๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Kembalikan, Han!” Liong merampas kembali botol minumannya di saat aku baru meminumnya seteguk. Dia kelihatan sebal dan aku hanya tertawa. “berhentilah suka dengan apa yang aku suka, Han!”
“Kenapa?” balasku, acuh sambil terkekeh. “Kita kan kembar. Wajar kalau kita punya banyak kesamaan”
Liong menatapku dengan penuh peringatan. Sikapnya memang tidak pernah lebih ramah setiap dia merasa tersinggung atau marah. Kalau diibaratkan kepada seorang perempuan, sikapnya hampir sama dengan mereka yang sedang datang bulan. Mudah sekali kesal tanpa sebab. “Aku tidak mau berebut denganmu karena kita menyukai hal yang sama,” balas dia.
“Denganmu? Berebut? Tentu saja tidak, Bang!” jawabku menepuk bahunya agak keras dan dia bertambah kesal. Dia menepiskan tanganku. “Aku yang akan mengalah. Tenang saja.”
“Pergilah,” kata dia, membuang pandang. Semua perhatiannya tertuju pada lapangan sekolah yang bisa terlihat dari atap. Liong suka sekali menyendiri di ketinggian –sejak dia menemukan Papi bunuh diri, dia menjadi lebih pendiam dan sulit didekati. Bahkan berminggu-minggu setelah kejadian itu dia tidak mau bicara.
Semua orang berpikir, jika kami pindah dari sana dan memulai kehidupan baru di tempat lain, semuanya akan membaik. Ya, membaik bagiku tapi tidak dengan Liong. Karakternya menjadi keras sejak saat kami tak juga menemukan ketenangan setelah pindah ke Jakarta.
“Mengalah?” Liong tampak meragukan itu.
“Apa ini soal gadis yang waktu itu?” aku bertanya lalu menepuk bahunya lagi sambil terbahak. “Liong, aku bahkan tidak tahu gadis mana yang kamu maksud. Terlalu banyak. Mengerti? Terlalu banyak sampai aku tidak ingat siapa saja yang pernah kutolak”
Liong tampak tidak menyukai jawabanku. Sama sekali tidak. Dan selalu, dia tidak pernah mengatakan siapa gadis yang kupatahkan hatinya setelah dia membuat patah hati Liong. Tapi, sejak itu, dia tidak pernah menyukai gadis lagi. Dia tidak pernah membicarakannya. Semakin hari, semakin ia mengisolasi dirinya.
Aku melirik ke bawah dan bergidik ngeri. Tinggi juga gedung sekolah ini. Tapi, Liong tidak merasakan hal yang sama. Dia menyukainya. Hal ini lah yang membuat kami jadi serupa tapi tak sama.
“Kamu tidak takut jatuh?” aku bertanya padanya. Berhenti tertawa sambil memandangi sosok sampingnya. Dia terlihat tak beraut. Sekilas, wajahnya seperti tidak punya ekspresi.
“Kenapa? Semua orang selalu ingin berada di tempat yang tinggi bukan?”
Aku kembali terkekeh. “Tidak semua,” aku mengingatkan. “Contohnya aku? Aku tidak peduli tinggi atau rendahnya. Kita hidup hanya sekali, Liong.”
Dia diam saja.
Aku ikut diam. Tapi, hanya beberapa detik. Aku membalikan badanku untuk melihat apa yang dia lihat. Hanya jalan, mobil yang lewat, gedung-gedung dan rumah-rumah yang susunannya tidak beraturan. Seperti mosaic yang kacau. Benar-benar kacau ala ibu kota. Bayangkan apa indahnya kota dengan udara yang kotor ini daripada Pecinan yang telah kami tinggalkan –meskipun di sebelah rumah ada gedung berhantu. Tapi, di sini, hantu-hantunya jauh lebih mengerikan –karena mereka nyata, dan itulah sepupu-sepupu kami yang jahil.
“Kamu bisa terjatuh,” kataku, serius. “Ingat, Liong, kita hanya berdua.”
Ya, kami hanya berdua. Setelah Opa meninggal, kami kembali berdua.
“Kita tidak bisa selalu berdua,” balas Liong, melirikku. “Kamu punya pacar, bukan?”
“Sudah putus,” jawabku enteng. “Sudah, jangan cemburu begitu. Aku tidak akan menggantimu dengan siapapun, secantik apapun gadis itu. Aku melakukannya karena iseng. Ingat, itu tidak seserius yang kamu kira”
“Terserah kamu saja,” balas dia lagi. Lalu kembali bungkam.
Aku menatap satu onggok atap seng berwarna oranye lusuh di salah satu sudut. “Mengerikan…,” komentarku. “Lihat kumpulan rumah-rumah itu. Kalau diperhatikan sama persis dengan rumah kita yang dulu! Hanya saja di sini jauh lebih rapat. Seperti pra karya kolase dengan kertas hias waktu masih kita kelas dua SD. Ada yang bentuknya kotak, persegi, persegi panjang, jajaran genjang, dengan warna macam-macam pula dan hampir setiap sisinya keluar dari garis gambar…”
Liong mengikuti arah telunjukku. Dia tidak ikut berkomentar. Dia hanya menatapku sesaat. “Itulah kita,” kata dia. “Saat berada di atas kita bisa melihat keseluruhannya. Kebaikan atau keburukan. Tapi, semuanya jauh lebih mengerikan dari dekat. Baunya, bentuknya, semua itu terasa lebih nyata dari dekat.”
“Karena itu kamu suka ketinggian?”
Liong menoleh. Raut kesalnya sudah hilang. “Kamu tahu kenapa manusia tidak diberi sayap saat diciptakan?”
“Karena kalau bersayap namanya bukan manusia, tapi burung,” jawabku lalu tertawa. “Eh, tapi kenapa ayam bersayap tidak juga bisa terbang ya?”
Lagi-lagi raut wajah itu berubah kesal.
Aku masih tertawa. “Aku tahu!” seruku mengoceh sendiri, berpikir sendiri seperti orang idiot selagi Liong mulai tidak sabar. “Ayam tidak bisa terbang karena dia ditakdirkan untuk jadi ayam goreng di atas piring! Ayam goreng, Liong! Waktu kecil kita suka sekali dengan ayam goreng bukan?”
“Bodoh…,” Liong terdengar bergumam. Terdengar tarikan nafasnya sehingga aku langsung diam. Aku memang bodoh kalau itu dibandingkan dengan dirinya. Ya, kami mirip, tapi sangat kebalikan. Liong sangat tenang, sedangkan aku seperti anak hiperaktif. Tidak bisa diam, tidak bisa berhenti membuat Liong geram.
Liong bisa mendapatkan nilai tertinggi saat ujian tanpa belajar. Sedangkan aku? Aku tidak peduli dengan semua itu. Aku hanya ingin bersenang-senang. Masa remaja tidak akan terulang. Hanya sekali seumur hidup.
Aku berdehem. Mencoba untuk serius. Paling tidak agar dia berhenti menatapku seperti menatap seorang bocah kecil yang ingin didengarkan. “Jadi, katakan menurutmu kenapa Tuhan tidak memberi kita sayap?”
“Karena kita terbuat dari tanah,” kata dia, cepat. “Tidak bersayap saja, manusia sudah begitu sombongnya. Apalagi jika bersayap. Mereka akan merasa lebih dari yang lain.”
Aku tak mengerti dengan maksud Liong saat itu. Tapi, sebenarnya itu sebuah sindiran kepadaku. Aku baru menyadarinya setelah Liong divonis menderita tumor otak dan rasa takut akan kehilangannya mulai merubah diriku secara perlahan. Itulah satu-satunya alasan kenapa aku ingin menjadi seorang dokter –untuk menyembuhkan kakakku. Tapi, dia sudah terlanjur sekarat.
Kabar kematian yang dikarenakan bunuh diri itu membuatku amat terpukul. Bagaimana tidak? Seperti mencarikan obat ke tempat yang jauh tapi begitu kembali dia sudah keburu mati. Aku menyesal tak menemaninya di saat-saat terakhir sampai ia meminta untuk pulang ke Padang dan melanjutkan sekolahnya di sana. Aku tahu Liong marah padaku karena menurutnya aku tak akan bisa menyembuhkan penyakitnya. Yang dia butuhkan sebenarnya adalah bersamaku.
***
Komentar
0 comments