๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Melarikan diri
Saat ia telah menemukan jalan pulangnya, ia dihadapkan kepada kenyataan bahwa semua telah jauh berubah. Waktu telah membawanya ke hadapan Zuri yang telah kurus dan pucat, serta tidak berdaya di rumah sakit, di penghujung usia perempuan yang masih tertinggal dalam kenangannya itu. Mereka tak punya banyak waktu lagi.
"Jadi… kamu seorang dokter?" Aku telah menghapus air matanya. Sedikit merasa aneh pada tangisnya ini, entah karena sudah lama tak menangis atau karena Han memang mudah sekali membuatnya menangis.
Han mengangguk. "Ya…," jawabnya sambil tersenyum. "Aku sudah mengatakannya bukan? Dan jangan bertanya mengapa aku bisa menemukanmu di sini"
Aku tertunduk, ia senang sekali. Mengucap syukur sekali lagi karena ia masih bisa bertemu dengannya. Lalu ia temukan sesuatu yang sudah lama tak ia lihat dari lelaki itu. Gelang salibnya masih tak ia lepaskan dari tangannya. Lalu ia raih untuk memandangnya lebih dekat, betapa banyak kenangan akan gelang itu. Namun, senyum itu seketika terhapus dari wajahnya saat ia menemukan sesuatu yang lain pada jari manisnya. Sebuah cincin, yang jelas bukan cincin biasa.
"Han?" tegurnya menatap cincin itu sejenak sebelum wajah Han.
Hanya wajah rasa bersalah yang ia tunjukan. Ia baru sadar bahwa seharusnya ia tak lagi mengenakan cincin itu. Namun saat ini ia sudah tak bisa berbohong lagi.
Aku lepaskan tangannya, tiba-tiba beringsut mundur sambil tersenyum. "Rupanya… kamu sudah milik orang…," gumamnya tertunduk, menyembunyikan rasa sakit yang tiba-tiba bergejolak di hatinya.
" Zuri, aku…," Han ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Tidak apa-apa, Han. Memang sudah seperti itu seharusnya," kata Zuri yang kemudian tersenyum,"Liong pernah mengatakan kepada aku bahwa setiap orang akan menjadi bagian dari sesuatu yang mereka inginkan, tentu dengan melepaskan yang lain…"
Kata-kata Zuri membuatnya tak berkutik. Gadis ini hanya tak tahu apa yang telah terjadi kepadanya sebelum ini, hingga ia bisa berada di sini. Namun, memberi tahu Zuri hanya akan membuatnya merasa semakin sedih.
"Aku senang, kamu masih sempat menjenguk aku," kata Zuri padanya, berusaha terlihat tegar, meski pikirannya masih terganggu akan cincin itu. Ia hanya menyimpulkan satu hal, bila Han sudah menikah tentu ia sudah melupakan dirinya, Han sudah tak mencintainya lagi seperti dulu. Ya, tentu saja… setelah semua yang terjadi. Terlalu banyak penghalang di jalan cinta mereka. Tak heran, siapa pun pasti akan mengambilkan keputusan yang terbaik untuk diri sendiri.
"Aku sengaja datang dari Jakarta," tegas Han. "Bukan sekedar menyempatkan diri datang kemari"
"Karena kamu mengasihani aku?" tanya Zuri yang menatapnya lekat-lekat.
Han tak dapat menjawab karena ia bisa rasakan kesedihan dalam nada pertanyaannya itu. seakan baru saja berharap lebih pada pertemuan ini, namun malah membuat hatinya kecewa. "Aku tidak mengasihanimu…," jawab Han, mencoba membujuk.
"Kamu tidak seharusnya datang, Han, untuk menunjukan bahwa kamu sudah menikah. Dan jika memang… kamu mengasihani aku, akan lebih baik rasanya jika kamu tidak datang…," kata Zuri, kembali terisak. "Aku tak pernah ingin kamu melihat aku yang seperti ini… "
" Zuri …"
"Pikirkanlah perasaan aku, Han…," potong Zuri. "Kamu sudah beristri. Datang menemui perempuan yang ia habiskan sisa hidupnya dengan mengenang seorang yang dia cinta, untuk menunjukan kepadanya bahwa ia sudah milik orang lain?"
"Bukan itu maksud aku, Zuri … aku..."
"Aduh!” Zuri meringis. Rasa sakit tiba-tiba saja kembali menusuk-nusuk dari dalam kepalanya. Pandangannya seketika mengabur. Ujung-ujung jarinya menegang, tubuhnya bergetar hebat mendingin seketika. Ia muali kejang-kejang!
***
Komentar
0 comments