[Hal. 50] [Ch. 16] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Buku yang tamat

Padang, 01 Januari 2012…

Demikianlah penghabisan kehidupan orang besar itu. Seorang di antara pembina yang menegakkan batu pertama dari kemuliaan bangsanya; yang hidup didesak dan dilamun oleh cinta. Dan sampai matinya pun dalam penuh cinta. Tetapi sungguh pun dia meninggal namun riwayat tanah air tidaklah akan dapat melupakan namanya dan tidaklah akan sanggup menghilangkan jasanya. Karena demikian nasib tiap-tiap orang yang bercita-cita tinggi; kesenangannya buat orang lain. Buat dirinya sendiri tidak. Sesudah dia menutup mata, barulah orang akan insaf siapa sebetulnya dia.

***

Akhirnya Han menamatkan membaca buku pemberiannya sendiri. Sekarang, buku itu telah dikembalikan kepadanya, berikut juga buku-buku catatan Zuri yang lainnya yang sengaja Nazia berikan untuk disimpan.

"Kenanglah dia sampai kapan pun, Han…," kata Nazia sebelum wanita itu pergi. Katanya dia akan kembali ke Ubud, kepada suami dan anak-anaknya, namun sepertinya juga tidak. Katanya juga ia telah membuat keputusan yang mungkin akan merubah segalanya mulai detik ini terhadap hidupnya sendiri.

Zuri telah tiada. Saat ini, ia mungkin sudah dapat berkumpul dengan ibu dan bapaknya. Semoga di tempat terindah seperti yang ia impikan. Yang ditinggalkan pun harus tetap hidup, menjalaninya dengan sepenuh hati tentu dengan berhenti melakukan kesalahan. Seminggu setelah Zuri dimakamkan di samping ayah dan ibunya, Han kembali ke Jakarta oleh sebab ia masih punya urusan yang belum terselesaikan terutama dengan istri yang hampir setahun ia nikahi.

Sangat disayangkan, dosa besar dalam cinta sesungguhnya adalah pengkhianatan. Tak banyak manusia yang bisa memaafkan, meski pun dapat menerima. Tapi, bagaimana bila sesungguhnya cinta yang tulus itu tak pernah ada di antara ia dan Mariana? Han memikirkan setiap langkah yang ia ambil untuk melepaskannya dari berangus yang ia ciptakan lewat keputusannya sendiri.

Terbukalah segalanya. Sesungguhnya ia tak benar-benar menjadi suami yang baik. Karena ia lebih memperhatikan pasiennya daripada istrinya sendiri. Tapi, meskipun Han membantah semuanya, Mariana terus saja menunjuknya sebagai lelaki berhati dingin. Terkuaklah cerita lama di mana dulunya Han adalah seorang lelaki yang suka mempermainkan hati perempuan. Mariana kecewa, mengira dirinya adalah korban. Tapi, betapa pun Han menjelaskan masa lalu hanyalah masa lalu, ia tak bisa melawan karma. Namun ternyata, cintanya hanya telah direnggut sampai ke akar-akarnya oleh seorang gadis yang membawanya  sampai ke kubur.

Kemudian, ia tinggalkan kota Jakarta. Kembali ke tempat ia dilahirkan untuk tinggal bersama kenangan akan Liong dan cintanya kepada Zuri. Jakarta telah menjadi asing baginya. Tak betah ia tinggal di kota yang sebagian besar hidup penduduknya dihabiskan di jalan.  Kembali ke Padang, sama seperti pulang ke pangkuan seorang ibu.

Han kembali ke tempat di mana dulu Liong pernah tinggal, di tengah-tengah kerabat yang masih peduli padanya. Pada beratnya cobaan hidupnya. Setelah Liong pergi, ia akan menjadi pengganti dan tentunya lebih peduli kepada orang lain. Dengan begitu bisa ia sembuhkan rasa kehilangannya.

"Han…," tegur seseorang yang mengalihkan perhatiannya dari tempat tidur di mana dulu biasanya Liong habiskan masa-masa pesakitannya.

Seorang wanita paruh baya, bibinya, yang merupakan kerabat dari ibunya. Ia berdiri di pintu dan tampak ingin memberikan sesuatu.

"Ada apa, Encim?" Han segera menghampirinya, kala-kalau ada sesuatu yang penting yang bisa ia lakukan untuk bibinya oleh karena ia mulai menumpang tinggal.

"Waktu membereskan kamar Liong, Encim menemukan surat," katanya, dan segera menyodorkan apa yang ia maksud.

Han sempat terkejut. Membaca tulisan di amplop putih yang sudah kusam itu. Surat Liong yang ditujukan kepadanya.

Untuk Han, pecahan diriku,

Perlu aku katakan kepadamu bahwa ini bukan sebuah catatan bunuh diri, bukan juga ucapan selamat tinggal. Karena sebenarnya aku sudah lama mati. Namun setelah aku lama di rumah sakit, baru saat ini aku tak merasa takut akan kematian. Bila saat kamu membaca suratku, aku sudah tak ada, ingatlah bahwa aku tidak pergi ke mana pun. Aku hanya berpindah tempat. Aku harap kamu tidak menyesalkan keputusan aku ini, karena aku sudah memikirkannya. Aku sudah lelah dengan rasa sakit, juga obat-obatan yang malah rasanya justru akan membunuh karena membencinya.

Aku ingat sekali suatu hari di masa kecil kita, saat aku menangis karena perlakuan kejam kerabat kita sendiri, kamu mengatakan tidak perlu takut. 'Mereka akan berlalu. Tutuplah matamu. Kita akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang bisa menyakiti kita selama kita tidak keluar dari lemari' Kamu melarangku mengintip lewat lubang karena mereka sedang merencanakan yang jahat. Kita hanya berdua, saat akhirnya tertidur di dalam lemari sampai pagi. Aku tahu kamu sendiri pun juga takut, karena seorang kakak bagimu pun tak bisa melindungimu dari mereka. Tapi, aku tak ingin membicarakannya untuk mengingatkanmu, bahwa dulunya kita seperti itu.

Kita telah berubah jauh. Kamu berjalan ke depan, sedang aku berdiam di tempat. Aku tak bisa ke mana-mana. Satu-satunya harapan aku pulang ke Padang adalah melihat untuk yang terakhir tempat aku dilahirkan, masih samakah dengan saat kita meninggalkannya? Masihkah orang-orangnya kolot dan rasis? Ya, tak ada yang berubah di sini. Hanya kita yang semakin tumbuh. Namun, di antara orang-orang yang bertemu dan memandang mata aku yang sipit, ada seorang yang melihat aku sebagai diriku sendiri, seorang manusia yang lemah yang telah kehilangan kepercayaannya.

Perempuan itu namanya Zuri. Ia tak pernah sama dengan gadis manapun yang pernah aku lihat. Aku menyukainya oleh karena itu aku ingatkan kepadamu, setelah aku tiada, jangan pernah menganggunya. Kamu hanya akan melukainya seperti saat kamu melukai perempuan-perempuan sebelumnya. Tapi, sudahlah, kamu tidak akan tertarik kepadanya, karena dia tidak bisa kamu bawa bermalam. Dia tidak menarik untukmu. Tapi, darinya aku temukan banyak hal di kota ini. Dia mengatakan kepadaku bahwa seseorang yang telah kehilangan kepercayaan artinya kehilangan segala-galanya. Dialah yang meminta aku menulis jika ada hal berat yang tak bisa aku ungkapkan lewat kata-kata. Maka itu aku berpikir keras untuk memulai menulis, karena tak tahu apa yang harus aku katakan kepadamu.

Tapi, ingatlah, kematianku bukan karena kesepian karena kamu tinggalkan aku di kota seasing Jakarta di mana kita banyak bertemu orang bermuka manis, pendusta, serta pengkhianat. Aku hanya tak ingin hidup lebih lama hanya untuk menanggung penderitaan. Untuk itu, maafkanlah semua kata-kataku. Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi, Han.

Liong

Han tertawa. Sudah terlalu terlambat untuk mengingatkannya untuk tak jatuh hati pada gadis itu. Tapi, entah mengapa tawanya sendiri membuat ia jadi ingin menangis. Oleh karena pernah melukai perasaan Zuri, akhirnya Liong membawanya pergi. Apa guna ia sendiri di sini setelah ia kehilangan ayahnya, abangnya lalu kekasihnya? Tak adakah belas kasih dari Tuhannya? Ataukah ini memang karmanya?

Namun, Han bersumpah, tak akan pernah lagi berikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri lantaran telah merasa amat gagal. Oleh sebab ia telah berjuang habis-habisan dan mati artinya menyerah. Seorang lelaki tak boleh menyerah. Perjuangannya tak akan pernah berakhir untuk menemukan arti hidupnya.

Tuhan telah memberinya cinta sejati. Sebuah lagu cinta pernah mengatakan bahwa perkawinan dengan cinta akan berlangsung selamanya karena cinta itu hakiki hingga tak ada kata yang lebih besar maknanya dari kata 'cinta' oleh sebab terlalu berat bagi manusia untuk bisa mengerti dan menjalaninya. Seperti itu pula cintanya sekarang. Yang tak hanya sekedar ingin memiliki, cinta yang menjaga berusaha menjaga perasaan, dan cinta yang rela berkorban apa saja. Akan tetapi cinta yang bisa menerima meskipun hanya akan tertinggal menjadi kenangan . Ia masih akan bisa hidup dengan semua kenangan itu.

Walau hanya dalam mimpi, ia bisa bertemu dengannya lagi. Melihatnya tersenyum lalu mempermainkannya dengan berlari. Han mengejarnya, hanya dengan mengikuti tawanya yang tersimpan pada ilalang setinggi kepala yang mereka lewati. Hanya pada saat itu, ia bisa menyentuhnya, mencium bibirnya untuk pertama kali. Meskipun ia harus terbangun dan kecewa kepada kenyataan. Namun, mimpi seakan jadi pertanda bahwa Zuri juga merindukannya. Cinta mereka saat ini hanya berbuah rindu, bukan dosa, oleh sebab Tuhan telah melindungi mereka, oleh sebab Tuhan mencintai mereka.

Han hanya bisa tersenyum, karena sekarang hanya batu nisan yang menjadi perintang rindunya. Ia bisa datang ke sini setiap ia menginginkannya.

"Sudah lama?" tegur seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.

Han tentu agak terkejut. Sudah lama ia tak melihat wanita itu, sejak Zuri dikuburkan di sini. "Uni?"

Nazia pun tersenyum kepadanya. Mengingatkan sudah empat puluh hari berlalu sejak hari mereka sama-sama menangis melepas jasadnya dikebumikan dalam alunan doa. Rasanya masih tak percaya, namun ini kenyataan. Tapi, sekarang, mereka sudah bisa menerima dan percaya bahwa Zuri sudah beada di tempat terindah yang ia inginkan selepas deritanya yang begitu panjang.

"Kapan datang?" tanya Han kepadanya.

Nazia memperbaiki letak selendang hitam yang menutup rambutnya. "Aku sudah tinggal di sini sejak sebulan yang lalu," jawabnya.

"Oh ya?" Han tampak tak percaya. Yang ia tahu bahwa seluruh kehidupan Nazia telah berpusat di Ubud.

Nazia kembali tersenyum, sembari menebarkan  bunga di tiga makam sekaligus. Sebelum ia berjongkok di samping makam adiknya lalu membuka sebuah buku kecil. "Aku sudah bercerai, Han," katanya. "Aku tidak bisa tinggal di mana aku tersisih dalam keluargaku oleh karena aku berbeda sendiri… "

Han diam saja. Lalu Nazia mulai membaca doa-doa lewat buku kecil yang ia bawa. Tak lagi mempedulikan Han yang mungkin akan pergi. Ya, dia akan mendoakan Zuri juga sesuai dengan keyakinannya, toh ia juga akan meminta kepada Tuhan sang pencipta. Lalu, ia tinggalkan pemakaman itu lantaran tugasnya hari ini belum selesai oleh sebab masih jam dua siang. Han kembali ke tempatnya bekerja, rumah sakit.

*** 

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments