[Hal.19] [Ch.11] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Ikan Kecil

"Ayu...,” aku mendekatinya, berlutut di dekatnya, aku berharap bisa memeluknya.

Ayu semakin melipat dirinya, beringsut ke sudut seolah aku akan mencekiknya dengan tanganku. Kepalanya tenggelam di antara kedua tangannya dan ia tidak mau melihatku. Rambut panjangnya menutupi wajahnya yang merah.

"Ayu, maafkan aku,...,” ucapku, tidak berdaya. “Aku janji tidak akan melakukannya lagi.

Jika aku katakan bahwa aku sama sekali tidak bermaksud mengkhianati kita, dia tidak akan mempercayainya sekalipun itu benar.  Aku mendekat sedikit lagi, Ayu ketakutan, dan makin menyudutkan dirinya untuk menghindariku. Aku sudah tidak tahan, melihat kami seperti ini.

"Aku...,” tanganku mengepal kuat. Di depannya, aku seperti anak kecil yang ketahuan mencuri dan tahu tidak akan diampuni. Tak ada lagi yang bisa aku ucapkan karena semuanya akan menjadi percuma. Harga diriku pun sudah tidak ada ketika akhirnya, aku menangis juga.

Sungguh memalukan, apa yang terlihat di matanya saat itu.

“Maaf…,” aku berusaha mengucapkannya dengan baik. Tapi, tidak terdengar demikian.

Aku pikir semuanya berakhir. Aku pikir dia akan mengakhiri semuanya. Tapi, dia mendekatiku. Menjauh dari dinding tempat ia bertahan dari amarahku. Sama-sama menangis.

Sekilas ia tampak memaafkanku, tapi tak ada kata-kata melainkan tangisan. Aku masih dapat merengkuhnya dan bersyukur bahwa ini belumlah berakhir.

---

Kami sama-sama terbangun dari mimpi yang sama. Saat cahaya sore dari matahari yang mulai meredup masuk melewati celah jendela.

Aku terbangun lebih dulu, sebelum Ayu. Kemarin kami bertengkar.

Aku hanya menatapnya, kuharap semua amarah sudah mereda. Tapi, aku menyadari ada yang aneh dengan dirinya yang tampak bingung dan berantakan.

"Aku mimpi aneh...,” katanya padaku, di depan cermin kamar mandi. Ia menatap dirinya sendiri cukup lama, bingung, seperti tidak mengenal bayangan yang ada di depannya. Yaitu kami.

"Mimpi?” aku menanyainya.

"Apa kemarin kita bertengkar?” tanya dia.

Aku terkejut, "Ya...,” jawabku.

"Mimpi aneh...,” gumam Ayu, tertawa kecil, mengusap belakang lehernya dengan tangan yang masih gemetaran, "Kamu...mana mungkin melakukan hal itu..."

Aku merangkul tubuhnya yang baru kusadari, lebih kurus dari yang dulu –juga bahkan lebih lemah. Kutatap bayangannya yang merana di cermin, dia tampak kehilangan banyak hal di wajahnya –tawa dan keceriaan yang telah berganti menjadi air mata yang terkadang menetes bahkan di saat ia mencoba tersenyum kepadaku.

“Tidak ada yang perlu kamu takutkan, Yu…,” ujarku, berbisik di telinganya, menanamkan sebuah ingatan untuk meyakinkannya, bahwa aku akan terus berada di sisinya, “Aku mencintai kamu…”

Rumah itu terasa semakin dingin. Aku tahu Ayu sudah tidak nyaman lagi tinggal di dalamnya. Seolah hari itu terus menghantuinya dan terkadang, ia terkejut berlebihan mendengar suara pintu yang menghempas karena tiupan angin. Dia tidak lagi suka keluar rumah, atau bahkan hanya untuk memandang gunung yang bisa terlihat di halaman belakang.

Ia tidak menyukainya lagi, sehingga aku harus membawanya pergi dari sana. Ketika aku memintanya pulang, Ayu menolak.

“Aku tidak ingin orang tuaku melihat aku begini…,” ia mengeluhkan dirinya yang menurutnya berantakan dan tidak terurus.

Dia membuatku merasa bersalah, “Kamu mau pergi ke mana?” tanyaku.

Ayu memelukku, sangat erat, sampai aku tidak bisa bernafas, “Aku ikut ke mana pun kamu pergi…,” katanya, “Jangan meninggalkan aku lagi…”

--

Aku melihat banyak sorot mata mencurigai di sekeliling kami, saat selangkah menginjakan kaki di tempat itu. Sungguh, aku tidak yakin akan menitipkan Ayu sementara waktu di sana.

“Ada lagi, Bang?” Achen menegurku saat aku memperhatikan Ayu masuk ke kamar untuk memeriksanya. Ia baru saja menaruh satu tas besar di dekat pintu lalu keluar menemui pemilik kontrakan.

Aku bisa mendengar suara-suara mereka sedang mengobrol.

Merasa tidak yakin, aku menyusul Ayu ke dalam. Ia tengah membuka jendela yang tertutup kain gorden berwarna coklat tua dan kelihatan lusuh.

Kata si pemilik rumah ini sudah hampir setahun kosong.

“Kalau kamu tidak suka, kita bisa cari rumah yang lain,” ujarku, agar ia terlihat lebih tenang daripada memikirkan kengerian yang begitu terasa di sini –bahkan masih siang.

Ayu menggeleng, “Aku tidak bekerja, kamu juga. Kalau kita menghabiskan terlalu banyak uang untuk rumah sementara, itu namanya pemborosan…,” dia tersenyum padaku.

Aku mengangguk, dia tersenyum menghampiriku.

“Hanya sementara kan?” dia meyakinkanku lagi.

“Ya, sementara, Sayang…,” ujarku, sambil merengkuhnya, “Nanti kita pindah ke Jakarta, tinggal di apartemen, punya mobil juga. Dan kamu tidak harus kerja…”

“Tapi, aku juga tidak bisa memasak…,” keluhnya.

“Aku cuma mau kamu menungguku di rumah setiap hari dan aku tidak butuh apa-apa lagi…”

Mimpi itu terlalu sempurna untuk diwujudkan. Aku pikir hanya bersabar sebentar lagi. Hanya sebentar lagi. Tapi, aku benar-benar keliru.

Aku meninggalkannya lagi, meskipun dia melepasku dengan tidak rela. Seakan selalu tahu, ada sesuatu yang membuat perhatianku terbagi. Dia selalu punya firasat bahwa masalah lain selalu menawanku.

---

Suara kaca pecah terdengar seperti bencana, ketika aku melangkahkan kakiku pada lorong-lorong yang gaduh di mana dua orang perawat keluar dari salah satu kamar dengan wajah cemas.

Aku dapat mendengarnya berteriak menyebut-nyebut namaku dengan putus asa.

“Mana Dennis?! Mana dia?! Kenapa dia belum datang juga?!” Tyas berteriak pada seorang wanita yang berusaha menenangkannya.

Lantai kamar itu penuh dengan pecahan kaca dan rembesan air dari vas bunga yang baru saja dibanting. Seorang dokter tampak kelelahan menyuruhnya diam dan tenang.

 Tyas  terlihat baik-baik saja. Ia sudah bisa bergerak leluasa. Tapi, jiwanya masih saja sakit. Begitu ia melihatku berdiri di pintu, ia segera melompat turun dari ranjang berlari dengan wajah yang dihiasi senyum lega.

Tak mempedulikan ibunya yang menghalangi dia agar tidak turun dari tempat tidur. Ia mengulurkan tangannya seolah ingin memeluk, “Dennis…,” suaranya terdengar bahagia. Tapi, langkah kakinya yang terseok membuatnya jatuh tepat di hadapanku.

Wanita yang tadi bersamanya menjerit.

“Dennis…,” ia memanggilku, meringis, saat aku berusaha mengangkat tubuhnya yang berat, kembali ke ranjangnya, “Dennis…”

Aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya memandangnya dengan sangat menyesal. Memandang luka-luka pada tubuhnya –kepala yang masih dibalut perban dan luka sobek di leher yang harus dijahit. Wajahnya yang pucat dan tirus –menandakan bahwa ia sama sekali tidak ingin makan dan setiap ia dipaksa, ia akan membanting apapun yang ada di sekitarnya. Atau paling tidak memaki perawat atau dokter yang mengurusnya.

“Dennis, jangan pergi lagi…,” pintanya padaku sambil menggenggam tanganku dan ia tidak pernah melepasnya, bahkan sampai ia tertidur begitu seorang dokter menyuntiknya dengan cairan obat penenang.

Aku terdiam di sana sangat lama, menunggu sampai genggamannya melemah. Semua terasa makin sulit. Aku terjebak di sini sementara Ayu pasti menungguku kembali.

--­-

Kami pergi ke pantai, karena dia bilang mau berenang. Aku sempat menolak karena tidak suka berlama-lama tertiup angin pantai.

Dan dia bilang, “Kapan kamu bisa jadi lebih manusiawi?” itu berupa sindiran.

Aku tahu dan aku menurutinya seperti yang biasa aku lakukan. Namun, dia tetap kelihatan sedih. Ayu begitu sejak aku mengatakan padanya bahwa aku ingin kembali ke Jakarta.

Ayu tidak pernah berkomentar, apalagi melarangku pergi. Kadang, aku merasa dia tidak peduli padaku, di sini atau jauh darinya akan tetap sama. Namun, saat itu dia kelihatan sedih.

“Kamu mau ke mana?” aku melihatnya berdiri dari kursinya setelah tampak kedinginan. Aku meraih tangannya sebelum dia benar-benar pergi.

Ujung jarinya mengarah ke laut bergelombang di depan kamu “Ke sana,” Ayu menarik lengannya dariku. Tanpa menatapku.

Aku tidak mengerti kenapa dia menghindar, “Kenapa?”

“Karena kamu tidak bisa berenang,” dia tampak sangat acuh.

“Ayu!!” aku memanggilnya sebelum jauh, dan gelisah saat dia menoleh dengan terpaksa, “Apa kita tidak bisa kembali?”

Ayu tampak berpikir, aku kira dia akan mengulurkan tangannya dan mengajakku sekali pun ia tahu aku tidak akan suka basah, “Kalau kamu mau, kamu bisa ikut aku,” kata-katanya sedingin angin yang menusuk kulitku.

Aku masih terdiam di tempatku menyaksikan Ayu perlahan menghilang dalam ombak. Lalu khawatir. Semahir apapun berenang, tapi melihat ombak seperti itu, nasib buruk mungkin akan berpihak padanya. Melihat dia menghilang melampaui ombak besar yang menghempas ke tepi, aku sangat ketakutan. Aku memanggilnya sekeras mungkin lalu berlari ke tengah. Aku singkirkan ketakutanku akan ombak besar yang telah menghanyutkannya. Melawan arus. Lalu sekitarku menjadi dunia tanpa suara. Aku merasa tenang di dalam air. Dia benar. Ada dunia lain di dalam air yang seperti ilusi. Di mana kita bisa meninggalkan dunia yang bising untuk sementara.

Setidaknya untuk berpikir bagaimana mengatakan padanya bahwa kita tidak akan memuai dalam jarak. Aku tidak akan lama.

Dia terlihat seperti ikan kecil yang berenang menjauh. Dalam mimpi mana pun dalam tidurku tentangnya, selalu ada saat di mana aku mengejarnya dan dia terus berlari.  Ketika dapat memeluknya pun, aku merasa aku harus berjuang lebih keras agar dia mempercayaiku. Aku akan melindunginya dan menjaganya selama sisa hidupku. Aku ingin memastikan itu.

---

Ayu berbaring di atas pasir setelah aku membawanya dari tengah laut dan itu pertama kalinya aku melihat dia tertawa lagi padaku. Karena dia tidak memenyangka ternyata aku bisa berenang –aku pernah berbohong padanya bahwa aku tidak bisa melakukannya karena terlalu malas dan tidak suka dengan air berpasir ini. Ia mengatur nafas setelah nyaris tenggelam karena kakinya keram dan aku ketakutan setengah mati.

Di pinggir pantai, kami menyaksikan matahari hampir kembali ke peraduan. Meninggalkan awan merah darah yang begitu indah.

Namun melihat matanya terpejam dan senyum terlukis di bibirnya, jauh lebih indah dari apa yang berada di belakang kepalaku. Ayu tampak mengingat sesuatu yang membuatnya bahagia.

Aku merasa bahwa aku akan terus merindukan saat-saat ini untuk terjadi lagi dalam hidupku. Saat dia dapat membuang kecemasannya sementara akan diriku. Aku membawanya pulang dengan perasaan bahagia, walaupun semua yang kami pakai sudah basah sekali.

Semua mata memandangi kami sepanjang jalan. Dan seperti waktu itu, kami tidak peduli. Aku menggenggam tangannya yang dingin dengan tanganku, tidak melepasnya hingga kami tiba di rumah. Saat harus membiarkannya masuk dan memintanya mengunci pintu, aku sedikit tidak rela.

Sayangnya, aku tidak bisa tinggal dengannya karena tidak ingin mendapat masalah dari warga di sekitar sini. Dia masih menatapku seolah tidak menginginkanku pergi di ambang pintu. Tiba-tiba ia mendongak keluar, melihat ke kiri dan ke kanan dengan tingkah mencurigakan. Sebelum ia menarik bajuku yang basah, membawaku ke dalam.

Pintu tertutup dan tidak ada seorang pun yang melihatnya. Itulah pertama kalinya Ayu mengizinkanku berada di dekatnya lagi –membiarkan aku menyentuhnya dengan cara yang wajar.

---


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments