[Hal.20] [Ch.11] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Kamu kelihatan senang,” Tyas tampak menggerutu.

Aku memalingkan wajahku, dari tatapan sinisnya. “Kamu harus sembuh, dan keluar dari sini,” kataku sambil menaruh nampan makanan yang hampir kosong di atas meja. “Aku tidak bisa datang setiap hari ke sini”

“Kenapa? Dilarang istri kamu?” balas dia ketus.

Aku menarik nafas, tidak mnegomentari pertanyaannya yang menjengkelkan.

“Aku tidak bisa datang lagi ke sini,” kataku sambil berdiri.

Dia menatapku terpana, membelalak.

“Aku akan kembali ke Jakarta,” jawabku, “Setelah mengurus semuanya aku akan tinggal di sana lagi”

“Kamu pindah apartemen?” tanya dia, seolah masih berharap kami akan tetap bertetangga.

“Iya,” jawabku, sambil menghela nafas. Lalu mengusap kepalanya, “Jaga diri kamu baik-baik, Tyas…”

Dia meraih tanganku, menggenggamnya dengan sangat kuat. Dan tiba-tiba menangis lagi, “Kenapa, Den? Apa kamu tidak lihat apa yang terjadi padaku karena kamu?”

Aku tidak menjawabnya, kulepaskan tanganku dari genggamannya, “Maafkan aku, Yas…,” ucapku, lalu menjauh selangkah.

“Kenapa?” dia masih bertanya, dengan wajah penuh harapan. “Lalu apa artinya semua yang pernah kita jalani bersama?”

“Aku mencintai kamu, Tyas…,” kataku, tenang, menatapnya sungguh-sungguh, “Tapi, itu dulu… sebelum kamu bilang kita tidak akan pernah bersatu, karena kita terlalu berbeda…”

 Tyas  mulai terisak.

“Dan bukan sekali atau dua kali setelah itu, aku berusaha merangkul kamu lagi sekali pun kamu menganggap aku hanya pelarian dari pacar kamu yang brutal…,” aku melanjutkan, lalu membalikan badan, dan mulai melangkah meninggalkannya, “Sekarang, aku sudah menemukan orang yang tidak peduli kalau aku Cina dan mengatasi perbedaan itu…”

“Siapa, Den?!” teriak Tyas , ingin turun dari ranjangnya, “Siapa dia, Dennis?!”

Aku menoleh, sambil tersenyum, “Dia cuma gadis biasa, Tyas… sangat jauh di bawah kamu,” jelasku, “Namanya Ayu Raima. Aku akan membawa dia pergi setelah ini.”

---

“Ayu?!” aku memanggil namanya dengan tidak sabaran sejak berdiri di teras dan menemukan pintu rumah tidak dikunci, aku menerobos masuk. Tapi, tidak melihatnya.

Rumah sekecil ini pun seolah mampu menyembunyikannya walau aku tahu dia tidak mungkin pergi ke mana-mana tanpa mengatakan sesuatu. Paling tidak dia akan menelpon untuk memberitahu. Aku hanya terlalu tidak sabar ingin melihatnya.

“Ayu?!”

Akhirnya sosok kecil itu keluar dari kamar, dia menyambutku dengan wajah yang sama gembiranya –dengan sesuatu di tangannya. Ia menatapku penasaran, menunggu aku mengatakan sesuatu –tampak sungguh-sungguh sebelum senyumnya menghilang.

“Aku mau kembali ke Jakarta,” kataku dan tiba-tiba raut senangnya berubah.

Ia menjatuhkan semua yang ia pegang di tangannya. Lembaran-lembaran yang tadi membuatnya senang tapi aku mengacaukannya hanya karena mendengarku menyebut ‘Jakarta’ di depannya.

Ayu berbalik, membiarkan aku memungutinya seorang diri sementara ia masuk ke kamar dan menutup pintu.

Aku menyusulnya, tapi terlambat, ia sudah terlanjur menguncinya. “Ayu?” aku mulai mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban dari dalam.

“Ayu, dengar dulu!” kataku berujar dan aku mulai kehilangan akal. “Aku cuma pergi sebentar untuk memastikan kalau aku dapat pekerjaan itu…”

Dia masih tidak menjawabku.

“Kalau aku mendapatkannya, kita pasti langsung pindah ke sana. Tapi, kalau tidak, aku terpaksa harus kembali ke sini dan kita akan cari jalan lain…,” ujarku, “Kita akan cari jalan lain supaya bisa tetap hidup berdua…”

Tidak ada suara dari dalam, dan aku semakin putus asa. Tampaknya, Jakarta adalah sebuah kata-kata yang  benar-benar menjadi tabu baginya. Aku memandangi lembaran yang kugenggam di tanganku –foto-foto yang bahkan aku lupa kami pernah membuatnya.

---

Ayu diam saja dan tatapan kosong sering ia perlihatkan kepadaku tanpa dia sadari. Dia tengah berusaha menenangkan perasaaannya akan sesuatu yang ia takutkan, kehilangan diriku dan juga menerima pengkhianatanku. Tatapan kosong itu membuktikan bahwa ia sedang mencari-cari tempat untuk lari dari kenyataan pahit tentang diriku. Dan di lain sisi dia berusaha menerimaku lagi.

Aku menggenggam tangannya erat. Dia menoleh dan berusaha tersenyum, lalu bersandar kepadaku. Aku belum berani bertanya tentang perasaannya. Namun, aku tahu pasti, di dalam sana ia belum tenang. Aku memeluknya seperti biasa dan merasa sedih.

Dia ketakutan soal apakah aku akan kembali atau tidak. Ayu tidak mempercayaiku. Dia terlalu paranoid saat berpikir bahwa aku akan mencampakannya. Ayu mencintai Alan. Begitu aku kembali ke Jakarta, aku akan menjadi Dennis. Dennis yang sibuk dan gila kerja. Dan Dennis yang senang bermain cinta. Hanya itu yang ada di pikirannya.

---

Setelah itu, Ayu berusaha tetap tersenyum, menerimaku ada di sisinya. Telponku berbunyi, membuyarkan semua hal yang ingin aku katakan padanya untuk tetap mempercayaiku. Dan satu hal lagi, dia tidak mengizinkan aku menyentuhnya walau hanya sebentar. Dia menghindariku lagi saat aku merasa bahwa kata-kata saja tidak cukup untuk membuatnya mengerti.

Aku duduk dan berkeluh kesah tanpa bicara. Matahari hampir tenggelam di depanku dan separuhnya sudah melewati cakrawala yang dibentuk oleh perairan laut. Tinggal menunggu detik demi detik pergantian waktu yang terasa singkat namun menyisakan banyak kesedihan.

Siluet Ayu tampak berjalan di bebatuan pemecah ombak dengan kedua kakinya yang lincah dan tak pernah lelah. Rambut panjangnya tertiup angin laut yang dingin.  Dia tidak di dekatku saat beberapa pasangan duduk berdua. Jadi aku mengembalikan mataku pada matahari yang sudah pergi ke belahan dunia lain. Dan ketika dia datang lagi esok, aku sudah tidak di sini lagi.

Aku belum bicara sepatah kata pun.

Sejak pertengkaran gara-gara Jakarta, ia tidak pernah lagi meledak. Tidak pernah mengatakan hal yang membebaniku. Namun tidak juga menimbulkan perasaan yang sebaliknya.

Ia terlihat tenang saat berjalan dengan langkah santai. Kedua tangannya tersembunyi pada saku jaketnya dari udara malam membuatnya dingin. Seolah sengaja agar aku tidak memegang tangannya seperti yang biasa aku lakukan. Dalam perjalanan pulang juga, ia masih mendiamkanku dan setiap aku bertanya padanya, ia berkata baik-baik saja.

Namun, aku tidak tenang, jika esok aku harus pergi dengan perasaan bersalah. Aku harus meyakinkannya lagi bahwa aku akan kembali, aku pasti kembali. Jadi, aku tidak mengantarnya pulang. Meski pun setengah memaksa, aku mengajaknya ke tempat lain untuk melawatkan malam terakhir aku bisa melihatnya menatapku dan merasakan cintanya…

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments