[Hal. 39] [Ch. 12] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Mihrab Cinta

Semenjak cinta yang kandas banyak kekacauan tak terduga. Seperti kebanyakan lelaki yang dicampakan dengan cara yang menyakitkan, aku pun hampir nekad. Tapi, terpikir, dalam keluargaku sudah ada dua orang yang bunuh diri, semuanya lelaki. Padahal, aku sudah berjuang mati-matian demi menjadi seorang dokter. Tapi, kembali kepada tujuanku menjadi seorang penyembuh, aku merasa sudah gagal. Separuh jalan mewujudkan keinginan untuk menyembuhkan Liong yang sakit keras dia memutuskan tali hidup dengan keras kepalanya. Untuk apalah aku menjadi dokter, jika tujuan utama saja sudah gagal?

Sekarang, langkahku pun terseok. Patah hati menjadikanku seperti pengecut yang tak mau menghadang sinar matahari. Bahkan sampai sakit. Dokter saja sudah sakit, macam mana mau menyembuhkan orang sakit?

Aku tidak sanggup menahan rasa sepi sejak kami berakhir. Seakan hidup ini tidak adil padaku. Di saat aku menemukan apa yang sudah lama kucari, tiba-tiba semuanya direnggut.

Tanpa sadar, aku berjalan sendiri ke tempat-tempat yang pernah kami datangi bersama. Hanya untuk mengenang masa-masa yang telah berlalu. Jembatan Siti Nurbaya dan menelusuri garis pantai seorang diri. Hingga langkahku terhenti di depan sebuah masjid di tengah kota tempat di mana Zuri biasanya menunaikan kewajibannya.

Dulu, di depan pagar aku selalu menunggu sekitar sepuluh menit sebelum Zuri keluar dari sana dengan wajah yang berseri. Entah mengapa setiap memandangnya keluar sambil membawa mukenahnya, gadis itu terlihat sangat cantik, apalagi saat tersenyum. Sebegitu indahnya, sampai aku tak menyadari bahwa kami tak sejalan. Ia mengabaikan tatapan orang-orang yang hanya melihat sebelah mata antara seorang gadis yang shalat-nya rajin, dan seorang Cina yang menatapnya penuh keterpesonaan.

“Mau masuk?" tegur seseorang secara tiba-tiba mengagetkanku.

Terlihat seorang pria berjanggut. Usianya sekitar 40 tahunan. Dengan sarung dan baju koko yang rapi di badannya, ia tampak akan masuk karena adzan Dzuhur akan dikumandangkan.

Aku menggeleng, tersenyum malu, namun bingung.

“Saya perhatikan sudah lama kamu  berdiri di sana,"  kata bapak ber-kopiah itu padaku.

“Tidak…," jawabku, lalu pergi seperti bocah pecicilan yang takut ketahuan mencuri sandal.

***

Entah apa yang membuatku kembali esok hari. Bukan lagi menyusuri kenangan bersama Zuri. Namun, menunggui Pak Haji yang kemarin menegurku. Dengan yakin, aku merasa bahwa Pak Haji itu pasti setiap hari ke masjid untuk mengumandangkan adzan.

Ya, benar. Bapak itu kembali menemukanku menunggu di depan pagar. Tanpa ragu aku menghampirinya untuk mengajaknya bicara. Tapi, Bapak itu menyuruhku kembali menunggu karena waktu shalat Dzuhur sudah tiba. Bapak itu harus menyerukan panggilan-Nya kepada seluruh umat Islam.

Hampir satu jam, aku menunggu di dalam masjid seperti yang Bapak itu minta kepadanya. Aneh rasanya, seumur hidup baru sekali ini aku masuk ke masjid, melihat orang Islam ‘menemui’ penciptanya. Tentu suasananya berbeda dengan gereja. Di sini, mereka tak menyanyi membaca kitab, mereka melakukannya dalam sunyi. Melakukan gerakan-gerakan yang entah apa tujuannya.

Mungkin, aku terlihat amat putus asa saat Pak Haji itu akhirnya menghampiriku.

“Saya ingin masuk Islam, Pak Haji," kataku. Di sudut ruang masjid yang begitu luasnya sampai anak-anak pengunjung bisa berlarian di dalamnya.

Pak Haji itu agak terkejut. "Kenapa kamu memutuskan masuk Islam?" tanya si Pak Haji, tapi matanya tertuju kepada gelang salib di tangan kananku.

Aku tertunduk. Apa tidak apa-apa ia menjawab bahwa ini untuk gadis pujaanku?

“Demi menikah dengan seorang muslim?" tanya Pak Haji itu, menebaknya dengan jitu hingga aku terenyak.

“Saya…”

“Tak baik berpindah agama hanya karena putus asa," ujar Pak Haji itu.

“Saya…," aku masih ragu-ragu, lalu menatapnya sungguh-sungguh. "Apa saya… memang harus masuk Islam supaya bisa diterima, Pak Haji?”

Pak Haji itu tersenyum, kembali ia pandangi gelang salibku.

Aku segera sadar, mataku pun ikut mengamati Kristus di tanganku. Memang ganjil, ingin masuk Islam tapi masih memakai salib, bagaimana mungkin Pak Haji ini percaya bahwa aku bersungguh-sungguh?

“Dengar…," kata Pak Haji itu, dengan tenang dan ramah. "Kepercayaan itu tak bisa dipaksakan, juga tak bisa didustakan. Bukan suatu kebanggaan bagi saya meng-Islam-kan orang Nasrani, bila mana ia menjadi muslim demi tujuan tertentu. Karena agamanya tidak akan ia jalankan sesempurna seperti agama yang ia jalankan sebelumnya. Terlebih demi seorang perempuan, suami yang pada dasarnya tidak seiman, tidak mempercayai Tuhan yang sama, tetap tak akan memiliki Imam walau bersuami. Kasihan benar dia. Walau bisa disatukan dalam sebuah ikatan di atas kertas, tapi tidak dengan imannya”

“Saya harus bagaimana, Pak Haji. Demi perempuan itu, saya mau berkorban apa saja”

“Tiada yang bernama pengorbanan agama, Han. Sekalipun atas nama cinta," tegas Pak Haji itu. "Agama itu bukan benda, bukan juga sesuatu yang tak berwujud yang bisa dimiliki atau dikorbankan demi sesuatu yang lain. Agama itu kepercayaan, kepercayaan adalah nafas manusia selama ia hidup di dunia. Agama itu ibarat fondasi rumah, tak kuat semuanya akan runtuh. Bila mana itu dikorbankan bagaima kamu akan hidup? Tak ada cinta yang seperti itu, Han…”

“Lalu cinta yang seperti apa? Saya tidak mengerti… sama sekali…," kata Han, hampir menangis dalam kata-katanya.

“Doakanlah dia sebagaimana kamu percaya Tuhan-Mu akan mengabulkan semua doa-doamu selama ini. Itu adalah cinta yang sebenarnya. Cinta yang ber-mihrab kepada-Nya. Cinta yang setulus-tulusnya cinta. Jika benar cintamu kepada perempuan itu suci, bukan cinta yang didasarkan kepada nafsu, atau hal-hal keduniaan lainnya, doakan dia agar berbahagia dalam hidupnya. Karena cinta yang sesungguhnya, adalah bahagia ketika melihat orang yang dicinta bahagia …”

Mendoakan?, aku hampir tak percaya. Bagaimana mungkin ia mendoakannya bila Zuri sendiri telah menghancurkan hatiku? Tapi, apa yang aku lakukan dengan mendatangi Pak Haji itu seolah Zuri masih mau menerima diriku? Jika Zuri masih ingin bersamaku, tentu ia tak akan pergi. Apakah aku sudah gila?, aku semakin gelisah.

Oh, Tuhan, apa yang telah aku pikirkan?

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments