๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Sebuah pesta –dengan tamu undangan yang banyak sekali digelar dengan sangat meriah. Ulang tahun Rexi yang ke -24. Semua kerabat datang dalam perayaan itu. Mereka berkumpul seperti sebuah reuni keluarga. Sedangkan aku, hanya beberapa saat bisa berada di samping Rexi sebagai istri yang harusnya diakui tapi para undangan membuatnya sangat sibuk.
Adjani baru bisa berjalan. Dengan tertatih ia melangkah menuju ke arahku dan aku begitu bahagia melihatnya tertawa. Di halaman belakang, aku dan Adjani juga kedua sahabatku Andin dan Genta tampak seperti tamu nggak diundang yang nggak punya tempat di perkumpulan meja panjang di mana mereka makan dan minum bersama.
Kami masih bisa tertawa. Ketika bertemu teman-temanku aku merasa bahwa aku nggak sendirian. Aku mulai membayangkan sebuah kehidupan yang jauh berbeda dari yang ada di rumah itu ataupun kediamanku yang lama. Sebuah tempat di mana aku bisa membesarkan Adjani sendirian jika… pergi dari sini diperlukan.
Tiba-tiba Rexi datang, menghampiri perkumpulan kecil kami di halaman samping rumah.
“Kenapa kalian nggak masuk?” tanya dia pada Andin dan Genta yang berusaha untuk tersenyum.
Genta menghampirinya sambil mengulurkan tangan –tanpa menjawab alasan kenapa yang sudah pasti karena perkumpulan di dalam hanya untuk orang-orang tertentu. “Selamat ya…,” ucapnya segera dan Rexi agak tercenung dan seketika memandang ke arahku.
“Ini udah malam. Bisa masuk angin kalau Adjani kelamaan di luar,” dia mengingatkan sambil meraih Adjani dan menggendongnya masuk. “Ayo, kalian jangan di luar aja dong…,” ajaknya dan kedua temanku hanya saling tatap.
Terpaksa kami mengikuti dengan ragu-ragu. Kami nggak akan merasa nyaman berada di dalam sana tapi demi sebuah peran yang ku mainkan aku harus tetap tersenyum memasang topeng bodoh dan begitu pestanya berakhir aku mengurung diri di kamar mandi untuk menangis.
***
Pesta usai, semua orang pergi. Aku masuk ke kamar lebih dulu dan berdiri di depan cermin sangat lama untuk menghapus sisa make-up yang luntur oleh air mataku. Dari dalam aku bisa mendengar suara pintu kamar yang terbuka. Dan aku bersiap untuk keluar –hanya saja bengkak di kelopak mataku jelas-jelas terlihat jelek. Sungguh, aku nggak ingin kelihatan konyol.
Tapi, ketika membuka pintu dan mengintip keluar, rupanya Rexi sudah ketiduran –masih dengan mengenakan setelan pestanya. Aku rasa aku nggak perlu sembunyi-sembunyi supaya aku nggak ketahuan menangis. Aku pun berbaring –memunggungi Rexi yang juga memunggungiku. Tapi… itu membuatku kembali bersedih. Mataku terpejam, air mata kembali menetes. Dengan pelan, aku menarik nafas karena hidungku tersumbat oleh rasa sesak. Dan tarikan pertama rasanya begitu menyiksa tanpa suara.
Kurasakan, sisi tempat tidur di belakangku bergerak dan tiba-tiba Rexi memelukku –sangat erat. Apa dia sadar bahwa aku menangis?
Tapi, dia nggak melakukan sesuatu untukku… dan aku mengerti kenapa.
***
Aku melambaikan tangan Adjani saat melepasnya pergi ke kantor pagi-pagi sekali. Lalu kami sempat bermain sebentar di halaman belakang bersama dua orang baby sitter yang ditugasi menjaga kami. Selagi nyonya besar nggak ada di rumah karena dia keluar kota. Meski begitu, sama sekali nggak terasa melegakan bagiku. Karena aku diawasi.
Ya Tuhan, rasanya benar-benar seperti di penjara.
Tapi, aku sudah mantap untuk pergi hari ini.Tanpa mengatakannya pada Rexi lebih dulu dan pasti kami akan berdebat. Aku meninggalkan rumah diam-diam dan membawa Adjani. Bahkan Genta dan Andin sama sekali nggak tahu.
“Lo nggak takut mereka bakal lapor polisi dengan alasan penculikan?” tanya Diana –masih ingat pemeran Coppelia di pensi waktu SMA?
Sekarang Diana adalah seorang ballerina profesional dan bahkan mengajar di sekolah terkenal –Tamarina. Dia memberiku tempat tinggal di rumahnya karena kebetulan dia tinggal sendirian. Atas saran dari Diana-lah aku meninggalkan semuanya –termasuk Rexi.
“Gue sama Rexi nggak bisa bersama lagi,” kataku. “Gue nggak bisa bertahan lebih lama di sana, Na….”
“Lo yakin?” Diana mengernyit. “Lo mau cerai?”
Aku terdiam lalu mengangguk dengan pelan. “Mama-nya udah mau nyariin Rexi calon istri bahkan di saat gue masih ada,” jelasku. “Waktu pesta juga cewek itu diundang. Cantik, kaya dan wanita karir juga. Kebalikan banget dari gue….”
“Terus Rexi?”
“Terakhir kita ngomongin masalah itu malah ribut. Gue selalu diminta sabar tapi…sekarang gue nggak sanggup lagi,”
“Lo yang sabar ya…,” ujarnya, tersenyum sambil menepuk-nepuk bahuku. “Memang cinta itu nggak semudah ucapan I love you..”
Aku hanya tersenyum walaupun hatiku hancur. Tapi, melihat Adjani semua kesedihanku pun luntur. Dialah satu-satunya alasan bagiku untuk hidup. Aku harus bertahan.
Aku beruntung punya sahabat yang selalu membantuku. Saat akhirnya Genta dan Andin tahu keputusan nekatku mereka bilang kalau aku sudah gila. Tapi, sebuah kehidupan baru harus dimulai. Dengan berat hati aku harus mengatakannya pada Rexi –kami harus berpisah agar lebih adil untuk semua.
***
Rexi memandangku–terpana, tanpa jeda dan aku tertunduk beberapa saat.
“Adjani nggak akan kehilangan kamu,” kataku. “Kita bisa bagi waktu kapan dia bisa sama kamu dan aku nggak akan ngelarang kamu buat ketemu,”
“Ternyata kamu tega ya…,” kata dia, suaranya pelan, dalam dan berat.
Aku menghela nafas lagi. Aku nggak mau bicara tentang siapa yang tega dan disakiti. Aku rasa kami sudah cukup saling menyakiti dengan pendapat dan sikap masing-masing. Aku dengan semua alasanku untuk berpisah dan Rexi dengan keluarga yang makin nggak bisa dia lepaskan. Meskipun, aku sangat mencintainya dan berat untuk mengatakan cerai tapi aku nggak ingin memisahkan seorang ibu dengan anaknya –karena aku juga seorang ibu.
Aku masih diam saat tiba-tiba Rexi berdiri dari kursinya dan meja di depan kami terbalik oleh sentuhan tangannya yang emosi. Rexi mundur beberapa langkah dengan kesal –menatapku dengan tajam. Dia sangat marah dan aku berusaha untuk nggak gentar menghadapinya. Tanpa sepatah kata lagi, dia pergi meninggalkanku dengan sorotan panjang pengunjung cafรฉ lain yang memandang ke arahku.
Aku akan banyak menangis –berharap suatu hari aku nggak akan menyesali keputusanku.
Tapi, setiap memandang senyum Adjani rasanya aku akan bertahan. Ya, aku akan menjadi lebih kuat bila sendirian.
Aku masih punya orang-orang yang mencintaiku seperti sebuah keluarga. Andin, Genta, Diana, dan… Mas Ubai. Mereka menguatkan aku di saat aku lemah demi Adjani.Aku kembali melukis setelah Diana mengenalkanku pada seorang kolektor lukisan dan dia membeli lukisan Sang Dewa. Aku memulai debutku dengan beberapa pameran dengan bantuan Tante Lynn –kolektor lukisan yang selalu bergaya nyentrik. Rambutnya yang merah menyala dan selera fashionnya yang berani alias paduan warna tabrak lari sudah jadi ciri khasnya. Berkatnya beberapa lukisan baru tercipta dari kedua tanganku. Seperti Coppelia dan Rel Kereta.
Namun ada kalanya ketika aku merasa begitu sedih –cinta yang selama ini terjalin nggak akan pernah hilang. Aku nggak bisa menerima orang lain untuk masuk ke dalam kehidupanku. Tapi Mas Ubai hampir membuatku berubah pikiran.
***
Komentar
0 comments