๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Part IV
Padang, 10 Juni 2011…
Sekarang, ada satu musim di Ranah Minang setiap bulan Juni. Yaitu musim balap sepeda. Tour de Singkarak. Tapi, Zuri sudah tak bisa melihatnya, langkahnya sudah terhenti, bila berpanas-panasan lagi ia akan mati di tengah teriknya matahari. Semakin hari ia makin tak bisa menyembunyikan penyakitnya dari kerabat tempat tinggalnya. Begitu ia tak sadarkan diri lagi, tentu mereka akan menginapkan Zuri di rumah pesakitan. Jika sekali ini ia masuk, ia tak akan bisa keluar lagi, meski tak ingin mati di sana.
“Stadium empat, Zuri," Nazia mengingatkan, wajahnya juga pucat tak berwarna menatap adiknya yang hanya bisa tertunduk hampa. "Stadium empat dan kamu tidak pernah memberitahu Uni… kenapa…”
Nazia kembali terisak, tak bisa ia tahan tangisnya sejak menerima telepon dari kerabat ibunya tempat Zuri kembali dari Jakarta beberapa hari lalu. Mereka mengatakan padanya bahwa Zuri jatuh tidak sadarkan dari setelah muntah-muntah. Tak bisa ia hentikan air matanya yang terus menetes sekalipun ia hapus berulang kali setelah ia tahu Zuri sudah lama didiagnosa menderita tumor otak.
“Maafkan aku…," ucap Zuri padanya dengan tangis yang sama di hadapannya,
Lalu Nazia memeluknya, sangat erat. Seakan takut Tuhan akan membawanya saat itu juga. Adakah hari yang lebih menyedihkan dari ini? Saat ia menyaksikan adiknya menahan sakit, terpaksa meminum obat yang banyak sekali, hanya untuk bertahan hidup? Semakin lama, semakin kurus badannya. Semakin banyak helaian rambut yang tersangkut di sisir, juga semakin dalam cekungan hitam di bawah matanya. Karena Zuri seringkali tak bisa tidur oleh sebab rasa sakit datang kapan pun. Beberapa kali dalam sehari ia muntah, sampai tak bisa makan apa-apa.
Tapi, satu kali pun tak pernah Nazia melihatnya menangis. Walau sering termenung apabila sendirian, namun tak pernah ia meneteskan air mata. Seolah ia sangat tegar, seolah ia tabah, hingga Nazia tak habis pikir betapa kuatnya Zuri.
“Apa ini?" Zuri bertanya soal bungkusan kecil yang baru Nazia berikan kepadanya.
“Buka saja," kata Nazia padanya sambil tersenyum.
Dengan penasaran, dibukanya bungkusan plastik itu. Menyentuhnya saja ia bisa langsung tahu bahwa bentuk seperti kotak, persegi panjang. Begitu ia lepaskan bungkusan yang membalutnya, ternyata benda itu adalah sesuatu yang selama ini ia inginkan.
Zuri tertawa, saat ia mengeluarkan sebuah lipstik dari kotak kecil itu. Lalu ia tatap Uni-nya.
“Katanya kamu ingin sekali dibelikan lipstik," kata Nazia padanya. "Sini, Uni pakaikan...”
Zuri tertawa. “Aku jadi ingat kita main salon-salonan waktu aku masih kecil,” kenangnya, “sampai ayah marah sekali...”
Nazia hanya tersenyum simpul. Ayah sudah tak ada untuk memarahinya seperti dulu. Rindu rasanya mengingat sosok Ayah yang keras dan tegas, serta Ibu yang selalu berdiri di belakangnya untuk menyabarkan setiap Ayah marah.
Dr. Nira yang kebetulan lewat ikut tersenyum melihat mereka. Sekaligus sedih. Sudah hampir sebulan Zuri di sini, tak terbayang betapa bosannya seorang gadis yang terbiasa terbang bersama angin ke manapun sudah tak bebas. Namun, setiap hari Zuri selalu melakukan hal-hal yang membuatnya senang. Selain menulis, sekarang, ia punya kebiasaan baru yang sering membikin dr. Nira geleng-geleng kepala. Kelakuannya persis seperti gadis yang baru memasuki masa pubertas.
“Kamu belajar memakai hijab?" tanya dr. Nira padanya.
Zuri mengangguk. Dengan kaca yang di pegangi Nazia, ia berusaha memasangkan kerudung di kepalanya, untuk membingkai wajahnyan yang sudah dirias. “Kalau tahu dari dulu aku cantik berkerudung, sudah pasti aku berkerudung," katanya sambil tertawa mengenang sesuatu yang tiba-tiba membuat sedih. “Tidak heran dulu Ayah ingin sekali aku berkerudung….”
“Tidak ada perempuan yang tidak cantik berkerudung," kata dr. Nira.
“Ya…," Zuri memandang dirinya di depan kaca, tiba-tiba menjadi murung. "Kerudung ini akan sangat berguna nanti, begitu semua rambut aku dipangkas…”
“Jangan bersedih, Zuri," ujar dokter wanita itu sambil menggenggam pundaknya. Lalu Zuri tersenyum kepadanya. "Semua ini adalah proses”
Zuri pun mengangguk, mulai mengukir senyum di bibirnya yang merah oleh lipstik. “Ya…”
Lalu hening beberapa saat. Zuri menatap dirinya di depan kaca, tersenyum kepada sosok baru yang terpantul di sana. Selagi dr. Nira melirik Nazia yang sedang berdiri tidak jauh dari adiknya yang bahagia. Nazia pun membalas tatapan itu, tampak memahami bahwa dr. Nira akan mengatakan sesuatu yang amat penting padanya.
“Zuri," panggil dr. Nira, membuat gadis itu mengalihkan pandangannya dari cermin. "Ada sesuatu yang mau saya sampaikan”
Zuri menatapnya, menunggu. Kerudung sudah terpakai rapi menutupi kepalanya.
“Saya sudah mengeluarkan surat rujukan ke Jakarta agar kamu bisa dirawat intensif di sana," kata dr. Nira dengan pelan dan jelas, tapi reaksi pertama yang Zuri berikan adalah menggeleng. Sudah dr. Nira kira sebelumnya, Zuri pasti tak ingin ke mana-mana.
“Untuk apa?" tanya dia, raut yang bahagia itu berubah menjadi sedih seketika. "Dipindah ke sana ke mari, aku juga tidak akan sembuh. Semua yang dilakukan hanya agar aku bertahan hidup lebih lama… apa gunanya aku hidup lebih lama hanya untuk menahan sakit?” Ucapannya mulai terdengar seperti Liong yang putus asa.
“Bukan begitu…”
“Aku sudah mengikhlaskan keadaanku…," kata Zuri, setetes air mata jatuh melewati pipinya, membentuk sungai yang menyapu tempelan riasan di kulit wajahnya. Hancur sudah riasan itu oleh air mata.
Nazia pun ikut menangis, segera ia berpaling dari adiknya dan berharap ia tak mendengarkan kata-kata Zuri yang menyayat hatinya.
“Sudah banyak aku saksikan kematian dengan mataku sendiri," sambungnya. "Sudah sering pula aku bermimpi didatangi orang yang sudah mati. Semua itu pertanda. Apa yang bisa aku lakukan…”
Dr. Nira terdiam. Tak bisa ia jawab kata-katanya yang menohok. Ia pun kembali teringat kepada semua usahanya agar Zuri dapat mengecap dunia ini lebih lama dengan mengikuti naluri seorang dokter yang tentu menginginkan semua yang terbaik untuk pasiennya.
***
Komentar
0 comments