๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Kepergian Sang Naga
Padang, 20 Juli 2011…
Zuri terpana. Langkah kaki yang ia tunggu berhenti tepat di depan pintu kamar yang gersang. Aku mengamati wajah yang sudah lama tak terlihat itu di sana. Tentu, ia tak percaya apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri saat ini, terlebih selama ini ia merasa bahwa segala tentangnya dan orang itu telah berakhir.
Namun, tidak dengan persahabatan yang sudah terjalin lama ini.
"Attar?" bibirnya membentuk gerakan yang ragu-ragu ketika sosok kurus dan tinggi itu mendekat perlahan, membawa sebentuk rasa bersalah yang tersirat di wajahnya dan terpikul pada pundaknya.
"Apa kabar, Zuri?" tanya Attar kepadanya dengan senyum ramah di bibirnya. Seolah tak ada hari di mana mereka pernah menangis berhadapan, saling memohon untuk mendengarkan, mengungkapkan sekecil apapun rasa di hati agar menjadi berarti, tapi keduanya gagal untuk saling memenuhi sehingga salah satunya pergi.
Zuri tersenyum. Tak tahu rasa hatinya saat ini, kecewa atau senang. Meski tak diharapkan, tapi kedatangan Attar sedikit melegakan, persahabatan mereka tak pernah usai meski sebuah kata 'tidak' telah membuat jarak yang jauh, belum lagi semua yang telah terjadi di antara mereka. Namun, mungkin saja baginya, kedatangan Attar adalah sesuatu yang dikehendaki Tuhan untuknya agar ia berhenti mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
Seperti tak pernah ada masalah, mereka kembali mengobrol sambil sesekali tertawa. Tak sedikitpun mereka mengungkit yang telah berlalu. Hanya hal-hal menyenangkan yang bisa terpikir untuk dilakukan.
"Ingat, Zuri, sampai kapanpun, aku adalah sahabatmu," begitulah katanya.
Setelah itu, setiap hari Attar datang melihatnya. Zuri bahkan mengajaknya berkeliling 'rumah'-nya dikenalkan kepada penghuni lain yang rata-rata adalah anak-anak. Selama empat tahun mengenal Zuri, Attar tak pernah tahu bahwa Zuri cukup menyukai anak-anak. Anak-anak itu menyambutnya dengan gembira saat ia kebetulan berkunjung ke bangsal itu.
Sudah hampir sebulan di sini, Zuri jarang berinteraksi dengan lingkungan di luar ruang perawatannya. Karena hanya ada dia sendiri di ruang khusus itu, ia menjadi amat bosan. Sehingga ia putuskan untuk sedikit berkeliling, berkenalan dengan pasien perasaian lainnya, sampai ia mengenal anak-anak ini.
“Kakak, apa ada cerita lagi hari ini?" tanya seorang bocah perempuan di bangsal lantai satu yang biasa menemani ayahnya menjagai ibunya yang sakit sehabis melahirkan. Bersamaan dengannya dua orang bocah lain menghampirinya.
"Hm… hari ini tidak ada jadwal, bagaimana kalau besok?" jawab Zuri.
"Yaaah….," keluh bocah perempuan berumur tujuh tahun itu. "Lalu bagaimana dengan Kayo dan Ramo-ramo? Mati itu tidak bagus…"
Aku mengangkat bahunya sambil tersenyum. Sebenarnya ia belum memikirkan kelanjutannya. Ia bahkan belum ingin melanjutkannya. Cerita itu telah mati begitu saja, karena seperti itulah yang sebenarnya terjadi. Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang hanya bisa dipisahkan oleh kematian.
"Buat saja mereka bereinkarnasi kembali, lalu dipertemukan untuk jatuh cinta dan hidup bahagia selamanya," Attar berpendapat saat mereka kembali ke kamar Zuri untuk mengistirahatkannya di sana, karena perjalanannya sudah cukup jauh. Dari lantai dua kamar paling ujung, melewati lorong dan turun ke lantai satu ke tempat yang banyak anak-anaknya.
Zuri hanya tersenyum.
"Pangeran kembar ya?" Attar tampak menerawang, sambil melangkah ia menengadahkan kepalanya menghadap langit-langit yang bergerak dalam pandangannya namun pikirannya telah melewati atap di atas kepalanya. "Seperti Liong dan Han itu bukan? Apa bedanya melompat dari gedung kampus atau jurang? Sekarang apa bedanya?"
"Maksudnya?" Zuri heran.
Kemudian, Attar menatapnya lekat-lekat. "Aku rasa… Liong ingin mengajak kamu melompat bersamanya saat itu. Tapi kamu tidak menginginkannya, makanya sekarang dia ingin menjemputmu," katanya, dengan sedih. "Yang melompat bersama Ramo-ramo adalah Kayo. Bukan Sati. Siapa sebenarnya yang kamu cintai, Zuri? Yang sudah mati atau yang masih hidup?"
"Mengapa kamu ingin mengetahuinya?" tanya Zuri, menghentikan langkahnya.
Attar tak menjawab karena Zuri belum menjawab pertanyaannya.
"Apa pentingnya bertanya siapa yang aku cintai? Mereka itu sama, tiada bedanya. Han hidup di dalam impian Liong. Liong hidup di masa depan Han," jawabnya. "Rasanya lebih terlihat seperti… dua jiwa yang bersatu kembali"
"Lalu mengapa Sati mati dalam kesepian jika kamu mencintainya?"
"Itu pilihannya, Attar. Bukan aku"
Aku melangkah. Langkahnya itu terlihat amat ringan dari kejauhan. Kepalanya sudah ditutup dengan selendang pashmina lantaran rambutnya sudah dipangkas habis. Namun begitu, semakin lama ia tinggal di sini, semakin bersemangat ia menjalaninya. Dengan shalat, dan banyak mengaji setelah tak sering lagi menulis. Ia tampak sudah menyelesaikan semua cerita-ceritanya walau masih banyak yang menunggu ia mengarang cerita baru.
***
Komentar
0 comments