๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Hari Natal, 25 Desember 2008…
Ya Tuhan,
Terang sudah tiba, lilin di Betlehem menyala,
Tolonglah aku untuk bersukacita dalam terang,
dan dalam cahaya itu melihat sesama aku apa adanya.
Tolonglah aku untuk mengenal Dia, sementara Natal tiba dan cakrawala malam sekali lagi, dipenuhi dengan terang kelahiran-Mu
Amin
Nyanyian itu menggema ke setiap sudut gereja. Ada suka cita dalam setiap alunan nadanya yang mengagungkan Tuhan. Di antara orang tua, muda-mudi, hingga anak-anak yang dengan tulus memaknai Natal tahun ini, aku dengan penuh harap berdoa pada Tuhan.
“Han, hendak ke mana?" tegur Encim yang duduk di sebelahku dengan berbisik.
Aku hanya tersenyum, melewati Encim sambil menggenggam lemah pundaknya. Lalu melangkah keluar. Langkahku terasa berat. Ya, tak pernah aku merasa setakut ini dalam hidupku. Tidak pernah aku merasa begitu bersalah hingga aku tidak sanggup menoleh ke belakang. Aku seakan meninggalkan Tuhan-ku di sana walau aku tahu ke mana pun aku pergi, Dia akan selalu mengawasi langkahku. Aku hanya pergi untuk mengejar keinginan hatiku.
Tuhan, apa dayaku?, aku berlalu meninggalkan misa di saat semua orang masih berdoa. Aku sudah berjanji padanya untuk segera bertemu. Sebelum kami berubah pikiran, lantaran keputusan ini sudah salah sama sekali. Tapi, tak ada pilihan bagi kami yang berbeda penafsiran tentang Tuhan.
Aku pun ingin sekali menunggu seorang gadis di altar untuk bisa kupakaiakan cincin. Betapa ingin sekali aku dan gadis yang kucintai diberkati bersama-sama, tapi… gadis itu harusnya bukan Zuri dan tak akan pernah menjadi Zuri. Walau kenyataan gadis yang aku inginkan itu hanyalah Zuri.
Di persimpangan jalan, tempat biasa kami bertemu, ia menunggu. Saat seharusnya aku bersama kerabat, membuka kado-kado keponakan yang berjejer di bawah pohon Natal, menikmati makan malam istimewa dan bersuka cita pada malam yang panjang ini, aku pergi menemui Zuri dan berencana untuk pergi.
Ya, ini malam yang sangat panjang bagiku yang percaya Zuri akan datang sesuai janjinya. Karena semua ini dia yang memintanya. Dia yang memohon agar kami bisa pergi dari sini secepatnya. Tapi… mengapa dia tidak datang? Setelah berjam-jam, hingga jalanan menjadi lengang, hanya satu-satu kendaraan yang lewat, Zuri tidak pernah terlihat keluar dari jalan kecil yang biasa ia lewati sebelum mengambil angkutan umum.
Dengan gelisah, malam itu berlalu. Aku tak bisa tenang. Apa Zuri berubah pikiran?
Penantian yang kukira hanya sebentar itu ternyata menjadi hampir seminggu. Hingga bahkan tiket pesawat yang sudah dibeli terlewatkan begitu saja, Zuri baru muncul di hadapanku dengan wajah menyesal. Awalnya, aku tak peduli dengan waktu yang terbuang sia-sia hanya karena menunggu. Awalnya, aku juga tak peduli dengan tiket pesawat yang hangus itu. Karena begitu melihat wajah Zuri, semua perasaan khawatirku pun luntur.
Namun, sejak bertemu hingga kami duduk bersama di satu tempat, raut wajah gadis itu tak terkata masamnya. “Aku pikir kamu meninggalkanku…," kataku, namun wajah Zuri selalu tertunduk. Tak mau ia perlihatkan kesudiannya untuk menjelaskan apa yang membuatku sampai menunggu selama itu. Aku mencoba meraih tangannya yang gemetar di atas meja, tapi gadis itu menariknya segera. Aku lantas bingung. Aku tidak bias lagi menepis firasat burukku sendiri saat mengamati sikapnya yang berubah.
Apa dia tidak bisa melihat bahwa aku begitu khawatir belakangan?
Namun, Zuri masih diam.
“Zuri?" tegurku. "Ada apa? Kenapa kamu tidak bicara?”
“Han…," balas Zuri, akhirnya, lalu mengangkat kepalanya. Tak ada raut sedih di sana. Ia menatapku. "Aku tak bisa ikut denganmu”
“Apa?" aku terkejut. Apa lagi yang bisa kuterima setelah ini lewat tatapan Zuri yang tampak tanpa belas kasih itu? Bahkan setelah hari-hari menyesakan bagiku karena dia tidak datang menepati janji? Aku seperti hidup di neraka karenanya.
“Aku akan tetap tinggal di sini…," kata Zuri, baru terlihat sedih. Tapi, menunduk adalah caranya untuk kembali bersembunyi.
Aku termangu. Berpikir sebentar sebelum mengangguk, mengerti. "Tidak apa-apa. Kalau kamu ingin tinggal, aku tidak akan paksa untuk pergi. Tapi… memastikan kamu baik-baik saja, aku sudah bisa lega," ucapku berusaha membuatnya tenang. “Aku akan menunggu kamu sampai siap untuk pergi”
Zuri menggeleng. "Aku tidak bisa pergi denganmu, Han," katanya. "Tidak hari ini… tidak juga nanti… aku…”
“Kamu menyerah?" tanyaku, menahan sebentuk gejolak di hatiku. Tak tahu mana yang benar antara kecewa dan marah, tapi ketakutan menyisip ke setiap sudut relung hatiku yang tertembus lewat kata-kata itu. “Begitu?”
Ia mengangkat kepalanya lagi. "Coba lihatlah ke depan," katanya. "Kamu, aku, tidak mungkin bersama…”
“Kita sudah tahu itu sejak pertama kita memutuskan…," kataku, tampak tak menerimanya. Menatap Zuri tanpa putus, aku berusaha menemukan sesuatu dalam raut tak berperasaan itu. Aku tahu, ia tak pernah berkata dengan suara datar, ketika bersedih, suaranya melunak. Raut keras yang dibuat saat ini adalah hanya untuk menunjukan bahwa ia menyembunyikan sesuatu.
“Lalu mengapa?"
“Karena aku mencintaimu, dan kamu mencintaiku. Apa lagi?" balasku, masih tak mengerti.
“Tidak semudah itu…," kata Zuri, menahan nafas. "Kita hanya dibuai oleh keinginan, sadarkah kamu, Han?”
Aku terkekeh. "Pernahkah aku menyentuhmu, Zuri?" tanyaku, lalu menggeleng. "Di jaman seperti ini cinta punya banyak wajah dan salah satunya adalah nafsu? Nafsu tak bisa dibedakan dengan cinta dan sebaliknya? Jangan samakan cintaku dengan cinta yang kamu lihat di film atau di buku…"
“Aku tidak bisa…," kata Zuri, bersikeras. "Jika kita mencintai hanya untuk bisa bahagia, sebagai mana Tuhan menciptakannya begitu sempurna, apakah kita bisa bahagia dengan menyakiti orang lain? Bisakah kita tertawa sementara mereka menangis? Orang tua pula…," jelasnya. "Tempat aku bernaung, tak bisa aku lepaskan. Bagaimana bila… cinta yang kita banggakan itu tak bisa memberiku tempat bernaung, ke mana aku akan pulang, Han? Tiada cinta yang kekal tanpa restu. Aku tak ingin berdosa, Han…”
“Jadi…," aku mulai tegang. "Kamu tidak mempercayaiku?”
Zuri diam. "Bukan, aku…,"
“Cukup!” Aku benar-benar terbawa amarahku sendiri. "Habis akalku, Zuri! Tempat bernaung? Apa maksudnya? Kenapa setiap orang menikah bila ia sudah punya orang tuanya sebagai tempat bernaung? Buat apa ia menikah jika kehidupannya sendiri telah begitu sempurna? Oh, adat Minang-kah? Perkawinan bukan karena cinta, bukan karena perasaan, akan tetapi perkawinan karena keluarga, itukah?”
“Han, aku…”
“Tidak perlu kamu jelaskan, Zuri! Aku memang berbeda denganmu. Aku tidak tahu rasanya punya orang tua. Aku memang tidak punya ayah atau ibu…. Kamu mau memberitahu bahwa ikatan antara anak dan orang tua adalah sesuatu yang sampai kapanpun tidak akan pernah ku miliki sehingga aku tidak akan paham?”
“Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan yang dilakukan oleh kakakku!” kata Zuri, tinggi nada suaranya hingga aku terdiam, terpana kepadanya. "Mengertikah kamu, Han?”
“Jadi bagimu, aku adalah kesalahan, benar?" tanyaku akhirnya, suaraku sendiri mulai gemetaran. Tapi, Zuri hanya tertunduk, tanpa jawaban.
Lalu aku pun hanya mengangguk-angguk dengan getir, aku tidak bisa menerima setiap kata yang dia ucapkan padaku. Aku ingin berdiri sampai rasanya ingin membalikan meja yang memisah kami yang seolah seratus meter jauhnya walau Zuri masih duduk tetap di depanku. “Aku akan lakukan apapun, Zuri! Kamu tahu itu?! Karena aku mencintaimu! Tidak pernah aku mencintai orang sampai seperti ini! Tidak pernah! Aku bisa bersabar sampai kapanpun selama yang kamu inginkan… karena aku yakin kita bisa melewatinya… kenapa kamu padamkan api keyakinanku atas cinta kita dengan cara seperti ini…?”
“Kita masih muda, Han…," balas Zuri, ikut berdiri dari kursinya. Menatap seolah menantangku untuk berdebat tentang cinta. "Kita masih punya banyak kesempatan. Akan banyak cinta yang lebih indah nanti…”
“Tidak usah menasehatiku, Zuri!” teriakku. "Tak usah kamu bujuk aku dengan omong kosong itu! Teganya kamu menyebut-nyebut cinta yang lain setelah semenit lalu kamu hancurkan perasaanku?!”
Zuri kembali terdiam. Tampak tak punya kata-kata lagi. Dia sangat ketakutan. Tapi, keadaan menjadi semakin rumit.
“Benar kata Liong! Semua perempuan itu sama!” kataku lagi, untuk kali ini Zuri tampak terenyak. “Pikirannya bisa berubah kapan pun, tak peduli ada angin apa. Dia bisa berkata dan berbuat sesukanya. Aku pikir kamu berbeda oleh karena kamu memahami Liong yang begitu sulit percaya pada orang lain bahkan termasuk aku sendiri! Tapi, aku keliru…”
"Han…," suara Zuri memanggilku saat aku ingin segera pergi. Kenapa aku harus bertahan? Apa hanya untuk mendengar kata-kata lain agar aku menyerah? Dia menginginkanku pergi!
“Sudah!” aku masih berteriak, sebelum melangkahkan kakiku. "Ingat, Zuri! Semua ini adalah keinginanmu, bukan aku. Jadi… pastikan kamu tidak menyesal di kemudian hari, karena pada saat itu aku tidak akan pernah lagi memohon kepadamu! Ingat itu!”
Aku meninggalkannya di sana. Aku tahu, gadis itu menangis. Tapi, aku tak pernah membalikan badan walau aku sendiri tak sanggup melangkah lagi, bahkan aku tak mau menoleh karena terlalu kecewa. Meski aku telah membalas kata-kata kejamnya dengan kejam pula, aku sudah menyesal sampai ingin menariknya lagi. Tapi, tak berguna, jika Zuri sudah memutuskan pergi, buat apa aku bertahan? Teluk tempat cintaku berlabuh telah porak poranda, sehingga aku kembali mengembara di laut. Membiarkan diriku tersesat lagi.
***
Komentar
0 comments