๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Home
Jakarta, Desember 2009…
Saat ini, Jakarta sudah tidak tampak seperti ibu tiri yang selalu menyayangi anaknya. Bagiku ia sudah tampak seperti pelarian dari sebuah perang yang tak berkesudahan. Aku juga bahkan tak bisa menganggap Padang adalah tempat untuk pulang. Dengan membawa semua keluargaku meninggalkan pecinan itu, sudah tidak ada gunanya lagi pulang.
Natal tiba dalam kesedihan. Ibuku sudah lebih baik dari sejak kami pertama datang ke sini. Dengan suasana dan lingkungan baru, aku berharap ada perubahan pada diri adik-adikku yang nakal –terutama Achen. Aku memberikan semua yang mereka butuhkan untuk bisa hidup dengan tenang. Memulai lembaran baru.
Tapi, aku masih terperangkap dalam penyesalanku sendiri. Hingga tanpa sadar aku melempar barang dan orang lain harus menerima amukanku. Aku sudah berusaha keras menyembunyikannya dari semua orang. Amarah dan penyesalanku. Seakan itu dapat mengembalikan Ayu. Hingga emosiku sendiri membuatku gila.
Ketika tidak sanggup lagi bertahan, luapan kesedihan itu keluar dalam butiran air mata. Saat itu, aku tidak mengizinkan siapapun ada di dekatku, kecuali Melissa yang tak pernah meninggalkanku. Sejak aku kembali, dan semua orang merinding melihatku, dia berusaha mendekat. Meski aku tahu, bahwa dia hanya memanfaatkan keadaan, jika seandainya dia mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan, -menyingkirkanku dari posisiku, aku tidak peduli.
Aku ingin pergi ke suatu tempat yang jauh. Menenangkan diriku. Karena rasanya sudah begitu lelah menjadi pemarah tanpa sebab, sehingga adik-adikku pun takut padaku dan mereka mulai berpikiran bahwa aku benar-benar sudah gila. Orang-orang di kantor juga takut berhadapan apalagi berbicara denganku.
Saat Mami dan adik-adikku pergi ke gereja untuk kebaktian,-malam yang kudus bagi mereka untuk berdoa dan meminta apa saja pada Tuhan - aku tidak datang untuk berkunjung memberi hadiah. Aku mengambil tiket pesawat kembali ke Padang untuk selanjutnya naik bus menuju Padang Panjang, kampung halaman Ayah di mana ia sekarang berada.
---
Aku menemui ayahku di kampung halamannya, Padang Panjang, yang berjarak 2 jam perjalanan dari kota Padang. Sebuah kota yang diberi nama lain Serambi Mekah. Kota yang dengan jalan utamanya yang sempit dan terkenal dengan pesantrennya.
Ayahku, seorang muslim yang taat. Menikahi ibuku mungkin satu kesalahan besar baginya. Tapi, yang aku tahu ayahku masih sangat mencintai dia dan tidak pernah menikah. Ayah mempunyai empat orang anak yang semuanya terlepas dari tangannya.
Sejak aku menikah dan bercerai dua bulan kemudian aku tidak pernah menginjak rumah ibadah. Ayahku sangat prihatin. Dia melihatku seperti pohon yang merenggas dan akan mati dalam keadaan menyedihkan. Ketika dia bertanya padaku apa yang sebenarnya aku inginkan aku menjawab tidak tahu.
Dia tidak memaksaku pulang ke rumah yang dia tunjukan padaku waktu aku masih bocah. Namun, tidak bisa diingkari, darah seorang muslim mengalir kuat dalam diriku. Mungkin karena aku adalah duplikatnya dan itu seolah kembali menjadi kebanggaan yang sama seperti saat aku masih 7 tahun. Ketika aku mengenakan baju koko dan peci di kepala, serta membasuh wajahku dengan air. Seperti kenangan masa kecil, saat aku dan ayah melangkah menuju masjid yang mengumandangkan adzan.
Akhirnya aku dapat berdoa untuk merelakan seseorang yang telah pergi. Dengan begitu aku bisa kembali pada kehidupanku, demi keluarga yang selalu menantiku kembali.
Ketika aku mengunjungi keluarga besar ayahku, mereka menyambutku dengan sangat biasa. Namun, aku tidak terbiasa berada di lingkungan mereka.
Aku adalah cucu tertua dalam keluarga ayahku. Dan aku mempunyai adik sepupu seorang dokter, Afifa, yang menikah dengan pengusaha kaya. Saat itu, Afifa adalah sosok yang sangat dielukan oleh keluarga. Sedangkan aku hanya seorang karyawan biasa yang baru memulai karirku dari awal lagi.
Jika aku bisa menjadi lebih dari pada Afifa apakah mereka akan menganggapku bagian dari mereka? Tapi, ayah selalu bilang. Darah tidak bisa dilawan. Terlebih aku juga seorang muslim seperti mereka. Aku sudah pasti adalah bagian dari mereka suka atau tidak.
---
Di awal tahun, aku kembali pada pekerjaanku yang menjenuhkan. Bertemu dengan Melissa dan mendengar candaan basinya soal perubahan drastis pada diriku.
“Kamu kurusan, Den,” katanya di sela tawanya, “Seminggu di pesantren, kamu diberi makan apa?”
Aku mengabaikannya, seperti biasa dan dia selalu mengatakan hal-hal yang kadang membuatku tertawa. Melissa terlalu santai dan apa adanya. Seringkali dia berhasil mengalihkan perhatianku dari foto-foto Ayu yang ada di layar komputerku kepada sosoknya yang gila. Pada akhirnya aku membiarkan dia terus bersamaku.
“Kamu tidak pastikan lagi ke posko orang hilang?” tanya Melissa padaku dan dia sengaja datang ke apartemen dengan satu krat soda kalengan.
Aku tersenyum, “Kalau dia masih hidup dia pasti kembali,” jelasku, “Pasti dia memberitahuku kalau dia tidak apa-apa”
“Terus?” Melissa menatapku dengan hati-hati, takut menemukan aku menjadi murung lagi tapi ketika aku tidak berkomentar bahkan tidak bereaksi ia terdengar mendengus, “Dasar, poker-face!” Melissa melompat ke atas sofa, lalu meraih bungkus rokok yang ada di meja.
Aku mengambil remote TV dan mulai mencari tayangan menghibur. Rasanya setiap kali aku mendengar berita tentang Padang, rasa itu timbul. Terlebih berita-berita tentang mukjizat bagi orang yang berhasil selamat dalam ketidakmungkinan. Aku berharap Ayu menjadi salah satu dari mereka.
Tapi, setiap kali aku menghubungi posko orang hilang, mereka tidak bisa memberikan jawabannya. Dan ketika aku membayar orang suruhan untuk mencari tahu di keluarga Ayu, ia juga memberiku hasil yang lebih mengecewakan. Keluarganya benar-benar mengira bahwa Ayu sudah tiada. Mereka menggelar pengajian dan acara keagamaan lain untuk mendoakannya. Sehingga aku pun ikut menyerah.
Bau asap rokok yang membubung tinggi di depan wajah Melissa membuatku tidak nyaman. Dia sedang tiduran di atas sofa dan tampak acuh. Melirikku, dia terlihat amat santai seolah menganggap rumahku adalah rumahnya sendiri.
“Apa?!” celetuknya, “Belum pernah lihat perempuan merokok?”
Harus aku akui, dia cantik. Mempunyai tubuh yang seperti godaan. Masalahnya dia terlalu angkuh dan cuek. Sejak orang-orang mengasihaniku atas hancurnya kampung halamanku, mereka jadi berpikiran bahwa dia adalah kekasihku. Aku hanya tidak percaya berada di dekatnya, aku harus menghadapi ‘penindasan’ kecil dari beberapa atasan yang menginginkan dia.
“Rumah ini membosankan…,” keluhnya menggeliat lalu bangkit, dan membuang puntung rokok ke dalam gelas.
Aku mengernyit, jijik dan dia melihatnya. Masih tetap acuh ia meraih blazer yang tersandar pada sofa untuk memakainya kembali.
“Aku mau pulang,” katanya, melangkah di depanku dengan menenteng tasnya.
Aku berdiri, bermaksud membukakan pintu karena wanita itu memang tidak betah berlama-lama berada di duniaku yang suram. Tapi, tanpa sadar kedua tanganku menariknya kembali.
Melissa tersentak dan aku menutup pintu yang baru terbuka sedikit. Ia membalikan badan untuk melihatku meringis, lalu mengerti bahwa aku tidak bisa ditinggalkan sendirian dalam keadaan seperti ini. Ketika dia memelukku rasanya agak melegakan. Menepuk-nepuk bahuku, Melissa seolah paham bahwa itulah yang kubutuhkan saat ini. Dan satu-satunya hal yang membuatku tidak dapat melepaskan mataku dari tangannya yang membelai wajahku adalah, kulitnya yang kecoklatan mengembalikan Ayu padaku untuk sesaat.
Aku pun benci mengakui bahwa ada sedikit kesamaan di antara mereka.
---
Akhirnya, aku dengan sangat berat hati harus mengantarnya melewati pintu.
Melissa masih tersenyum padaku, dan aku membalasnya. Semua tampak wajar sebelum kami menemukan seseorang tengah memperhatikan kami.
Tyas . Dengan koper-koper yang hendak ia seret ke dalam apartemen, menandakan bahwa ia baru saja kembali dari kegiatan sosialnya. Sudah hampir setengah tahun aku tidak melihatnya.
Dia terlihat lebih kurus dan sederhana. Dia tidak langsung menyapaku, tapi malah memandangi Melissa yang risih. Rautnya menunjukan bahwa ia tampak terganggu, aku mulai antisipasi bahwa dia akan menyindir atau mengatakan hal lain untuk membuatku merasa tidak nyaman. Setahuku, Tyas selalu seperti itu. Mengutarakan apa yang tidak dia inginkan semenyakitkan apapun itu bagi orang lain yang ia tuju.
Tapi, dia tenang-tenang saja, “Hai,” sapa dia, setelah kami saling diam.
Melissa hanya memandangnya, tanpa komentar, dan seperti biasanya, acuh. Lalu menoleh padaku, “Aku pergi dulu ya,” kata dia, melangkah dengan pasti tanpa menengok ke belakang di mana aku terdiam dan Tyas yang masih memelototiku.
“Aku tidak pernah meragukan pesona seorang Dennis,” kata dia, dengan tatapan dingin sebelum kembali menyeret kopernya yang kelihatan berat sekali. Ia sedikit kerepotan saat roda salah satu koper tersangkut pada ujung karpet dan ia mengeluh dengan kesal “Sial!”
Aku mengangkat benda itu dan menaruhnya baik-baik saat Tyas berusaha untuk terus menariknya melewati karpet. “Bagaimana kegiatan sosialnya?” aku mulai berbasa-basi sambil menolongnya mengangkat koper yang satu lagi.
Tyas menghembuskan nafas, sambil bertolak pinggang, ia menatapku serius. Tiba-tiba tersenyum, penuh maksud, “Menyenangkan!” jawab dia, lalu melepaskan jaket sweaternya dan ia menggantungnya di belakang pintu. Kembali menatapku sebentar, ia menggeleng-geleng tidak karuan, “Kamu kelihatan sehat dan terurus sepertinya”
Aku memandangi diriku sendiri sebentar, berharap tidak akan membahas kehidupan pribadiku lagi. Karena aku tahu, Tyas dan kata-katanya itu ibarat pisau tajam yang bisa menyobek apa saja.
“Kamu baik-baik saja kan?” tanya dia, sedikit menghampiri lewat pandangan menelisik pada diriku. Dia terlihat agak aneh. “Bagus…,” gumamnya, berbalik, dan membelakangiku, untuk kembali menoleh membuatku penasaran apa lagi yang akan ia komentari soal pertemuan kembali ini.
Aku merasa bahwa aku harus keluar dari otoritasnya –tempat ini. Aku menyebrangi ruang depan apartemennya dan ketika aku di pintu Tyas sudah duduk di sofa kesayangannya. Matanya masih mengawasi langkahku sebelum kata-katanya yang bagai pisau itu menghentikan langkahku, “Ternyata mudah mencari pengganti setelah kamu hampir gila mencari kekasih kamu yang hilang.”
Aku mengabaikannya dengan melangkah melewati pintu saat Tyas melompat dari sofanya dan aku tertegun karena dia menahan pintunya yang akan menutup.
Dengan senyum itu lagi, dia tampak ingin mempermainkanku, “Kalian putus?” tanya dia.
“Apa maksud kamu?” aku mengernyit.
Tyas tampak berpikir. Ia mengangguk-angguk seperti telah menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan yang sedang ia pikirkan. Lalu menatapku lagi dengan senyum sinis, “Ternyata dia benar soal kamu,” ucapnya.
“Dia siapa?” aku menatapnya serius.
Dia mengibaskan tangannya di depan wajahnya sambil menggeleng dan tertawa pelan, “Sudahlah,” dia berkata, “Sekarang semuanya jadi masuk akal”
“Masuk akal apanya?!” aku menarik lengan Tyas hingga ia keluar dari sarangnya.
Tyas tampak menarik nafas, dan wajahnya –entah mengapa, terlihat senang. “Ternyata sebelum bencana itu sepertinya kalian juga sudah tidak bersama,” dia bertanya.
“Kamu bicara apa, Tyas?”
“Kamu kira aku sedang bicara apa?” balasnya mulai terlihat geram dengan menarik tangannya dariku. Dia menghela nafas lagi, menenangkan dirinya tapi bagiku itu tampak seperti sedang mempermainkanku lagi. Tyas membalikan badannya, demi menghindariku, sebelum ia dengan sengaja ingin menutup pintu. “Urusan pribadi kamu tidak ada hubungannya denganku. Lagipula kamu kelihatannya sudah punya pengganti yang…kalau boleh dibilang agak mirip dengan pacar kamu yang kamu kira sudah mati”
Pintu menutup.
Aku terhenyak pada kata-kata terakhir sebelum aku menggedor-gedor pintu. Menuntut penjelasan lain darinya. Tapi, dia tidak pernah membukanya. Seolah tidak peduli dengan keributan di luar sementara tetangga lain memelototiku dan menyuruhku berhenti.s
Tyas ajaibnya selalu menguasai keadaan.
---
Jakarta, Desember 2009…
Saat ini, Jakarta sudah tidak tampak seperti ibu tiri yang selalu menyayangi anaknya. Bagiku ia sudah tampak seperti pelarian dari sebuah perang yang tak berkesudahan. Aku juga bahkan tak bisa menganggap Padang adalah tempat untuk pulang. Dengan membawa semua keluargaku meninggalkan pecinan itu, sudah tidak ada gunanya lagi pulang.
Natal tiba dalam kesedihan. Ibuku sudah lebih baik dari sejak kami pertama datang ke sini. Dengan suasana dan lingkungan baru, aku berharap ada perubahan pada diri adik-adikku yang nakal –terutama Achen. Aku memberikan semua yang mereka butuhkan untuk bisa hidup dengan tenang. Memulai lembaran baru.
Tapi, aku masih terperangkap dalam penyesalanku sendiri. Hingga tanpa sadar aku melempar barang dan orang lain harus menerima amukanku. Aku sudah berusaha keras menyembunyikannya dari semua orang. Amarah dan penyesalanku. Seakan itu dapat mengembalikan Ayu. Hingga emosiku sendiri membuatku gila.
Ketika tidak sanggup lagi bertahan, luapan kesedihan itu keluar dalam butiran air mata. Saat itu, aku tidak mengizinkan siapapun ada di dekatku, kecuali Melissa yang tak pernah meninggalkanku. Sejak aku kembali, dan semua orang merinding melihatku, dia berusaha mendekat. Meski aku tahu, bahwa dia hanya memanfaatkan keadaan, jika seandainya dia mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan, -menyingkirkanku dari posisiku, aku tidak peduli.
Aku ingin pergi ke suatu tempat yang jauh. Menenangkan diriku. Karena rasanya sudah begitu lelah menjadi pemarah tanpa sebab, sehingga adik-adikku pun takut padaku dan mereka mulai berpikiran bahwa aku benar-benar sudah gila. Orang-orang di kantor juga takut berhadapan apalagi berbicara denganku.
Saat Mami dan adik-adikku pergi ke gereja untuk kebaktian,-malam yang kudus bagi mereka untuk berdoa dan meminta apa saja pada Tuhan - aku tidak datang untuk berkunjung memberi hadiah. Aku mengambil tiket pesawat kembali ke Padang untuk selanjutnya naik bus menuju Padang Panjang, kampung halaman Ayah di mana ia sekarang berada.
---
Aku menemui ayahku di kampung halamannya, Padang Panjang, yang berjarak 2 jam perjalanan dari kota Padang. Sebuah kota yang diberi nama lain Serambi Mekah. Kota yang dengan jalan utamanya yang sempit dan terkenal dengan pesantrennya.
Ayahku, seorang muslim yang taat. Menikahi ibuku mungkin satu kesalahan besar baginya. Tapi, yang aku tahu ayahku masih sangat mencintai dia dan tidak pernah menikah. Ayah mempunyai empat orang anak yang semuanya terlepas dari tangannya.
Sejak aku menikah dan bercerai dua bulan kemudian aku tidak pernah menginjak rumah ibadah. Ayahku sangat prihatin. Dia melihatku seperti pohon yang merenggas dan akan mati dalam keadaan menyedihkan. Ketika dia bertanya padaku apa yang sebenarnya aku inginkan aku menjawab tidak tahu.
Dia tidak memaksaku pulang ke rumah yang dia tunjukan padaku waktu aku masih bocah. Namun, tidak bisa diingkari, darah seorang muslim mengalir kuat dalam diriku. Mungkin karena aku adalah duplikatnya dan itu seolah kembali menjadi kebanggaan yang sama seperti saat aku masih 7 tahun. Ketika aku mengenakan baju koko dan peci di kepala, serta membasuh wajahku dengan air. Seperti kenangan masa kecil, saat aku dan ayah melangkah menuju masjid yang mengumandangkan adzan.
Akhirnya aku dapat berdoa untuk merelakan seseorang yang telah pergi. Dengan begitu aku bisa kembali pada kehidupanku, demi keluarga yang selalu menantiku kembali.
Ketika aku mengunjungi keluarga besar ayahku, mereka menyambutku dengan sangat biasa. Namun, aku tidak terbiasa berada di lingkungan mereka.
Aku adalah cucu tertua dalam keluarga ayahku. Dan aku mempunyai adik sepupu seorang dokter, Afifa, yang menikah dengan pengusaha kaya. Saat itu, Afifa adalah sosok yang sangat dielukan oleh keluarga. Sedangkan aku hanya seorang karyawan biasa yang baru memulai karirku dari awal lagi.
Jika aku bisa menjadi lebih dari pada Afifa apakah mereka akan menganggapku bagian dari mereka? Tapi, ayah selalu bilang. Darah tidak bisa dilawan. Terlebih aku juga seorang muslim seperti mereka. Aku sudah pasti adalah bagian dari mereka suka atau tidak.
---
Di awal tahun, aku kembali pada pekerjaanku yang menjenuhkan. Bertemu dengan Melissa dan mendengar candaan basinya soal perubahan drastis pada diriku.
“Kamu kurusan, Den,” katanya di sela tawanya, “Seminggu di pesantren, kamu diberi makan apa?”
Aku mengabaikannya, seperti biasa dan dia selalu mengatakan hal-hal yang kadang membuatku tertawa. Melissa terlalu santai dan apa adanya. Seringkali dia berhasil mengalihkan perhatianku dari foto-foto Ayu yang ada di layar komputerku kepada sosoknya yang gila. Pada akhirnya aku membiarkan dia terus bersamaku.
“Kamu tidak pastikan lagi ke posko orang hilang?” tanya Melissa padaku dan dia sengaja datang ke apartemen dengan satu krat soda kalengan.
Aku tersenyum, “Kalau dia masih hidup dia pasti kembali,” jelasku, “Pasti dia memberitahuku kalau dia tidak apa-apa”
“Terus?” Melissa menatapku dengan hati-hati, takut menemukan aku menjadi murung lagi tapi ketika aku tidak berkomentar bahkan tidak bereaksi ia terdengar mendengus, “Dasar, poker-face!” Melissa melompat ke atas sofa, lalu meraih bungkus rokok yang ada di meja.
Aku mengambil remote TV dan mulai mencari tayangan menghibur. Rasanya setiap kali aku mendengar berita tentang Padang, rasa itu timbul. Terlebih berita-berita tentang mukjizat bagi orang yang berhasil selamat dalam ketidakmungkinan. Aku berharap Ayu menjadi salah satu dari mereka.
Tapi, setiap kali aku menghubungi posko orang hilang, mereka tidak bisa memberikan jawabannya. Dan ketika aku membayar orang suruhan untuk mencari tahu di keluarga Ayu, ia juga memberiku hasil yang lebih mengecewakan. Keluarganya benar-benar mengira bahwa Ayu sudah tiada. Mereka menggelar pengajian dan acara keagamaan lain untuk mendoakannya. Sehingga aku pun ikut menyerah.
Bau asap rokok yang membubung tinggi di depan wajah Melissa membuatku tidak nyaman. Dia sedang tiduran di atas sofa dan tampak acuh. Melirikku, dia terlihat amat santai seolah menganggap rumahku adalah rumahnya sendiri.
“Apa?!” celetuknya, “Belum pernah lihat perempuan merokok?”
Harus aku akui, dia cantik. Mempunyai tubuh yang seperti godaan. Masalahnya dia terlalu angkuh dan cuek. Sejak orang-orang mengasihaniku atas hancurnya kampung halamanku, mereka jadi berpikiran bahwa dia adalah kekasihku. Aku hanya tidak percaya berada di dekatnya, aku harus menghadapi ‘penindasan’ kecil dari beberapa atasan yang menginginkan dia.
“Rumah ini membosankan…,” keluhnya menggeliat lalu bangkit, dan membuang puntung rokok ke dalam gelas.
Aku mengernyit, jijik dan dia melihatnya. Masih tetap acuh ia meraih blazer yang tersandar pada sofa untuk memakainya kembali.
“Aku mau pulang,” katanya, melangkah di depanku dengan menenteng tasnya.
Aku berdiri, bermaksud membukakan pintu karena wanita itu memang tidak betah berlama-lama berada di duniaku yang suram. Tapi, tanpa sadar kedua tanganku menariknya kembali.
Melissa tersentak dan aku menutup pintu yang baru terbuka sedikit. Ia membalikan badan untuk melihatku meringis, lalu mengerti bahwa aku tidak bisa ditinggalkan sendirian dalam keadaan seperti ini. Ketika dia memelukku rasanya agak melegakan. Menepuk-nepuk bahuku, Melissa seolah paham bahwa itulah yang kubutuhkan saat ini. Dan satu-satunya hal yang membuatku tidak dapat melepaskan mataku dari tangannya yang membelai wajahku adalah, kulitnya yang kecoklatan mengembalikan Ayu padaku untuk sesaat.
Aku pun benci mengakui bahwa ada sedikit kesamaan di antara mereka.
---
Akhirnya, aku dengan sangat berat hati harus mengantarnya melewati pintu.
Melissa masih tersenyum padaku, dan aku membalasnya. Semua tampak wajar sebelum kami menemukan seseorang tengah memperhatikan kami.
Tyas . Dengan koper-koper yang hendak ia seret ke dalam apartemen, menandakan bahwa ia baru saja kembali dari kegiatan sosialnya. Sudah hampir setengah tahun aku tidak melihatnya.
Dia terlihat lebih kurus dan sederhana. Dia tidak langsung menyapaku, tapi malah memandangi Melissa yang risih. Rautnya menunjukan bahwa ia tampak terganggu, aku mulai antisipasi bahwa dia akan menyindir atau mengatakan hal lain untuk membuatku merasa tidak nyaman. Setahuku, Tyas selalu seperti itu. Mengutarakan apa yang tidak dia inginkan semenyakitkan apapun itu bagi orang lain yang ia tuju.
Tapi, dia tenang-tenang saja, “Hai,” sapa dia, setelah kami saling diam.
Melissa hanya memandangnya, tanpa komentar, dan seperti biasanya, acuh. Lalu menoleh padaku, “Aku pergi dulu ya,” kata dia, melangkah dengan pasti tanpa menengok ke belakang di mana aku terdiam dan Tyas yang masih memelototiku.
“Aku tidak pernah meragukan pesona seorang Dennis,” kata dia, dengan tatapan dingin sebelum kembali menyeret kopernya yang kelihatan berat sekali. Ia sedikit kerepotan saat roda salah satu koper tersangkut pada ujung karpet dan ia mengeluh dengan kesal “Sial!”
Aku mengangkat benda itu dan menaruhnya baik-baik saat Tyas berusaha untuk terus menariknya melewati karpet. “Bagaimana kegiatan sosialnya?” aku mulai berbasa-basi sambil menolongnya mengangkat koper yang satu lagi.
Tyas menghembuskan nafas, sambil bertolak pinggang, ia menatapku serius. Tiba-tiba tersenyum, penuh maksud, “Menyenangkan!” jawab dia, lalu melepaskan jaket sweaternya dan ia menggantungnya di belakang pintu. Kembali menatapku sebentar, ia menggeleng-geleng tidak karuan, “Kamu kelihatan sehat dan terurus sepertinya”
Aku memandangi diriku sendiri sebentar, berharap tidak akan membahas kehidupan pribadiku lagi. Karena aku tahu, Tyas dan kata-katanya itu ibarat pisau tajam yang bisa menyobek apa saja.
“Kamu baik-baik saja kan?” tanya dia, sedikit menghampiri lewat pandangan menelisik pada diriku. Dia terlihat agak aneh. “Bagus…,” gumamnya, berbalik, dan membelakangiku, untuk kembali menoleh membuatku penasaran apa lagi yang akan ia komentari soal pertemuan kembali ini.
Aku merasa bahwa aku harus keluar dari otoritasnya –tempat ini. Aku menyebrangi ruang depan apartemennya dan ketika aku di pintu Tyas sudah duduk di sofa kesayangannya. Matanya masih mengawasi langkahku sebelum kata-katanya yang bagai pisau itu menghentikan langkahku, “Ternyata mudah mencari pengganti setelah kamu hampir gila mencari kekasih kamu yang hilang.”
Aku mengabaikannya dengan melangkah melewati pintu saat Tyas melompat dari sofanya dan aku tertegun karena dia menahan pintunya yang akan menutup.
Dengan senyum itu lagi, dia tampak ingin mempermainkanku, “Kalian putus?” tanya dia.
“Apa maksud kamu?” aku mengernyit.
Tyas tampak berpikir. Ia mengangguk-angguk seperti telah menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan yang sedang ia pikirkan. Lalu menatapku lagi dengan senyum sinis, “Ternyata dia benar soal kamu,” ucapnya.
“Dia siapa?” aku menatapnya serius.
Dia mengibaskan tangannya di depan wajahnya sambil menggeleng dan tertawa pelan, “Sudahlah,” dia berkata, “Sekarang semuanya jadi masuk akal”
“Masuk akal apanya?!” aku menarik lengan Tyas hingga ia keluar dari sarangnya.
Tyas tampak menarik nafas, dan wajahnya –entah mengapa, terlihat senang. “Ternyata sebelum bencana itu sepertinya kalian juga sudah tidak bersama,” dia bertanya.
“Kamu bicara apa, Tyas?”
“Kamu kira aku sedang bicara apa?” balasnya mulai terlihat geram dengan menarik tangannya dariku. Dia menghela nafas lagi, menenangkan dirinya tapi bagiku itu tampak seperti sedang mempermainkanku lagi. Tyas membalikan badannya, demi menghindariku, sebelum ia dengan sengaja ingin menutup pintu. “Urusan pribadi kamu tidak ada hubungannya denganku. Lagipula kamu kelihatannya sudah punya pengganti yang…kalau boleh dibilang agak mirip dengan pacar kamu yang kamu kira sudah mati”
Pintu menutup.
Aku terhenyak pada kata-kata terakhir sebelum aku menggedor-gedor pintu. Menuntut penjelasan lain darinya. Tapi, dia tidak pernah membukanya. Seolah tidak peduli dengan keributan di luar sementara tetangga lain memelototiku dan menyuruhku berhenti.s
Tyas ajaibnya selalu menguasai keadaan.
---
Komentar
0 comments