๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Pak Moldy bilang udah satu bulan kamu nggak konsul lagi,” Gladys kelihatan nggak puas. Gue udah mengira kalau dia bakal marah kalau ngelanggar satu aja peraturan yang dia bikin buat menertibkan hidup gue. “Dan kamu nggak bilang ke aku, Ras,”
“Aku mau bilang kok,” kata gue. “Tapi, kita cuma belum ketemu waktu yang pas. Kamu sibuk kerja dan aku sibuk kuliah,”
“Tapi, nggak harus sampai sebulan kan?” dia masih nggak terima dan gue nggak ngerti kenapa ngomong sama Gladys menjadi semakin sulit. “Kamu udah mulai belajar bohong?”
“Aku nggak bohong, Dys…,” suara gue melunak. Sungguh, gue paling stress kalau kita berantem dan selama ini gue paling parno kalau dia sampai minta putus.
Gladys mulai komat kamit sambil menyandarkan kepalanya ke headstand, mengatakan sesuatu dengan menggumam –panik, “Ini nggak akan berjalan sesuai rencana…aku tau…,” katanya dan gue cuma melongo nggak ngerti. Apa yang menurut dia nggak sesuai dengan rencana?
“Dys…,” gue mendekat, mencoba menenangkan dia.
Gladys menghindar –menepiskan tangan gue yang mencoba meraih belakang kepalanya”Kamu ngapain aja?” tanya dia curiga. Menatap gue serius, seolah gue ketahuan selingkuh dan dia tampak nggak bakal maafin gue. “Kuliah? Atau pergi sama cewek lain?”
Gue menarik nafas. “Nggak, Dys…,” jawab gue berusaha tenang. Bisa berabe jika dia mulai nuduh gue yang nggak-nggak lagi.
“Terus?” dia masih belum percaya.
Gue kembali menghela nafas. Ikut menjatuhkan kepala gue ke headstand. Tapi, Gladys mulai nggak sabar.
“Kenapa? Ada sesuatu yang kamu sembunyiin?”
Gue menggeleng, makin bingung. Apa gue bakal cerita semuanya? Masalahnya, apa itu masuk akal? Dan…Gladys nggak tahu apa-apa soal Adjani atau Ellody atau Rexi atau siapapun yang ada hubungannya. Malahan, Gladys bukan orang yang bisa terima kesalahan orang lain dengan mudah. Ditambah masalah ini bukan masalah yang bisa dipahami cuma dengan ngangguk-ngangguk –terlebih buat cewek rumit kayak Gladys.
“Ferre!” desaknya, sekarang wajahnya ada di depan gue. Menunggu, dengan tatapan nusuk yang bikin gue menggeleng sekali lagi.
Gue benar-benar nggak yakin.
Tiba-tiba Gladys bergerak. Ya! Dia raih barang-barangnya –tas dan blazer dari jok belakang, dan segera membuka pintu. Sebelum dia sempat, gue udah menarik tangannya supaya tetap duduk.
“Please…,” parahnya gue memohon supaya dia nggak lompat keluar dari mobil gue lagi. Karena kalau kali ini gue biarin dia pergi, gue pastiin gue bakal benar-benar kehilangan dia.
“Aku nggak ketemu Pak Moldy karena itu nggak ada gunanya…,” jelas gue perlahan dan sebelum gue lanjutkan kalimatnya, dahi Gladys udah mengerut duluan. Suara gue tersangkut di tenggorokan karena kata-kata berikutnya mulai berkelebat nggak karuan di kepala gue. “Kamu jangan marah dulu. Aku udah ngomong sama Pak Moldy dan dia udah angkat tangan….”
“Angkat tangan?” Gladys ketawa sinis. “Psikiater angkat tangan soal kamu?”
“Karena aku nggak sakit, Dys!” kata gue cepat. “Pak Moldy tahu itu,”
“Terus kenapa nggak bilang sama aku sebelum aku nanya?” dia masih protes.
“Aku belum sempat bilang,” tegas gue sebelum dia mukul-mukul kaca supaya diturunin karena kelihatan udah muak.
Tapi, Gladys diam. Dia menarik nafas beberapa kali dan kelihatan menenangkan diri sebentar sebelum kembali menoleh ke arah gue. Sekarang, dia ketawa –pelan dan cuma sekali, tapi kedengaran sinis. “Aku ngerti,” katanya, tiba-tiba. “Kamu bukan orang pertama yang bikin aku merasa istimewa di awal terus perlahan mulai ngejauhin aku. Dan harusnya aku udah biasa diperlakukan kayak gitu,”
“Aku nggak ngejauhin kamu…,” kata gue. “Aku….”
“Ferre!” potong dia. “Kamu nggak perlu jelasin apa-apa. Harusnya kamu juga bergaul sama teman-teman aku supaya tahu aku ini kayak apa,”
“Maksud kamu apa?”
Dia diam sebentar sebelum menatap gue lekat-lekat. Dan dua bola mata cantik yang dilapisi softlense keabuan itu, berlinang air mata. “Aku nggak pernah berharap lebih dari satu hubungan yang pernah aku jalanin,” katanya, tertunduk sebentar. “Tapi, aku benar-benar suka kamu, tau….”
“Dys, jangan gitu, aku…,” gue coba menghentikan dia sebelum omongannya makin melantur.
Gladys kembali tertunduk. “Aku bisa baca mana orang yang benar-benar bisa nerima aku atau yang cuma merasa terjebak sama aku,” katanya. “Dan aku nggak bakal nunggu kamu bosan, karena seperti yang bisa kamu lihat, aku egois, sibuk dan egosentris…tapi….”
“Dys, aku…,” gue masih mencoba dan dia berisyarat dengan jari-jarinya di depan wajahku sambil mendesis.
“Cukup,” kata dia. “Kamu mau bilang apa? Kamu nyesal? Kamu mau berubah? Atau kamu mau berterus terang yang sebenarnya soal perasaan kamu?”
“Kamu nggak ngasih aku kesempatan buat ngomong. Gimana aku mau jelasin?” ujar gue, meraih belakang kepalanya lagi dan dia menarik diri kian jauh. Dan gue pun menyerah. “Kamu tuh nggak pernah mau dengar lebih dulu, maunya selalu didengerin. Aku nggak ngerti harus gimana caranya ngomong sama kamu!”
“Aku nggak mau dengar penolakan! Nggak mau dengar alasan kenapa kamu berubah!”
“Aku nggak berubah! Kamu cuma nggak paham keadaan aku sekarang gimana!”
“Lalu kenapa kamu nggak cerita?! Apa aku nggak boleh tau?!”
“Aku cerita juga kamu nggak ngerti,”
“Kenapa aku nggak bisa ngerti? Aku bukan pacar kamu? Atau kamu udah punya orang lain buat cerita apa yang nggak bisa kita sharing berdua? Makanya kamu seolah kamu nggak butuh aku lagi?!”
“Gladys!” suara gue meninggi dan dia kaget dengar teriakan gue. “Aku nggak pernah menang kalau berdebat sama kamu hanya karena kamu nggak percaya sama aku! Apa lagi sih yang bikin kamu ragu sama aku?! Kamu suruh ini, suruh itu, aku kerjain cuma supaya kamu ketawa dan nggak jutekin aku kayak dulu! Sekarang kamu malah nuduh aku yang nggak-nggak!”
“Lalu kenapa kamu nggak cerita?! Cuma itu kan masalahnya dari tadi?!” balas dia, suaranya lebih keras dari gue.
Seketika gue terhenyak. Berusaha memikirkan awal yang enak didengar buat berterus terang. “Aku cuma nyari tahu penyebab semua yang aku alamin. Itu aja,” kata gue, suara gue lebih rendah sekarang walaupun rasanya masih ada yang nyangkut di tenggorokan. Gue menelan ludah. “Aku nyari tau soal orang yang donorin matanya ke aku, Dys,”
“Lalu apa hubungannya kamu nggak mau kasih tau aku?”
Gue menarik nafas lagi, mencoba lebih tenang lagi. “Nggak mudah ngejelasinnya pakai logika…,” kata gue perlahan. “Aku udah ketemu sama orang-orang yang ada hubungannya dengan sosok yang sering aku lihat itu,”
“Terus dia siapa?”
“Cuma orang lain…,” jawab gue, dan kembali menjatuhkan kepala gue dengan lelah ke headstand. “Orang yang donorin matanya ke aku itu udah meninggal,”
“Kamu ketemu sama cewek yang sering kamu lihat itu?”
Gue ngangguk, tanpa suara.
“Terus apa setelah ketemu semua bayangan itu hilang?”
Dengan berat hati gue harus jawab ‘nggak’. Tapi, gue nggak berani. Sikap gue malah bikin dia kesal lagi.
Tapi, Gladys diam. Kelihatan nggak ada lagi pertanyaan mendesak yang harus gue jawab sekarang. “Antar aku pulang,” katanya dan entah untuk yang ke berapa kali mendesah berat dan lelah. “Aku mau tenang sekarang….”
Bersyukur dia nggak minta diturunin di jalan tapi gue masih belum bisa tenang. Sesekali gue lirik ke samping, selagi gue nyetir dengan hati-hati. Berusaha ngamatin seberapa kecil perubahan mood Gladys sekarang. Kayaknya, badai di dalam hatinya belum juga reda. Dan setiap gue menoleh ke samping, gue selalu deg-degan.
***
Komentar
0 comments