๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Sudah dua hari aku tidak keluar dari kamar. Seperti anak perempuan yang menolak dikawinkan dengan pilihan orang tua yang tidak dicinta. Aku mengurung diri, mengunci pintu, mengusir siapa yang mendekat. Aku mulai gelisah setiap harinya. Menghindari Zuri seperti ini, rasanya akulah yang akan mati. Tapi, aku tidak mampu lagi menatapnya. Memperlakukannya seperti ini hanya membuat posisinya semakin sulit di tengah keluargaku. Apa sebaiknya aku memang melepaskannya?
TOK TOK TOK!
Seseorang mengetuk pintu. Aku tersadar bahwa kamarku sudah sedemikan berantakan. Aku benar-benar sudah gila karenanya.
“Attar, aku mau pamit," suara lemah Zuri terdengar dari balik pintu.
Apa. Dia akan pergi sendiri?
Perempuan keras kepala…, gerutuku hanya bisa memandang pintu itu dan mendengar suara yang merambat dari celahnya. Aku belum ingin membukanya. Aku belum ingin melihat wajahnya.
“Maafkan aku…," ucapnya, di balik sana. Pelan, dan tampak berusaha mengendalikan nada suaranya. Bisa jadi ia menangis, hingga kemudian aku bangkit, mendekat ke pintu untuk mendengarkannya seksama. “Aku tidak bisa melakukan apa-apa…”
Aku hanya bersandar ke sana tanpa perlu membukanya. Melihat wajahnya, hanya membuatku semakin hancur. Siapa yang bisa luluhkan hatinya yang keras? Pendiriannya itu kuat seperti batu karang.
“Terima kasih…atas apa yang sudah kamu lakukan… aku…," semakin didengar semakin jelas Zuri menangis, membuatku ikut meneteskan setitik air mata panas, namun seketika aku membasminya dari wajahku. “Aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya, Attar…”
Tinggallah, aku memohon di dalam hatiku. tapi, tidak bisa kukatakan begitu saja.
“Kemarin aku baru berpikir untuk menjalani sebagaimana yang kamu inginkan, di luar dari kematianku. Toh… kematian itu sesuatu yang pasti terjadi. Tapi, apakah kamu tidak akan menderita oleh sebab aku masih mencintai orang lain?" tanya Zuri. Dadaku semakin panas. Detak jantungku semakin keras. Bila ia terus mengatakan semua yang menyakitkanku, mungkin saja aku akan meledak. "Hatiku saja masih tidak bisa menerimanya, apa lagi kamu… aku merasa sangat kejam…”
Tapi, aku berhenti bertingkah seperti perempuan saat akhirnya membuka pintu, menemukan Zuri menangis. Melihat air matanya, seketika aku terjaga, terlalu sering perempuan itu menangis. Tidak tega ia menyaksikan butiran itu mengalir deras di pipinya.
“Ke mana kamu pergi?" tanyaku. "Ke mana? Apa ada orang lain yang bisa menampungmu? Melakukan semua yang aku lakukan seperti selama ini?”
Zuri hanya menatapku.
"Dia… dia sudah meninggalkanmu!” kataku mengingatkan bahwa cintanya itu hanya sia-sia. Barangkali dia juga sudah menikah, sudah berkeluarga. Dia sudah melupakan Zuri. Aku yakin itu! "Apa dia peduli sekarang kamu sekarat?! Apa yang dia lakukan?! Dia seorang dokter, dia rawat orang lain, tapi tidak dengan kamu! Dia sembuhkan orang lain, tapi dia biarkan kamu sekarat!”
“A…apa?" Zuri tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
“Aku tahu dia di mana!” kataku akhirnya. "Aku tahu, Zuri!”
Tahu pun, apa gunanya?
“Aku akui, aku berdosa…," kataku, tertunduk. Aku harus mengatakan ini padanya. “Aku membaca semua surel itu, termasuk yang tidak pernah kamu baca.”
“Apa maksudnya, Attar?”
“Semuanya dari Han …," kataku, mengatur nafas yang sesak serta amarah yang minta dilepaskan bersamaan. “Aku hapus semuanya supaya kamu tidak akan pernah membacanya…”
"Kenapa?" Zuri gemetaran. Ia memandangku seolah sedang menuntut hak yang tak penah kuberikan padanya. Aku tak pernah melihat emosi di wajahnya sebelum ini. "Kenapa kamu lakukan itu?”
“Lalu aku harus bagaimana lagi?! Dia biarkan kamu menderita berbulan-bulan dengan menyimpan semua kata-katanya yang kejam itu!” balasku, tak kuasa meredam emosiku lagi. "Lalu dia minta maaf, menyesal, meminta kembali, semudah dia menghancurkan semua harapanmu! Sebagai orang yang mencintaimu, bisakah aku biarkan dia memungut kembali yang dia campakan?! Bisakah aku serahkan kembali orang yang aku kasihi kepadanya?!”
“Aku yang meninggalkan dia, Attar!” jerit Zuri padaku, mengingatkan.
“Kamu ambil celamu hanya untuk meninggikan dia di atasku?!" balasku. Pertahananku dari amarah telah runtuh. "Selama ini aku yang mencintaimu yang kamu anggap udara hampa? Dia sendiri apa?!”
“Ini tidak terjadi jika seandainya kamu tidak…”
“Tidak apa?!” teriakku lagi. "Membalas surel itu dan mengatakan bahwa kamu tidak menginginkannya lagi karena telah memiliki pengganti?”
“Ya Allah, Attar, apa yang kamu…”
“Apa aku akan mengatakan padanya ‘Han, jemputlah Zuri. Aku sudah menjaganya selagi kamu mencampakannya dan sekarang aku kembalikan dia kepadamu’, begitu?”
Zuri kembali tertunduk. Tangisnya makin menjadi-jadi. “Kamu… sahabatku…," katanya. "Meski aku tidak bisa mencintaimu seperti yang kamu ingini, tidak berarti aku tidak menyayangimu… aku pun berusaha untuk menerima…tapi jika semua ini hanya di atas dustamu…”
“Cintaku bukan dusta!” aku berteriak lagi. Menepuk dadaku sendiri, untuk mennunjukan padanya di mana rasa sakit yang sesungguhnya. Dari sinilah cinta itu hadir. "Cinta ini dari hati, kenapa kamu tak mengerti juga…”
Zuri kembali terdiam. Kali ini ia berusaha untuk tenang, menghapus air matanya, karena seisi rumah berdatangan untuk melihat. “Aku memang sudah tak bisa tinggal di sini lagi…”
Aku terkekeh di sela tangisku sendiri. "Kamu mau ke Jakarta? Menemuinya?”
“Aku akan pulang ke Padang," kata Zuri pelan. Ia menghapus semua air matanya dengan cepat lalu berbalik. Akhirnya dia benar-benar pergi, harapanku pun hilang bersamaan….
Bagian III - end
Komentar
0 comments