[Hal. 36] [Ch. 11] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Han

Raja Naga

Kami tidak pernah tahu bahwa semua ini akan terjadi. Sama seperti anak kecil lainnya. Tidak ada yang kami inginkan selain bermain, mainan dan kasih sayang. Meski tidak pernah mendapatkan semuanya dengan layak tapi bukan berarti tidak bahagia. Karena kami selalu bersama, aku, Liong dan Papi.

Hingga suatu hari, aku terbangun dari tidurku tengaaah   malam. Liong menarik-narik bajuku dan rupanya ia belum tidur.

“Han… pipis…,” kata dia padaku, hampir merengek. Wajahnya memerah karena takut. Dia tidak mau ke kamar mandi sendirian tengah malam karena hampir setiap sudut rumah gelap.

Papi selalu mematikan lampunya karena menurutnya tidur di dalam cahaya tidak baik bagi kesehatan. Papi memang orang yang sangat peduli dengan kesehatannya lebih-lebih seumur hidup ia tidak pernah makan daging yang banyak sekali kolesterolnya. Tidak heran, Papi tidak pernah mengalami penyakit yang serius seumur hidupnya. Papi suka sekali memasak sayuran dengan berbagai macam cara supaya kami memakannya. Tapi, tetap saja, anak kecil tidak akan suka sayur. Kami lebih memilih ayam goreng tepung yang rasanya jauh lebih lezat dari cap cay buatan Papi. Sedikit-sedikit, jika tidak mau makan, kami akan merengek meminta ayam goreng. Waktu kecil kami tidak berkepala botak dan berslogan ‘betul betul betul’. Tapi, kami sangat ceria, meski pun kami juga hidup sederhana tanpa seorang ibu.

Aku mendecak sembari bangkit dari tidur dengan menggosok-gosok mata lalu meraba-raba untuk mencari saklar lampu. Pedih sekali rasanya saat bertemu cahaya. Tapi, memang, rumah kami memang sedikit menakutkan. Terbayang sebuah gedung tua di Pecinan yang ditinggal begitu saja? Ya, bangunan bekas gudang itu berada tepat di seberang rumah kami. Hanya berbatas dengan jalan yang jarang dilalui oleh kendaraan, lampu jalan pun lebih sering mati daripada hidup.

Kami pernah mendengar cerita-cerita mistis dari tetangga sekitar yang melihat orang berbadan besar duduk-duduk di sana atau perempuan menangis. Walaupun belum pernah melihatnya sendiri, tetap saja kami takut.

Liong menyuruhku menunggu di pintu. Tapi, aku dengan nekat meninggalkannya karena terlalu mengantuk. Toh, jarak kamar mandi dengan tempat tidur hanya dua meter. Aku kembali bersarang di bawah selimut dan begitu mudah tertidur lagi karena mengantuk. Kami harus ke sekolah besok. Dan besok hari Senin. Upacara bendera.

Aku tidak memikirkan Liong yang penakut. Memang, Liong lahir lebih dulu setengah jam daripadaku. Tapi, dia lebih manja daripada seorang adik perempuan. Dia akan baik-baik saja. Dia akan kembali ke tempat tidur sendiri setelah keluar dari kamar mandi. Tapi, ternyata dia tidak kembali. Entah dari mana dia mendapatkan keberanian untuk keluar dari kamar sendirian di saat serangga malam terdengar seperti suara hantu.

Liong kembali ke kamar dan lagi-lagi membangunkanku. “Han… Han…,” dia menarik-narik bajuku.

Cahaya kembali menyerang mataku karena ternyata dia tidak mematikan lampunya begitu keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat biasa saja. Tidak ada lagi ketakutan di sana. Aku memperhatikannya baik-baik untuk mendengarkannya.

“Kenapa Papi bisa terbang?” tanya dia.

Aku tidak mengerti. Lalu menggeleng bersiap untuk tidur lagi. “Tidur sana,” kataku sambil kembali berbaring.

Tapi, Liong menarik-narik bajuku lagi. “Papi bisa terbang, Han… aku melihatnya sendiri!” kata dia bersikeras sampai aku benar-benar turun dari tempat tidur.

Aku tidak dapat berpikir. Kami hanya menyusuri lorong yang meuntun kami ke kamar Papi. Beberapa saat, serangga berhenti berbunyi hingga sunyi sekali. Pintu kamar ayah kami terbuka sedikit saat kami sampai, mungkin Liong yang membukanya dan membuktikan bahwa yang dikatakannya benar. Papi terbang. Ia melayang di udara. Tapi, dengan seutas tali di lehernya menggantung ke langit-langit kamar.

Kami masih enam tahun. Kami tidak mengerti kenapa Papi bermain dengan cara yang aneh. Aku dan Liong terdiam memandang ekspresinya yang tegang dan kesakitan. Kami tidak berani mendekat karena takut. Ekspresi Papi sangat mengerikan. Tak heran, keesokan pagi, ketika orang-orang menurunkannya dari gantungan itu banyak yang menangis. Encim, Cici, semuanya menangis.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments