๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Untuk Han,
Aku senang sekali mendengarnya. Namun, semua sudah terlambat. Waktu merubah segalanya selagi aku menunggu penuh harap, kamu hancurkan begitu saja. Kamu membuat aku tak punya pilihan. Maafkan aku, Han, aku tak bisa menyatukan cermin yang telah retak itu, aku pun membuangnya, mengganti dengan yang baru. Kita pun sudah tak punya apa-apa untuk disatukan kembali.
Semoga kamu berbahagia selalu.
Zuri.
Hancur hatinya membaca surat itu. Cermin yang telah retak telah ia buang dan ia ganti dengan yang baru, adalah kalimat lain yang menyatakan bahwa Zuri telah menemukan penggantinya. Penolakan lagi?, itulah yang terbesit ketika Han selesai membaca suratnya.
Tapi, ketika hari baru dimulai lagi, ia harus melampauinya. Ketika ia melihat dirinya di cermin, ia sadar sudah tak pantas lagi memikirkan Zuri sampai kurang tidur dan kembali menjadi penggelisah. Terlalu berat baginya, tapi pada saat itu juga ia mulai merubah caranya untuk merasa, saatnya kembali kepada kenyataan. Karena ia tak tahu harus berbuat apa, sebab masih melihat luka di hatinya seolah baru kemarin itu tergores di sana, tapi Zuri telah pergi, telah melupakannya. Meski ia belum tahu ke mana lagi akan melabuhkan cintanya, dan mengingat Zuri seolah masih seperti kemarin ia menggenggam tangannya. Ia mulai memunguti pecahan dirinya yang terberai untuk menyatukannya kembali. Ia tak bisa berpikir bahwa Zuri akan kembali, dan bahkan dia tidak berhak tahu dengan siapa Zuri saat ini. Ia tahu ini akan amat berat baginya, tapi Han ingin sembuh. Maka itu ia ingin kembali kepada kenyataan.
Han telah membaca banyak buku, menonton pertunjukan, apa pun yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk mengusir Zuri yang tak mau pergi dari benaknya. Ia melakukan semua hal karena putus asa. Sampai mencoba minum dan merokok juga, seolah dapat mengepulkan kekecewaannya dalam asap rokok yang menjulang di hadapan wajahnya lalu menghilang, memalsukan senyum di depan orang-orang dan berbohong dengan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Tapi, sebetulnya tidak, ia hanya terlalu putus asa.
Baginya patah hati adalah hal yang paling buruk di dunia ini, seolah itu bisa membunuhnya tapi tak mati juga. Dunianya seolah terbalik ke bawah. Saat itu pun ia berpikir akan bisa memperbaiki dirinya sendiri, lalu mengakui bahwa nasibnya hanya sedang sial saja. Rasanya ia tidak akan bisa memulai hidupnya dari awal jika itu tanpa Zuri, tapi ia tak bisa membuatnya kembali. Lengkap sudah semua sebelum akhirnya Mariana hadir untuk menyembuhkan jiwanya.
Ya, Mariana Warokka, seorang perempuan modern yang kehidupannya glamor dan penuh warna-warni. Perempuan itu cantik, berasal dari Manado dan tentu saja seagama. Bermata sipit dan berkulit putih juga. Meski Han lebih suka dengan perempuan sederhana, perempuan yang lemah lembut, perempuan yang tidak memakai rok yang pendek sekali atau baju dengan belahan dada rendah, perempuan yang tidak mengerti dengan dunia malam dan tahunya hanya berdandan, atau… perempuan yang tidak membantah setiap kata-katanya, tapi ia memilih Mariana, yang mana adalah kebalikan dari semua yang ia inginkan.
Kurang dari setahun menjalin hubungan dekat, Han memutuskan untuk melamar. Lalu dibuatlah sebuah pesta megah di sebuah hotel bintang lima yang didatangi oleh ratusan orang kaya. Ia tentu memiliki alasan mengapa tak mau menunda-nunda sementara ia belum dua tahun menjalankan profesinya. Meski Mariana bukan tipe perempuan yang ia inginkan, tapi ia adalah perempuan yang tepat untuknya. Mereka serasi. Yang satu tampan, yang satu cantik. Begitulah pendapat orang-orang yang berusaha menjodohkan mereka. Memang, sejak mengenal Mariana, Han mulai berubah. Kembali fokus kepada pekerjaan yang selama ini ia impikan. Pelan tapi pasti, hidup Han kembali ke jalurnya.
Sekarang, ia menjadi suami dari seorang perempuan kantoran yang sibuk. Sibuk bekerja juga sibuk dengan teman-temannya. Juga sibuk berbelanja ke tempat-tempat berkelas yang menghabiskan banyak uang.
Bila Han pulang dari tugasnya lebih awal maka akan banyak waktunya terbuang hanya untuk menunggu istrinya kembali. Bisa tengah malam sampai ia ketiduran di meja makan. Ia sudah memasak untuk dirinya sendiri dan makan pun sendirian. Di rumah tak ada pembantu karena Han sudah terbiasa hidup mandiri. Meski sudah menikah, tak ada bedanya seperti saat ia tinggal sendiri di Singapura selama kuliah. Semua ia lakukan sendiri, beres-beres, merapikan barang-barang istrinya yang bisa saja tercecer di mana-mana karena perempuan pesolek biasanya hanya memikirkan diri sendiri dan cenderung pemalas, terlebih ketika ia merasa akan selalu ada orang yang bisa melakukan apa saja untuknya. Ia melakukan semua itu sebagai pengisi waktu saja. Seperti mengantar pakaian ke laundry atau memasak resep sederhana meski tidak terlalu enak.
Perempuan seperti Mariana, mana pernah memasak? Ia tidak bisa melakukan pekerjaan rumah. Mungkin memegang kompor saja belum pernah. Bagaimana mungkin? Sementara kuku-kukunya yang dicat dengan indah bertabur kristal atau batu Swarowsky itu mahal sekali? Jika ada kesempatan, ia hanya membikinkan kopi sebelum berangkat ke kantor dan meninggalkan Han hanya dengan sebutan sayang yang manja di telinganya.
Lalu begitu pintu depan tertutup, semuanya hening. Begitulah hari-harinya berlalu. Lalu apakah Han sedih melihat istrinya tampak tak peduli padanya, pada perasannya, pada ikatan suci mereka? Tidak. Entah, ia hanya merasa hampa. Bukan berarti ia tidak mencintai perempuan yang bagaimana pun juga pernah memberinya bahagia itu. Semua hanya tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Ia hanya tidak tahu akan berhadapan dengan sikap tak membutuhkan dari istrinya, sedang menikah itu bukan hanya usaha untuk bisa mendapatkan surat yang sah, bukan hanya sekedar pengakuan, tapi membentuk keluarga. Hingga saat ini hanya ada mereka berdua di sini, itu pun juga jarang karena Mariana lebih banyak di luar. Kecewanya, Mariana menunda untuk hamil, sehingga ia tak tersentuh. Ia tak membutuhkan keluarga. Ia hanya membutuhkan pasangan hidup untuk bermanja dan bersikap seperti seorang putri kerajaan.
Tapi, Han memang mencintainya. Oleh sebab itu ia menikahinya, memberinya perlindungan.
Satu lagi malam di mana ia harus menunggu, seperti lelaki tak berpendirian. Ia duduk di sana, memandangi rumah yang sepi seakan tak ada kehidupan di dalamnya, sedang ia bernafas, melamunkan sesuatu dengan kepalanya yang berat sekembalinya dari rumah sakit, masih dengan berkas yang baru saja mengguncang kehidupan barunya.
***
Komentar
0 comments