[Hal.25] [Ch.14] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Duplikat

Malam menangis tanpa suara dalam gelap. Aku merasa seperti melihat seseorang duduk di sudut kamar memandangiku. Aku menarik tubuhku yang sempat lumpuh untuk duduk dan mengamati dengan baik apa yang aku lihat samar-samar.

Dinding putih yang tak dapat menyembunyikan apapun hanya memantulkan keremangan yang tercipta dari cahaya dari luar yang menyelinap lewat celah jendela. Aku menahan separuh tubuhku dengan sebelah tangan sambil mengusap kepalaku.

Tidur yang tak terasa lega entah karena apa membuatku menghembuskan nafas lelah. Perasaanku tidak enak meski aku terbangun bukan karena mimpi buruk.

Kita belum mengucapkan selamat tinggal. Meski begitu aku merasa bahwa kami telah terpisah. Alangkah bodohnya semua yang kulakukan. Aku menoleh ke sampingku. Melissa tengah tertidur dengan lelap. Ketika kuusap wajahku yang berkeringat, aku baru sadar bahwa dia sudah terlanjur masuk ke dalam kehidupanku.

---

Jakarta, Agustus 2010…

12 Agustus datang juga. Aku menerima ucapan selamat dari beberapa orang yang menyalamiku. Usia tiga puluh tahun telah menghampiriku. Aku mulai merasa tua.

Aku mempunyai masalah yang lama yang masih bisa dianggap rumit. Bagaimana tidak, aku adalah seorang ayah meskipun anakku tidak tinggal denganku. Rasanya sangat mengejutkan saat Sania datang mencariku untuk memberitahu hal yang lebih mengejutkan dari saat aku mengetahui bahwa sebuah hubungan main-main telah berakibat fatal.

Sania datang bersama Raka dan dia sudah tidak mengenakan kerudungnya. Ke Jakarta, untuk satu permohonan.

Raka berusia lima tahun. Sudah bisa bicara dan semakin kelihatan seperti waktu aku kecil.

“Aku baru tahu kalau Raka disleksia,” jelasnya, “Dia tidak bisa masuk sekolah biasa, dan dia juga tidak mau ke sekolah lagi karena sering diejek temannya yang lain. Kamu pasti tahu anak-anak dengan kelainan seperti ini harus terus diperhatikan

Aku memandangi bocah itu, menatapku dan pandangan matanya yang tidak fokus. Dia melihat sekelilingnya dengan mata berkedip-kedip setiap saat.

“Aku...baru dapat pekerjaan baru...,” sambung Sania dan dia mulai menangis, “Aku mohon, kamu mengizinkan dia tinggal bersama kamu sementara sampai aku bisa jemput dia. Aku janji tidak akan lama...”

“Kenapa kamu bicara seperti itu?” hatiku terenyuh dengan permohonan yang menurutku konyol dan seperti tamparan keras untukku. “Dia anakku juga kan?”

Sania tertunduk menangis, “Aku pikir... karena kamu hidup sendiri dan... pastinya kamu akan menikah juga.... itu pasti merepotkan kamu...,” jelas dia, “Tiba-tiba harus mengurus anak...”

“Aku sama sekali tidak keberatan. Aku senang tapi... setelah ini kamu mau ke mana?” tanyaku lagi, “Apa pekerjaan yang kamu lakukan?”

Sania menggeleng, dan tertawa sekali, menatapku dia menyeka semua air matanya, “Aku memutuskan jadi tenaga kerja ke luar negeri, Lan,” jawabnya.

Aku terkejut, “Apa?!”

Perempuan itu mengangguk dengan yakin, “Itu tidak semenakutkan yang selalu digembar-gemborkan berita,” katanya, “Sudahlah, aku pasti kembali untuk menjemput Raka nanti dan setelah itu tidak akan mengganggu kamu lagi”

“Kamu yakin akan pergi sejauh itu?”

“Kenapa?” dia masih berusaha tersenyum, meski terisak, aku tahu ekspresi bahagianya saat meninggalkan Raka adalah perasaan lapang yang sudah lama tidak dia rasakan.

Sania menolak semua bantuanku dan aku merasa sangat berdosa padanya. Dia wanita yang baik. Dia mencintaiku tapi balasan yang dia terima dariku hanya rasa sakit. Dan aku tidak pernah mengingkari bahwa dia adalah cinta pertamaku. Raka adalah semua yang tersisa dari perasaanku padanya ketika kami masih belasan. Aku mensyukuri dia terlahir ke dunia ini untuk memberiku pelajaran berharga tentang cinta yang sebenarnya.

“Bunda!!” Raka menjerit sambil berlari ketika Sania sudah berdiri di pintu. “Bunda!!”

Melihat mereka berpisah, aku hampir meneteskan air mata. Betapa mereka tidak terpisahkan dan betapa jahatnya aku sebagai ayah.

Sania memeluknya sebentar untuk membuatnya berhenti menangis, “Bunda hanya pergi sebentar...,” katanya, “Kamu tinggal dengan Ayah dulu.  Nanti Bunda akan menjemput kamu...”

“Ke mana, Bunda?” tanya dia lagi merengek, “Aku tidak mau tinggal dengan Ayah....aku ikut...”

“Bunda hanya pergi berbelanja untuk masak,” ujar Sania lembut sambil mengusap-usap rambutnya.

Raka menggeleng-geleng, ia seakan punya firasat tidak akan melihat ibunya dalam waktu yang sangat lama. “Aku tidak mau tinggal...”

Aku berlutut di dekatnya, dan mengangkat tubuhnya, agar melepaskan Sania yang berisyarat padaku untuk menariknya.

“Bunda...,” rengekan Raka membuat kami sama-sama tidak berdaya, sebelum dia meronta, ketika aku menutup pintu. “Lepaskan!!”

Anak ini tidak menyukaiku. Aku menurunkannya dan dia mulai memukul pintu sambil menjerit memanggil ibunya.

Aku tidak bisa membuatnya diam. Aku tidak tahu cara menghadapinya. Sehingga aku hanya membiarkannya sampai lelah lalu tertidur di depan pintu yang terkunci  rapat.

---

Aku menyerah karena tidak dapat mengetahui apa yang dia inginkan. Raka merusak semua barang-barang dan setiap kali ia marah ia berteriak padaku agar mengembalikannya pada ibunya. Namun aku tidak mengatakan apa-apa padanya. Dan yang paling membuatku sedih adalah dia tidak pernah memanggilku ‘ayah’.

“Apa itu disleksia?” Mami bertanya di telpon saat aku terpaksa menghubunginya untuk meminta bantuan. Setelah aku berpikir berulang kali dan sempat stres menghadapinya.

“Hampir sama seperti autis, Mi. Tidak bisa konsentrasi dan tidak bisa mengingat dengan baik. Tapi, yang jelas, anak-anak disleksia kesulitan untuk membaca dan mengeja,” jelasku.

“Terus vagaimana sekolahnya? Kamu sudah daftarkan Raka ke sekolah khusus?” tanya Mami terdengar prihatin.

“Aku tahu sekolah yang bisa menangani Raka, tapi masalahnya aku tinggal sendiri, Mi. Sementara aku harus kerja dan sering pulang malam. Kemarin, aku sudah membayar pengasuh tapi tidak betah dan tiba-tiba minta berhenti,” jawabku, “Raka sering merusak barang kalau merajuk.”

“Kasihan...,”

“Mi, aku tidak tahu harus meminta tolong  siapa lagi... aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyusahkan Mami, tapi... aku tidak bisa menghadapinya sendirian...”

“Kenapa kamu tidak menikah saja?” tanya Mami padaku, dan aku terdiam. “Kamu masih menjalani hubungan dengan gadis itu? Kelihatannya dia sabar dan bisa diandalkan...dia mau menerima kamu dengan keadaan seperti ini, sudah pasti dia siap dengan resikonya kan?”

Dia…dia sudah tidak ada, Mi.,” jelasku, tertegun sedih dengan suara tertahan, Aku sangat kehilangan…dan banyak hal yang tidak bisa aku selesaikan sendiri. Aku sibuk di kantor dan sering pulang telat karena aku pikir hanya itu satu-satunya cara untuk tidak memikirkannya…”

“Kamu terlalu ambisius, Lan... Jangan sampai sesuatu yang kamu pikir sangat kamu butuhkan, tiba-tiba menjadi tidak berguna begitu kamu sadar kamu sudah mengorbankan banyak hal yang jauh lebih berharga dari semua itu...,” ujar Mami dan kata-katanya terekam dengan baik di kepalaku.

Tapi, aku tidak punya pilihan.

Jam dinding menunjukan pukul sebelas malam dan aku tidak sadar satu hari berlalu lagi. Menggenapkan satu bulan lamanya Raka tinggal di tempat yang bagaikan penjara ini, bersama orang yang tidak benar-benar mempedulikannya.

Aku merasa sangat bersalah padanya, juga  ibunya. Rasanya aku menjadi tidak berguna.

---

Pada hari sabtu, aku memutuskan pergi ke supermarket. Membiarkan Raka mengambil semua yang dia sukai. Permen, coklat, manisan, atau apapun. Dia dengan bersemangat memasukan semua yang ingin dia makan ke dalam trolley sementara aku berbicara dengan dua SPG susu anak-anak di salah satu konter.

“Biasanya anak-anak suka memilih makanan dan sering tidak mau makan. Kadang makannya itu-itu saja, kalau susu yang ini bisa mencukupi kebutuhan gizi anak, Pak,” kata salah seorang berambut panjang. Masuk akal, dan kurasa dia sedang menyampaikan kembali apa yang pernah aku dengar sebelumnya dari iklan di TV.

“Tapi, tetap susu saja tidak cukup.” seorang SPG lain menyela, “Itu gunanya ada sayuran dan buah-buahan. Karena semua zat yang dibutuhkan oleh anak-anak tidak ada dalam susu. Jadi, bagusnya, bapak ambil yang untuk penambah nafsu makan saja, supaya anaknya tidak malas makan.”

Aku sadar mereka bersaing bukan untuk membuat produk mereka terjual. Aku menarik nafas, “Saya ambil dua-duanya,” kataku sambil memindahkan kedua kaleng susu yang berbeda itu ke dalam trolley.

Keduanya tercengang dan saling menatap. Lalu melempar pandangan menggelikan padaku.

Aku mulai mendorong troli ke tempat lain. Mendengarkan mereka berdebat, membuatku jadi tidak sadar, Raka sudah mengisi penuh troli dengan permen dan mainan. Sementara dia tidak terlihat lagi.

“Sepertinya duda…,” mereka mulai berbisik.

“Masa sih?”

“Kalau tidak duda sedang apa belanja sendirian? Sudah pasti dengan istrinya…”

Aku hanya tersenyum. Mengulang kata itu sekali lagi. Istri.

Kalau ada seseorang di sampingku saat ini, tentu kedua SPG tadi tidak akan menatapku dengan menggelikan seperti itu. Tapi, menikah lagi tidak semudah itu bagiku.

Aku tidak ingin menjadikan Raka alasan apalagi beban. Hanya…terlalu cepat melibatkan orang lain dan aku tidak ingin siapapun lagi terpenjara oleh keegoisanku. Telponku berbunyi, begitu menyadari aku belum melihat anak itu di antara rak yang berbaris rapi dan panjang sekali. Lalu mulai khawatir.

Aku lupa, anak disleksia bisa tersesat karena tidak bisa mengingat dengan baik tempat atau hal-hal dasar lain seperti urutan hari, bulan, dan sejenisnya.

Aku sedang kebingungan. Namun tidak lama aku melihatnya ditemani oleh seorang ibu muda yang membujuknya untuk berhenti menangis dan sekuriti mall yang hendak membawanya pergi ke pos jaga.

“Kamu tidak tahu nama ayah atau ibu kamu?” tanya perempuan muda yang menemukannya tersesat.

Aku melangkah ke arahnya dengan sangat pelan dan merasa bodoh, sekaligus tidak berguna. Melihat dia menangis ketakutan setelah tadi begitu senang saat kita baru saja sampai.

“Raka!” aku memanggilnya dengan menyesal dan dia kelihatan lega.

“Ayah?!” dia berlari ke arahku dan aku merasa sangat senang. Senang karena aku menemukannya segera dan…akhirnya dia memanggilku ayah.

Beberapa orang di sekitar sana memandang ke arah kami.

“Pak, kalau bisa anaknya jangan dilepas. Bahaya,” kata ibu muda itu padaku. “Tapi, bagaimana mungkin anak ini sebesar ini masih tidak tahu nama orang tuanya…”

“Dia disleksia…,” jelasku, tersenyum, “Terima kasih”

Aku menggendongnya dan segera membawanya pergi dari orang yang menyebutku ‘ayah tidak becus’. Ah, mungkin saja mereka benar. Aku sibuk menelpon dan tidak sadar bahwa aku mengabaikannya, mengabaikan keadaannya.

---

Aku sangat mengantuk. Handphone-ku berbunyi beberapa kali.

Melissa.

Aku rasa kemarin aku mengatakan padanya bahwa aku sibuk dengan anakku.

“Kamu masih tidur ya?” tanya dia, yang ternyata sengaja membangunkanku, “Hari ini hari Senin”

Aku segera bangkit, dan jam weker di atas meja juga sudah berteriak dari subuh tapi aku memukulnya sampai diam. Dan sekarang sudah jam tujuh.

Raka tertidur di kakiku dengan posisi terlentang. Sangat pulas sebelum aku mengguncang tubuhnya sambil memanggil namanya dan dia mengeluh sambil meringis.

“Aku masih mengantuk…,” gerutunya.

Meski tidak ke sekolah seperti anak-anak pada umumnya, aku selalu memaksanya bangun pagi, dan mandi. Aku menyeretnya ke kamar mandi dan dia merengek kedinginan di bawah guyuran air.

“Ayah harus bekerja. Kalau kamu tidak cepat-cepat Ayah bisa terlambat!” kataku mendesaknya.

Raka dengan malas-malasan menyelesaikan mandinya sedangkan aku dengan terburu-buru pergi ke dapur. Aku belum memasang dasi dan sepatu. Itu tidak terlalu buruk karena aku masih dapat melakukannya di mobil, tapi, ada yang lebih sulit dari saat menyuruh bocah itu bangun tidur dan mandi, yaitu menyuruhnya minum susu.

“Wuek!” ekspresinya itu kelihatan menjengkelkan namun aku tidak punya waktu untuk marah.

“Nanti Ayah mengambil PS-nya kalau kamu tidak mau minum susu, Raka,” ancamku sebelum menutup pintu depan dengan buru-buru.

Pagi saja sudah begitu melelahkan.

Aku tidak pernah menjalani hari yang padat seperti ini. Seolah 24 jam sehari tidak cukup. Untuk bekerja, mengurus anak. Meskipun dia sudah tidak rewel seperti saat pertama kali datang, hal yang lebih memusingkan sekarang adalah dia kecanduan game.

Tapi, terkadang, hidup berdua saja seperti itu juga terasa menyenangkan. Ada hal lain yang membuatku sibuk dan berhenti berkeluh kesah. Setidaknya keadaan ini tidak jauh lebih buruk di saat aku berjalan setiap pagi ke kantor seperti zombie.

Aku tidak pernah berniat menitipkan Raka pada keluargaku karena itu pasti akan sangat merepotkan mereka. Mami masih sakit dan kelakuan Raka yang nakal pasti akan sangat merepotkan adik-adikku.

---


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments