[Hal. 31] [Ch. 9] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Sampai Nanti

Bandung, 02 Juni 2011…

Rasanya telah begitu berbeda sekarang. Begitu perubahan besar terlihat pada diriku yang sering pulang dalam keadaan mabuk, bahkan hampir setiap malam. Membuat Papa dan Mama mulai bertanya, apa yang sebenarnya terjadi jika kami tak punya masalah. Semenjak itu, sering pula aku marah tanpa sebab, seakan menunjukan bahwa itu adalah amarah yang terpendam yang tak bisa kulampiaskan. Sampai semua pembantu takut melihatku. Mereka seperti kucing yang melihat lidi.

Zuri selalu terlihat merasa bersalah setiap kami bertemu. Meskipun, aku sudah bisa menyapa –dengan senyum palsu juga. Sesekali, dia tampak ingin mengajakku bicara, tapi aku menghindar. Mungkin dengan pergi dari rumah sepanjang hari lalu kembali hanya ketika dia sudah tertidur. Atau dengan main catur bersama Papa lalu membiarkannya bersama Mama. Aku tersiksa. Aku tidak tahu harus bagaimana.

Melihatnya berada di sekitarku sementara kami tidak akan pernah menjadi apa-apa, membuatku semakin bingung saja. Aku juga tidak bisa menyuruhnya pergi. Aku tidak bisa membiarkannya pergi. Namun, menjadi kembali seorang sahabat baginya sudah sangat mustahil.

“Kamu sudah berbuat banyak, Nak…,” kata Mama padaku. Ia terlihat sangat khawatir. “Kenapa kamu tidak biarkan dia pergi saja?”

Aku menggeleng. Mama hanya tidak tahu bahwa Zuri sedang sakit. Aku tidak pernah ingin memberitahunya dan aku juga meminta Zuri untuk tetap bungkam.

“Dia sudah menceritakan semuanya pada Mama… dia sudah tidak ingin tinggal di sini. Kamu tidak boleh memaksa, Attar…,” kata Mama lagi.

Darahku berdesir “Apa yang dia ceritakan?”

Mama mengelus rambutku. “Bagaimana mungkin kamu mau menikahi perempuan yang usianya sudah tidak lama lagi?” kata Mama.

Aku terkejut. Zuri sudah berterus terang?

Amarah kembali tersulut di wajahku. Aku berdiri dan mulai mondar-mandir seperti orang gila. “Mama tidak mengerti…,” kataku, menegaskan, menatapnya dengan memaksa di saat wajahku panas terbakar. Aku menghampiri Mama yang duduk di sofa menatapku cemas. “Aku sangat mencintai dia. Aku tidak bisa melepaskannya sekalipun dia sekarat. Tidak ada yang tahu soal hidup dan mati, Mama….”

“Iya, Attar…” Mama berujar dengan lembut sambil mendekatiku. Ia menggenggam bahuku dan menatapku. “Tapi, dia yang sudah tidak ingin tinggal di sini….”

“Ke mana lagi dia bisa pergi? Dia seorang diri! Sakit!” kataku, setengah berteriak. “Di Padang sana, dia tak punya apa-apa….”

“Tapi, Nak…,”

“Mama!” potongku. “Jangan biarkan Zuri pergi selangkah pun dari sini….”

Mama terdiam. Meski ia tidak mengatakan apapun saat itu, aku rasa mungkin sejak itulah sikapnya sendiri terhadap Zuri mulai berubah. Zuri pun pasti ingin pergi secepatnya dari sini.

*** 


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments