๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Di tempat ini hanya ada beberapa orang yang menikmati makan malam di ketinggian gedung sepuluh lantai di pusat kota Paris van Java. Dengan cahaya yang seadanya, dari lilin dan juga lampu-lampu kuning serta pemandangan lampu di alun-alun kota yang disukai oleh Zuri. Gadis itu selalu memandang keluar, terpana pada kendaraan yang lewat di bawah kakinya, seakan tersihir oleh arus lalu lintas itu, ia tak menyadari bahwa aku memandanginya sejak tadi, menunggu menoleh padaku.
Tapi, itu tidak mungkin. Aku tidak bisa menunggu lebih lama walau hanya sedetik. Aku mulai meraih ke dalam saku celanaku, mengambil sesuatu yang harus kuberikan padanya malam ini juga.
Sebuah kotak beludru berwarna merah. Pelan-pelan, aku menaruhnya di hadapan Zuri. Semoga ia cepat menyadarinya.
Aku mengawasi Zuri yang kembali bisa tersenyum bahagia pada pemandangan malam kesukaannya–tapi tidak pernah kepadaku. Sedikit menyesakan walau menunggu kurang dari semenit saja sampai dia menengok.
“Coba di Padang ada tempat seperti ini…" katanya, akhirnya menoleh, membuka lipatan tangannya yang menahan dagunya ketika ia sibuk dengan penemuannya sendiri, lalu sikunya terasa menggeser sesuatu. Segera ia temukan kotak kecil berwarna merah itu berpindah dari tempatnya semula. Tersentak, Zuri pun menatapku yang juga menatapnya lekat-lekat.
Sepasang mataku telah dipaku sejak tadi kepada sosoknya. Mataku tak dapat berkedip sedikitpun. Aku begitu mengharapkannya terkesan. Sebegitu cintanya aku memandang Zuri setiap ia tersenyum meski bukan untukku. Dan senyum itu sekarang lenyap.
Aku masih tak mengatakan apapun. Hanya berharap lewat tatapan itu agar Zuri segera membuka kotaknya, meski sudah tahu apa yang isi di dalamnya. Butuh waktu yang cukup lama bagi Zuri dari saat ia mengambil kotak itu sampai membukanya dengan pelan sekali. Ia tidak terlalu terkejut melihat sebuah cincin berlian di dalamnya.
Bukannya senang, aku malah syok. Zuri tidak memberikan kesan apa-apa. Ia hanya memandang cincin itu dengan bingung. “Apa kamu tidak mengerti, Attar?" tanya dia dengan mata yang sudah berbinar, membalas tatapan penuh dariku.
Bukan kata-kata seperti itu yang kuharapkan. Aku kecewa. Aku hanya ingin sebuah jawaban, satu kata saja.
“Aku lebih mengerti darimu," jawabku.
Zuri menggeleng, memejamkan matanya, menguras air mata yang membanjir di pelupuk matanya. Lamaranku malah membuatnya sedih?
“Betapa inginnya aku…," ia menjelaskan dengan terbata-bata. "Tapi, kamu tidak akan bahagia”
“Kamu tidak tahu seperti apa bahagia yang aku harapkan," kataku, berusaha untuk tetap tenang. "Bahagiaku adalah kamu, mengerti?”
Zuri masih menggeleng, menarik dirinya menjauh. Dia tampak sangat ketakutan seakan aku ingin membunuhnya saja.
“Aku sudah tidak bisa menunggu seperti ini lagi," kataku, melunakkan suaraku hingga mungkin terdengar memohon. "Mengertilah bahwa aku sudah memikirkan semua ini berulang-ulang. Di mana aku bisa memulai, dan di mana semua akan berakhir. Kita ini hanya manusia, Zuri. Tidak bisa kita pastikan bagaimana sesuatu itu dimulai atau berakhir”
Zuri tertunduk, seperti biasa. Itu mulai tampak melelahkan bagiku. Aku menjadi makin tidak sabar.
“Katakan padaku, mengapa sampai saat ini kamu tidak pernah mempertimbangkan perasaanku, Zuri…" desakku namun dengan suara yang tenang dan irama yang pelan meski pun sadar, aku tak akan mampu untuk bersabar lagi. Aku menahan nafasku, agar tak berteriak. Aku tidak ingin terlihat memaksa. Aku tidak ingin memaksanya. Meski di dalam kepala tengah berkelebat apa yang Zuri tengah perdebatkan di hatinya saat ini. “Jangan selalu menjadikan penyakitmu alasan. Aku tahu siapa betul yang tidak pernah membiarkanku masuk.”
Zuri membelalak. Mungkin karena aku sudah tak tenang lagi.
“Laki-laki yang sudah mencampakan kamu dengan kata-kata menyakitkan bahkan di saat kamu lemah," sambungku. "Yang tak peduli bahwa kamu hanya seorang perempuan. Tega dia mengataimu berwajah buruk cermin diretak…”
“Attar!” jerit Zuri. Kali ini dia terkejut. “Ada apa dengan kamu? Kamu…”
“Kamu marah, aku membaca semua catatan harianmu tentang lelaki itu?" tanyaku mulai tak sadar. "Aku terpaksa melakukan itu karena kamu tidak pernah memberikanku kesempatan untuk mengerti! Kamu tutup semua pintu seakan aku tak pantas untuk apapun…”
Zuri kembali terdiam, tertunduk lagi.
“Aku sudah lakukan semua yang harus aku lakukan…," kataku, suaranya melemah namun gemetaran. Dadaku berdebar keras. "Berdiri di depan kamu seperti ini, menghadapi kamu yang hanya bisa menunduk, seakan tak sudi memandangku… itu seperti sebuah… penghinaan kepada cintaku. Tapi, apa yang bisa aku lakukan? Aku mencintai kamu sepenuh hatiku. Tak pernah aku pikirkan di mana semua ini berakhir, karena bahkan kita belum memulai… aku pikir aku bisa menunggu lebih lama, menunggumu melupakan siapapun yang ada di hatimu, tapi… benar… aku tak pernah punya kesempatan…”
Tak ada jawaban dari Zuri.
“Di luar sana aku sudah seperti orang gila… hanya… hanya karena memikirkanmu, Zuri…," lanjutku lagi, sambil akhirnya berdiri dari kursinya. “Apa kurangnya semua yang sudah aku lakukan? Aku lakukan karena cinta, tak pernah aku harapkan lebih…”
Ya, Zuri masih diam, tapi menangis. Meneteskan air mata kepada gaun indah yang ia pakai. Aku pun merampas kembali kotak cincin yang masih Zuri genggam dengan tangannya dengan kasar lalu pergi. Rasanya keputusan ini sudah sangat keliru.
Entah. Amarahku sudah tidak bisa dibendung lagi. Aku hanya melihat Zuri terpana padaku. Ia masih sangat ketakutan saat aku kembali untuk mengantarnya pulang. Aku tidak menginginkan ini. Ini bukan yang kuinginkan. Nyatanya semua yang kulakukan hanya membuatnya menolakku lebih keras. Aku sudah putus asa…
Komentar
0 comments