[Hal.22] [Ch.12] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Pintu itu tertutup. Aku berdiri selama kurang dari semenit dengan terus mengetuknya. Berharap seseorang akan membukakannya untukku, -kalau perlu, itu Ayu yang tidak kekurangan sesuatu apapun pada dirinya.

Kubayangkan dia memanggil namaku –Alan, dengan wajah gembira. Meredakan ketakutanku. Tapi, pintu itu tidak kunjung terbuka.

Aku menghela nafas panjang. Tidak ada siapa-siapa di rumah.

Aku mencoba melihat menembus jendela kaca gelap yang terkunci. Tapi, seisi rumah terhalang oleh gorden yang menutup habis setiap jengkal jendela.

Memang tak seorang pun penghuni di dalamnya. Ke mana mereka?

Aku dengan sedikit putus asa, menjauh dari pintu. Lalu menemukan seorang wanita yang menatapku asing. Dia bukan ibunya Ayu. Dengan tatapan mencurigai, ia menghampiriku.

“Cari siapa?” dia menegurku, tanpa melepaskan pandangan mencurigai itu.

Aku memperhatikannya beberapa saat dan kepalaku masih kosong. “Saya temannya Ayu…,” jawabku.

“Orangnya sedang tidak ada di rumah,” kata wanita yang pasti adalah tetangga yang kebetulan melihatku.

“Mereka ke mana?” tanyaku.

Menghela nafas, ia menatapku sedih, “Sejak gempa, Ayu belum kembali,” jelas wanita itu, “Dia hilang”

“Hilang?”

“Sekarang semua orang masih mencarinya,” lanjut wanita itu dan aku masih hidup walau sempat tak dapat bernafas beberapa saat. “Setiap hari mereka datang ke posko orang hilang untuk memastikan kalau Ayu ditemukan.

---

Kata-katanya masih terngiang dalam pikiranku yang kacau.

"Cina itu identitas kamu"; kata Ayu. "Maksudku siapa yang peduli kamu Cina? Orang-orang yang kamu kenal tidak akan selalu mempermasalahkan itu... Mami kamu Cina, adik-adik kamu lebih terlihat seperti Tionghwa daripada pribumi. Kalau kamu tidak mengakui itu sama artinya kamu tidak mengakui mereka."

Aku masih terus memikirkannya. Terakhir kita bisa bertemu dan aku masih menjadi Alan, masih membekas dalam ingatanku. Saat dia berdiri di jendela yang terbuka. Dia menghindar untuk sekedar mempermainkanku. Dan aku tahu sekitar kami jadi berantakan ketika dia mulai berlari dan aku menangkapnya. Dia melemparku dengan bantal dan mencibirku.

Aku sedang berpikir keras. Sampai aku merasakannya kedua tangannya memelukku.

Aku bersumpah dengan nyawaku tidak akan lagi melakukan hal yang bodoh sampai saat aku bisa menjemputnya.

"Kenapa tidak tinggal di sini saja?” tanya dia.

"Aku tidak bisa, Ayu...,” jawabku berujar. "Hanya di Jakarta aku bisa hidup"

"Hm...kamu lebih sayang Jakarta daripada aku..."

"Kata siapa?"

Dia tertawa, "Berapa lama lagi aku harus menunggu kamu?” tanya dia.

Ayu menjauh dariku dan merajuk. Aku pusing setiap kali dia memandangku dengan merengut. Aku hanya mampu memeluknya tapi kali ini aku bersumpah tidak akan membiarkan siapapun masuk dalam hidupku.

Setiap kali berpisah dengannya, aku merasa sedih. Kerinduan padanya akan terasa lebih berat bagiku.

Sekarang, bahkan aku tak bisa bertemu dengannya lagi.

---

“Alan?” suara yang menarikku keluar dari lamunan itu membuatku terperangah.

Aku tidak tahu entah sudah berapa lama aku duduk diam dan terus memikirkan ke mana lagi aku harus pergi mencarinya. Tanganku tidak bisa berhenti gemetaran. Setelah melihat sendiri bagaimana rumah tempat ia menghabiskan sepanjang hari dengan menungguku. Gempa menyisakan tiang-tiang yang bengkok dan puing-puing yang menewaskan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Ayah menggenggam bahuku. “Setiap orang membutuhkan doa saat ini,” ujarnya, sambil duduk di sampingku, menghadap dinding lorong rumah sakit.

Aku menoleh padanya, hendak bertanya, doa seperti apa yang bisa mengembalikan Ayu? Tapi, aku bahkan malu bahwa selama ini aku hidup tanpa mempercayai apapun. Dan entah bagaimana mungkin doaku didengarkan.

“Apapun yang kamu rasakan sekarang, hanya ada satu tempat untuk mengadu. Dan kamu harus percaya bahwa semua yang terjadi adalah rencana Tuhan untuk semua orang termasuk kamu, Alan,” dia berkata, sebelum berdiri dan sekali lagi menepuk bahuku. Lalu pergi.

Aku memperhatikan langkah tenang ayah meninggalkanku sendirian. Aku kembali tertunduk. Sebelum aku bangkit lagi dan meninggalkan rumah sakit dengan tergesa-gesa.

Ayu tidak mungkin meninggalkanku!

---

Aku menyelip di antara orang-orang yang berkerumun di depan papan pengumuman di mana foto-foto dan daftar orang hilang terpapang. Mereka tampak tidak sabar untuk melihat apakah anggota keluarga mereka sudah ditemukan.

Dan di antara orang-orang itu, aku melihat mereka –keluarga Ayu yang tengah berbicara dengan beberapa relawan. Aku segera keluar dari kerumunan untuk menghampiri mereka. Reaksi mereka ketika melihatku adalah terkejut.

Aku berpikir untuk mengatakan sesuatu yang wajar, tapi mereka hanya memperlihatkan ekspresi sedih dan bahkan ibunya tampak ingin menangis. Dengan mengabaikanku, ibu Ayu berlalu didampingi oleh ayahnya yang juga tidak mengatakan sesuatu padaku.

Tapi, kakak perempuan Ayu masih di sana, dan dia menghampiriku. “Evakuasinya belum selesai,” dia menjelaskan, “Masih ada beberapa orang yang terjebak di dalam reruntuhan…tapi tidak tahu apa masih hidup atau sudah…”

Dia tidak dapat menahan air matanya, dan sesaat kemudian juga pergi bersama seorang pria yang bersamanya dan dua orang anak kecil yang masih menangis.

Wajahnya perlahan pudar dalam ingatanku. Suara-suara di sekitarku seperti gemuruh. Kepalaku berdenyut. Aku benar-benar sudah tidak dapat berpikir. Hingga tiba-tiba aku menemukan seseorang yang amat kukenali tengah melangkah ke arahku.

Jika saja dia adalah Ayu alangkah baiknya.

Tapi, sejak turun dari pesawat aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih padanya karena dia yang membawaku pulang.

“Kamu mencari orang hilang?” dia bertanya padaku.

Aku tidak menjawab, berusaha menatap ke segala arah kecuali wajahnya. Karena aku tidak dapat lagi menahan kesedihan berupa tangis yang tidak ingin kuperlihatkan pada siapapun, apalagi Tyas .Dan mataku menemukan barisan anak-anak muda yang mengenakan atribut Palang Merah dan menunggu instruksi dari ketua mereka. Aku melihat mereka di mana-mana dan jadi mempertanyakan dari mana anak-anak itu datang?

 Tyas  juga mengenakan atribut yang sama. Tampaknya semua kalangan bisa bergabung menjadi relawan mengingat mereka sangat dibutuhkan dalam jumlah banyak. Setelah dipikir lagi, memang tak ada yang bisa menutup mata mereka dari apa yang mereka lihat saat ini. Rasanya aku begitu egois karena hanya memikirkan diri sendiri.

“Jadi pacar kamu belum ditemukan?” tanya dia lagi dan aku masih tertunduk diam. “Semua orang kehilangan banyak, Den. Aku juga. Teman-teman lama, rumah tempat aku lahir dan dibesarkan…tapi, melihat di luar sana ada orang yang kehilangan lebih banyak dari kita, aku merasa tidak ada gunanya untuk terus merasa sedih”

“Dia masih hidup,” kataku, “Dia belum mati…”

“Tidak ada yang tahu, Dennis,” katanya. Sambil berdiri, “Aku mau ke Pariaman. Soalnya di sana lebih parah daripada di sini. Kalau kamu yakin dia masih hidup, kenapa kamu tidak cari sampai menemukannya?”

 Tyas  menghilang dalam barisan relawan yang hendak berangkat. Mereka semua tampak sama.

“Aduh, maaf!” seseorang membuat perhatianku teralihkan dari kerumunan anak-anak mahasiswa yang sedang mendaftar jadi relawan.

Aku melihat seorang bocah, kurus dan tinggi yang dengan membawa dus dan baru saja menabrakku. Ia mengenakan atribut yang sama dan kelihatan buru-buru memunguti isi kardus yang jadi berserakan.

“Radhi!!” suara lain terdengar memanggil tidak jauh dari tempatku terdiam memandangi anak itu mengumpulkan kertas-kertasnya dan memasukannya kembali ke dalam kardus.

Anak itu menoleh ke asal suara yang ada di belakangnya, di mana terlihat seorang gadis yang menyandang satu ransel besar di punggungnya dan tampak tidak sabar. “Iya! Iya!” sahutnya sebal. Begitu barang-barangnya selesai dikumpulkan, ia segera berlari ke arah gadis itu. Sekali menoleh ke belakang, ke arahku, dalam langkahnya yang cepat, ia memperlihatkan wajah gusar.

Mungkin karena salahku yang membuatnya menjatuhkan barang-barang berharganya dan aku malah berdiri saja memperhatikannya.

Mereka berdua berjalan terburu-buru keluar dan menuju sebuah Toyota Land Cruiser putih yang parkir di depan gerbang kantor dan sudah memuat banyak barang di atasnya.

Seorang pria tampak membantu anak itu memindahkan barang bawaannya ke dalam mobil. Dengan tergesa-gesa juga mereka naik ke mobil. Aku memperhatikan mobil itu melaju hingga tidak terlihat lagi dan seketika semuanya menjadi gelap.

---

Setiap aku kembali ke sana, aku hanya mendapatkan jawaban yang sama. Aku menghabiskan jam-jam dengan menunggu hingga evakuasi dihentikan, aku tak ingin lagi kembali ke posko orang hilang. Terakhir kalinya aku ada di sana, aku mendapatkan kepastian bahwa dia sudah meninggal, hilang bersama ratusan nyawa lainnya..

“Kenapa kita semua harus pindah ke Jakarta?” Gina terdengar tidak setuju.

“Mami harus mendapatkan pengobatan yang lebih baik,” kata Ivana berujar

Gina menghampiri aku yang berdiri di dekat jendela dan tengah menerawang keluar. “Bang!” ia masih ingin memprotes keputusanku, “Gina tidak mau pindah ke Jakarta! Gina masih mau di sini”

Aku tidak menjawab. Bahkan tidak menoleh sedikitpun pada mereka. Aku hanya tidak ingin dibantah. Tidak ingin bernegosiasi dengan adik-adikku yang tentu akan membangkang.

Ivana mendekat, “Di sini kita tidak punya rumah lagi, Gina…,” katanya setengah memohon, “Mami harus diobati…”

Gina menggeleng-geleng, “Aku tidak mau…,” katanya, “Apa yang bisa kita lakukan di Jakarta?”

Aku tahu berat baginya untuk meninggalkan kota ini; di mana kehidupannya berada.

Aku menatap keduanya, “Tiga hari lagi kita berangkat. Semuanya harus siap-siap. Achen juga.,” kataku dengan tegas, “Semuanya harus pergi”

Berat rasanya melangkahkan kakiku keluar dari kamar tempat Mami masih terbaring lemah. Kepalaku kosong. Kakiku terus melangkah tanpa tujuan dan tanganku masih gemetaran.

Dia bilang bahwa dia tidak bisa hidup tanpaku. Dia bilang bahwa aku adalah satu-satunya alasan baginya untuk terus hidup. Dia bilang apapun yang terjadi tidak akan mengubah semuanya. Tapi, kenapa dia malah meninggalkanku sendiri?

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments