๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
"Berapa
lama lagi dia bisa bertahan, Dokter?" Nazia bertanya kepada dr. Nira
selagi mereka memperhatikan Zuri
baru naik ke lantai dua di mana kamarnya berada diiringi oleh
Attar.
"Aku
tidak tahu," jawab dr. Nira sambil tersenyum. "Tidak ada yang tahu.
Tapi, dia kuat. Sejauh ini dia bisa bertahan, itu sudah bisa disebut
keajaiban…"
"Apa…
dia tidak sedang menunggu seseorang yang dia harapkan untuk datang dengan
begitu dia bisa pergi dengan tenang?" tanya Nazia, air matanya menetes
lagi, sedangkan Zuri tak terlihat beberapa saat sebelum ia muncul di lantai dua
sambil berbicara dengan ceria kepada sahabatnya.
"Maksudnya?"
dr. Nira mengerutkan dahinya, namun ia segera sadar siapa yang dimaksud oleh
kakak perempuan Zuri ini. "Oh, entah…," jawabnya kemudian.
"Andai
aku bisa menyuruhnya datang…," kata Nazia kemudian, memeluk dirinya yang
ketakutan, dengan gemetar, lebih-lebih air matanya tak bisa berhenti.
"Maksud
Uni lelaki bernama Han itu?"
Nazia
mengangguk-angguk. " Zuri sangat mencintai orang ini,"
katanya. "Tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Orang tua kami keras,
sehingga ia terjebak dan hanya bisa menahan perasaan sendiri…"
Dr.
Nira beranjak dari kursinya, menghampiri Nazia, memberinya sehelai tisu untuk
menghapus air matanya. Lalu ia tepuk punggung Nazia pelan. "Keadaannya
sudah berbeda," katanya, lalu menghela nafas. "Lelaki itu sudah
menikah, Uni. Dia sudah mencintai perempuan lain. Tak berguna jika dia datang
menemui Zuri,
apalagi dengan keadaan sekarang. Hanya… membuat Zuri kembali kepada rasa patah
hatinya karena cinta mereka yang tidak kesampaian"
"Da…darimana
dokter tahu?" tanya Nazia, cukup terkejut dan seketika memaku matanya ke
wajah dr. Nira.
"Aku
tidak tahu ini kebetulan yang bagaimana, Uni. Tapi, Samuel Lian yang Zuri kenal sebagai Han
itu adalah teman aku di Singapura, dia juga seorang dokter," jelasnya,
sembari berpikir, mengingat bagaimana suasana percakapan terakhirnya dengan Han
di telpon beberapa waktu lalu. "Rencananya aku akan meminta bantuannya
untuk mengurus Zuri di Jakarta jika saja dia setuju untuk dirujuk ke sana...
tapi…"
"Dia
tahu keadaan Zuri yang sekarang?!” potong Nazia yang semakin tidak sabar.
Agak
lama dr. Nira menjawabnya. "Sangat," jawabnya, murung. "Tapi,
dia tidak bisa berbuat apa-apa…"
"Lantas,
Zuri
sudah tahu bahwa dia menikah?" Nazia semakin tak tenang.
Dengan
menyesal, dr. Nira menggeleng. Aku memang tidak tahu apa-apa. Juga tidak
mungkin memberitahunya. Kemungkinan besar kondisinya akan menurun. Bila
harapannya terkoyak oleh kabar seperti itu, goyahlah pertahanannya selama ini. Seperti akup ramo-ramo yang terkoyak, ia tak
bisa terbang lagi. Tak ada yang bisa memastikan isi hati Zuri yang sebenarnya. Entah ia akan
menerima kenyataan sebagaimana mestinya atau kembali kepada kesedihan
membayangkan lelaki yang ia cintai sudah melupakannya.
***

Komentar
0 comments