawa juga.
***
“Aku nggak tahu kamu bisa juga ngomong pakai ‘lo-gue’ sama gaya alay gitu,” komentar Ferre dan dia memang super jago meledek atau menertawai orang.
Aku hanya menghela nafas dan nggak mau kelihatan marah di depan tamu undangan yang mulai berdatangan.
Tiba-tiba dia berdehem lagi, seolah selalu punya bahan candaan konyol yang kadang bikin aku gerah dan malu. Melirik ke samping –ke arahku, dengan ekspresi sanksi dia bilang “Gaunnya nggak bagus…nggak ada yang lain apa?” tanya dia pelan.
Pipiku membulat menahan kesal yang ingin meluap jadi kata-kata.
Tahu nggak sih gaun ini belinya hampir lima juta dan dia malah bilang jelek?
“Hihihi…becanda…,” katanya nyengir dan aku menarik nafas sambil mengelus dada.
Aku nggak tahu kenapa aku mau saja berdiri di sini di samping orang reseh yang kurang kerjaan ini. Tapi, Andin sama Genta belum datang. Kalau ada mereka kita bisa berkumpul di satu pojok sambil ngobrol enak. Aku menarik nafas memandangi Adjani yang nggak lepas dari Mama dan sekarang berdiri di sampingnya menyalami tamu yang menghampiri kedua mempelai.
Setiap kali melihat ke pelaminan rasanya menyenangkan. Kak Audrey mengenakan gaun pengantin warna emas dengan design khas jawa yang kelihatan megah dan menawan. Gaun itu rancangannya sendiri. Kalau karyanya sebagus itu, apa nanti aku bisa minta dibuatkan juga? Ups! Apa aku mau menikah?
Tiba-tiba aku menoleh ke Ferre di sampingku. Dengan mencurigakan, dia segera berpaling –buang muka tiba-tiba. Dan aku hanya mengernyit sambil menggeleng. Harusnya Ferre juga ada di barisan itu, ikut menyalami para tamu. Tapi, dia malah di sini –menggangguku.
“Ada apa?” tanyaku, dan dia menggeleng-geleng dengan gugup. Bikin aku jadi heran. “Apa sih?”
Aku memandangi diriku sendiri –apa yang aku kenakan. Bukannya cuma gaun pesta yang… oh… aku tahu. Pipiku pasti bersemu merah –aku lupa kalau Ferre agak…sedikit jelalatan, apalagi belahan dada gaunku agak rendah. Dasar, tengil…
“Makanya aku bilang nggak bagus…,” dia masih berkomentar, sambil melirik dan begitu aku menoleh padanya dia langsung buang pandang dengan gugup.
Dia benar-benar membuat kesal sekarang. Aku pun bergegas pergi darinya tapi tiba-tiba tanganku ditarik. Sejak pertama kali mengenalnya dia nggak pernah memegang tanganku dan menarikku seperti ini. Biasanya dia lebih tenang –kalau nggak punya kata-kata ngeselin yang bikin aku sebal.
“Ferre?” aku nggak tahu ke mana dia menyeretku. Kami melewati para undangan yang baru datang menuju tempat yang lebih sepi.
Aku mulai cemas saat di satu sisi lain gedung yang cukup jauh dari keramaian, aku terjebak sama orang ini. Di sebuah lorong besar dan panjang yang kayaknya belum dilewati siapa-siapa sejak tadi.
Ferre tampak tersengal dan berusaha mengatur nafasnya sementara ia belum melepaskan genggamanya pada tanganku. Aku mulai merinding saat ia kemudian menatapku dengan mata itu. Dan Ya Tuhan, dia mendekat. Aku tertunduk gemetaran dan pasrah menunggu karena terlalu memalukan jika tiba-tiba aku teriak minta tolong.
Sebelah tangannya merangkul bahuku.
“Ellody, lihat ke atas!” katanya tiba-tiba dan aku segera menengadah.
Kilasan cahaya putih dalam sesaat membuat pandanganku berkunang-kunang dan pusing. Aku nyaris lunglai karena terlalu tegang. Ternyata… Ferre hanya ingin mengambil foto?
Dia tertawa puas saat melihat ke layar smartphone-nya sementara aku mengerjap-ngerjapkan mata –mencoba mempercayai apa yang aku lewatkan barusan. Moment foto selfie yang lagi trend jaman sekarang?
“Mumpung kamu lagi cantik…,” dia bergumam lalu menatapku sambil cengegesan memperlihatkan gambar yang tertangkap di layar handphone-nya. “Habisnya kamu selalu ke mana-mana pakai kostum Betty la Fea, jarang-jarang bisa lihat kamu pakai make-up, kan?”
Aku mengatur nafasku –masih terpana memadangnya sampai Ferre sadar kalau aku merasa sangat terganggu.
“Memang kamu pikir aku mau ngapain?” dia malah belagak bodoh.
Sekarang, sebenarnya siapa sih yang bego? Dia atau aku?
Itu aku.
Ferre tiba-tiba terkekeh. Dia pasti sedang menebak apa yang aku pikirkan. “Kenapa sih sampai pucat gitu?” ejeknya. “Pikiran kamu soal aku emang negatif mulu ya?”
Siapa yang nggak negatif melulu? Mantan playboy, aku hanya mendengus. Sekarang, merasa lebih tenang, karena dia sudah dapat yang dia mau –foto selfie bareng. Tapi… tiba-tiba aku jadi merinding lagi saat dia mendekat dan aku benar-benar terjebak.
“Emang nggak boleh kalau aku ngelakuin itu…?” tantang dia, dan aku malah terpaku sampai dia mendekat lagi. Seolah menunggu dan momen menegangkan itu kembali terasa saat dia menggenggam kedua bahuku.
Mataku nggak bisa berkedip dan masih bisa lihat kalau ekspresinya sekarang benar-benar serius!
“Eh, ganjen! Ngapain lu di sini!” suara seseorang mengagetkanku dan tiba-tiba Ferre ditarik menjauh oleh seseorang –bukan ada dua orang lagi datang secara tiba-tiba.
Aku jadi tambah bego dan melongo lagi. Bukannya mereka anak band yang lagi digilai ABG itu? (aku sih nggak tahu namanya tapi mereka terkenal!)
“Dasar lu ya!” celetuk salah seorang lagi dan Ferre meronta. “Orang lagi pesta lu enak-enakan pacaran di sini….”
Aku jadi malu karena ada yang lihat kejadian barusan.
“Sialan lu semua!” Ferre menggerutu kesal sambil merapikan stela jasnya. “Datang udah telat gini malah ngerecokin gue! Mentang-mentang band papan atas datang suka telat! Tamu udah pada nungguin tuh!”
“Denger ya, cowok gaptek! Kita datang ke sini bukan buat ngisi acara tapi diundang! Inget tuh! Enak bener lu minta gratis!”
“Aah, udah! Pergi lu sana semua!”Ferre berontak dan kayaknya mereka udah terbiasa saling teriak-teriak”Gangguin gue aja!”
Aku baru tahu kalau ternyata mereka berteman akrab.
“Yee…ni anak belagu! Seret aja!”
Tiba-tiba Ferre ditarik lagi. “He!” jeritnya kaget. “Tor, apa-apaan lu?!”
“Vdah deh, ikut kita ke panggung!”
Mereka gaduh sekali. Tapi, mereka segera pergi dengan membawa Ferre yang nggak rela.
“Mbak, pinjam Ferre bentar ya!” salah seorang berseru sebelum mereka benar-benar jauh.
Mbak? Aku menarik nafas. Aku dipanggil ‘Mbak’? mungkin sepertinya sudah tuntutan keadaan.
“Ellody!” jerit Ferre dari kejauhan. Kelihatanya dia nggak rela harus ditarik pergi. Dia tampak memintaku untuk menghentikan ketiga temannya.
Tapi, aku malah tertawa. Dan melambai. “Sampai jumpa, cowok reseh…,”
***
Komentar
0 comments