[Hal. 34] [Ch. 10] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Kemarin telepon di atas mejanya berdering. Panggilan itu sudah ia tunggu dari dua minggu sebelumnya. Namun karena sepertinya dokter pengganti yang merupakan teman lama ini sibuk sekali, ia harus menunggu sampai ia bisa memberi kepastian. Dokter itu, dr. Samuel, seorang dokter yang memiliki reputasi yang sangat baik di rumah sakit tempat ia bekerja saat ini.

Sebenarnya mereka hanya sama-sama sekolah di tempat yang sama. Negeri Singa, negeri eks-patriat namanya. Mereka menjadi akrab lantaran sama-sama berasal dari Indonesia, tepatnya Sumatera Barat. Oleh karena itulah, dr. Samuel ini mau membantu dr. Nira. Sudah lama mereka tak bertemu muka, hanya saling mendengar kabar satu sama lain lewat teman sesama dokter yang sudah terpencar. dr. Nira memilih untuk kembali ke kampung halaman, sedang dr. Samuel kembali ke kota tempat tinggalnya, Jakarta. Terakhir yang dr. Nira dengar, dr. Samuel ini sudah menikah dengan perempuan cantik.

“Akhirnya kamu menghubungiku juga, Sam," kata dr. Nira padanya, sambil menaruh kembali berkas Zuri yang tengah ia baca beberapa waktu lalu sembari menanti panggilan ini. "Aku sudah menunggu cukup lama sampai bisa dapat kepastian darimu”

Tidak ada jawaban beberapa saat dari sana. “Aku belum melihat data pasiennya," kata dokter itu. "Ada sedikit masalah pribadi yang harus kuselesaikan, jadi… memang belakangan ini aku…tidak terlalu fokus. Aku benar-benar minta maaf, Nira”

“Tidak apa-apa. Kamu baik-baik saja, Sam?" ujar dr. Nira, yang kedengaran berempati seolah tahu betul apa yang baru dialami oleh rekannya ini.

“Ya…," jawa dokter itu, sedikit lemas. "Sudahlah, aku tidak apa-apa”

Dr. Nira terdiam beberapa saat. Sedikit bingung untuk memulai lantaran ia jadi terpikirkan atas masalah yang menimpa kawan lamanya itu. Ia enggan untuk membahasnya lebih jauh, karena ada sesuatu yang yang lebih penting.

“Kamu tahu, Sam, dia adalah pasien aku yang sangat istimewa," dr. Nira memulai maksud tujuan sebenarnya ia mau menunggu selama ini untuk kepastian bagi pasien kesayangannya ini.

“Kenapa?" tanya lelaki itu.

“Entah. Sudah banyak aku bertemu dengan pasien yang menderita tumor otak tapi tak pernah seperti dia. Gadis yang tenang, yang masih memiliki mimpi di saat-saat terakhirnya," balas dr. Nira. "Kalau kamu mengenalnya pasti kamu akan merasakan hal yang sama. Dia akan membuat kamu berkhayal lalu hidup di dalam dunianya”

“Begitukah?”

“Dia seorang penulis," jelas dr. Nira lagi. "Aneh rasanya, kita seorang dokter dihibur oleh pasien yang sekarat”

“Menarik…," kata lelaki itu, tenang. "Kapan dia akan diberangkatkan?”

“Aku butuh sedikit waktu," katanya. "Masalahnya, kemungkinan besar dia akan menolak. Dari riwayatnya, dia sepertinya tidak akan bersedia dipindahkan, karena… beberapa hal yang bersifat pribadi. Dia sudah pernah di rawat di rumah sakit di Jakarta dengan dr. Arinda”

“Kapan?”

“Sudah cukup lama. Diagnosa kedua, stadium dua brain symptoms”

“Dan sekarang stadium empat.  Jadi sudah pasrahkah, begitu?”

“Kurang lebih…”

“Bisa kamu berikan aku nama?" tanya dokter pria itu. “Aku akan mengeceknya sendiri dengan dr. Arinda”

Dr. Nira menatap lembaran itu. “Zuri," jawabnya dengan tepat.

Dokter di seberang itu terdiam beberapa saat. "Nama panjang?" tanya dia, ada sedikit perubahan pada nada suaranya.

Dr. Nira menggeleng. "Hanya Zuri. Usianya… 23 tahun. Lahir 14 Februari 1988," jawabnya, matanya menatapi satu persatu kolom biodata Zuri di hadapanya “Ada apa, Sam?”

Tidak ada jawaban lagi. Hening.

“Sam?" tegur dr. Nira lagi. "Kamu masih di sana?”

“Ah, ya…," jawab dokter itu dengan nada lemas. Lalu terdengar ia menarik nafas. "Aku akan mencari hasil diagnosanya dalam arsip milik dr. Arinda… mungkin dia masih menyimpannya…”

“Oh, baik…," kata dr. Nira, seketika merasa aneh, dan tiba-tiba ingin menanyakan sesuatu. “Samuel, aku…," tapi  telponnya terputus. Ia pun termangu, heran sekali. Mengapa telepon tiba-tiba dimatikan?

Sesaat kemudian ia kembali menghela nafas panjang dan meraih berkas yang ia baca tadi –diagnosa terakhir Zuri. Namun yang ia lihat di pelupuk matanya adalah isi dari buku harian Zuri yang telah ia baca diam-diam beberapa waktu lalu.  Ia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada gadis itu. Semua kisahnya, semua hal yang menyakitkannya… termasuk tentang sosok Han yang pernah ia sebut sebagai seorang lelaki keturunan Tionghwa, besar di Jakarta, bersekolah di Singapura, dan… sekarang berprofesi sebagai seorang dokter.

Tapi, apa mungkin?, pikirnya kemudian. Adakah kebetulan yang tak disangka seperti ini?

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments