๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Tapi, gadis itu tidak ada di kamarnya. Kata perawat, Attar seringkali membawanya berkeliling. Biasanya mereka mendatangi bangsal yang banyak anak-anaknya di lantai bawah. Tapi, dia tidak di sana. Ia juga menanyai beberapa perawat yang mungkin saja melihatnya. Hingga bertemu dengan dr. Nira yang kebetulan lewat.
"Attar beberapa hari ini tidak pernah datang lagi," kata dr. Nira.
"Entah, tapi Zuri tidak ada di kamarnya," jelas Han lagi yang semakin cemas saja.
"Apa maksudnya Aku tidak ada di tempatnya? Dia tidak diperbolehkan lagi keluar, Sam…"
Ketakutan seketika menggerogoti keduanya. Mereka mulai kalang kabut mencarinya. Ya, Han jadi teringat, Liong juga pernah seperti ini. Dia seringkali kabur karena tidak betah. Persis sekali. Dia mulai tidak mau minum obat, makan atau minum, dan mengusir siapa yang datang. Zuri memang berubah sejak Han datang. Seolah ia menunjukan rasa yang dia pendam selama ini akan rumah sakit. Mulai, ia marah-marah apalagi saat melihat Han, dia juga menolak minum obat karena muak dengan rasanya, ia banting piring makanannya karena rasanya yang membosankan.
Beberapa orang perawat juga dikerahkan untuk mencarinya. Mereka menggeledah setiap sudut, kalau-kalau Zuri bersembunyi di satu tempat. Tapi, tidak ada.
Han berlari melewati halaman rumah sakit menuju gerbang depan. Ia sempatkan bertanya kepada petugas keamanan yang berjaga, namun mereka tidak melihatnya. Tentu, jika ada pasien yang terlihat keluar dari rumah sakit mereka akan menahannya. Sehingga, ia kembali ke tempat Zuri di mana ia biasa berada, memandang ke jendela dengan hampa dan menyaksikan daun berguguran.
Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya tempat tidur yang berantakan dan… dua buah buku di atas meja. Buku yang biasa dia baca, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang pernah ia berikan serta sebuah buku catatan yang tidak asing baginya. Buku itu tebal sekali terlebih lembaran yang telah dibalik mulai keriting. Di sana ia pernah menuliskan alamat surelnya untuk Zuri tapi sedikit pun Han tidak pernah tahu apa saja yang Zuri tuliskan di sana.
Seketika terpikir olehnya, jika barang-barangnya masih ada tentu ia masih berada di rumah sakit. Tapi, di mana? Ia semakin gelisah.
"Dr. Sam!” seorang perawat memanggilnya. " Zuri di atap, Dokter! Dia pingsan!"
Han segera mengembalikan buku itu ke tempatnya, lalu berlari mengikuti perawat itu ke tempat di mana Zuri sudah tergeletak lemas di bawah terik matahari. Dr. Nira sudah di sana, memeluk Zuri yang tak bergerak. Keringat deras mengalir di wajahnya yang sudah seputih kertas, dengan tubuh yang sudah lemas sekali.
" Zuri?!” ia raih Zuri untuk mengangkat, melindunginya dari sinar matahari.
Bersamaan dengan itu tandu sudah datang dibawakan oleh dua petugas lelaki tapi Han sudah lebih dulu membopongnya, membawanya kembali ke tempatnya diikuti oleh dr. Nira.
***
Komentar
0 comments