๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
"Sam?" tegur suara yang tiba-tiba terdengar di dekat telinganya.
Mariana sudah melingkarkan kedua tangannya di pundak Han yang seketika terkesiap. "Kamu sedang apa, sayang?" tanya dia dengan manjanya, seolah menginginkan sesuatu dari Han saat itu juga.
Han terkesiap. Ia senang, istrinya kembali lebih cepat dari yang biasanya. Segurat senyum terlukis di bibirnya ketika ia menengok ke belakang, dan Mariana sudah bersandar di bahunya.
"Kamu punya banyak pekerjaan?" tanya dia lagi.
"Ah, tidak…," jawab Han sambil menutup berkas itu segera, ingin berdiri menghampiri istrinya untuk memeluk karena ia rindu sekali. Tapi, belum sempat ia berdiri, Mariana sudah melepasnya, dan ia tampak ingin masuk ke kamar.
"Sam, aku ada acara bertemu dengan teman teman malam ini. Kamu ingat Wanda? Hari ini dia ulang tahun," katanya memberi tahu, sembari membalikan sebelah badannya. Padahal, tak perlu merajuk pun, Han tidak akan melarangnya pergi, karena biasanya ia juga akan pergi dengan kemauannya sendiri. Tapi, masalahnya, belum sampai lima menit sampai di rumah sudah ingin keluar lagi.
Han melirik jam dinding, di atas TV yang menggantung di dinding. Jam sembilan malam. Sudah cukup malam untuk keluar bagi seorang perempuan bersuami.
Tapi, seperti setuju, Han diam saja.
Satu jam kemudian, Mariana keluar dari kamarnya. Jika tadi ia mengenakan rok ketat dengan kemeja putih lengan panjang yang ketat pula, sekarang ia tampil dengan gaun warna emas dengan banyak payet mengkilat dan bersinar. Tentu tambah meriah dengan belahan dada seperempat dan panjangnya hampir dua puluh senti dari atas lutut, serta tak punya lengan. Seolah baju itu hanya disorong pas-pasan pada tubuhnya yang tinggi langsing itu.
Dengan penampilan seperti itu, sudah tak mungkin Han melarangnya pergi. Han benci pada dirinya ketika ia tak bisa menghentikannya menyebang ruang tamu.
"Ana!” panggil Han kepadanya dan perempuan itu membalikan badannya.
"Ada apa, Sayang?" balasnya dengan tatapan yang menggairahkan, melunakan hati Han setiap memandangnya.
Han mengambilkan sesuatu di kamar selagi istrinya menunggu di depan pintu. Agaknya, ia penasaran akan sesuatu yang akan dilakukannya. "Pakailah ini," kata Han padanya sambil memakaikan cardigan ke tubuhnya yang lebih tampak seperti separuh terlanjang daripada berpakaian.
Mariana terkekeh. "Samuel, aku tidak mungkin pakai ini ke pesta. Tidak cocok," ujarnya, melepaskan cardigan itu dari tubuhnya. "Kamu lucu. Mengapa tidak dipakaikan kerudung saja sekalian biar semua tertutup?"
"Jangan bercanda…," kata Han, sedikit tersinggung, entah mengapa itu terdengar seperti ledekan kepada perempuan muslim.
Mariana masih tertawa saat ia lepaskan cardigan itu dan ia gantungkan di pundak suaminya. "Sudah ya," katanya, lalu membujuk dengan satu kecupan. Pintu terbuka, ia pun raib.
Kesal tak bisa ia tahan lagi, begitu pintu menutup kembali, ia banting pakaian itu ke lantai. Lalu, ia kembali ke kursinya dan dihadapkan kembali kepada Zuri yang sekarat. Semua bercampur aduk, rasa kecewa, marah, dan tentu menyesal.
Betapa bodoh dirinya. Ia menikahi perempuan itu memang karena cinta. Kecintaannya pada kecantikannya, kepada fisiknya. Meski Mariana pernah keluarkan ia dari lembah hitam masa kejatuhannya, tak lantas ia memiliki alasan untuk menikahinya juga. Ia hanya tidak sadar wanita itu juga hanya menginginkan ketampananannya saja, kedudukan saja, yang bisa ia pamerkan kepada teman-temannya bahwa ia bersuamikan seorang dokter yang sukses di usia muda. Hanya karena banyak orang yang mengatakan serasi, ia menikahinya seakan berpikir hidupnya akan bahagia, berakhir seperti dongeng pangeran tampan dan putri cantik jelita. Itulah kesalahannya.
Dan semakin bodoh dirinya saat bersikap bahwa ia masih menginginkannya, semua sentuhannya. Meski mereka berjanji sehidup semati di saat senang maupun susah, di hadapan pendeta, di hadapan Tuhan, tak lantas menjadikan mereka pasangan yang setia satu sama lain. Han tidak pernah tahu, bahwa hanya beberapa bulan saja setelah mereka mengucap janji, ia dikecewakan.
Mariana mungkin menganggapnya gila atau bodoh, karena ia tidak berpikir bahwa Han sudah tahu apa yang ia lakukan. Tapi, ketika ia memanggilnya dengan panggilan 'Sayang' yang selalu menggetarkan hati dan membuatnya terenyuh, Han tahu dia bukan lelaki satu-satunya di mata perempuan itu.
Betapa ia ingin mengakhiri semua sandiwaranya ini…
Komentar
0 comments