๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Semua menunggu di luar cukup lama, termasuk Nazia yang tak habis air matanya. Setiap Zuri kembali ke saat-saat menegangkan itu ia selalu berpikir bahwa inilah saatnya melepaskan. Ia belum siap untuk kehilangan walaupun itu akan terjadi juga. Seakan nafasnya sendiri lah yang akan terhenti setiap ia dipanggil ketika Zuri menunjukan tanda-tanda mengkhawatirkan lagi.
Attar duduk di kursi tunggu dengan frustasi. Sama seperti Nazia, ia selalu berpikiran buruk setiap Zuri mengalami gejala itu lagi. Tak bisa bernafas beberapa saat, lalu disuntik lagi agar ia terlelap. Tidak tega ia melihatnya, bertahan hidup hanya untuk menanggung sakit. Seandainya rasa sakit itu bisa dipindahkan, ia rela menanggungnya demi gadis itu hanya untuk melihatnya ceria lagi.
Tapi, Han sudah kembali. Seseorang yang dia rindukan itu telah kembali ke hadapan matanya. Han berada di dalam bersama dr. Nira yang masih memeriksa keadaannya.
"Mengapa dosis obatnya tinggi sekali?" tanya Han pada temannya itu, begitu Zuri telah terlelap.
"Dosis rendah tidak bisa meredakannya, Sam," jawabnya. "Dia sudah bergantung kepada obat-obatan hanya untuk menghindari kemoterapi. Entah bagaimana dia bisa bertahan bahkan tanpa operasi. Sekarang, semuanya sudah terlambat untuk itu. Kemungkinannya kecil sekali dan jika kita tetap mengoperasinya, kita akan kehilangannya lebih cepat. Kita hanya menunggu waktu sampai semua anggota tubuhnya mulai kaku dan…"
Han menghela nafas.
"Kondisi kejiwaannya tidak stabil," sambung dr. Nira. "Aku sudah menduga ini akan terjadi apabila dia melihatmu. Sekarang aku juga sudah tidak tahu harus bagaimana selain menunggu keajaiban," lalu wanita itu pergi.
Tak lama, Attar dan Nazia masuk setelah dr. Nira keluar.
Namun, tak tahan rasanya melihat Nazia menangis tersedu-sedu di samping adiknya yang belum terjaga.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Attar pada Han yang memandang dengan sedih kakak beradik itu. Mengingatkannya bahwa ia juga punya seorang saudara yang menderita penyakit yang sama. Ini seperti sebuah kutukan baginya.
Han tidak menjawabnya. Ia pun meninggalkan ruangan itu karena hatinya kembali tertusuk dengan perih karena memikirkannya. Tapi, Attar mengikutinya. Tampak masih ada yang ingin ia katakan kepada lelaki itu.
"Tunggu!” panggil Attar begitu ia sudah di luar dan menyaksikan sendiri bagaimana Han meninggalkan tempat itu dengan langkahnya yang gontai sampai ia harus menyandar ke dinding agar tak jatuh karena terlalu sedih.
Han menoleh, matanya telah merah sekali. Namun, ia berusaha untuk terlihat biasa walau hampir tak mungkin.
Attar mulai ragu. Ia tahu ada rasa bersalah di mata Han, dan begitu pula dirinya saat ini. "Aku ingin minta maaf," katanya, perlahan, dan mulai sedikit gelisah. "Soal surel itu…"
Sebelah alis Han terangkat. Surel?, ia tentu heran. Surel apa?
"Surel terakhir dari Zuri aku yang mengirimnya," Attar mengaku. Ia tampak canggung mengatakannya, tapi segera ia pasang raut tegas yang menyatakan bahwa ia berhak untuk melakukan hal itu bukan sebagai seorang sahabat yang melindungi. "Aku mencintainya… aku lakukan itu karena aku mencintainya…"
Han tidak terlalu heran. Dia sudah melupakan isi surel itu. Tapi, mendengarnya kembali menimbulkan kesedihan yang luar biasa. Karena surel itulah ia berpindah. Karena surel itulah akhirnya ia memutuskan menikah. Meski tetap tak ada hubungannya.
"Dan… aku mengakui ini karena aku merasa bersalah kepada kawan baikku yang harus menderita karena keegoisan perasaanku…," sambung Attar, dan tiba-tiba Han mengisyaratkannya untuk berhenti bicara.
"Cukup…," kata Han, membalikan badannya. Tampak semakin frustasi, ia pun menjauh, membawa langkahnya yang gontai itu menelusuri lorong yang sepi.
***
Komentar
0 comments