[Hal. 45] [Ch. 14] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Beberapa hari yang lalu…

"Ke Padang? Memangnya ada apa di Padang?" Mariana tampak heran. Ia memandangi Han dengan mata membelalak seakan mengancam, jika Han ingin pergi juga maka ia akan bertindak. Biasanya ia akan marah, mengumpat atau paling parah menangis sambil memohon agar jangan ditinggalkan.

"Aku harus pergi," Han menegaskan tanpa banyak penjelasan. Ia keluarkan baju-bajunya dan ia lempar ke dalam koper seperti orang yang sedang marah dan ingin minggat. Dengan sangat cepat ia menguncinya dan bersiap menyeretnya keluar kamar.

"Ada apa dengan kamu, Sam?!" serunya sambil mengikutinya dan secepat yang ia bisa memotong jalan Han untuk menghalanginya. "Kamu marah? Kamu kesal?"

"Tidak," jawab Han cepat namun tenang.

"Lalu mengapa tiba-tiba ke Padang?" tuntutnya lagi, pasang badan tapi Han melewatinya. "Apa salahku?" tanya Mariana, mulai memelas.

Han berhenti tepat di depan pintu. "Bukan," bantahnya, lalu tersenyum "Aku ke Padang karena ada urusan penting"

"Iya, tapi apa? Aku istrimu, Sam. Kenapa kamu tidak mengatakannya?"

Han tertegun sejenak, sebelum kembali menghampirinya. "Apa aku pernah bertanya tentang ke mana pun kamu pergi?" tanya dia, dingin menusuk dan tajam hingga Mariana tercekat.

Matanya membesar, mulutnya gelagapan tak dapat menjawab. "Semuanya masih bisa dibicarakan… kenapa kamu harus pergi?" tanyanya dengan suara yang melunak, dan raut wajah merayu, sembari membelai rambut Han dengan tangan yang tentu sudah menggigil.

"Kamu boleh berpikir aku lelaki bodoh yang tidak tegas, yang bisa kamu bawa lalu dan sepelekan. Aku tahu, Mariana, semua yang kamu pikir aku tidak tahu!"

"Apa… maksudnya?"

Han mengatur nafasnya yang tiba-tiba menjadi sesak. Tak tahu harus memulainya dari mana namun yang pasti pemandangan beberapa waktu lalu masih tersimpan di pelupuk matanya. Yaitu hari di mana ia tanpa sengaja melihat istri yang baru ia nikahi tiga bulan lalu naik ke mobil yang sama dengan lelaki yang ia tahu adalah atasannya. Tak mau berburuk sangka, Han yang datang berniat untuk menjemput istrinya yang bekerja di sebuah kantor periklanan itu, memutuskan mengikuti mereka. Selama perjalanan ia selalu berharap bahwa semua tak seperti yang ia lihat, meski degup jantungnya bertambah kencang seakan berlomba dengan laju mobil yang ia kendarai ke sebuah gedung apartemen.

Di sana langkahnya terhenti karena ia tak bisa masuk lebih jauh, tak bisa mengambil kesimpulan yang pasti tentang apa yang mungkin bisa mereka lakukan di tempat itu. Sehingga ia putuskan untuk menguntit kembali karena semakin curiga oleh sebab malam itu Mariana beralasan pulang telat karena ada pesta dengan teman-temannya. Teman-temannya? Teman Mariana yang mana?, pikir Han, yang masih menyambutnya dengan senyum seolah ia tak tahu apa-apa.

Mariana keluar dari gedung kantornya, lagi-lagi bersama pria yang umurnya belum terlalu tua itu, naik ke mobil yang sama. Jika kemarin mereka ke apartemen, sekarang mereka singgah di sebuah hotel. Mungkin Han tidak akan curiga jika saja mereka tidak turun dengan bergandengan tangan dan pria itu merangkul pinggang istrinya. Jika ia sudah gila saat itu juga pasti ia seret Mariana dari sana untuk mempermalukannya sebagai balasan atas pengkhianatannya. Tapi, dia tak pernah melakukannya.

Ia bersikap seolah tak pernah melihatnya. Sementara ia terus berpikir tentang apa yang salah dengan dirinya sehingga istrinya berhubungan dengan lelaki lain. Kekurangan uang? Kedudukannya tidak cukup tinggi? Ia gelisah namun dengan sandiwaranya, ia masih menjadi suami yang baik bagi istrinya yang mungkin tak mencintainya lagi.

Lama ia tahan hasrat hatinya untuk bertanya kepadanya tentang apa ang ia lakukan di luar. Saat ia mulai ditolak dengan alasan klasik. "Aku sedang lelah, Sam. Ada banyak pekerjaan di kantor"

Namun, sebenarnya Han telah  menyimpan bom yang akan meledak suatu hari.

"Sam?" suara Mariana bergetar, sesaat kemudian air mata sudah menggenang penuh di  matanya yang tidak dirias hari ini. Tubuhnya yang biasa dibalut oleh pakaian mahal yang indah sekarng hanya mengenakan piyama yang ia pakai sejak semalam. Ia belum melakukan apa-apa di pagi buta saat ia temukan Han membuka lemari dan mengambil baju-bajunya. Dengan cepat tangannya meraih lengan Han, tampak memintanya untuk tinggal.

"Aku pergi," kata Han akhirnya, melepas cengkraman Mariana di lengannya.

"Sam!” Mariana setengah berteriak sambil kembali meraihnya tapi Han tepiskan. "Kamu ingin meninggalkanku?"

"Entah, Mariana…," jawabnya, lalu membuka pintu dan menarik kopernya keluar.

Han telah meninggalkannya setelah rasanya selama ini ia hidup di dalam kehidupan orang lain di saat ia melangkah keluar di saat semuanya telah sempurna. Teringat semua kesalahannya di saat ia masih belum mengenal cinta yang sesungguhnya. Begitu banyak kesalahan yang tersimpan di benaknya. Bersamaan, teringat pula perempuan yang pernah ia sakiti hatinya. Barangkali, ini adalah karma. Ya, karma.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments