[Hal.71] [Ch.15] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Begitu mobil berhenti, dengan perlahan Gladys melepas seatbelt lalu menjangkau barang-barangnya di jok belakang. Gue masih punya satu kalimat di kepala gue untuk gue sampaikan sebelum Gladys pergi. Tapi, mendadak semua itu buyar saat dia menoleh ke gue dengan mata yang sudah basah. Dan wajahnya kelihatan sedih banget.

“Apa kesalahan kamu yang nggak bisa aku maafin, Fer?” tanya dia tiba-tiba. “Walaupun aku tukang marah atau tukang ngatur yang bikin kamu harus bohong hanya supaya aku nggak kesel….”

Gue mencoba meraih tangannya, tapi lagi-lagi dia menarik diri. “Dys…,” gue mencoba minta waktu sebentar hanya untuk bilang kalau gue sayang dia. Banget.

“Tapi, kayak apa rasanya kalau di saat kita berdua, ada orang lain yang hadir di depan mata kamu?” sambungnya, dan gue tertunduk sedih. Gladys menggeleng-geleng. “Bukan…bukan salah kamu kok…hanya aku yang nggak bisa nerima kekurangan kamu yang seperti itu…maaf….”

Akhirnya Gladys turun juga dari mobil gue. Dalam sesaat, semuanya menjadi hening. Hanya terdengar nafas gue yang kelelahan. Kenapa rasanya seperti baru aja lolos dari tiang gantungan? Kenapa setiap gue bicara dengan Gladys soal kesalahan gue, gue selalu merasa jadi orang yang nggak bisa dimaafkan? Apa karena dia egois atau…selama ini gue cuma maksain diri buat jadi cowok yang pantas buat dia?

Gue benar-benar capek…

***

“Kamu nggak pernah ngajakin Gladys main ke rumah lagi, Fer?” tanya Mama tiba-tiba dan gue yang melongo depan TV langsung menoleh ke belakang. Mama baru datang dari dapur bawaan cemilan sementara gue ngelirik Erick yang pura-pura cuek. “Kamu nggak ngelakuin sesuatu yang jahat sama Gladys, kan?”

“Ya enggaklah, Ma!” gue langsung ngeles. “Gladys kan wanita kantoran, dia sibuk sama kayak Mama..”

“Terus?” Mama kayaknya nggak langsung percaya kalau gue lagi nggak ada masalah.

Gue menghela nafas lelah. “Mungkin Gladys mutusin aku, Ma…,” jawab gue lesu.

Tiba-tiba Erick cekikikan. Dia ngelirik gue, dengan ekspresi cukup melecehkan seolah pendapatnya soal Gladys dulu emang benar dan gue sekarang kena batunya karena nggak dengerin omongin dia.

“Lho? Kamu apain Gladys sampai dia mutusin kamu?” tanya Mama, benar-benar serius.

Dan…mati gue!

Gue diam.

“Tuh kan, kamunya sih…,” Mama ikutan menghela nafas lelah. “Padahal Gladys itu cocok buat kamu. Baik, cantik, pintar dan yang pasti dia itu bisa ngarahin kamu. Dia juga sayang banget sama kamu ‘kan….”

“Kalau dia bener-bener sayang sama Ferre dia nggak akan maksa Ferre buat begini atau begitu,”  kata Erick tiba-tiba dan Mama kelihatan kaget.

“Lho?” Mama mulai bingung apalagi karena gue diam seolah yang Erick bilang itu benar.

Tapi, Erick memang benar kok.

Gue harus mikirin semuanya lagi untuk ngambil keputusan. Tapi, dengan mengingat kenyataan bahwa gue sayang banget sama Gladys, bikin gue jadi cowok yang nggak prinsipil. Sementara itu gue terus mempertanyakan takdir yang aneh ini. Gue bisa melihat jauh ke beberapa tahun ke belakang tentang hal-hal yang asing tapi akrab dengan mata gue. Selama ini, mungkin gue hanya nggak sadar bahwa gue udah terseret ke dalam pusaran kenangan seseorang yang sebenarnya belum ingin mati. Karena dia masih harus melakukan sesuatu buat orang-orang yang dia cintai.

Dia…Rexi Adam Prawira. Seorang laki-laki yang harusnya saat ini berusia dua puluh enam tahun. Seorang ayah dari anak perempuan berumur limatahun bernama Adjani dan suami dari seorang istri bernama Ellody. Dua tahun lalu mereka mengalami kecelakaan mobil di mana Rexi harus meregang nyawa dan sesaat sebelum meninggal, ia menitipkan pesan ke kakak perempuannya –yang mana adalah calon kakak ipar gue, supaya matanya didonorkan. Dan setahun sebelum kecelakaan itu, gue divonis buta karena benturan keras di kepala.

Sebenarnya gue dan Rexi pernah ketemu. Tapi, gue nggak pernah lihat wajahnya. Hanya sebuah foto yang Audrey kasih ke gue agar gue tahu seperti apa orang yang udah menyelamatkan hidup gue dari percobaan bunuh diri berkali-kali. Orang yang kembali membuat matahari terbit di dunia gue yang gelap. Dalam genggaman gue adalah sebuah foto keluarga kecil yang entah kenapa bikin gue jadi sedih. Dan kalau Erick nggak menggenggam bahu gue buat menenangkan perasaan gue, mungkin air mata akan jatuh.

Satu malam gue pernah mimpi, ada seseorang yang terlihat berdiri di depan gue, mengulurkan tangan, bantuin gue buat berdiri lagi. Tapi, gue nggak bisa lihat wajahnya dengan jelas karena cahaya di belakangnya menyilaukan. Tapi, samar-samar gue lihat ditangannya dia memegang sebuah kotak kayu kecil lalu dia kasih ke gue. Dia nggak bilang sesuatu soal kotak itu, tapi gue tahu dia minta gue buat ngebukainnya karena dia nggak bisa melihat apa isinya. Karena dia buta.

Dengan perlahan gue buka kotak itu. Seberkas cahaya keluar dari sana, dan perlahan gue terhisap ke dalam, masuk ke pusaran kenangan asing di mana tawa bisa terdengar untuk kemudian hening. Kotak itu menutup dengan sendirinya, tapi laki-laki itu udah menghilang. Dan gue hanya sedang duduk di atas tempat tidur, menghadap dinding kamar gue yang kosong. Tengah malam sunyi.

Sejak itulah bayangan Ellody lenyap dari psandangan gue.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments