[Hal. 44] [Ch. 14] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Kembali Pada Cintanya

Saat ini sudah syukur, Zuri bisa tertidur walau ia bisa saja terbangun karena sakit kepala. Ia masih tak menangis, walau sekujur tubuhnya seringkali disuntik. Makin tirus pipinya, makin tipis daging di bawah kulitnya, ia berusaha mematuhi semua anjuran dokter, meski terkadang ia muntah karena rasa pahit obat yang tersangkut di tenggorokan. Dia melakukan itu bukan demi sembuh, namun menjalankan kehidupannya yang singkat ini dengan bersungguh-sungguh.

Namun, belakangan semakin sering Liong mendatanginya dalam mimpi. Mungkin, Attar benar, Liong datang untuk menjemputnya…

Samar-samar, dalam pandangannya yang mengabur karena rasa sakit yang menggerogoti kepalanya semenjak ia berbaring setelah menelan tiga jenis obat sekaligus, ia melihat Liong mendekat ke sisi tempat tidurnya. Tubuhnya amat lemah, rasanya ia mencoba untuk bangkit dan menyambutnya dengan senyuman. Walau ia tahu nanti ia akan menghilang lagi.

"Liong…," panggilnya, dengan suara lemah sambil berusaha menajamkan penglihatannya. Biasanya setiap ia mencoba memandangnya baik-baik, wajah Liong tetap saja samar-samar. Tapi, kali ini, terlihat sangat jelas… apa ia sudah benar-benar bersama Liong sekarang?

Saat ia akhirnya bisa bangkit untuk duduk dan memastikan segalanya, ia merasa ada yang aneh. Dia… bukan Liong! Liong tak pernah senyata ini! Liong tak pernah mendatanginya dengan wajah sedih, ia selalu tersenyum.

Zuri hanya terpana, meski sudah jelas di matanya bahwa yang berdiri di depannya sekarang adalah… Han! Han yang mengenakan kemeja biru langit dan jeans yang biru juga.

Apa ini mimpi?

" Zuri …," orang itu mendekat, duduk di sisi tempat tidurnya untuk menatap Zuri lebih dekat. Untuk memastikan bahwa Zuri tidak sedang bermimpi. Ia memandangi wajahnya yang pucat itu dengan seksama. Seakan ingin menyentuh tetapi ragu.

Zuri masih menatapnya, masih tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Ia balas tatapan itu dengan bingung. Tubuhnya membeku, wajahnya tegang, tapi sebutir air mata turun dari atas cekungan matanya yang menghitam. Air mata itu menggenang di sana, tak tertampung ia pun mengalir deras menyebrangi pipi tirus Zuri yang hampir memperlihatkan bentuk tengkorak kepalanya. "Han…," baru ia sebutkan namanya, ketika setetes air mata juga mengotori wajah lelaki itu.

Sungguh, belum pernah ia melihatnya menangis sebelum ini. Sehingga ia beranikan diri, untuk menyentuh wajah itu walaupun ragu-ragu pada kenyataan ini. Ternyata benar, Han telah hadir di sini!

"Keras kepala…," kata Han padanya, pelan, menahan nafas juga menahan isakan tangisnya sendiri. "Dasar, perempuan keras kepala…"

Zuri mencoba untuk tersenyum. Ia tidak tahu harus bagaimana. Walaupun sakit di kepalanya saat ini kembali bergejolak, ia berusaha tertawa meski tangis ikut keluar. Tak tahu lagi, harus bersikap manis, tak ingat lagi bagaimana caranya tertawa di depan Han oleh sebab dia menangis. "Jangan menangis…," ucapnya.

Ya, Han terpaksa tertawa di saat air matanya makin deras, dan ia harus menyekanya agar tak kelihatan semakin menyedihkan. Ia tangkap jemari Zuri yang menyentuh pipinya dengan gemetaran. Meski sudah tak pantas, ia tak bisa menahan diri untuk tak memeluk. Bagaimana pun ruang dan waktu sudah memisahkan mereka sangat lama. Ia buka kedua lengannya dan meraih Zuri ke dadanya. Ia dekap dengan erat tanpa bisa menghentikan tangisnya.

Begitu pula Zuri, yang mulai meraung.

Sementara itu, di sisi pintu, terlihat Attar yang hanya bisa memandang dari kejauhan. Sebelum ia ikut menangis, atau malah kesal, ia memilih untuk menghindar. Meski hatinya terbakar, tapi harus mengakui bukan dirinya yang Zuri butuhkan saat ini. Ya, dia ingat sudah berapa kali ia coba luluhkan hati perempuan ini tapi tak pernah bisa. Jika dengan membiarkanya bahagia dengan orang yang dicintainya adalah cara mencintai yang sesungguhnya, biarlah. Ia pun berlalu namun jika suatu hari nanti entah itu akan ada atau tidak, dia akan datang saat Zuri membutuhkannya. Karena ia adalah seorang sahabat sejati bagi Zuri.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments