๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
30 September
Jakarta, September 2009…
Aku menghembuskan nafas panjang lega. Akhirnya aku bisa sendirian setelah rapat berjam-jam yang membosankan.
Lift berhenti. Aku keluar dan disambut oleh hiruk pikuk dunia kerja yang sibuk. Aku melewati beberapa meja juga orang-orang yang langsung memperhatikanku begitu aku berpapasan dengan mereka –terutama perempuan. Seakan aku adalah sebuah titik merah pada kertas putih.
Tanpa ekspresi, aku melewati mereka begitu saja. Aku harus terlihat begitu angkuh dan sombong di hadapan semua orang. Mereka memanggilku poker-face. Namun aku tidak peduli dengan julukan itu meski agak meresahkan ketika semua orang berpikir aku tidak berperasaan.
Tapi, aku mulai merasa lelah dengan apa yang aku lakukan. Seperti hari ini.
Ketika rapat membuang waktuku sehingga aku tidak bisa hanya untuk dapat melamun sebentar. Melarikan diri dari kantor ini. Aku berencana kembali ke Padang karena lagi-lagi aku ingkar janji pada Ayu. Sudah sebulan aku di sini, tidak mendapatkan kesempatan untuk kabur karena ternyata pekerjaanku sangat banyak.
Aku duduk di kursiku. Menghembuskan nafas panjang. Menyadari, begitu melihatku pasti ia akan mengabaikanku. Karena aku egois. Aku memaksanya mempercayai bahwa aku akan kembali secepatnya–kuakui, aku tidak memberikan perhatian yang cukup padanya. Karena pekerjaan ini.
"Ini bukan pertama kalinya kamu menghindari aku dengan cara seperti itu, Dennis!” seorang wanita masuk tanpa mengetuk pintu.
Dia mengacaukan ketenangan yang baru kurang dari semenit aku rasakan setelah jam-jam melelahkan dalam rapat, juga dengannya. Dia selalu melakukan itu sesuka hatinya dan aku hampir tidak pernah merasa tenang sejak kesalahpahaman itu dimulai.
"Aku lelah, Mel,” kataku padanya, acuh tak acuh. Aku menemukan laptopku di atas meja dan aku menjadi begitu pelupa karena meninggalkannya di sana sejak tadi.
Melissa, wanita itu menghampiriku, seperti biasa saat dia pikir dirinya bisa menenangkanku. Aku tidak menghindarinya bukan karena aku sengaja. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana lagi menghindarinya. Dia, Tyas dan Sania seolah berkonspirasi untuk menghancurkanku, meski mereka tidak pernah saling kenal.
Aku sering terlibat situasi di mana dia menjadi begitu offensif dan aku amat defensif. Aku tidak dalam hubungan yang dekat dengannya sehingga aku bisa dengan begitu dingin menghadapinya. Bukan kemauanku. Kami bersaing untuk satu posisi penting dan dia tampak mencari celah sekecil apapun itu untuk menemukan kelemahanku.
---
“Wow, aku tidak tahu kalau ternyata kamu punya pacar juga,” suara Melissa mengangetkanku.
Aku menoleh ke belakang di mana dia sudah berdiri dan menengok ke layar komputerku sambil cekikikan. Menemukan gambar aku dan Ayu yang sedang tertawa.
“Ya Tuhan, kamu benar-benar tidak bisa ditebak ya,” komentarnya sambil melangkah, melewati meja dan duduk di sofa dengan santai. Melirikku, dia tampak tidak peduli aku merasa sangat terganggu dengan kehadirannya. “Poker-face yang bisa senyum-senyum sendiri gara-gara foto”
“Kamu keberatan soal itu?” balasku.
Melissa tersenyum sinis, menggelengkan kepalanya, dia tampak sedikit melecehkanku. “Dasar pacar yang tidak setia,” celetuknya sambil berdiri. Melangkah dengan pelan menyebrangi ruangan hingga bertemu bibir jendela. Dia menatap keluar dengan bosan sebelum menoleh padaku.
Aku masih duduk di kursiku, memandang ke layar komputer. Membolak-balik apa yang aku punya dengan Ayu sebelum aku meninggalkannya dan aku jadi semakin merindukannya hingga tidak peduli Melissa terus menertawaiku.
“Semua orang menunggu dengan siapa si poker-face menikah. Kamu sama sekali tidak kepikiran?” tanya dia. “Anak baru yang beruntung…”
“Menikah?” aku tertawa pelan, “Dengan siapa aku mau menikah itu tidak ada urusannya dengan mereka apa lagi kamu”
Melissa mendengus, terlihat gusar namun ia masih menertawaiku, “Aku tau tipe orang seperti kamu, Dennis,” katanya, “Kamu tidak akan puas hanya dengan satu orang, ya kan?’
Aku tertawa satu kali, “Oh ya?” balasku, menghampiri dia yang tampak menunggu aku mendekat, “Bagaimana kamu tahu?”
“Tebakan,” jawabnya santai dan acuh, sambil melempar pandangan keluar melewati jendela. “Karena kamu selalu kelihatan tersiksa”
Tersiksa?
Aku berdehem, “Tersiksa yang bagaimana?” tanyaku dan dia masih tersenyum misterius.
Melissa menatapku lekat-lekat, ketika ujung jarinya berusaha menyentuh wajahku, dia merasa bahwa wajah cantiknya akan mengalihkan perhatianku dari apa yang membuatku senang.
“Kamu mau dipecat?” tanyaku, datar dan dingin.
Air mukanya seketika berubah. Alisnya terangkat dan ia menatapku seakan ingin aku mengulang kata-kataku sekali lagi untuk meyakinkannya bahwa aku tidak sedang bermain-main.
“Jangan buat aku punya kesempatan untuk menyingkirkan kamu dari sini, Mel,” kataku, “Karena dari awal aku memang benar-benar tidak suka”
Aku kembali ke kursiku.
Melissa masih tertegun. Sebelum senyum sombong kembali terukir di bibirnya. “Apa hebatnya kamu?” balas dia, “Kamu bisa duduk di sini, karena kamu sama dengan mereka. Cina”
Aku hanya memperhatikannya pergi, menyebrangi ruangan menuju pintu, hingga tidak terlihat lagi. Kata-kata terakhirnya membuatku geram. Meski aku tidak mengingkari. Sudah lama sekali, tidak ada orang yang mengungkit-ungkit masalah itu. Tapi, apa yang dikatakan Melissa sebenarnya hanya untuk mengangguku karena dia selalu membenciku.
Aku mulai lelah dengan semuanya.
---
Aku memutuskan untuk pulang sekitar jam tujuh malam. Setiap ruangan sudah kosong, aku keluar sendirian dan entah mengapa perasaanku tidak enak. Aku memandang layar handphone-ku, mencari-cari nama Ayu di dalam lift. Begitu aku keluar, dan tiba di parkiran, aku hanya mendengar suara operator.
Aku mencobanya sekali lagi. Dan masih sama. Perasaanku masih tidak enak. Sambil berjalan melintasi area parkir menemukan mobilku, aku terus mencoba menelpon, setidaknya sampai berkali-kali dan aku mulai kesal. Hingga aku melewati pos sekuriti dan aku menangkap basah beberapa orang sekuriti malah sibuk menonton TV.
Terpikir untuk menegur mereka, aku menghampiri hingga salah seorang dari mereka menyadari kedatanganku.
“Pak Dennis?” dia cukup terkejut.
“Mobil saya mana?” aku bertanya dengan nada cukup serius.
“Sebentar, Pak,” katanya sambil mencarikan kunci dan beberapa rekannya yang lain segera bubar. Hingga aku dapat melihat tayangan apa yang membuat mereka meninggalkan tugas.
Gempa 7.6 skala richter mengguncang Sumatera Barat pada jam 5 sore hari ini.
---
Seseorang mengetuk pintu rumahku.
Aku membukanya tanpa menduga-duga siapa yang datang pada saat aku hampir mati karena ketakutan.
Tyas . Dengan wajahnya yang lesu dan sedih.
“Kamu mau pulang ke Padang?” tanya dia, dengan tangis tertahan.
Sejak kemarin aku tidak bisa menghubungi siapapun. Seolah gempa itu membuat Padang dan sekitarnya ditutupi kubah tak terlihat yang tidak bisa ditembus oleh apapun termasuk sinyal telpon. Aku tidak bisa bicara dengan mereka. Sementara semua jadwal penerbangan penuh hingga aku tidak mendapatkan tiket pulang.
“Aku ikut tim relawan yang mau berangkat ke Padang,” jelas dia, “Karena tidak semua orang bisa pulang sekarang, aku pikir aku bisa bantu kamu…”
Aku tidak tahu harus bagaimana. Hampir menangis, aku hanya bisa memeluk dan dia juga tidak bisa berhenti meneteskan air mata ketakutan. Semua orang merasakan duka itu, hingga penjuru dunia juga.
Malam itu juga, aku meninggalkan Jakarta. Ketika semua orang berdoa, aku tidak tahu harus bagaimana. Di dalam pesawat yang isinya ada bermaca-macam orang, aku merasa bingung. Di sebelahku, ada seorang perempuan yang mengatupkan tangannya dan di belakang, ada seorang lelaki yang berdzikir.
Aku pun ingin berdoa seperti mereka, tapi dengan nama manakah aku akan memanggil Tuhan?
---
Semua kenangan itu telah musnah. Menyatu dalam reruntuhan. Masa kecil dan masa remaja yang dulu kuanggap terkutuk sekarang hanya tinggal dalam kilas balik yang terputus-putus dalam kepalaku. Saat ini, aku begitu merindukan semuanya tapi aku tidak bisa memanggil kembali ingatan itu. Yang aku tahu, semua yang dulu sangat kubenci dari kota itu telah lenyap.
Aku tidak pernah tahu hal-hal itu akan menjadi begitu berharga setelah tidak ada. Larut bersama kesedihan yang tidak bisa kukatakan.
“Bang,” suara yang menegurku membangunkan aku dari apa yang tersisa di benakku tentang rumah dan pecinan itu.
Aku menengadah dan menemukan Achen menyodorkan satu kaleng soda untukku. Lalu ia ikut duduk di sampingku, menghadap dinding lorong rumah sakit yang baru kosong setelah ditinggalkan oleh korban yang meninggal beberapa jam yang lalu; seorang wanita hamil yang mengalami pendarahan.
Kutoleh ke samping di mana orang-orang berwajah kusut dan bermata sayu, lalu kipas angin yang berputar menyebarkan bau obat, disinfektan serta bau busuk yang entah dari mana asalnya. Orang-orang melangkah melewati kami, dengan cepat mereka berlalu seperti angin. Aku melirik Achen yang duduk bersandar dengan melipat kaki dan tertunduk di antara kedua lututnya.
Di hari ketiga setelah bencana, ibuku belum sadarkan diri setelah terjebak selama beberapa jam dalam reruntuhan rumah kami. Kepalanya terluka dan meneteskan banyak darah. Setelah mendapat transfusi darah, ia masih belum stabil. Dan tanganku masih belum bisa berhenti gemetaran.
Samar-samar dari kejauhan aku mendengar suara-suara orang memanggil nama seseorang. Hingga aku menemukan seorang remaja yang mengenakan atribut Palang Merah melintas di depan kami. Aku memandanginya hingga ia menghilang di ujung lorong begitu juga dengan suaranya yang kembali terdengar samar-samar hingga menghilang.
Lalu suasana kembali seperti semula dan saat itulah aku lihat seseorang tengah menuju ke arah kami. Seorang pria paruh baya yang sebagian rambutnya telah memutih.
Aku segera bangkit untuk menghampirinya. Tanpa menyapa, tanpa bicara, aku dapat membaca pikirannya lewat raut wajahnya. Dengan tatapan sedih yang pilu, aku memeluk ayahku yang datang dengan perasaan cemas.
Lalu adik-adik perempuanku muncul dan berteriak sambil menangis.
“Ayah?!” keduanya berlari ke arah kami. Ivana dan Gina yang berwajah pucat juga tampak lelah.
Begitu melihat Ayah, kesedihan kami nyaris hilang. Ivana dan Gina membawanya pergi untuk bertemu Mami. Setelah mereka menghilang di balik pintu aku dan Achen kembali terdiam dengan murung.
“Bang,” tegur Achen saat aku kembali duduk di lantai dan menyandar ke dinding lorong.
Aku menoleh sebelum kembali tertunduk.
“Rumah itu habis, Bang,” kata dia, “Abang tidak ke sana untuk memastikan kalau dia selamat? Aku sudah menanyakannya pada tetangga sekitar tapi tidak ada yang melihatnya…”
Aku menatap Achen. Jika dia tidak mengatakannya, aku terus akan merasa bahwa dia baik-baik saja.
Menepuk bahuku, Achen menyuruhku pergi, “Ada aku, ada Ayah juga,” ujarnya. “Tidak apa-apa”
Komentar
0 comments