[Hal. 40] [Ch. 13] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Atas Nama Cinta

Jakarta, 12 Juli 2011….

 “Hanya Zuri. Usianya… 23 tahun. Lahir 14 Februari 1988”

“Dia seorang penulis. Aneh rasanya, kita seorang dokter dihibur oleh pasien yang sekarat”

“Diagnosa kedua, stadium dua brain symptoms”

“Dan sekarang stadium empat.  Jadi sudah pasrahkah, begitu?”

“Kurang lebih…”

Percakapan terakhir itu masih terngiang di telinganya. Seperti bisikan setan yang kembali menggelisahkannya setelah sekian lama. Tangannya yang gemetaran menggenggam secarik kertas yang dibacanya seksama. Ada perasaan lama yang kembali saat ia mencermati setiap kata yang dicetak di sana.

Han, brain symptoms itu apa?" pertanyaan itu membuatnya terdiam sejenak.

Han mengangkat bahu. "Aku tidak tahu, Liong," jawabnya, berusaha tersenyum. Menghilangkan kegelisahannya juga, sedang ia tahu bahwa istilah itu adalah penyebutan lain dari sebuah penyakit mematikan yang menjangkit abangnya, tumor otak.

Usia mereka baru menginjak 21 tahun, ketika Liong menyadari penyakit kepalanya semakin parah, hingga tak bisa kuliah, hingga tak bisa apa-apa selain berdiam diri di rumah. Di rumah tinggal yang sebegitu besarnya ada keluarga yang besar pula. Ada orang tua dari ayah yang punya salah satu usaha furniture terbesar di Jakarta. Ada pula kakak perempuan sang ayah yang sudah berkeluarga dan anak-anaknya jauh lebih besar. Mereka semua sudah bekerja dengan orang di perusahaan-perusahaan multinasional.

Liong sudah terpikir akan masa depan yang ingin ia genggam dengan tangannya, sedang Han, hanya terpikir satu hal, menyembuhkan abangnya. Meski dokter lain sudah membantu Liong juga, memberinya obat, datang ke rumah setiap diperlukan. Namun, keras hatinyalah  yang  membuatnya bertahan. Sehingga ia ambil kuliah, meski tak butuh dan kerjanya hanya membolos, merokok, dan marah-marah tanpa sebab.Ia benci pada rumah sakit, benci pada bau disinfektannya yang menusuk hidung, serta obat-obatan yang membuatnya sering muntah. Tak pernah ia mau tinggal di sana, sampai harus dijaga beberapa orang yang dibayar kakeknya, tapi dengan lihainya ia menyelinap, pergi entah ke mana. Tiba-tiba sudah kembali lagi ke rumah sakit dengan keadaan lemah. Han paham betul bahwa abangnya hanya kesepian. Kesepian itu sudah ia rasakan bahkan semenjak mereka masih kecil.

Tapi, untungnya, kakek mereka menyayang mereka oleh sebab ayah Han dan Liong anak kesayangan yang menjadi penerus marga. Ia memberikannya dua cucu yang gagah pula, walau salah satunya sakit-sakitan. Sehingga semua pengobatan sudah dicoba, di luar dan di dalam negeri, namun yang ada Liong tak kunjung sembuh. Hanya sifat seenaknya saja yang semakin menjadi. Dia banting semua barang, saat sakit kepala menyiksanya, ia marah kepada pelayan yang tak bersalah kepadanya.

Dia begitu putus asa. Terakhir, ia kembali dirawat dengan status stadium dua. Saat itu ia sudah mulai tenang. Begitu keluar dari rumah sakit, karena tak mau berlama-lama di sana dan menolak kemoterapi, ia tiba-tiba minta dipulangkan ke Padang, kota kelahirannya. Katanya, dia ingin ke makam ayahnya yang sudah lama meninggal serta melanjutkan kuliah yang tersendat-sendat.

Oleh karena itu permintaan terakhir yang ia sampaikan dengan memohon, tak ada yang berani melarangnya. Tak ada yang menyangka, bahwa kematiannya bukan karena penyakit, melainkan bunuh diri. Satu-satunya yang paling terpukul, tentu adiknya yang merasa bersalah telah meninggalkannya di saat-saat terakhirnya. Empat tahun sudah berlalu sejak kematian abang tercintanya. Tak terasa bukan?

Tapi, membaca semua diagnosa Zuri, membuatnya kembali ke saat-saat itu. Kesal, marah, dan kecewa entah kepada siapa.

“Apa ini…," gumamnya, menahan nafasnya, dengan tangan yang menggigil. Menggenggam lembaran yang membuatnya gemetaran sedari tadi. "Mengapa…”

Tubuhnya menjadi lemas. Tak sanggup ia lihat lembaran itu lebih lama, sehingga ia lemparkan hingga berserakan. Ia tengah menyimpulkan semua kesedihannya dalam satu kalimat, dulu Liong abangnya, sekarang Zuri … di saat yang seperti ini pula.

Maka di saat ia akhirnya menarik nafas, terasa sesak di dadanya. Walau ia menahan nafas hanya supaya tak menangis, akhirnya setetes air mata mengalir jatuh.

Tiba-tiba teleponnya berbunyi. Ia tampak tak mau mengangkatnya, tapi karena terus berbunyi ia pun meraihnya juga. Trisnira Ahmad, nama itu muncul di layar telepon genggamnya.

“Halo, Samuel," panggil suara itu menyadarkan dirinya tentang siapa dirinya yang  sekarang.

Dr. Samuel Lian, salah seorang tenaga medis di salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta. Nama itu tertera pada tanda pengenal yang tersemat pada pakaian kebesarannya. Nama itu memiliki arti ‘pemberian dari Tuhan’. Sedangkan nama Han hanyalah nama kecil.

“Ya?" sahutnya, berusaha untuk menghilangkan isak tangis itu dengan menahan nafas beberapa saat. "Ada apa?”

“Ada sesuatu yang harus aku sampaikan, Sam," kata temannya itu. "Tentang Zuri.”

“Ya?" sahutnya, masih berusaha tenang.

“Aku rasa… mungkin rujukan itu dibatalkan saja," katanya. "Dia tidak ingin ke mana-mana”

“Aku tidak heran," balas Han. "Dr. Arinda sudah memberitahuku. Pasien yang keras hati rupanya”

“Kamu lebih tahu dariku, Han," kata dr. Nira, membuatnya terenyak beberapa saat. "Benar-benar kebetulan sekali…seperti itu Zuri memanggil namamu?”

“Dia bercerita tentangku?" tanya Han padanya, perlahan tangisnya mulai bisa ia kendalikan.

“Dia hanya menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur. Tentang dua pangeran kembar, yang satu sakit-sakitan dan satu lagi seorang petualang. Belakangan, dia menarik perhatian anak-anak penghuni bangsal yang suka sekali padanya, pada ceritanya," jelas wanita itu. "Kamu tahu, dia tak terlihat sakit, selain dari wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang semakin kurus, sungguh dia terlihat biasa saja. Bisa berdandan pula”

“Setahu aku dia tidak seperti itu, Nira. Dia gadis yang lemah, penakut dan pendiam. Berdandan itu bukan keahliannya. Dia…lebih suka melamun, bermimpi yang indah-indah daripada tidur…," katanya, sedikit terkekeh, namun juga terharu. Lalu ia hapus air matanya yang menetes, ia ingin mendengar lebih banyak lagi setelah ia tinggalkan gadis itu saat ia menangis beberapa tahun lalu.  Itulah terakhir kali ia melihat sosoknya.

“Ya, dia memang begitu, Sam," kata Nira, menegaskan. “Kamu tidak ingin menemuinya?”

 “Aku tidak bisa, Nira," kata Han akhirnya.

“Kamu benci kepadanya?" tanya Nira.

Han menggeleng walau dr. Nira tidak akan melihatnya, namun tangannya masih gemetaran.

“Setiap ada yang datang, ia sudah bisa mendengar suara langkah kaki mendekat ke kamarnya. Ia selalu menatap ke pintu dengan tidak sabar untuk melihat siapa yang datang. Bila itu perawat, atau hanya kakaknya atau kerabatnya, wajah yang penuh harap itu seketika berubah kecewa. Tandanya ada seseorang yang ia harapkan muncul di sana namun tak pernah datang," jelasnya lagi. "Jika sepi, dia duduk di tempat tidurnya, memandang ke luar jendela dengan kosong. Dia memang tak pernah menangis, Sam, entah bagaimana ia tak bisa menangis, namun bukan berarti dia kuat. Emosinya seakan telah terenggut, sehingga tak wajar bila ia terus tersenyum sedang menahan sakit”

“Mengertilah dengan posisiku saat ini, Nira," katanya. "Aku tak bisa menemuinya, mengungkit semua yang sudah terjadi. Aku sudah beristri”

"Aku mengerti," balas dr. Nira untuk yang terakhir sebelum telepon diputus.

Han kembali pada selembar kertas yang terpisah dari teman-temannya yang sudah berceceran di lantai, di bawah kursi dan meja kerja. Ia kembali mendesah berat, sambil bertanya mengapa baru sekarang? Mengapa tidak di saat ia belum memutuskan untuk jatuh hati lagi?

Kalau saja Zuri tak mengirimkan surel yang isinya tak meremukan dada itu, tentu ia sudah akan menyusulnya ke Ubud lantaran sepeninggal orang tuanya Zuri sudah pasti dibawa oleh kakak perempuan satu-satunya. Tiket perjalanan sudah disiapkan, demikian juga rencana selanjutnya asal ia bisa bersama gadis itu lagi. Tapi, sebuah surel meluluhlantakan semua impian barunya akan Zuri.

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments