๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Dr. Nira masih memikirkannya saat menatap Zuri yang tampak memohon tak ingin dipindahkan. Ke Jakarta, atau ke mana pun asal tak meninggalkan kota ini. Seolah segala hal mulai masuk akal sekarang, ia tersenyum kepada Zuri yang lantas bertanya, mengapa dokter ini memandangnya seperti itu.
Kemarin Zuri sudah menolak mentah-mentah rujukan dr. Nira sehingga ia tidak bisa memaksa lagi.
“Zuri," tegur dr. Nira yang mengawasi Zuri yang kembali tenggelam dalam tulisannya.
Gadis berkerudung putih itu menoleh kepadanya. Ada tanda tanya di dahinya, saat ia temukan dr. Nira tersenyum.
“Kamu percaya bahwa kebetulan yang terjadi dengan begitu rapinya adalah takdir?" tanya dr. Nira.
Zuri tersenyum. "Entah," jawabnya. "Kadang aku sudah tak bisa membedakan mana yang kebetulan dan takdir… Memang…ada apa, dokter?”
“Ah, tidak…," jawab dr. Nira tersenyum, menepuk pelan pundaknya. Lalu Zuri kembali melanjutkan menulisnya, begitu dr. Nira beranjak dari ranjangnya dan kemudian berdiri di depan jendela. Memandang sebatang pohon rindang di halaman, yang daunnya berguguran dan diterbangkan oleh angin musim kering. Lalu ia kembali menoleh kepada Zuri yang kembali menganggapnya tidak ada. “Zuri!” tegurnya lagi.
“Hm…," sahut Zuri tanpa mengalihkan matanya dari lembaran buku catatannya.
“Tidakkah saat ini kamu ingin bertemu dengan seseorang jika itu memang untuk yang terakhir?" tanyanya, mulai mengamati raut Zuri yang awalnya terkejut
Zuri tidak menjawab. Tak melanjutkan tulisannya di buku, sedang ia berpikir.
“Setiap orang punya kenangan, Zuri," ujar dokter itu, kembali menghampirinya.
“Akan lebih baik dia tidak melihat aku seperti ini. Biar saja… dia menyimpan sosokku yang dulu, yang bukan seorang penderita sakit keras, yang bukan perempuan sekarat. Hanya…. seorang perempuan yang raganya terpenjara namun pikirannya telah melampaui pulau ini, menyebrangi samudera…," jelasnya, sambil tersenyum. "Biar saja… dia merasa bahwa aku telah bahagia tanpanya…”
“Tapi, bagaimana jika… Tuhan mempertemukan kamu dengannya?" tanya dr. Nira.
Zuri diam. Sekarang, ia hanya menatap buku catatan di pangkuannya. Seakan telah lupa dengan apa yang akan ia tuliskan bila saja pertanyaan dr. Nira tidak menyadarkan ia dari mabuknya akan kata-kata setiap ia menulis. ‘Jika’, adalah kata yang membuatnya sedih, karena perumpamaan hanya ilusi akan sesuatu yang sebenarnya tak pernah ada, tak pernah terjadi, dan menyesakan.
Keheningan itu membuat suara langkah kaki di luar sana terdengar jelas. Zuri menoleh ke pintu lalu dr. Nira yang tersenyum kepadanya. Ia tampak menunggu siapa yang muncul dari sana memberinya kejutan, mematahkan semua ‘jika’ yang selalu tak sesuai keinginan itu.
“Jika Tuhan berkehendak, dia akan datang kepadamu, Zuri," kata dr. Nira hingga Zuri terkejut menemukan seseorang yang berdiri di pintu saat ini.
Komentar
0 comments