[Hal. 49] [Ch. 15] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Berpulang ke Pangkuan Bumi

Ya, semua mengira bahwa dia sudah tak bernyawa. Namun, ternyata ia masih bernafas. Hanya saja suhu tubuhnya menjadi tinggi sekali, tiga puluh sembilan derajat. Sudah dua hari ia tidak sadarkan diri, membuat kakaknya berada di neraka karenanya.

"Harusnya kamu tidak datang!” tuntut Nazia kepada Han yang hanya bisa diam, menerima apa yang terjadi sebagai salahnya. "Sebelum kamu datang dia tidak pernah seperti ini!"

"Maafkan aku…," hanya itu yang dia ucapkan di samping Zuri yang masih terlelap.

"Kamu bisa bayangkan bagaimana setelah ini dia tidak bisa bangun lagi?" Nazia masih menuntutnya, tapi tiba-tiba ia mengatup mulutnya melihat Aku bergerak.

"U…ni…," panggilnya, suaranya serak dan lemah.

Nazia mendekat. " Zuri …?" sahutnya, sambil mendekatkan wajahnya kepada Aku yang tampak mencari-carinya.

"Sa…kit…," keluhnya, di telinga kakaknya yang kembali menahan tangis di hadapannya.

"Sabar, Zuri …," ujar Nazia sembari membelai puncak kepalanya dengan pelan, lalu mata itu kembali terpejam dengan tenang. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat Zuri menutupnya dengan sangat pelan. " Zuri …"

Han segera berdiri untuk memeriksanya, namun sepertinya Zuri hanya kembali tertidur. Ia meyakinkan Nazia untuk beristirahat dan berjanji akan berada di samping Zuri sampai ia membuka matanya. Nazia agak menggerutu saat dr. Nira juga meyakinkanya, tapi ia tinggalkan tempat itu beberapa saat.

Dari hari ke hari kondisinya memang menurun. Dia yang biasanya bisa bangkit dari tempat tidurnya sendiri, sekarang harus dibantu. Gerakan motoriknya mulai lamban. Mengunyah makanan pun ia lakukan dengan sangat pelan. Tangannya sudah tak bisa menggenggam pulpen. Jemarinya sudah kaku sekali, bahkan tak bisa lagi membalik lembaran buku. Tatapannya sudah sering kosong namun selalu tertuju kepada pohon yang daunnya berguguran di luar sana.

" Zuri?" tegur Han, mengalihkan perhatiannya dari pohon itu kepada Han yang mencoba tersenyum. "Apa yang kamu lihat?"

Zuri hanya menatapnya kosong. "Aku… tidak bisa ke mana-mana lagi…bukan?" tanya dia, suaranya berat dan kecil.

"Aku tahu kamu bosan, tapi…," jawab Han, sambil menggenggam tangannya. "Kondisimu tidak mengizinkan, Zuri …"

"Aku mengerti… mengapa… Liong melompat…," katanya, menatap Han lekat-lekat. "Sakit… menderita… dia tidak tahan…"

Han tertunduk. " Zuri, tolong jangankan katakan pada aku bahwa kamu akan melompat waktu itu…," pintanya, terdengar memohon,"Itu bukan jalan yang baik… kamu sendiri yang mengatakannya pada Liong, bukan?"

"Dia…selalu mendatangiku…," katanya, seolah menegaskan. "Aku ingat…aku meraih tangannya… tapi… dia tetap jatuh… terkadang aku mimpi… bahwa kami sama-sama terjatuh…"

"Aku mohon, Zuri … jangan mengatakannya lagi…," pinta Han lagi. "Aku sangat takut… aku sudah banyak kehilangan…"

"Aku pun juga begitu, Han… banyak sekali… meski aku…tidak menginginkannya…," katanya lagi dengan tatapan yang kosong. "Aku…terus bertanya… mengapa harus aku… yang merasakan semua ini… jatuh cinta… kepada seseorang yang tak pernah bisa aku miliki… kehilangan ibu bapak… sakit-sakitan dan… terpenjara…"

Han terdiam beberapa saat. "Lalu apa yang sebenarnya kamu inginkan sekarang? Katakanlah," ujar Han. "Aku akan membantumu sebisaku… katakan saja, Zuri …"

"Be… narkah?." Setunas harapan tumbuh di wajahnya yang gersang itu.

"Katakanlah…," jawabnya.

Lama Zuri tak menjawabnya. Ia kembali memandang keluar jendela, sebelum menatap Han lekat-lekat dengan tatapan yang tiba-tiba ternoda oleh air mata. "Bisakah… kamu… membawa aku… keluar dari sini,… Han?" tanya dia.

"Apa…?" Han cukup terkejut mendengarnya. Mulutnya seperti tersedak oleh kata-katanya yang kembali disuapkan Aku kepadanya.

Air mata itu turun lagi di pipi tirusnya yang pucat. "Aku… tidak ingin mati di sini, Han…," katanya terdengar memohon dengan sangat. "Tempat ini mengerikan… begitu banyak … kematian…  yang aku saksikan….dan… mereka seolah memanggilku…"

"Kamu harus dirawat, Zuri …"

"Apa lagi gunanya? Aku sudah tidak terselamatkan… aku mohon… bawalah aku keluar dari sini…"

"Tapi…"

"Kamu sudah berkata… akan melakukan apa saja…"

Han menghela nafas. "Aku tidak yakin dr. Nira akan mengizinkan…," katanya, cukup menyesal.

"Kamu seorang dokter, bukan? Selama ini… kamu rawat orang lain, tetapi tidak denganku… apa permintaan terakhir aku ini… terasa berlebihan…? Aku tak pernah… meminta apapun darimu sebelumnya…ingat…?"

Han tidak menjawab.

"Apa… yang bisa… kita buat sekarang?" tanya Zuri lagi, masih tampak memohon. "Mengertilah…"

"Ke mana kita akan pergi, Zuri?" tanya Han kemudian, tak tega dengan air matanya yang terus menetes dan suaranya yang memohon.

"Ke mana saja…," jawabnya. "Asalkan di sana… kita bisa menjadi seseorang saja. Seorang lelaki dan seorang perempuan… bukan seorang Cina dan seorang pribumi… bukan seorang Nasrani dan seorang Muslim. Hanya kita… sebagai mana manusia sesungguhnya diciptakan…untuk hidup, berjuang… dan mencintai… salahkah kita?" 

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments