[Hal.69] [Ch.15] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Ch. 15 - Mata dalam Kotak

Ferre

“Kenapa lo bohongin gue?” gue berteriak dan Adjani…bukan, Ellody hanya menatap gue dingin.

Cewek itu cuma mendengus, mengalihkan perhatiannya untuk kemudian menjauh dari gue. Dia kembali pasang badan buat ngusir gue keluar. “Saya nggak pernah bohongin kamu,”  kata dia, tegas.

“Lo Ellody, bukan Adjani!” teriak gue, lebih keras.

“Iya, saya memang Ellody. Dan saya nggak pernah mengaku jadi Adjani,”  dia masih terlihat tenang. Tanpa ekspresi, sambil kembali mengucir rambutnya dan merampas kaca matanya dari tangan gue. “Kamu yang manggil saya dengan nama itu,”

Gue terdiam. Ya, gue ingat. Pantasan dia nggak nyahut saat gue bersorak manggil dia pakai nama itu dan dia baru menoleh begitu gue udah dekat. Masuk akal sekarang. “Gue baca nama itu di buku catatan yang pernah gue pinjam,”  jelas gue.

“Lalu saya salah nulis nama anak saya sendiri di buku?” celetuknya.

“Tapi, lo nggak  pernah kasih tau kalau itu bukan nama lo…,” kata gue kembali mendekat.

“Apa pentingnya buat kamu, Ferre?” tanya dia, tatapannya menjurus. Tenang, dingin dan tanpa ekspresi. “Bagi saya, kamu cuma orang lewat begitu aja di depan saya, nggak lebih. Kenapa kamu merasa bahwa saya udah ngelakuin sesuatu yang jahat sama kamu?”

Mental gue hancur. Ya, dia memang nggak tahu apa-apa. Dan terlalu rumit kalau dijelasin. Gue…gue hanya syok, mengetahui bahwa sosok yang selama ini gue lihat adalah dia…seorang perempuan yang selama ini nggak terlalu gue suka.

Entah kenapa, dia terlihat lebih dingin dari biasanya.

“Bukan lo…tapi Rexi!” teriak gue, di depan wajahnya, lalu tertunduk gemetar.

“Tolong keluar dari sini…,” katanya tiba-tiba dan Ellody sudah menunjuk ke arah pintu. “Sekarang kamu udah tahu semuanya, dan tolong sekarang pergi dari sini….”

Gue menggeleng, bingung. “Kenapa Rexi lakuin ini ke gue…,” kata gue, menutup matague rapat-rapat dan gue kembali melihat bayangan samar-samar itu. “Apa yang mau dia lakuin dengan ngasih gue penglihatan itu?”

“Saya mohon, Ferre…keluar…,” suara Ellody melemah. Ya, dia meneteskan air mata dan gue mulai sedikit ngerasa bersalah.

Ini memang nggak ada hubungannya sama dia. Tapi,…

“Kamu orang yang nggak tertolong,”  kata dia tiba-tiba. “Orang yang nggak punya harapan, orang yang seluruh masa lalu dan masa depannya hancur… dan Rexi menyelamatkan kamu. Hanya itu, nggak lebih….”

Gue tatap wajah itu sekali lagi dan dia mengembalikan semua penglihatan itu.

***

Seorang lelaki kurus berjalan di koridor kosong yang panjang. Sunyi dan nggak ada seorang pun yang lewat. Langkahnya tertatih sambil meraba-raba dinding di samping kanannya. Mengikuti kemana lorong itu membawanya sampai ketemu tangga dan mulai melangkah naik tetap dengan berpegangan ada dinding.

Gue ngikutin langkahnya dengan pelan, ngawasin ke mana dia akan pergi. Rasanya gue mengenal dia lewat langkah gontai dan sedih itu.Sampai dia jatuh dan rasanya gue berlari mengejarnya.

“Hei!” gue dengar suara itu keluar dari bibir gue sendiri. “Kamu nggak apa-apa?”

“Minggir!” orang itu menepis awang-awang dengan kedua tangannya, mengusir. Kedua matanya ditutup dengan perban. Wajahnya tirus dan ia nggak bisa menyembunyikan sosok asli yang sebenarnya.

Ferre Saverio.

Ya, dia adalah sosok lelaki kurus yang dulu pernah Rexi temukan di rumah sakit lalu berempati padanya. Lalu ia ngasih penglihatan yang ajaib. Rexi mengajak gue melakukan perjalanan waktu. Dia udah memberi tanda itu sejak pertama gue bisa melihat dengan matanya yang selalu jagain Ellody –memandang senyumnya dan mengawasi ke mana kaki lincahnya berlari. Gue juga lihat sesosok anak perempuan berumur tiga tahun yang baru belajar berjalan dan Ellody tampak menunggu langkahnya yang pelan menuju ke arahnya untuk memeluknya.

Lalu sebuah tiket pertunjukan balet berlogo Sekolah Tamarina, dasbor mobil yang sedang melaju dan jalanan di malam hari sebelum seberkas cahaya menyilaukan melesat dalam hitungan detik membutakan gue. Dan begitu gue bisa ngelihat lagi,  dunia seolah terbalik. Gue lihat darah mengalir dari dahi Ellody yang menangis di samping gueberlatar kegelapan di sekitar kami –mengulurkan tangannya dan saat itulah semuanya mulai mengabur dan gelap. Dalam satu kedipan mata, setir mobil yang ngejepit badan gue sekarang adalah langit-langit putih dengan beberapa orang berpakaian putih tampak sibuk dan entah apa yang mereka lakuin ke gue.

Yang pasti, Ellody masih ada di samping gue dan dia menggenggam tangan gue sambil menangis. Luka di sudut dahinya sudah ditutup kain kasa yang ditembus oleh noda merah dari lukanya. Ternyata dia nggak apa-apa. Dan gue berusaha untuk bicara, tapi tenggorokan gue sakit. Dan nggak ada kata yang keluar, bahkan nggak ada suara sekecil apapun yang terdengar. Anehnya, saat gue ngerasa akhirnya bibir gue bisa mengucapkan sesuatu gue nggak dengar apa yang gue bilang dan tiba-tiba hitam.

Gue membuka mata lagi dan sekarang mimpi-mimpi asing yang terlupakan itu menjadi jelas. Tapi, ketemu dengan Ellody nggak pernah bisa mengusir bayangan itu…

***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments