๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Perempuan sialan…,” Melissa terdengar bergumam dan ia melirikku canggung seolah ia tidak sadar dengan yang barusan ia katakan. Ia mencoba tersenyum, lalu menepuk pundakku, “Tumben kamu jadi tidak berkutik di depan orang.”
Ya, satu-satunya hal yang terpikir bagiku adalah memaksa Tyas bicara. Tapi, ia seolah mengurung diri di apartemennya atau mungkin menyelinap pergi keluar agar aku tidak melihatnya. Dia seolah menghilang dan tak terlihat.
“Kalau dia masih hidup, satu-satunya tempat yang dia datangi pasti rumah,” jelas Melissa, “Dan dia pasti menghubungi kamu”
Aku menggeleng, “Dia tidak pernah menelpon atau kirim pesan,” jawabku, “Apa dia benar-benar masih hidup?”
Melissa menarik nafas, “Kamu mau aku memaksa perempuan itu untuk mengatakan yang sebenarnya?” tanya dia, dengan seringai di wajahnya, “Habisnya… dia sangat meresahkan… benar-benar harus diberi pelajaran”
“Jangan, Mel…,” tanpa sadar suaraku gemetaran begitu juga dengan tanganku yang belum bisa menggenggam apa-apa. Tubuhku terasa dingin, “Itu tidak akan ada gunanya”
“Terus sekarang kamu mau apa?”
“Aku mau ke Padang. Memastikan dengan keluarganya kalau dia sudah kembali,” kataku, “Walaupun aku tidak yakin dia pulang. Ini sudah berbulan-bulan, selama itu dia seolah hilang ditelan bumi. Tiba-tiba kembali, itu tidak mungkin…”
---
Aku melangkah terburu-buru dari parkiran melewati lorong apartemen yang terasa panjang saat aku merasa tidak punya banyak waktu bahkan untuk meragukan keputusanku sendiri. Hingga akhirnya aku melihat Tyas yang baru akan keluar dari unitnya. Aku sudah tidak punya niat untuk memaksanya sehingga aku berlalu tanpa menoleh apalagi menyapa.
“Kamu mau ke mana buru-buru?” tegur dia saat aku sedang membuka pintu dengan kunci.
“Aku mau pergi ke Padang,” jawabku tergesa-gesa masuk ke dalam apartemenku untuk mengumpulkan beberapa pakaian karena pesawat akan berangkat kurang dari dua jam lagi.
Tyas mengikutiku ke dalam karena aku membiarkan pintunya terbuka. “Mau bertemu Ayu?” tanya dia.
Aku masuk ke kamar, menuju lemari. Aku menarik koper kosong dari laci paling bawah lalu melepaskan beberapa helai baju dari gantungan. Tanpa melipatnya aku melemparkannya ke dalam koper.
“Sedang apa?” Tyas berdiri di pintu.
Aku tidak menjawab karena tanganku sibuk memasang risluting koperku dan aku akan menariknya keluar setelah aku memastikan semua barang-barang penting sudah di dalam.
“Tunggu!” Tyas mencegatku dengan menghalangi jalan di depan pintu, “Kamu mau ke Padang untuk bertemu dia?”
“Kamu tau sendiri,” celetukku sedikit mendorongnya agar menyingkir.
Dia kelihatan gusar ketika aku menuju pintu dan berisyarat agar ia keluar.
“Apa kamu belum menyadarinya, Den?!” dia mengajak berdebat rupanya. “Harusnya kamu tahu, dia tidak pernah menghubungi kamu karena dia tidak ingin ditemukan!”
Aku berbalik, “Kamu bilang apa?!” teriakku, emosi dan dia selalu berhasil membangkitkannya dalam sekejap, “Jangan sok tahu!”
Tyas menatapku tegang. Masih dengan wajah yang merengut itu, ia menghela nafas, “Aku pikir aku lebih baik diam karena itu bukan urusanku!” katanya, “Aku tidak pernah mau ikut campur karena apa yang terjadi sekarang itu kesalahan kalian sendiri!”
“Kamu bertemu Ayu? Kamu kenal dia?!” tanyaku, meraih pundaknya dan mencengkramnya agar ia mengatakannya dengan cepat.
“Lepaskan, Dennis!” jeritnya, menyentakan tanganku dan ia bertambah kesal. Sambil memegangi dahinya yang berkeringat, ia menatapku sejenak sebelum membuang pandang dan mondar-mandir. “Iya, aku kenal! Aku memang bertemu dengannya dalam kebetulan yang sama sekali tidak menyenangkan!”
“Ya Tuhan…,” nafasku tertahan sejenak, sebelum pantatku jatuh di atas sofa begitu kakiku kehilangan dayanya. Aku menatap Tyas yang memandangiku dengan ekspresi jengkel. “Ayu masih hidup…”
“Tidak ada gunanya kamu mencari dia ke Padang!” kata Tyas , menghujamku, “Dia tidak ingin bertemu kamu lagi”
“Itu tidak benar!” teriakku.
“Pikir, Dennis! Dia masih hidup dan sehat! Dan dia sama sekali tidak pernah memberitahu kamu kalau dia masih hidup! Dia juga membohongi semua orang hanya supaya bisa jadi relawan! Karena itu dia tidak pernah mengabari keluarganya kalau dia masih hidup,” kata Tyas , “Itulah kenyataannya!”
Aku selalu ingat dengan keinginan Ayu untuk lepas dari keluarganya yang konservatif. Dia pernah melarikan diri bersamaku, tapi untuk membohongi semua orang seperti itu... tidak mungkin.
Aku bangkit dengan sisa dayaku, menghampiri Tyas. Menggenggam bahunya, dengan penuh harapan, “Dia di mana, Tyas?” kata-kataku terdengar seperti permohonan.
“Dia sudah pulang ke rumahnya, setelah dia mengaku sendiri kalau dia bohong,” jelas Tyas , menyingkirkan kedua tanganku dari bahunya, untuk menjauh. Agar tidak melihat wajahku yang menyedihkan, “Itu dua bulan yang lalu. Mungkin sekarang dia masih bertugas jadi relawan.”
Jantungku berdetak keras. Dua bulan yang lalu?
“Dia sama sekali belum pernah menghubungi kamu?” tanya Tyas dan aku menggeleng, “Itu sudah jelas, Den, bahwa dia sama sekali tidak mau bertemu kamu lagi”
Aku masih berusaha untuk mempercayainya. Setengah tahun sudah, aku merasa dia telah tiada dan terus memikirkannya?
“Sekarang dia masih bertugas dan tidak akan mudah buat kamu bisa bertemu. Selain karena dia memang tidak ingin menghubungi kamu, aku rasa, dia sering pergi ke tempat terpencil dan kadang tidak kembali untuk waktu yang lama,” sambung Tyas .“Di posko tidak ada yang mengenal dia sebagai Ayu, semua orang memanggilnya ‘Dennis’. Dia memakai nama kamu untuk menyembunyikan identitasnya selama jadi relawan.”
Apakah karena Ayu belum bisa memaafkan kesalahanku sehingga ia memutuskan bersembunyi dariku selamanya?
Mungkin hari itu. Hari ketika kesalahanku terbongkar dan dia tidak bisa menerimanya. Dan setelah itu semuanya menjadi tidak sama. Ketika aku meninggalkannya dengan pergi ke Jakarta, dia mulai membuat jarak itu. Mengurung dirinya dalam gelembung ketidakpercayaan yang telah membesar setelah merasa dikhianati.
“Dia bahagia dengan apa yang bisa dia lakukan sekarang,” kata dia lagi, memaksaku untuk berhenti memaksa.
“Kenapa, Tyas? Kenapa kamu membalas dengan cara seperti ini…,” suaraku bergetar dan tertahan di ujung kalimatku.
---
Padang Pariaman, Mei 2010…
“Bagaimana? sudah bertemu?” tanya Melissa di seberang sana dan aku baru meninggalkan posko relawan Palang Merah yang ada di daerah itu. Dengan berlari, aku menerobos rintik hujan hanya berpayung telapak tangan menuju mobil sewaan.
“Belum…,” jawabku sambil melirik ke ujung jalan yang basah, lalu menengadah. Sudah seminggu ini cuaca menjadi tidak bersahabat. Musim seolah mempunyai aturan sendiri kapan ia akan datang.
“Tapi, kamu dapat informasi dia ada di mana?” tanya Melissa lagi.
Aku menarik nafas sambil menarik pintu mobil dan naik, “Ya, ada di daerah lain yang aku tidak tahu tempatnya di mana,” jelasku.
“Kamu bisa tanya jalan di sepanjang perjalanan,” kata dia.
“Iya, aku tahu,” kataku lalu mematikan telponnya. Dan mengibas-ngibaskan lengan bajuku yang agak basah.
Kembali ke kemudinya, aku menatap lurus ke depan, dan menyalakan mesin. Tidak lama lagi aku akan bertemu dengannya. Aku menginjak gas, melaju lebih cepat dan berhenti beberapa kali di jalan untuk bertanya arah.
Aku melewati jalan di sepanjang pantai yang ada di pesisir Padang Pariaman. Sebuah daerah kabupaten yang terkenal luasnya dan menerima dampak yang besar dari bencana gempa 30 September 2009. Sepanjang jalan aku menemukan rumah-rumah yang rusak dan berganti menjadi tenda-tenda darurat dan rumah sementara dari kayu di mana penghuninya berteduh di bawah terpal yang tampak tidak kuat menahan hujan.
Mobil berkali-kali terguncang di atas jalanan kecil dengan aspal berlubang. Di sebelah kiri adalah pantai yang luas dan terhalang oleh derasnya hujan dan di kanan adalah ladang-ladang petani buah naga dan semangka yang belum siap paneh serta kerbau yang merumput dikubangan dan bahkan ada melenggok di tengah jalan.
Setelah melewati pasar tradisional di daerah yang dinamai Sungai Limau yang ramai pada hari-hari tertentu, aku berbelok ke kanan memasuki jalan kecil yang menembus belantara. Hanya ada beberapa rumah kampung yang jaraknya cukup jauh satu sama lain. Selain karena sempit, jalanan itu juga berliku dan naik turun. Ketika hujan jalanan di perbukitan menjadi lebih gelap. Aku tidak dapat membayangkan Ayu bergumul dengan semua ini selama beberapa bulan belakangan.
Akhirnya, aku tiba di sebuah posko relawan setempat di mana seharusnya Ayu berada. Setelah satu jam lamanya, aku tidak sabar pada suasana sunyi dan lengang ini, aku melihat pemukiman dengan beberapa rumah yang ada di pinggir jalan.
Tapi, aku hanya bertemu seorang bapak-bapak penduduk sekitar untuk bertanya ke mana anak-anak relawan. Posko mereka tampak begitu sepi. Ternyata sudah seminggu rombongan relawan berada di sebuah desa terpencil untuk menyalurkan bantuan.
“Desanya di mana?” aku menanyai pria itu dan terpikir untuk menyusul ke sana.
“Lumayan jauh dari sini, tapi jalan ke sana tidak bisa ditempuh dengan mobil. Apalagi kalau hujan seperti sekarang,” jelas pria itu, dengan bahasa daerahnya yang sangat kental, “Seorang pun tidak akan bisa ke sana karena jalanannya berlumpur. Di sana tidak ada listrik dan jauh dari jangkauan sinyal telpon. Jadi kita semua harus menunggu sampai mereka kembali”
“Kira-kira kapan mereka bisa kembali?” aku bertanya lagi.
“Mereka baru bisa bergerak setelah hujan berhenti,” jelasnya.
Ternyata tidak semudah itu hanya untuk bertemu. Aku kembali ke mobil untuk berpikir lagi. Apa aku akan nekat menembus hujan ini, menjejaki jalanan berlumpur itu untuk memastikan aku benar-benar dapat bertemu dengannya?
Dengan lelah, aku menjatuhkan kepalaku di atas setir. Aku pun harus menunggu lagi. Sambil mengatur nafas, aku memandang ke sebuah rumah yang dijadikan posko relawan dari seberang jalan dan menemukan seseorang keluar dari sana.
Rasanya aku pernah melihat orang itu!
Seorang bocah yang pernah gusar padaku karena aku menjatuhkan barang-barangnya. Pria tua yang tadi kutanyai menghampiri anak itu dan mereka tampak berbicara sebelum pria itu menunjuk ke arah mobil dan anak itu memandangi aku yang baru akan keluar.
“Rombongan sudah kembali dari kemarin,” dia menjelaskan padaku tanpa melepaskan tatapan ingin tahunya dariku. “Mereka langsung ke Padang dan libur selama tiga hari. Mungkin lusa mereka baru balik ke sini lagi. Memangnya ada apa? Abang mencari siapa?”
Aku segera mengambil langkah mundur. “Terima kasih,” ucapku dengan terburu-buru kembali ke mobil. Secepat dan sebisaku, aku menyalakan mesin dan memutar arah, menelusuri kembali jalan yang kutinggalkan. Menuju Padang.
Aku tak peduli dengan rasa lelah akan perjalanan jauh yang belum juga mempertemukanku dengannya. Aku hanya perlu bersabar sebentar lagi.
Ya, sebentar lagi.
---
Ibu Ayu mengernyit, memandangiku heran, ia tampak tidak memenyangka akan kedatanganku yang tiba-tiba. “Ayu tidak ada,” jawab dia, dengan nada yang datar, “Lagipula dia tidak tinggal di sini sejak dia kembali.”
“Apa?” aku cukup terkejut.
“Dia tinggal sendiri di tempat yang tidak jauh dari kantor Palang Merah,” jelas ibu Ayu, “Bagaimana mungkin kamu tidak tahu?”
“Maaf, Bu…,” ucapku sedikit tertegun dan segan, “Saya baru kembali dari Jakarta dua hari yang lalu, dan saya sama sekali belum pernah bertemu Ayu sejak dia hilang.”
Wanita berusia sekitar 40 tahunan itu mengernyit lagi, “Bagaimana bisa?” nadanya mulai skeptis.
“Ayu belum mengabari saya sama sekali…,” aku mengakuinya dengan cukup terpaksa.
“Berarti sudah jelas dia tidak mau bertemu kamu,” katanya, masih dengan nada yang sama. “Saya sudah mendengar banyak cerita tentang kamu. Kamu yang membuat Ayu meninggalkan rumah dan kamu meninggalkan dia begitu saja sebelum gempa bukan?”
“Saya mohon maaf untuk kesalahan saya. Tapi, saya benar-benar harus bertemu dengan Ayu...,” kataku.
“Sebaiknya kamu jangan mencari anak saya lagi, karena saya tidak mau begitu bertemu kamu lagi dia jadi pembangkang lagi. Kami tidak menyukai kamu bukan karena ras atau agama, kami hanya tidak bisa menerima apa yang kamu lakukan pada Ayu sampai dia berubah. Kamu tahu perasaan kami saat tahu Ayu memilih untuk tidak pulang?”
“Saya minta maaf, Bu, tapi saya…,” kata-kataku terpotong.
“Bukannya dia tidak pernah menghubungi kamu? Artinya dia memang tidak mau bertemu kamu,” kata ibu Ayu membungkam mulutku untuk selanjutnya membiarkanku pergi tanpa membawa apa-apa. Kata-katanya sama dengan kata-kata Tyas .
Tapi, tiba-tiba dia memanggilku kembali, “Tunggu!” suaranya menghentikan langkahku yang lelah. Ia masih ingin mengatakan sesuatu. “Kalau kamu bertemu Ayu apa kamu bisa menyuruhnya pulang?”
Aku heran, tidak mengerti dengan maksud pertanyaan itu. Lagipula kenapa aku?
“Anak itu keras kepalanya minta ampun,” katanya, sungguh-sungguh, “Walaupun dia jadi pembangkang sejak mengenal kamu, tapi sepertinya dia lebih mendengarkan kamu dari siapapun karena itu tolong suruh dia pulang ke rumah…”
“Saya…tidak terlalu yakin…dia bahkan tidak ingin bertemu saya…,” kataku, tertunduk, “Dia tidak pernah mengabari saya kalau dia masih hidup…”
Ibu Ayu mengangguk sekali, “Ya kalau kamu bisa meyakinkan dia…,” ucapnya lemah.
Sekalipun dia memang tidak ingin melihatku, tapi memintanya pulang mungkin masih bisa kulakukan. Aku tidak pernah tahu bahwa dia mempunyai keluarga yang seperti ini. Keluarga yang selalu ingin ia berada di antara mereka dan seharusnya Ayu tidak menyia-nyiakan mereka.
---
Suara musik terdengar dari kejauhan. Aku tidak percaya tempat yang dulunya didatangi dengan penuh kesedihan mendalam, malam itu berubah menjadi arena pesta organ tunggal. Orang-orang yang datang ke sana tidak lagi berwajah muram. Mereka tampak bergembira.
Mereka menyanyi, menari, membuat gerakan-gerakan yang aneh. Aku melihat sebuah spanduk yang membentang di depan panggung, World Red Cross Day yang diperingati setiap tanggal delapan Mei. Mereka membuat pesta itu untuk merayakannya.
Aku masih berdiri di seberang jalan. Seperti seorang penonton setia. Menyaksikan segerombolan orang membuat lingkaran yang bergerak memutar dan suara penyanyi dangdut yang terdengar asal-asalan. Keinginanku, untuk menyusup di antara mereka seketika hilang sekali pun aku sudah menemukan sosok yang kurindukan ada di sana.
Barangkali Tyas atau ibu Ayu benar.
Dia sudah tidak membutuhkanku.
Kuingat lagi, saat-saat aku meninggalkannya. Aku sadar kepergianku saat itu terlihat tanpa perasaan. Dia meninggalkan rumah demi bersamaku, dan aku malah menelantarkannya begitu kutemukan hidupku kembali di Jakarta. Aku hanya memberinya janji yang tidak bisa kutepati.
Jika dia merasa bahagia bersama orang lain di sampingnya, maka aku pun harus adil. Jika dia masih ingin bersamaku, bukankah dia akan menemuiku? Mengatakan padaku bahwa ia masih hidup dan ingin bertemu denganku, memulai semuanya dari awal lagi. Tapi, dia tidak pernah melakukannya. Dia lebih suka dianggap mati olehku dengan begitu ia bisa melanjutkan hidupnya, tanpaku.
ooOoo
Komentar
0 comments