[Hal.26] [Ch.14] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Aku menghela nafas. Aku harus memikirkan cara lain, mengatasi masalah waktu. Dan mengurangi lembur adalah satu-satunya cara untuk membuat anak itu tidak merasa kesepian. Begitu pulang kantor sore hari, aku selalu duduk di depan TV dan hampir setiap hari untuk menemaninya bermain.

Waktu kecil saja, aku tidak punya permainan seperti ini sehingga aku ikut-ikutan kecanduan.

“Ayah kalah!” Raka berseru sambil tertawa dan aku lemas.

Kalah oleh anak kecil?

“Main lagi!” kataku, gusar.

“Ayah pasti kalah!”

Hidupku terasa sedikit lebih normal. Meski tanpa sadar aku memikirkannya dengan menoleh ke sampingku, di mana seharusnya saat ini ia berada. Berharap dia hadir di sini, tapi…hampa.

Namun, hidup adalah sebuah pilihan. Tidak semua hal yang bisa aku miliki. Terkadang kita harus merelakan salah satu hal yang sangat kita inginkan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Telpon-ku berbunyi lagi. Aku meninggalkan TV dan Raka yang bagai sahabat karib dengan pergi ke dapur. Melihat nama Ivana muncul di layar, aku rasa keluargaku pasti mencemaskan Raka.

“Mami masuk rumah sakit, Bang… sekarang masih koma…,” kata dia, dengan suara gemetaran, dan aku belum sempat mengucapkan ‘halo’.

Kakiku seketika tidak dapat menopang tubuhku lagi. Aku tidak dapat mengatakan satu patah kata pun dan bahkan nafasku tertahan selama beberapa saat. Setelah itu hanya tangis yang keluar.

Aku sangat takut.

Semua masa kecil yang telah terlewatkan begitu cepat. Meskipun, ketika hari-hari menyedihkan terasa panjang, tapi kebahagiaan begitu singkat. Aku sudah terbiasa melihat dunia yang tidak berpihak pada kami. Dan selama itu, jika seandainya dia tidak tersenyum pada kami, entah…

Masihkah kami tertawa seperti anak kecil sepanjang ruangan dan berlari sambil bermain? Di saat kami bahkan sudah dewasa? Meskipun waktunya terus berkurang, aku hanya merasa belum saatnya…tapi…

---

“Kenapa Mami bisa pingsan?” aku menanyai Ivana yang tertunduk dengan memeluk dirinya sendiri, “Bukannya kemarin tidak apa-apa?”

“Semuanya salah Bang Achen!” celetuk Gina yang menghampiri kami.

“Gina, sudah!” tegur Ivana agar dia berhenti bicara.

Aku menatap Gina lalu Ivana, “Ada apa?” tanyaku, “Achen kenapa lagi?”

Ivana tidak langsung menjawabku. Wajahnya menyiratkan ketakutan.

“Vana!” desakku, tidak sabar.

“Bang Achen ketahuan pakai obat-obatan lagi…,” jawab Gina yang akhirnya menangis, “Mereka sempat berdebat dan tiba-tiba Mami pingsan…”

Ibuku masih terbaring sakit. Belum bisa bicara dan hampir setiap hari kedua adik perempuanku menangis ketakutan.

Sedangkan Achen terlihat acuh dan itu membuatku kesal.

“Hentikan!” aku sudah tidak bisa lagi menahan amarahku di depannya.

Achen mengepulkan asap putih dari hidung dan mulutnya sambil meliriknya. Entah bagaimana dia masih bisa mengerling dengan santai padaku.

“Apa kamu tidak jera, Chen?!” aku berteriak padanya dan dia masih terlihat tenang. “Kamu puas lihat Mami sekarang tidak bisa apa-apa?!”

“Lalu apa?!” cetus dia, setengah berteriak. Melirikku sejenak sebelum hisapan terakhirnya lalu puntung rokok yang masih terbakar berada di bawah sendalnya. “Kalau sudah begini, selalu aku yang disalahkan!”

“Kamu sudah bersumpah demi Mami tidak akan membuat masalah lagi! Kamu sudah dewasa!”

Seketika dia berdiri dari sofa, menantangku dengan tatapan tajam dan kedua tangannya mengepal membentuk gumpalan batu yang keras.

“Jangan bersikap seolah-olah Abang sama sekali tidak melakukan kesalahan!” teriaknya.

Aku mencoba untuk tidak mundur selangkah pun. Dia adikku, dan aku harus mengendalikannya. Sekalipun dia punya tatapan mengerikan yang seakan ingin memukuliku sampai habis.

“Kenapa selalu aku yang jadi tumpuan kesalahan?!” teriaknya lagi. “Memangnya kenapa kalau aku begitu?! Aku punya kehidupan sendiri!”

Menghadapi Achen sama seperti menghadapi Ayu. Sifat mereka hampir sama. Keras kepala dan berpikir bisa melakukan semuanya sendiri. Aku tidak bicara sepatah kata pun. Achen membalikan badannya untuk membelakangiku. Memperlihatkan punggungnya yang semakin kurus.

“Memangnya siapa yang mau seperti ini?” suaranya melemah, “Semua orang melihat aku seperti melihat pembunuh! Mereka semua tidak tahu kenapa aku bisa begitu…dan seenaknya berpikir aku memang gila dan suka main tangan!

“Harusnya kamu berhenti!” kataku.

“Tidak semudah itu, Bang!” teriaknya kembali padaku, “Aku tidak bisa seperti Abang yang menganggap semua tidak pernah terjadi lalu lari sejauh-sejauhnya! Kalau dari awal aku bisa  seperti itu, memangnya… memangnya siapa yang akan menjaga Mami, Ivanna dan Gina di saat Abang malah menyelamatkan diri sendiri?!”

Aku terdiam. Menelan kata-katanya yang terasa menyakitkan di dadaku.

“Aku dikeluarkan dari sekolah karena hampir membunuh orang yang menghina adik kita, Bang! Lalu dipaksa menerima semua anggapan orang yang bilang kalau aku ini gila!”

“Menyelamatkan diri sendiri?” aku menahan emosiku. “Siapa yang menyelamatkan diri sendiri?!”

Achen memalingkan wajahnya dariku dan aku menarik leher bajunya agar ia menatapku. Melihat seberapa kesalnya aku dituduh telah mengabaikan keluargaku sendiri.

“Apa menurut kamu Abang harus memukul orang juga?! Lalu masuk penjara?! Sudah cukup ada satu pembuat masalah di antara kita! Kalau Abang juga seperti kamu, Mami tidak akan hidup sampai sekarang!” kataku, “Apa kamu pikir selama itu Abang bisa hidup tenang?!”

Achen tidak menjawabku, namun matanya masih menunjukan kemarahan yang sama. Dia menggertakan bibirnya dengan geram, dan tangannya sudah mengepal kuat untuk memukulku. Dia mendapatkan semua yang dia punya untuk melawanku, kecuali satu hal, keberanian.

“Semuanya gara-gara Abang!” dia mendorongku untuk melepaskan dirinya. Menahan diri untuk melepaskan kepalan tangannya.

Tubuhku terseret beberapa langkah darinya, karena sentakan yang begitu kuat.

“Mami jatuh sakit karena memikirkan Abang dan seorang cucu yang tidak punya ibu! Masalah yang aku buat hanya pemicu karena sejak dulu aku sudah begini! Abang tahu, sejak hari Mami tahu soal Raka, sejak itu juga dia mulai sakit-sakitan dan kami semua dilarang untuk mengatakannya…,” kata dia, dan hatiku kembali tersayap.

Aku tidak bisa bernafas beberapa saat karena dadaku terasa sangat sakit.

“Aku memang preman, dan orang-orang mungkin senang kalau aku mati, tapi satu hal yang tidak pernah aku lakukan, Bang!” kata dia lagi, kembali membuang pandang dariku, dan aku semakin ingin tahu apa yang akan dia katakan, “Aku tidak pernah menyentuh perempuan!”

Kata-katanya menusuk, memadamkan amarahku dan menyalakan api penyesalan itu lagi.

“Abang tahu kenapa?” tanya dia.

Aku tahu. Tapi, berusaha untuk menelannya agar tidak perlu mengatakannya. Karena dibandingkan hal apapun yang pernah membuat hatiku sakit –berhubungan dengan keluarga ini, apa yang baru aku ketahui dari Achen saat ini, adalah hal yang sangat memilukan bagiku. Membayangkan si kembar dalam benakku, mereka yang tersenyum dengan poni rata yang lucu.

“Karena kita punya dua adik perempuan, Bang. Bagaimana kalau mereka diperlakukan seperti itu…?”

Kali ini, kata-kata itu membuatku tidak berdaya.

---

Raka menarik-narik lengan bajuku, “Yah, kita mau ke mana?” tanya dia, menatapku dengan menengadah.

Aku duduk jongkok di depannya sambil mengusap-usap kepalanya, “Kita jalan-jalan,” jawabku tersenyum lalu berdiri kembali untuk melangkah menyatu bersama kerumunan orang-orang yang hendak bepergian. Dengan menggenggam tangan mungilnya, kami meninggalkan rumah sakit untuk sementara waktu.

“Tempat Bunda?” tanya dia.

“Ya, nanti kita ke tempat Bunda,” jawabku.

 “Yah, kita mau jalan-jalan ya?” tanya Raka, menghalau semua hal yang kupikirkan dan seketika kepalaku kosong melihat wajah polosnya yang lucu.

Aku menghentikan langkahku untuk tersenyum padanya, “Kita mau bertemu seseorang…,” kataku.

Dia mengernyit heran dan sepuluh menit menunggu di pinggir jalan terasa mulai membosankan bagi seorang anak kecil.

“Masih lama, Yah?” tanya dia menggerutu.

Aku tidak sempat menjawabnya karena sudah melihat Melissa  keluar dari apartemennya. Dan menemukanku, dia terlihat terkejut. Namun, lebih terkejut lagi melihat Raka.

Pertemuan ini terasa aneh. Apalagi ketika kita berjalan bersama. Aku mulai menyesalinya. Seharusnya aku tidak menemuinya, tapi aku tidak bisa punya tempat  tujuan lain untuk pergi.

“Benar-benar mirip,” Melissa tertawa pelan sambil melirik aku lalu Raka. “Kamu ayah yang payah…,” ledeknya sambil menghampiri Raka dan jongkok di depannya, “Mau es krim?”

“Mau…yang rasa coklat,” jawab Raka.

Melissa berdiri lagi untuk menatapku, “Tuh kan! Apa susahnya menyenangkan hati anak kecil!” kata dia dengan percaya diri dan tawa lebar, lalu menarik tangan Raka untuk menyebrang jalan di mana di depan kami ada restoran cepat saji.

Mereka meninggalkanku sendirian, dan itu membuatku terkejut.

Raka tidak terlalu suka dengan orang asing. Tapi, dia terlihat senang saat Melissa membelikannya es krim dan memanggilnya dengan sebutan ‘Tante’.

Aku menarik nafas lelah saat akhirnya bisa duduk - di tengah keramaian restoran cepat saji yang punya area bermain bagi anak-anak. Aku memperhatikan Raka meluncur di atas perosotan plastic warna-warni bersama bocah seusianya. Tidak lagi menghiraukan es krim coklat yang mencair yang ia tinggalkan di atas meja.

Melissa datang dengan nampan berisi kentang dan ayam goreng serta minuman bersoda untukku. “Hari ini aku yang traktir,” kata dia sambil duduk dan memisahkan makanan untuknya dan untukku, serta Raka.

Setelah beberapa hari di sini, dengan perasaan tertekan, baru sekarang aku bisa tersenyum lega.

Setengah jam kemudian Raka kembali dengan perut lapar dan dia mengeluh pada Melissa, bukan padaku. Melissa memberinya sepotong ayam goreng dan nasi yang kemudian ia makan dengan sangat lahap.

“Aku tidak tahu kamu bisa mengurus anak,” kataku, mengawasi Raka yang kembali ke area bermain.

Aku hanya memandangnya, mencoba memahami kenapa aku mengatakan hal-hal seperti itu di saat begini.

---

“Sudah jam delapan, kamu langsung pulang ya,” aku berkata padanya

Raka menguap di punggungku, “Aku mau tidur…,” gerutunya setengah merengek.

Melissa dan aku tertawa, kami sudah bersenang-senang selama tiga jam sebelumnya. Dan itu cukup untuk meregangkan saraf-sarafku yang tegang karena banyaknya masalah yang aku hadapi.

“Tente mau ke mana?” tanya Raka padaku, sambil menggosok-gosok matanya.

“Tante mau pulang,” jawabku melirik Melissa yang tertawa. “Sudah malam.

“Tapi, kata Ayah, Tante bakal tinggal dengan kita…,” gerutunya menatap Melissa dengan perasaan tidak rela, persis seperti aku yang belum ingin dia meninggalkan kami seperti ini.

Melissa mengernyit, dan aku merasa malu. Tapi, kemudian ia tertawa sendiri, “Apa yang ingin kamu katakan?” dia juga merasa malu padaku.

Kikuk!

Aku berada dalam situasi membingunkan karena merasa tidak enak harus melibatkannya lagi. “Aku…,” aku mencoba memberikan penjelasan namun senyum malu-malu di bibirnya membuatku tidak mampu mengatakan apa pun selain “Jangan pulang dulu…”

Ketika dia mengangguk dan meraih tanganku, Raka sudah ketiduran. Aku memberhentikan taksi yang membawa kami pergi.

---

“Aku tidak tahu persis apa yang kamu rasakan… soalnya orang tuaku masih sehat. Belum sakit-sakitan… tapi soal kematian siapa yang tahu, Den?”

Aku tidak tahu kita akan bertemu dalam keadaan seperti ini. Dan aku hampir menangis. Menyadari aku hanya seorang manusia biasa, aku tidak cukup kuat mengatasi semua yang aku alami. Di sisi lain, kepalaku harus tetap tegak, terlihat keras dan tahan banting. Sedangkan, aku… tidak punya apa-apa selain keegoisanku.

Bahunya menjadi tempat bersandarku saat aku ingin menunjukan semua kelemahan itu.

“Aku sudah tidak tahan…,” kataku, meringis di sana. Lalu kurasakan tangannya mengusap kepalaku dengan lembut. “Aku berpikir untuk tidak mengatakannya karena seperti biasanya, aku bisa menghadapinya, tapi sekarang…”

“Ssst…,” Melissa mendesis, “Aku mengerti…kamu tidak perlu mencari alasan yang logis supaya aku tidak berpikiran kalau kamu lemah…”

Aku mengangkat kepalaku untuk menatapnya, dan perasaan ingin memeluk mengalahkan kesedihanku. Aku menarik nafas panjang, menghembuskannya dengan cara yang sama. Aku lega. Benar-benar sangat lega saat dia ada di dekatku.

Ketika aku melepaskannya aku sudah berada pada satu keputusan yang pasti.

“Kita… menikah saja ya?” aku memberanikan diri untuk mengatakannya.

Alis Melissa terangkat, matanya membesar tanpa berkedip.

Aku mulai bingung dan frustasi. Salahkah yang telah kukatakan?

Aku memikirkannya sekali lagi, “Aku…aku sama sekali tidak ingin memaksa, tapi…setelah semua yang terjadi…aku pikir sangat masuk akal kalau akhirnya kita menikah…,” jelasku, “Aku tahu…aku seolah tidak mempedulikan perasaan kamu tapi…di saat aku seperti ini, kamu selalu ada…”

Melissa hanya menatapku dan aku merasa kata-kataku semakin salah.

Aku mengepalkan tanganku dengan kuat, menahan perasaan untuk memeluknya sekali lagi untuk menghilangkan kegelisahanku jika seandainya dia menolak.

“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Mel…,” kataku menegaskan semuanya, “Aku membutuhkan  kamu dan aku sangat yakin kalau…”

Aku belum menyelesaikan kata-kataku saat tiba-tiba Melissa rubuh.

“Mel…?”

Aku berpikir dia pingsan, tapi ia hanya terduduk di lantai. Tampak sangat syok. Dan matanya berkedip beberapa kali sebelum berbinar dan meneteskan air mata. Aku menggenggam bahunya yang gemetaran.

“Kamu kenapa?” aku sangat khawatir, apakah aku mengatakan hal yang salah lagi?

“Ka…kamu serius?” dia bertanya dengan mencengangkan.

Aku meyakinkannya dengan menatapnya sungguh-sungguh.

Kepalanya tertunduk dan bahunya bergeming, lalu aku dengar tawa pelan, “Aku tidak percaya…,” gumamnya.

“Aku serius, Mel!” seruku mengangkat kepalanya, agar menatap betapa aku ingin mengatakan ini.

Dia mulai tertawa. Menggenggam kedua tanganku erat-erat, dia kembali tertunduk. Menjatuhkan kepalanya di sana.

“Dennis…,” dia menyebutkan namaku dengan gemetaran sambil tertawa pelan. Bahunya bergetar, “Pukul aku…”

“Hah?” aku seperti orang bodoh melihat sikap dan mendengar ucapannya.

“Pukul aku,” kata dia masih tertunduk dengan menggenggam tanganku, “Aku ingin tahu kalau ini bukan mimpi…”

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments